
Fita Ningrum, ia seorang gadis yang mandiri memiliki paras yang sangat cantik dan juga cerdas. Fita merupakan putri tunggal dari pasangan suami istri Ayahnya yang benama Fatih dan Ibunya yang bernama Rini, Dan inilah kisah perjalanan hidup Fita hingga akhrinya ia bertemu dengan DIA..
Di usianya yang baru menginjak umur enam tahun Fita harus jauh dari orang tuanya, Karena suatu alas an, orang tuanya Fita harus fokus mencari uang di kota. Akhirnya Fita dipindahkan ke kampung halaman Ibunya, Fita juga disekolahkan di sana, di sekolah dasar tidak jauh dari rumah Neneknya sekitar seratus meter Fita masuk di kelas dua sekolah dasar.
Awal Fita menjadi siswa baru ternyata sulit ia lalui, karena Fita sama sekali tidak mempunyai teman satupun saat itu, entah ia punya salah dosa apa dengan mereka hingga sangat ajaibnya sampai ia kelas enam sekolah dasar pun ia tidak memilki teman. Naik di kelas enam sekolah dasar semester satu akhrinya ia mengenal cinta pertamanya…
Namanya Agus dia anak ke dua dari empat bersaudara, entah bagaimana Fita bisa dekat dengannya, karena kalau dipikir-pikir Fita tidak memilki satupun teman. Suatu malam ada acara hajatan di daerah rumah Fita yang membawa ia bertemu dengan Agus, lalu kita bermain selayaknya anak-anak sekolah dasar waktu itu. Keesokan harinya Fita mempunyai teman di sekolah berkat Agus, beberapa hari setelahnya Agus menyatakan Perasaan cinta kepada Fita.
“Fita, aku menyukai kamu, maukah kamu menjadi kekasih aku.” Tanya Agus sambil tersenyum dengan penuh keyakinan.
“Agus, kita masih kecil, tapi aku juga tidak bisa bohong kalau aku juga menyukaimu.” Sambil memberikan senyuman balik kepada Agus
“Fita, artinya kita sekarang kita pacaran dong?” Tanya Agus.
Oh Tuhan, apa yang aku harus lakukan?
Aku baru beberapa hari mengenalnya, apakah ini dinamakan cinta pandangan pertama atau cinta monyet. Fita membatin
“Iya, tapi jangan menyakiti aku.” Sambil menatap Agus dengan penuh keyakinan.
“Aku janji kagak menyakiti kamu.” Sambil tersenyum dengan penuh wajah gembira.
Setiap sore Agus selalu bermain dengan Fita dan selalu datang kerumah Fita Bersama teman-temannya, tapi tidak berlangsung lama hubungan mereka berdua, tantenya Fita mengetahui kalau mereka mempunyai hubungan pacaran, Pada akhrinya mereka fokus belajar setelah di beri nasehat oleh tantenya dan hubungan mereka putus.
“Fita, kamu ini mau jadi apa, masih kecil saja sudah main pacaran!” Tanya Tante sambil tatapan tajam kearah Fita.
“Iya aku minta maaf tante.” Jawab Fita dengan lemas.
“Fita, tente minta kamu putus sama dia, sekolah dulu yang benar, MENGERTI TIDAK.” Tante menaikan sedikit volume suaranya yang membuat Fita menampakkan sedikit perasaan takut.
“Iya tante.” Jawab Fita dengan penuh perasaan takut.
Fita akhirnya memutuskan hubungan dengan Agus.
****
Semester dua sudah berlalu dan setalah ujian nasional Fita mendaftarkan diri ke salah satu sekolah menengah pertama negeri dan ia lulus di sekolah itu.
Massa orientasi sampai massa orientasi terakhir tidak ada masalah bagi Fita semuanya lancar dan ia juga mempunyai banyak teman bahkan sahabat. Namanya Vian dia teman satu bangku dengan Fita di kelas tujuh F.
“Hai, boleh aku duduk dengan kamu.” Fita menegur salah satu anak perempuan dihadapan dia.
“Oh hai juga, boleh kok aku vian.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Fita, semoga kita bisa jadi teman baik.” Fita Sambil mengulurkan tangannya ke Vian.
“Pasti”. Vian memberikan senyuman kepada Fita.
Fita juga membalas senyuman vian.
Berjalannya waktu, Fita bersahabat baik dengan Vian, mereka sangat dekat sekali hingga akhirnya semester dua pun usai. Mereka pun naik ke kelas delapan namun di kelas yang berbeda.
