
Semakin lama Fita semakin menyesal dengan pilihannya, ia semakin tidak punya jalan untuk menghubungi Ijal, ia juga tidak tahu di mana Ijal tinggal dan semua teman-temannya diam akan hal itu.
Fita bertemu dengan Ipan, ia mencoba mencari tahu di mana alamat rumah Ijal.
“Pan, kamu tahu rumahnya Ijal di mana? aku ada perlu banget.” Ucap Fita sambil nafas tergesa-gesa.
“Aku tidak tahu Fita dia tinggal di mana.” Ipan menjawab.
“Kamu jangan bohong Pan, masa iya kamu tidak tahu, kamu temannya dari dulu pasti tahu.” Ucap Fita.
“Sumpah aku tidak tahu Fita.” Ipan menjawab.
“Kalau begitu kamu bisa hubungin Ijal buat aku ? tolong banget Ipan.” Ucap Fita dengan raut wajah memelas.
“Maaf Fita, Ijal bilang dia tidak mau berhubungan sama kamu lagi, sekarang saja dia sudah tidak pernah ke rumah aku lagi.” Ipan menjawab sambil melihatkan handphone.
“Ya sudah makasih ya Ipan.” Ucap Fita lalu pergi.
Sementara itu Arib semakin jauh, entah apa yang sedang dia lakukan saat ini Fita juga tidak tahu yang pasti dia mengabaikan Fita.
Fita tahu dia selalu online, bahkan dia masih mampu membuat status tapi untuk membalas pesan saja tidak bisa dia lakukan, Fita mencoba pelan-pelan mengatakan apa yang ada di dalam hatinya saat bertemu Arib.
“Kamu berubah!!” Teriak Fita dengan raut wajah kesal.
“Aku sibuk, aku tidak punya waktu buat kamu.” Arib menjawab dengan nada suara memelas.
“Terus hubungan kita gimana? Kamu mau kita seperti ini saja ? aku mau kejelasan! Kalau kamu sudah tidak mau bertahan ya sudah bilang sama aku biar aku tahu diri.” Ucap Fita dengan raut wajah kesal.
“Fita, gini ya, aku belum mapan gimana aku mau serius sama kamu dengan keadaan aku yang seperti ini.” Arib menjawab dengan nada suara tegas.
“Mapan kamu bilang! mau sampai kapan aku nunggu kamu mapan! mapan dalam arti apa? punya rumah, mobil? begitu maksud kamu!” Ucap Fita dengan nada suara tinggi.
“Aku masih mau senang-senang Fita.” Arib menjawab.
“Kamu bukan anak kecil lagi! kita sudah sama-sama dewasa! lihat aku sudah bertahan sama kamu secapek ini, tahu begitu aku tidak akan pernah milih kamu dan kasih kamu kesempatan berkali-kali, aku bodoh!!!” Ucap Fita air mata mengalir di pipinya.
“Sayang dengar dulu, oke aku akan pikirkan gimana masa depan kita percaya sama aku, aku janji.” Arib menjawab.
“Benar?” Ucap Fita dengan penuh ragu-ragu.
“Iya aku janji, aku akan berusaha keras buat kamu, tapi kamu sabar ya.” Arib menjawab.
“Iya oke.” Ucap Fita.
Arib menghapus air matanya Fita saat itu, yang Fita rasa saat itu masih tidak tenang, tidak setenang dulu saat ia bersama Ijal.
Waktu terus berjalan dan hubungan Fita dengan Arib tidak ada yang berubah, masih sama seperti hari kemarin, hingga pada suatu hari Arib pamit kepada Fita dengan alasan dia mau mengurus surat-surat dan surat ijin mengemudi untuk menjadi driver di solo.
“Aku pamit ya besok pagi aku berangkat pulang kampung, hanya sebentar, aku kembali,aku janji.” Ucap Arib.
“Kamu berapa hari perginya?” Tanya Fita.
“Tidak lama sayang hanya 4 hari.” Arib menjawab.
“Tidak lebih?” Tanya Fita.
“Tidak sayang, aku cepat kembali, aku janji.” Arib menjawab.
Esok harinya Arib pergi dan Fita hanya bisa mengucapkan kata hati-hati dan kembali, selama Arib pergi Fita mengisi waktunya bersama David, bekerja seperti dulu menjual kantong plastik di pasar dan siang harinya ia menjaga parkiran di mall.
“Bagaimana dengan Arib Fita?” Tanya David.
“Dia lagi pulang kampung, Cuma 4 hari mau mengurus surat ijin mengemudi katanya.” Fita menjawab.
