Playboy X Palaygirl

Playboy X Palaygirl
Episode 30


__ADS_3

Sudah lama sekali Tiana memutuskan untuk hidup mandiri, meskipun awalnya mendapatkan penolakan dari papihnya.


Semenjak nyonya rumah pergi terasa semakin sunyi rumah besar itu.


Papih Tiana yang sibuk dengan pekerjaanya lebih banyak menghabiskan waktu diluar.


Hanya ada Ema bi Warsih dan Anto sementar ayah Ema pak Rahmat yang seorang supir ribadi lebih banyak menemani papi Tiana.


"Good morning pih"


"Sayang, gimana tidur kamu?"


"Ini kali pertama tidur ku nyenyak setelah beberapa lama insom"


"Kenapa juga seerti itu kamu ada masalah?"


Papi Tiana yakin anak perempuannya ini sedang tidak baik baik saja, setelah dikagetkan dengan kabar dari Ema yang mengatakan bahwa Tiana pulang dengan membawa koper besar.


"Papih semalam pulang jam berapa?"


"Nah selalu ngeles orang papihnya tanya kenapa dia malah bahas yang lain"


"Hehe" Tiana hanya menyengir tanpa bermaksud menceritakan masalahnya.


Keduanya terdiam menikmati sarapan masing masing dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya Tn Adnan papih Tiana bersuara memecah keheningan meja makan pagi itu.


"Ya sudah kalau masih belum mau cerita, papih harus kekantor sekarang kamu istirahat saja dirumah. Kalau sudah mau bicara kabari papih, papih akan selalu ada untuk kamu" Tn Adnan mengelus pucuk kepala Tiana dan berpamitan


Tiana mengantarkan papihnya sampai pintu mencium tangan papihnya, tangan yang dulu sering sekali Tiana genggam saat masih kecil.


Lagi lagi Tiana terjerat kenangan lama saat dirinya masih kecil.


Setelah kepergia papihnya Tiana kembali ke dalam kamarnya mengurung diri lagi, dia mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


Tok tok tok...


"Masuk lah Ema pintu nya tidak dikunci"


Ema masuk kedalam kamar Tiana dengan secangkir teh hangat dan beberapa potong buah buahan


"Ini makanlah neng tadi neng Tiana makan dikit sekali, teh ini bisa menenangkan perut yang tidak nyaman. Neng neng Tiana.." Ema menahan perkataanya sejenak kemudian menatap perut Tiana.


"Kamu menyadarinya Ema" tebak Tiana langsung.

__ADS_1


Air mata Ema tidak bisa lagi dibendung kala air mata Tiana mengucur perlahan membasahi kedua pipinya yang terlihat lebih tirus.


Ema hanya bisa memeluk Tiana yang sudah seperti kakanya meskipun dia hanya anak seorang supir dikediaman ini tapi Tiana dan Tn Adnan tidak pernah semena mena terhadap mereka yang bekerja dikediaman Tn Adnan.


Termasuk kepada bi Warsi yang baru bekerja beberpa tahun belakangan semenjak ibu Ema meninggal. Serta kepada Anto yang bertugas menjaga kemanan dirumah ini, semua betah bekerja dengan Tn Adnan.


"Bagaimana reaksi papih nanti kalau tau keadaan ku, Ema mendadak aku jadi bodoh sekali rasanya"


"Ema gak tau harus ngomong apa, satu yang pasti Ema akan selalu mendukung apapun keputusan neng Tiana."


"Terimakasih ya Ema, kamu tau sendiri aku tidak begitu banyak teman apalagi sahabat untuk berbagi cerita. Lagian aku jarang banget curhat curhat begini ke orang lain, aku lebih senang memendamnya sendiri"


"Neng sih tertutup banget jadi orang, Ema bisa hitung dengan jari temen neng Tiana dari kecil sampai segede ini kayaknya hehe"


"Mudah mudahan papih tidak mengusir atau mencoret nama ku di kartu keluarganya ya Em"


"Mmmh neng maaf nih, neng ga berniat menikah dengan ayah si bayik"


"Bukannya tidak mau Ema ini terlalu sulit ada banyak kendala, tapi tidak mungkin juga kalau aku gugurkan"


"Hus jangan ngawur ah bayik neng Tiana kan bisa denger neng nanti dia sedih"


Tidak seperti biasanya Tn Adnan pulang lebih awal kali ini


"Ya"


"Tumben Tn Adnan jam segini sudah pulang, karna ada neng Tiana pastikan."