“Fita, kamu di kelas delapan apa?” Tanya Vian.
“Aku di kelas delapan D, kamu di kelas apa?” Bertanya Kepada Vian.
“Aku di kelas delapan B,kita berbeda kelas.” menjawab pertanyaan Fita.
“Tidak apa, lagipula kita akan punya teman banyak.” Sambil tersenyum ke Vian.
“Iya juga ya, Kamu Benar.” Sambil membalas senyuman Fita.
****
Haripun berlalu, Fita juga mengenal banyak teman-teman baru lagi dan Vian juga demikian sama seperti Fita, meski begitu mereka masih suka bermain Bersama dalam satu kelompok.
Suatu hari di kantin sekolah..
“Hai Fita, aku mau kenalin kamu sama teman aku satu kelas Namanya narti dan winarni.” Vian sambil membawa teman-temannya untuk berkenalan ke Fita.
“Hai aku Fita, senang bisa berteman dengan kalian.” Fita sambil tersenyum kepada mereka dengan penuh gembira.
“Hai juga Fita.” Narti dan Winarni membalas senyuman serta menyapa Fita dengan berbarengan.
“Oh…iya kitakan satu arah pulangnya ya.” Tanya Narti kepada Fita Kalau mereka satu arah pulang.
“Oh…iya aku baru ingat, artinya nanti kita bisa pulang sama-sama ya.” Fita menjawab pertanyaan Narti, dan akhirnya mereka pun pulang bersama sehabis pulang sekolah.
*/
Semester satu berlalu, karena Fita dan sahabat-sahabatnya berbeda kelas jadi mereka jarang sekali bertemu, meskipun demikian mereka masih suka bermain disaat lenggang dan di pagi hari untuk sekedar menggosip hehehe.
Hingga akhirnya Fita bertemu dengan murid laki-laki yang paling nakal satu sekolah. Namanya Muso, mereka memang satu kelas tapi entah kenapa Muso menyukai Fita, terlihat saat Fita dan temannya mau ke kantor tata usaha.
Jujur saja aku tidak nyaman bertemu orang seperti dia.Batin Fita
“Muso, itu si Fita godain sana.” Abdul menggoda
“Iya tenang, aku mau minta nomor handphone dia untuk pendekatan.” Jawab Muso sambil tertawa sambil merencanakan sesuatu supaya bisa mendapatkan nomor handphone Fita.
__ADS_1
“Ya udah, minta sana keburu di ambil orang lain.” Abdul menggoda agar Muso cepat-cepat.
“Sabar dong tenang saja semua butuh proses.” Muso dengan penuh keyakinan kalau dia bisa dengan senyum jahat.
Keadaan di dalam kelas sebenarnya Fita dan Muso hanya berbeda satu meja saja, mereka sama-sama duduk di barisan paling depan. Tiba-tiba Muso menghampiri Fita dan duduk di sebelahnya kebetulan Fita sedang duduk sendiri.
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau urusan dengan orang seperti ini ! Batin Fita.
“Boleh aku minta nomor kamu?” Tanya Muso dengan keyakinan penuh.
“Untuk apa minta nomor aku?” Jawab Fita sambil bertanya dengan wajah tidak terima.
“Untuk tanya tugas saja.” Muso dengan penuh keyakinan kalau Fita akan memberikan nomor handphone.
“Sayangnya aku tidak punya handphone, jadi maaf tidak bisa memberikan, tapi kalau kamu mau nomor handphone tante aku si tidak apa-apa aku kasih nanti.” Jawab Fita.
“Ya sudah kalau begitu, hmmmmm…nanti pulang naik apa?” Tanya Muso dengan wajah kecewa.
“Sepeda sama teman-teman, kenapa?” Jawab Fita.
“Tidak apa-apa, kalau kamu besok tidak naik sepeda pulangnya aku antar ya.” Muso sambil menawarkan.
“Mending kamu kembali ke tempat kamu!” Jawab Fita dengan wajah tidak senang.
“Oke.” Muso menjawab dengan wajah lesu.
Jujur untuk pertama kali aku merasa tidak nyaman muso mendakati aku seperti itu. Batin Fita
Sepulang sekolah Fita langsung curhat dengan Narti semua yang ia alami di kelas dengan Muso.
“Fita, mungkin dia menyukai kamu.” Tanya Fita sambil tertawa menggoda.