“Kalau Ijal? sudah lama aku tidak lihat itu anak.” Tanya David.
“Aku sudah putus kontak dengannya.” Fita menjawab dengan raut wajah lesu.
“Kenapa?” Tanya David.
“Ceritanya panjang.” Fita menjawab.
“Cerita saja, aku pendengar yang setia.” Ucap David.
Fita lalu menceritakan semuanya kepada David dari A sampai Z dan David mendengarkan dengan baik, ya Fita dan David memang mantan kekasih tapi David bisa menjadi teman dan sahabat yang baik untuknya.
“Kenapa kamu begitu bodoh!!” Ucap David dengan raut wajah kaget.
“Maksudnya?” Tanya Fita.
“Kamu bodoh dan terlalu buta Fita! Kamu melepaskan orang yang jelas-jelas lebih peduli dengan kamu hanya untuk seseorang yang hanya ingin mendapatkan lebih dari kamu, apa kamu tidak merasa Ijal mencintai kamu?” David menjawab.
“Apa iya begitu David?” Tanya Fita.
“Bodohnya kamu Fita, aku ini laki-laki aku tau mana orang yang hanya mau memanfaatkan dan orang yang tulus, aku tanya sama kamu, siapa yang bisa berkorban dan jauh bisa lebih mengerti kamu? siapa yang ada di saat kamu butuh? Ijal orangnya bukan Arib!! Fita sadar dong kamu, ya Allah !!!” David menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
Perlahan Fita mulai mencerna perkataan David, ia benar-benar salah mengambil jalan dan pilihan waktu itu.
“Aku mengikhlaskan kamu pergi waktu itu dengan tujuan supaya kamu mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku Fita, bukan malah seperti ini!” Ucap David dengan raut wajah kesal.
“Aku bodoh ya?” Tanya Fita.
“Ya, kamu sangat bodoh !! Ijal yang menemani kamu Fita bukan Arib, Ijal yang dari nol bersama kamu, Ijal yang selalu menemani kamu Fita.” David menjawab.
“Tapi aku bertahun-tahun dengan Arib!” Ucap Fita.
“Kamu belum mengerti juga?” Tanya David.
“Aku mengerti, tapi aku sudah memilih dan sekarang Ijal pun sudah menghilang.” Fita menjawab.
“Dia menghilang karena kamu yang minta.” Ucap David.
“Aku tidak minta !!” Fita menjawab.
“Kamu belum mengerti ternyata Fita, suatu hari kamu akan tahu maksud aku gimana!!” Ucap David lalu pergi meninggalkan Fita yang masih terdiam di posisinya saat itu.
****
4 Hari berlalu, tapi Arib tidak kunjung kembali, Fita mulai menanyakan keberadaannya.
“Ini sudah 4 hari,kapan kamu ke Jakarta?” Fita mengirim pesan.
“Iya sayang maaf ya, aku di sini seminggu, nanti aku ke Jakarta bareng paman aku naik mobil biar lebih hemat.” Arib membalas pesan.
“Benar ya.” Fita membalas pesan.
“Iya, ini juga aku sambil mengganti kartu identitas dan belum turun, kamu sabar ya.” Arib membalas pesan.
“Aku tunggu kamu.” Fita membalas pesan.
__ADS_1
Fita terus menerus menunggunya kembali sambil mengisi waktu seperti biasa.
Seminggu berlalu dan Arib masih tidak kunjung kembali sedangkan Pamannya sudah ada di Jakarta.
“Ini sudah seminggu kenapa kamu tidak kembali juga?” Fita mengirim pesan.
“Iya maaf sayang identitas aku belum jadi tapi nanti aku kesana, sementara ini kita hubungan jarak jauh dulu ya, tidak apa-apakan.” Arib membalas pesan.
“Tapi kamu janji kamu kembali.” Fita membalas pesan.
“Iya aku kembali.” Arib membalas pesan.
Dari sini Fita mulai mengerti maksud David dan Eka dulu, ia benar-benar merasa Arib mencoba pergi dari hidupnya.
Berminggu-minggu pesannya Fita tidak di balas sama Arib, kemana dia dalam hatinya.
“Kamu kemana? tidak ada kabar, apa kamu baik ?” Fita mengirim pesan.
“Aku baik, maaf di sini sinyalnya susah jadi aku susah menghubungi kamu.” Arib membalas pesan.
Itu pesan terakhir dari Arib dan dia mulai menghilang, Fita selalu mengirimkan dia pesan, mencoba menelfon tapi tidak ada respon padahal saat itu telfonnya aktif.
