
"Kamu, kok bisa disini?"
"Tadinya mau telepon kamu, agar bisa naik keatas sini. Tapi tadi ada penghuni apartemen yang mau masuk juga. Beruntungkan aku?"
"Ayo masuk," Raja menarik Tiana, padahal itu apartemennya Tiana tapi Raja bersikap seolah-olah itu adalah apartemennya.
Sementara Tiana mengerlingkan matanya jengah.
"Kamu kenapa ga pergi pacaran inikan malam minggu?"
"Ini aku apelin pacaraku!"
"Raja, aku serius. Kamu ga nemuin Erina?"
"Kamu pura-pura gak tau apa beneran gak tau?"
Tiana masih memasang wajahnya datar menunggu kelanjutan perkataan Raja.
Raja menarik Tiana agar terduduk diatas pangkuannya.
"Ish, awas lepasin kamu kesambet setan apa sih?"
"Tunggu sebentar saja, aku mau peluk kamu seperti ini" Tiana terus berontak diperlakukan demikian oleh Raja.
"Ada masalah apa?"
Tiana mulai melunak ketika Raja melonggarkan pelukannya, menatap Raja dengan penuh tanya.
"Tidak ada, hanya rindu saja"
"Dasar playboy mesum, lepas dong apa-apan sih ini. Kita tidak sedang dalam ikatan yang seperti inikan"
Diinjaknya kaki Raja hingga si mpunya kaki meringis kesakitan.
"Aw Tiana sakit kakik aku. Aduduh bar-bar banget kamu yah"
"Makanya denger kalau aku ngomong. Tau rasa kamu sekarang"
"Aku laper, makan diluar yuk"
"Males ah, hujan diluar enaknya tidur"
"Kalo gitu ayok tidur"
Lagi dan lagi Raja senang membuat Tiana kesal.
"Nih makan tuh bobo," (bugh)
Sebuah bantal sofa mendarat dikepala Raja.
"Oh astaga memang bar-bar cewek gw yang satu ini"
Tiana masuk kedalam kamarnya, Raja yang kebosanan menunggu diruang tv mulai mengantuk dan tertidur disana.
"Aku pikir kamu sudah pergi, katanya tadi lapar kok malah tidur sih mana kaki panjangnya ga muat dikursi. Raj, raja bangun ini sudah tengah malam pulang gih sakit kaki kamu kalau tidur disini"
Raja menggeliat meregangkan ototnya, dilirik jam ditanganya benar saja ini sudah pukul 12 malam lebih.
"Aku lapar, sampe tertidurnya sekarang diusir pulak teganya"
Ah tidak tega rasanya Tiana melihat Raja saat ini, tapi pria menyebalkan ini selalu membuatnya bad mood.
"Aku buatkan nasi goreng?"
"Aku mau makan kamu!"
Raja menaik turunkan alisnya, senyum selalu menghiasa wajah Raja semenjak bertemu lagi dengan Tiana.
"Pilih aku buatkan nasi goreng atau aku hajar kamu sampai tak berbentuk?"
__ADS_1
"Ia ampun, nasi goreng aja!"
Sekalipun marah, Tiana tetap memasakan nasi goreng untuk Raja.
Ada gelenyar aneh di rongga perut dan dadanya, perasaan bahagia yang ntah apa penyebabnya.
"Jadi kamu dan Erina sudah berakhir tanpa sisa?"
"Pertanyan macam apa itu"
"Ya kalau ada sisakan masih mungkin balik lagi"
"Aku mau balikannya sama kamu!"
"Serius, atau mau main-main lagi?"
Reja menggenggam tangan Tiana, mengelusnya dengan lembut menatap Tiana dengam dalam.
Tiana yakin kali ini Raja sungguh-sungguh, tapi hati manusia siapa yang tau.
"Jawab dong, gimana? Apa mau langsung nikah, boleh banget tuh!"
"Cishhhh, mulut manis kamu kalah gulapun"
"Aku sangat serius,kalau kamu mau aku bawa Mama Papa kerumah kamu di Bandung"
Raja meyakinkannya sekali lagi.
"Ntah lah kita jalani saja bagaimana kedepannya. Sudah sangat larut pulang sanah, aku cape dengar bualan mu terus"
"Aku nginep disini ya?" Raja mengedip-ngedipkan matanya meminta persetujuan Tiana.
"Tidak bukan muhrim udah ayok pulang sana!"
"Ok fine, selamat malam sayang. So mulai malam ini kita pacaran lagi kan kan..."
"Aih terserah kaulah"
Tiana gamang tidak tau apa yang dia mau, hatinya terlalu bercabang terlebih dia terlanjur nyaman dengan statusnya saat ini.
...****************...
"Good morning all, hari ini ada pihak dari station televisi. Mereka akan meliput tempat kita,so saya harap semua bisa melakukan tugasnya dengan baik seperti biasa."
Tiana menyemangati seluruh staf d'chef.
Semenjak Tiana bekerjasama dengan beberapa vloger makanan kini ada banyak tawaran dari station televisi untuk meliput d'chef.
Ada beberapa menu andalan yang menjadi icon d'chef, selain itu d'chef punya tempat yang bagus untuk dijadikan objek foto.