“Amit-amit! Aku tau dia siapa, anak ternakal di sekolah gila saja aku naksir sama anak kaya begitu, seperti tidak ada yang lain saja.” Jawab Fita dengan wajah tegas tidak suka.
“Jangan seperti itu, nanti suka beneran repot kamu.” Narti Sambil tertawa serta menggoda.
“Tidak akan dan tidak akan pernah, ingat itu Narti! oke!” Fita menegaskan dengan tatapan tajam sambil menggerutu.
“Terserah kamu.” Jawab Narti.
Ada-ada saja si Narti mau mendekatkan aku dengan lelaki seperti itu. Batin Fita
****
Semalaman pikiran Fita tidak tenang seperti ada yang mengganggu tapi entah apa, terkadang Fita juga suka ingat dengan dia tapi tidak mungkin terjadi karena Fita harus fokus dengan sekolahnya dan umur Fita yang begitu masih muda.
Hingga suatu waktu berjalan dengan cepat dan kedekatan Fita dengan Muso juga semakin dekat dan Fita mulai menyukai Muso, bagi Fita Muso adalah sosok laki-laki yang manis dan baik, tidak seperti yang Fita kira dulu.
Tet tet tet…
Jam istirirahat berbunyi, Fita dan sahabat-sahabat berkumpul seperti biasa di belakang kelas.
“Ngomong-ngomong Kamu tau tidak aku kesal banget sama anak kelas delapan A belaga cantik gila dia.” Vian memberitahu perasaan tidak karuan dengan wajah kesal.
“Dia itu bukannya anak baru ya? tapi memang cantik, kamu saja kalah.” Narti tertawa sambil menggoda.
“Sialan Kau.” Jawab Narti dengan nada kesal.
“Sudah-sudah, tidak baik ngomongin orang seperti itu.” Fita tertawa sambil mengakhiri pembicaraan mereka.
“Tapi sebal!” Jawab Vian dengan wajah kesal dan lesu.
Sambil tertawa dan mendengarkan sahabat-sahabat cerita Fita tidak sengaja melihat buntelan-buntelan kertas dari arah jendela mejanya Alfin, karena penasaran akhirnya ia buka dan ia baca isinya yang membuat ia kaget sangat kaget ada kata-kata yang melukai hatinya, ternyata Alfin dan Muso sayang-sayangan, dengan penuh amarah ia langsung bangun dari posisinya dan pergi begitu saja dengan keadaan marah!.
“Fita mau kemana? Fit,Fita?” Tanya Winarni dengan wajah khawatir.
“Kenapa?” Vian bertanya.
“Tidak tau itu Fita mau kemana, abis baca surat ini dia langsung pergi.” Jawab Winarni sambil menunjukkan sebuah surat.
“Coba lihat? ya pantas marah orang isinya kaya begini, ayo cari fita sama Muso!” Narti melihat sebuah surat lalu di baca setelah itu mereka langsung bergegas.
Fita terus mencari Muso, apa maksud semua ini, kalian gila!
“Lihat Muso tidak.” Tanya Fita dengan wajah kesal.
“Lihat ada di perpustakaan.” Jawab Nanda sambil menunjukkan lokasi.
“Makasih!” Kata Fita
Sesampainya Fita di pertustakaan ia mencari Muso dan akhirnya ketemu.
“Maksud kamu apa kaya begini? Bosan? Bilang.” Tanya Fita sambil melempar beberapa kertas ke mukanya dengan wajah penuh amarah.
“Kamu kenapa? Aku bisa jelasin!” Jawab Muso dengan ekspresi wajah tegang.
“Tidak perlu, sudah tidak ada yang perlu dijelasin, semua sudah jelas, aku benci kamu, kita putus!” Jawab Fita.
“Fita, kamu tidak bisa bisa seperti ini sama aku, aku bisa jelasin semuanya sayang.” Jawab Muso.
__ADS_1
“Tidak perlu!” Fita tegas dengan wajah marah sekali.
“Sayang!” Muso wajah penuh harapan.
Fita keluar dari perpustakaan dengan keadaan yang sangat kecewa, marah, campur aduk dan tanpa ia sadari ternyata banyak sekali murid-murid yang melihat ke arah dia dan Muso yang terus berjalan ke arah kelas delapan B.
“Kamu kenapa Fita? Serius kamu baik-baik saja?” Tanya Vian.