Sampai suatu ketika Fita melihat statusnya di Facebook, dia update foto baru bersama teman-temannya, tapi untuk membalas pesannya saja tidak bisa, dia juga tidak mencoba menghubungi Fita, Fita mulai terluka saat itu, ia mulai mengingat hidupnya kemarin di mana ia masih punya Ijal, ia hanya bisa mencoba menguatkan hatinya dan menerima semuanya bagaimanapun dulu itu pilihannya dan ia harus menerima kenyataanya meskipun hatinya sangat hancur saat itu.
Beberapa hari berselang, hari ini Fita benar-benar merasa hancur, Arib tiba-tiba menghapus semuanya mulai dari nomernya di blokir, Whatsapp di blokir, di saat ia ingin mencoba menghubunginya dan memastikan dia kenapa lewat Facebok tapi ternyata dia membuat status yang melukai hatinya (Single/sendiri) hatinya sangat hancur waktu itu, maksudnya apa seperti ini, tidak pernah ada kabar, menghilang dan tiba-tiba dia memperlakukan Fita seperti sampah, dia buang tiba-tiba seenaknya tanpa memberikan penjelasan kepadanya, apa salahnya Fita, ia sangat sangat menyesal dengan pilihannya.
Fita hanya bisa menanggis saat itu, ia binggung mau berbagi dengan siapa, hidupnya hancur seketika, runtuh, hatinya sangat terluka.
Aku mencintai kamu tulus, aku memilih kamu tapi ini perlakuan kamu sama aku, kamu jahat, kamu tidak punya hati. Fita membatin dengan air mata deras mengalir.
Fita sudah seperti orang gila, stress, binggung, rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya, ia tidak punya siapa-siapa lagi pikirannya waktu itu.
Fita sempat meminum obat penenang untuk mengakhiri hidupnya tapi gagal, mungkin tuhan masih menginginkan ia hidup.
Fita kembali ke masa lalunya, masa yang sudah lama ia tinggalkan, ia kembali merokok, minum-minuman keras, hidupnya berantakkan sangat berantakkan.
Hingga akhirnya Fita memutuskan pergi jauh dari Jakarta ke kota kelahirnya, sore itu ia berangkat dari terminal bus dan sampai di sana pagi-pagi pukul 02.00 wib ia di jemput dengan kakak sepupunya. Fita menenangkan diri di kampung halamanya selama 2 bulan kurang lebih. Setidaknya di sana Fita masih bisa menghibur diri dengan melihat keindahan alam tanah kelahirannya dan banyak yang bisa ia ajak mengobrol dan berbagi.
Dia sepupu perempuan Fita, jarak mereka lahir hanya berbeda 3 bulan saja, namanya Melisa, Fita selalu berbagi keluh kesahnya kepadanya.
“Kamu kenapa? kamu bisa cerita sama aku!” Ucap Melisa.
“Hidup aku hancur, dia meninggalkan aku Mel.” Fita menjawab.
Fita menceritakan semuanya kepada Melisa.
“Ya tuhan kamu yang sabar ya, yang kuat, tuhan pasti punya jalan lain buat kamu.” Ucap Melisa sambil memeluk Fita, Fita hanya bisa menanggis.
Malam itu Fita melamun sendiri di depan rumah dan ada seseorang laki-laki menghampirinya, namanya Seful dia sepupu jauhnya, Fita tidak mengerti bagaimana orang kampung sana menyebutnya yang jelas mereka masih terhitung saudara.
“Ngapain kamu sendirian di luar?” Tanya Seful sambil berjalan kearah Fita.
“Hanya melamun tidak lebih.” Fita menjawab.
“Kamu melamunin Mas?” Tanya Seful sambil tertawa.
“Percaya diri banget kamu Mas jadi orang.” Fita menjawab.
“Aku kasih tahu ini sama anak kota seperti kamu yang biasa hidup di kota besar, tidak baik di luar malam-malam sendirian melamun nanti kesambet.” Ucap Seful sambil tertawa.
“Ya bagus kalau kesambet, biar aku bisa menerkam kamu dan mecekik leher kamu Mas!!” Fita menjawab dengan tatapan tajam lalu tertawa.
“Jangan dong, aku belum nikah tahu, emang tidak kasihan kamu sama bibi belum sempat aku kasih cucu eh akunya sudah mati.” Ucap Seful dengan raut wajah meledek.
“Sama Mas ya bikinnya.” Ucap Seful sambil terus tertawa.
“Enak saja, tidak mau aku males.” Fita menjawab sambil tersenyum kecil.
“Dik, Mas bilangin ya kamu manis kalau senyum, banyak yang akan jatuh cinta sama kamu, percaya sama Mas.” Ucap Seful sambil menggoda.