"Ema bapak baru pulang kamu bukannya buatin kopi huh gak pengertian punya anak"


"Ia ia ini Ema buatkan bapak kopi"


"Ema, Anto dimana ya kok ga ada dipos"


"Tadi saya pulang Anto yang bukain gerbang sih, lagi ke toilet mungkin"


"Memang kenapa bi cari kang Anto" tanya Ema


"Itu neng Tiana minta dicarikan sate padang"


"Oh biar Ema saja yang belikan nanti Ema temuin neng Tiana"


"Ya udah atuh bi Warsih mau nyiapin meja makan dulu ya ma"

__ADS_1


"Muhun ( ia ) bi tenang ada Ema"


Tidak butuh waktu lama untuk Ema mendapatkan sate padang pesanan nona mudanya yang dia yakini pasti ini ngidam.


"Ini sate yang neng minta"


"Terimakasih Ema"


"Kamu pesan sate padang?"


"Lagi kepengen aja papih mau?"


"No"


Tiana tidak membahas permasalahannya di meja makan, dia menunggu sang ayah mencerna makanannya.


"Pih boleh Tiana bicara serius dengan papih, ada yang mau Tiana sampaikan penting"


"Bagaimana kalau kita bicara di dekat kolam ikan dibelakang"


Salah satu spot favorite Tn Adnan yah kolam ikan ini, ada beberapa ekor ikan koi kesayanganya, gemericik air dari air terjun kecil yang dibuat disamping kolam membuat perasaan tenang kala mendengarnya.


Tiana masih ragu dia menundukan kepalanya, menimbang nimbang tapi Tiana tidak bisa merahasiakan ini selamanya.


"Katanya mau bicara, kok malah pake bahasa batin sih mana papih faham sama obrolan kamu" Tn Adnan sedikit bercanda agar putrinya itu mau bersuara.


"Aku hamil" dua kata itu lolos begitu saja dari mulut Tiana tanpa intro tanpa pendahuluan tanpa babibu langsung ke intinya, dan berhasil membut papihnya melototkan mata.


"Kamu ngeprank papih nih, gak lucu tau hal seperti ini dijadiin candaan"


"Aku serius pih, aku hamil cowo ku gak bisa tanggung jawab selain itu aku sendiri memang tidak mau terikat pernikahan dengan dia"


Ah entahlah Tiana ini terlalu to the point jadi manusia, Tiana tidak suka dibuat berdebar Tiana tidak suka menahan sesuatu yang membuat hatinya tak karuan lebih baik terus terang langsung seperti ini walaupun mungkin papihnya akan mengamuk setidaknya perasaan tidak nyamannya sudah hilang.


Dia menundukan kepala bersiap menerima hardikan sang papih.


"Kok bisa Tiana kamu seperti ini, ini bukan Tiana yang papih kenal. Papih kira papih gagal menjadi seorang suami saja tapi ternyata papih juga gagal menjadi seorang ayah"


Luruh air mata Tn Adnan dia tak mampu membendung lagi air matanya, ya Tn Adnan memang se melow itu dia bukan tipe orang yang mudah marah mengamuk dan memaki meledak ledak seperti mantan istrinya.


Tn Adnan menepuk nepuk dadanya yang kini mulai terasa sesak, sementara Tiana tidak lagi mengelurkan air mata. Rasa sedihny sudah dia kubur dalam dalam, dia harus kuat mulai saat ini hingga kedepannya.


"Pih maafkan Tiana, mau bilang khilaf tapi ini bukan kejadian yang dilakukan dibawah alam sadar semua Tiana lakukan dengan kesadaran penuh. Ya Tiana gagal menjaga kepercayan papih, Tiana gagal menjadi anak yang baik untuk papih. Sungguh Tiana minta pengampunan kepada papih tolong terima anak ini pih"

__ADS_1


__ADS_2