Dengan semakin terkenalnya d'chef pelanggan nya pun semakin bertambah. Tiana memutuskan untuk menambah staf di d'chef, setelah mendapatkan persetujuan dari Vandy.
"Kamu bekerja keras untuk d'chef"
"Abang salah, bukan hanya aku. Melainkan semua karyawan d'chef bekerja keras agar ada dititik seperti ini."
"Ia semua karyawan d'chef dan berkat dorongan manager yang handal tentunya!"
Vandy tersenyum lebar, penilaiannya terhadap Tiana dulu tidak salah. Vandy tau Tiana orang yang handal dalam pekerjaannya.
"O ya Abang dengar kamu dan Raja..."
"Gosip!" pertanyaan Vandy langsung dipotong oleh Tiana.
"Raja kami berteman, rasanya lebih nyaman seperti saat ini. Fokus untuk kerja tidak ada waktu lain untuk berkasih."
"Wow, Tiana Abang tidak melarang kamu dalam urusan pribadi seperti itu. Nikmatilah masa muda kamu, tentunya dengan tetap bertanggung jawab dengan pekerjaan kamu!"
"Abang senang sekali berlama dalam mobil seperti ini, gimana kalau kita mampir di coffee shop dekat sini?" Sudah cukup lama Tiana dan Vandy berlama-lama didalam mobil. Dia merasa tidak nyaman, takut orang lain berpikir yang bukan-bukan terhadap mereka.
__ADS_1
"Ide bagus ayok kita pergi"
Jackie dan teman kuliahnya sedang berkumpul menikmati secangkir kopi di coffee shop yang hendak Tiana dan Vandy tuju.
Antara terkejut dan tidak saat Jackie mendapati Tiana masuk ke dalam coffee shop bersama Vandy. Beberapa saat pandangan mata mereka bertemu, Tiana cukup canggung kemudian mengaggukan kepalanya dan disambut senyuman manis oleh Jackie.
Dalam beberapa minggu berturut-turut 2 orang lelaki telah menyatakan perasaan terhadapnya, dengan sadar Tiana menggantung perasaan mereka. Tapi kini dia menepis perasaannya, dia ingin lebih banyak mecurahkan pikirannya untuk pekerjaan.
Jack send message
Kamu lebih menikmati waktu dengan pria tua itu?
Tiana mengarahkan pandangannya ke meja Jackie mengangkat kedua bahunya pasrah tanpa membalas pesan yang dikirim Jackie.
Jack send message
Ayoklah balas pesan ku please, aku perlu kepastian. Habis dari sini aku mampir ke apartemen kamu!
Lagi-lagi Tiana hanya membalas pesan Jackie dengan bahasa tubuhnya.
Hingga kemudian Vandy memegang tangannya lembut.
"Are you okey?"
"Ammhh... Nothing!"
Cukup lama keduanya saling terdiam, sehingga Tiana merasa canggung dan kebingungan mau membahas apalagi dengan Vandy.
"Abang tidak berencana menikah dengan salah satu perempuan yang selalu Abang bawa. Abang masih asik melajang enggak mau gitu ada yang layanin Abang menyiapkan semuanya untuk Abang punya anak yang lucu!"
Astaga mulut Tiana, bisanya dia selancang itu membahas hal sensitif seperti ini.
Tapi Vandy malah terkekeh dengan pertanyaan Tiana, di merasa pertanyaan Tiana cukup terdengar lucu.
"Saya mau menikah, tapi mau 4 istri. Kamu mau jadi yang pertama?" Vandy semakin terkekkeh melihat ekspresi Tiana saat mendengar jawaban darinya.
"Sungguh perkasanya abang mau menikah dengan 4 wanita sekaligus. Aku dimadu gitu? Enggak deh terimakasih!"
"Haha, Abang serius ini kalau mau Ayok ke Bandung!"
"Buat apa?"
"Ketemu orang tua kamu lah, ngapain lagi"
Raja, Tiana jadi teringat pernyataan Raja saat terakhir kali mereka bertemu.
"Tidak ya, masih panjang perjalanan masih banyak yang harus aku kejar."
"Kalau gitu Abang tunggu kamu mengejar apa yang kamu mau. Nanti kabari ya kalau perjalanan panjang kamu sudah berakhir, Abang pastikan akan melamar kamu. Serius!" Tiana hanya mengaggapinya dengan santai, tak mau terlalu memikirkan omongkosong bosnya ini.
"Mau abang antar langsung atau mau mampir ketempat lain?"
"Abang boleh pulang terlebih dahulu, ada teman saya yang mau bertemu disini."
"Begitu? okey, jangan pulang terlalu malam langsung pulang ke apartemen. Nanti minta teman kamu itu antar sampai ke apartemen ya?"
"Sip, thank you untuk kopinya"
"it's ok, Abang pulang ya?"
"Kamu tidak pulang diantar Abang?"
nada bicara Jackie terdengar penuh penekanan.
"Bukannya kamu ingin kita berdua bicara?"
"Ayok pulang!" Jackie menarik lengan Tiana agak sedikit kasar.
"Hey! apa yang kamu buat, sakit tangan aku!"
__ADS_1
"Sorry, bagian mana yang sakit? Aku kesal liat kamu deket-deket gitu sama bos kamu" Protes Jackie!
"Sudahlah ayok kita pulang. Ga enak dilihat yang lain."