Fita sambil melihat ke arah Mas Seful sembari menanggis.
“Tapi tidak dengan dia Mas, ade salah, salah banget Mas.” Ucap Fita sambil terus menanggis.
“Dik, kamu tidak salah, tapi takdir yang belum memberikan kamu waktu untuk bersamanya (Ijal).” Seful menjawab sambil mengelap air matanya Fita.
“Apa laki-laki semua seperti Arib Mas?” Tanya Fita.
“Ya tidak semua, emang laki-laki itu brengsek, mesum, aneh-aneh, tapi tidak semua laki-laki itu seperti Arib, kadang seberengsek apapun laki-laki namun dia begitu mencintai wanitanya dan sebaliknya, sebaik apapun laki-laki itu belum tentu dia bisa mencintai wanitanya, semua berbeda Dik yang sama itu cuma jenis kelaminnya.” Seful menjawab.
Banyak yang sudah Fita ceritakan ke Mas Seful dari awal sampai akhir, semua dia tahu, setiap malam ia selalu menghabiskan waktu mengobrol dengannya.
“Percaya sama Mas, akan ada laki-laki yang sangat mencintai kamu, mungkin sekarang belum saatnya tapi nanti kalau sudah waktunya dia akan datang dengan sendirinya, semangat lagi ya Dik jalanin hidup.” Ucap Seful sambil menghapus air matanya Fita.
“Iya Mas.” Fita menjawab sambil tersenyum.
*)
Setiap sore Fita selalu main dengan Melisa sepupunya.
“Kita mau ke mana Mel?” Tanya Fita.
“Lihat Ebeg (Kuda lumping).” Melisa menjawab.
“Ebeg itu apa?” Tanya Fita dengan wajah binggung.
“Kalau di Jakarta biasanya disebut kuda lumping kalau di sini namanya Ebeg.” Melisa menjawab.
“Oh aku ikut ya.” Ucap Fita.
“Ayo.” Melisa menjawab.
Fita melihat pertunjukan Ebeg untuk pertama kalinya, seru sekali dan ramai yang nonton. Setelah selesai Fita jajan makanan kesukaannya bersama Melisa yaitu baso, ia suka sekali dengan baso di sini.
“Mau makan apa? baso?” Tanya Melisa.
“Pastinya.” Fita menjawab.
Sambil makan baso sesekali mereka bercerita.
“Aku lihat akhir-akhir ini keadaan kamu semakin baik, apa karena Seful ya.” Ucap Melisa sambil menggoda.
“Tidak juga Mel, dia hanya memberi nasihat sedikit saja kepada aku.” Fita menjawab.
“Kamu suka sama Mas Seful ?” Tanya Melisa.
“Sedikit.” Fita menjawab sambil tertawa kecil.
“Hati-hati Seful itu ceweknya banyak, nanti kamu cuma di kasih harapan palsu.” Ucap Melisa sambil tertawa dan terus menggoda Fita.
__ADS_1
“Melisa aku mau tanya dong,si Al itu adiknya Seful ya?” Tanya Fita.
“Iya kenapa?” Melisa menjawab.
“Aku baru tahu ya.” Ucap Fita.
“Iya wajar, soalnya Al itu dia ketua organisasi, kegiatannya kebanyakan di pondok si,jadinya jarang sekali kamu lihat mereka berdua bersama.” Melisa menjawab.
“Oh begitu ya, pantes aku baru tahu.” Ucap Fita.
Besok sudah masuk bulan puasa, puasa pertamanya Fita di kampung.
“Melisa di sini kalau mau beli es di mana?” Tanya Fita.
“Di atas, kita jalan ke atas di sana ada yang jual es, tapi kalau kamu mau yang lain ya keluar kampung belinya, lumayan jauh.” Melisa menjawab.
Maklum, tanah kelahirnya tepat di bawah gunung, masih asli pedesaaan, udaranyapun masih asli, setiap habis maghrib sudah tidak ada lagi anak-anak yang keluar karena di luar gelap, jarak dari satu rumah ke rumah lainnya juga cukup jauh, sisi kanan kiri rumahnya Fita kebun pohon kelapa, pohon bambu dan pohon salak, rasanya seram kalau malam-malam di rumah sendirian.
*)
3 hari lagi terakhir puasa, Fita di ajak buka bersama oleh Melisa.
“Melisa mau ikut buka puasa tidak di masjid.” Ucap Inas.
“Kapan Nas?” Tanya Melisa.
“Sehari sebelum hari terakhir puasa.” Inas menjawab.
“Lusa?” Tanya Melisa.
