
Satu satunya cara agar Tiana melupakan semua permasalahannya adalah dengan bekerja, perutnya belum terlihat membesar.
Kehamilannya juga tidak begitu mengganggu, belum ada yang tau perihal Tiana kecuali Raja.
Tiana tengah menyodorkan surat resign kepada Vandy, meskipun Tiana sangat cinta dengan pekerjaanya namun dia tidak bisa melanjutkan pekerjaanya saat ini bagaimanapun lama lama perut Tiana akan membesar.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu ini?"
"Begitulah bang, finally sepertinya saya harus mengundurkan diri karna saya tidak bisa memenuhi ekspektasi abang tentang diri saya"
"Saya puas dengan kerja kamu, semua sudah sesuai seandainya bisa saya harap kamu lebih lama lagi disini"
"Saya ingin beristirahat untuk beberapa lama bang, saya yakin Melki mampu memimpin di sini dengan baik. Saya akan delegasikan pekerjaan saya kepadanya kalau abang berkenan"
"Kalau menurut kamu Melki mumpuni saya akan coba pertimbangkan. Apa bisa kamu mengajarkan Melki agar dia mampu menjalankan semuanya tanpa kamu"
"Selama ini justru saya banyak belajar dari Melki, lagipula ada pak Agus dan team d'chef lainnya yang mensuport Melki pasti bisa"
Vandy hanya menganggukan kepalanya mendengar penjelasan Tiana mengenai Melki.
"Kamu akan kembali ke Bandung?" selidik Vandy lali ini.
"Saya berencana pindah tapi bukan kembali ke rumah orang tua saya di Bandung."
"Abang tidak boleh tau Tiana akan pergi kemana?"
"Ketempat yang jauh lebih baik pastinya, dimanapun itu saya sendiri masih belum pasti"
"Ok kalau ada apa apa Tiana harus kabari abang, abang sudah anggap Tiana seperti keluarga sendiri. Saat ini mungkin Tiana masih enggan bercerita dengan abang, oneday kalau Tiana mau kembali kita semua terutama abang akan senantiasa menyambut Tiana"
Baru kali ini Tiana betul betul tersentuh dengan perkataan Vandy.
Tiana tau betul bagaimana lelaki yang usianya tidak bisa dikatakan muda ini menaruh perhatian lebih terhadapnya.
Percakapan Tiana dan Vandy berlangsung cukup lama, Vandy masih belum terima jika Tiana ingin berhenti.
__ADS_1
Tapi dia tidak bisa menahan Tiana untuk tetap bertahan di d'chef jika Tiana nya sendiri sudah memutuskan untuk pergi.
"Jadi kamu memutuskan untuk berhenti?"
Kini Tiana tengah berbincang bersama Raja
"Hah sial aku merasa sesak, ini tuh bukan aku banget kayaknya harus nangis dan lemah gak bisa begini Ja. Aku akan besarkan anak ini sendiri, aku harus pergi meninggalkan pekerjaan dan kehidupan ku saat ini"
"Jadi Jack enggan bertanggung jawab?"
"Aku sendiri tidak yakin untuk menjalani kehidupan dengan dia, seperti yang sudah aku bilang. Keluarganya tidak akan menerima aku"
"Kalau begitu mari kita menikah" kata kata sakral itu keluar dari mulut seorang playboy seperti Raja sungguh mencengangkan.
"Hah keluar kandang singa masuk kandang buaya aku nanti"
"Kalau aku buaya kamu kan penangkaran buaya" Raja dan Tiana tertawa bersama.
"Aku setia ya kalau cuma sekedar chat jalan bareng cowo mah ya wajarlah nakal tipis tipis"
"Nakal mu nanggung lihat tuh kalah sama bocah labil"
Tiana memutar bola matanya bingung
"Paman yang mana nih, ada 2 paman kamu yang sering ngajakin aku jalan" lagi lagi Tiana tertawa. Tapi kali ini tidak dengan Raja.
"Ia deh penangkaran buaya emang bener bener ya, tapi beneran kan Ti kamu ga diapain mereka"
"Maksud kamu apaan, dikira aku wanita apapun hinggap sana sini."
"Ya siapa tau kan, lagian kok bisa sih kamu kecolongan sama sikampret"
"Bucin kali aku lagian dia bener bener bikin iman ga kuat sih. Godaanya ada aja gitu tapi beneran aku ga ada aneh aneh sama yang lain kecuali dia"
"Dikasih apa kamu sama dia"
__ADS_1
"Dikasih angin syurga"
"Makan tuh syurga, udah larut malam cabut yu kasihan bayik diperut kamu."
Tiana dan Raja akhirnya mengakhiri pertemuan mereka selepas pulang kerja tadi.
Saat masuk ke apartemennya Tiana sedikit keheranan karna lampu dapur apartemennya menyala, padahal seingat dia semua lampu dimatikan.
"Jack?"
"Kamu baru pulang? Sudah makan? Aku lapar rasanya aku ingin sekali memakan masakan buatan kamu. Aku pikir kamu dirumah sorry aku tiba tiba datang seperti ini"
"Kamu habiskan minuman ini sendiri?"
sebotol wine yang awalnya penuh kini sisa setengah botol. Sudah lama rasanya Tiana tida menegak minuman beralkohol semenjak dirinya dinyatakan hamil.
"Hemhh" jack begitu lusuh matanya seperti mengantuk, dia bangkit dari tempat duduknya
Dan menghampiri Tiana.
"Kemari, aku perlu pelukan dari kamu Tatiana Arsyadi" Jack memeluk Tiana erat
"Lepas kamu mabuk ya, duduk di sofa yu aku mau mandi dulu bau keringet abis kerja seharian"
"Aku ikut kita mandi sama sama"
"Ngaco udah sana duduk disofa aku mandi dulu bentar aja"
Jack menggeleng tidak setuju, justru dia semakin menelisik ceruk leher Tiana menghiruo sroma tubuh Tiana yang dia rindukan, alih alih mendengarkan instruksi Tiana Jack justru melepas kaosnya kemudian menggendong Tiana ke kamar mandi.
"Jack gila kamu turunin aku"
"Ga mau"
Tubuh Jack yang terbiasa gym memudahkannya untuk menggendong Tiana begitu saja, Tiana mengamati wajah Jack dari dekat.
__ADS_1
Tiana tidak bisa menolak kemauan Jack, begitulah lelaki itu selalu bisa memaksakan kehendaknya.
Mandi bareng ceritanya sih begitu tapi ada aktifitas lain selain mandi, Tiana dan Jack cukup lama tidak bertemu keduanya melepas rindu yang tertahan lama.