“Muso jahat!” Jawab Fita dengan wajah kesal dan kecewa.
“Sudah biar aku yang urus kalian temani saja Fita dulu.” Jawab Narti sambil menenangkan dan langsung bergegas menemui Muso.
Sambil mencegah Muso masuk ke dalam kelas delapan B.
Yang ditunggu-tunggu datang juga jadi aku tidak perlu repot-repot mencarinya. Batin Narti
“Lebih baik biarkan Fita tenang dulu.” Narti memberitahu sekaligus menahan badan Muso masuk ke dalam kelas.
“Tapi Fita harus tau penjelasan dari aku dulu Narti!” Jawab Muso sembari menjelaskan.
“Iya aku tau tapi buat sekarang Fita lagi tidak bisa di ajak bicara, aku janji nanti sepulang sekolah kamu bisa menemuinya, tunggu saja di belakang kelas.” Narti menjawab.
“Oke.” Jawab Muso
Aku melihat ke arah Narti dan berkata.
“Apa dia sudah pergi?” Tanya Fita.
“Sudah Fita, nanti kamu harus temui dia sepulang sekolah dan selesaikan semuanya baik-baik, mengerti?” Jawab Narti
“Iya, tapi kalian temani aku ya.” Fita sambil bertanya kepada teman-teman.
“Iya.” Narti menjawab sekaligus mereka berempatpun berpelukkan.
*/
Jam Pulang sekolah Fita menemui Muso di belakang kelas.
“Sayang, aku bisa jelaskan aku sama sekali tidak punya hubungan apa-apa sama Alfin sayang!” Muso menjeskan semua kejadian waktu itu.
“Aku tetap mau kita putus, mungkin ini lebih baik untuk kita.” Jawab Fita sambil menegaskan kata-kata itu.
“Tapi sayang?” Tanya Muso penuh harapan di matanya.
“Lebih baik kita berteman!” Jawab Fita.
“Ya udah kalau itu mau kamu, tapi ada syaratnya!” Tanya Muso.
“Apa?” Tanya Fita.
“Peluk aku untuk yang terakhir!” Jawab Muso dengan penuh harapan.
Akhirnya Mereka berpelukkan, tanda perdamaian di antara mereka, karena mereka memulai hubungan ini dengan baik dan mereka juga mengakhirinya dengan baik.
“Bagaimana.” Tanya Narti menunggu hasil pembicaraan mereka.
“Putus.” Jawab Fita sambil memeluk Narti dan menanggis.
****
Hari-hari Fita berjalan seperti biasa tanpa Muso, beberapa hari kemudian Muso keluar dari sekolah karena ada masalah yang cukup besar dan Fita baru tau setalah beberapa hari kemudian.
Semester dua sudah berlalu dan hari ini pengambilan rapot, Fita dan sahabatnya naik ke kelas Sembilan
dan mereka Bahagia. Siang itu Fita pulang terakhir karena ada urusan dengan guru dan sorenya mereka semua akan mengadakan study tour ke bandung, sambil berjalan sendirian tiba-tiba ada yang memanggil Fita berkali-kali, ia menengok tapi tidak ada seorangpun yang ia lihat sampai akhirnya di panggilan terakhir ia melihat ada seseorang laki-laki berdiri di depan kelas delapan F Namanya Arib.
“Apa.” Tanya Fita
“Kamu kesini dulu.” Jawab Arib sambil melambaikan tangan.
“Kamu yang manggil ya kamu yang kesini dong!”
“Di situ panas, sini dulu penting!” Arib menjawab sambil kepanasan.
“Apa?” Tanya Fita sambil menghampirinya.
“Aku minta nomor handphone kamu sini!” Arib menjawab sambil menyodorkan handphone.
“Buat apa?” Tanya Fita dengan wajah ragu-ragu.
“Tidak apa-apa.” Jawab Arib sambil berharap Fita memberikan nomor handphone.
“Aku tidak megang handphone dan tidak punya handphone, mau kamu nomor handphone tante aku?” Tanya Fita.
“Serius?” Jawab Arib dengan wajah tidak yakin.
“Iya serius aku tidak punya handphone.” Fita menjawab.
“Ya sudah kalau begitu, nanti sore kamu ikut study tour?” Tanya Arib.
__ADS_1
“Iya aku ikut kenapa?” Jawab Fita sambil bertanya.
“Tidak apa-apa, kalau begitu sampai nanti ya.” Jawab Arib sambil tersenyum.