“Iya, mau ikut tidak ? 10.000 ribu saja, sudah dapet nasi box dan es buah.” Inas menjawab.
“Aku ikut, Fita mau ikut?” Tanya Melisa.
“Boleh.” Fita menjawab.
***
Buka bersamapun tiba, sore itu Fita menghampiri Melisa.
“Melisa, ayo jadi buka bersama tidak?” Tanya Fita.
“Aku lagi siap-siap.” Melisa menjawab.
“Aku tunggu di sini.” Ucap Fita sambil duduk di ruang tamu.
“Aku sudah ini, kita hampiri Wati dirumahnya ayo, sambil menunggu yang lain.” Melisa menjawab.
“Oke.” Ucap Fita.
“Wati, assalamualaikum.” Ucap Melisa.
“Iya sayang sabar, aku lagi pakai kerudung.” Wati menjawab.
“Aku sama Fita tunggu di bawah ya.” Ucap Melisa.
“Oke.” Wati menjawab.
Tidak lama kemudian Wati turun dan menghampiri mereka yang sedang selfi-selfi.
“Waduh selfi tidak pada ngajak-ngajak, ikutan dong.” Ucap Melisa.
“Ayo sini.” Fita menjawab.
Beberapa kali mereka berfoto.
“Eh sudah jam segini ayo jalan ke masjid.” Ucap Melisa.
Fita dan yang lain jalan menuju masjid, lumayan jauh si tapi tidak begitu jauh-jauh banget, sesampainya di masjid Fita langsung masuk ke tempat khusus wanita sembari menunggu adzan maghrib sembari mereka mendengarkan tausiah dari pamannya Fita.
Adzan maghripun berkumandang pukul 17.30 wib, Fita mengambil 1 aqua gelas dan meminumnya setelah itu ia langsung mengambil air wudhu untuk sholat maghrib berjamaah, selesai sholat rasanya hatinya perlahan tenang dan merekapun makan dengan nasi box yang sudah di bagikan Inas tadi.
Isinya ada ayam bakar dan sambel, Fita makan bersama anak perempuan lainnya, sembari bersendau gurau.
“Es buah kamu tidak kamu makan Fit?” Tanya Melisa.
“Nanti saja buat cuci mulutnya.” Fita menjawab sambil tersenyum.
Selesai berbuka puasa Fita berfoto dulu dengan yang lainnya setelah itu ia pulang bersama kakak sepupunya tepatnya kakak kandung dari Melisa, Melisa itu 4 bersaudara, yang pertama sudah menikah Fita biasa memanggilnya (Yayu) kalau di jawa artinya Mbak atau kakak,yang ke dua namanya Romli ia biasa memanggilnya (Tuwing) dan yang ketiga namanya Kak Sahli, mereka seperti saudara kandung meskipun terlahir dari orang tua yang berbeda.
Sesampainya di rumah,Fita melihat ada Mas Seful, Al, dan paman sedang bermain kartu remi bersama ayahnya Fita.
“Mas tadi tidak ikut berbuka puasa bersama?” Tanya Fita.
“Ikut, kenapa?” Seful menjawab.
“Adik tidak lihat Mas?” Tanya Fita.
“Kamu sibuk foto-foto sama yang lain si.” Seful menjawab.
“Fita, buatkan kopi buat Paman ya kopi susu.” Ucap Paman.
“Siap Paman.” Fita menjawab.
“Aku juga dong 1, pakai susu ya.” Ucap Al.
“Susu kambing?” Tanya Fita.
“Ih susu orang kalau ada.” Al menjawab sambil tertawa.
Fita merasa hidupnya baru berjalan hari ini, ia merasa bahagia dan perlahan melupakan masa lalunya, meskipun Ijal masih ada di dalam hatinya dengan sangat rapi. Fita berharap takdir menemukan kita di waktu yang berbeda, ia hanya bisa berharap dan berdoa semoga Ijal baik-baik saja dimanapun itu.
Lagi asik melamun tiba-tiba suara Seful mengagetkannya.
“Eh kok malah melamun si, kopinya sudah belum? sudah haus ini.” Tanya Seful.
“Eh maaf Mas, sudah ini.” Fita menjawab.
“Kamu kenapa? masih galau?” Tanya Seful.
“Tidak Mas, ya sudah ini tolong bawa ke depan ya.” Fita menjawab.
Fita sudah mulai lelap tidurnya, mulai bisa tersenyum dan hidup normal seperti dulu, tapi untuk menjalin hubungan mungkin akan sedikit berbeda, entahlah kita lihat saja nanti bagaimana kisah cintanya selanjutnya…
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
__ADS_1
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