
Semenjak kejadian itu Fita jatuh sakit, dokter bilang ia harus di rawat inap karena kondisinya tidak memungkinkan jika hanya meminum obat saja, tapi ia menolak dengan alasan ia harus bekerja dan ia memilih rawat jalan, memang tidak banyak yang tahu karena ia sudah menutup diri dari siapapun, ia hanya berusaha menyimpan apapun yang ia rasa sendirian tanpa melibatkan orang lain, baginya mereka hanya ingin mengambil keuntungan sendiri tanpa mengerti perasaanya bagaimana.
Hari itu entah Ijal tahu dari mana kalau Fita sakit, tiba-tiba dia menelfon Fita.
“Hallo Fita, kamu lagi sakit?” Tanya Ijal.
“Iya.” Fita menjawab.
“Sudah berobat belum? Gimana keadaan kamu?” Tanya Ijal.
“Santai saja kali Ijal, aku baik-baik saja, sudah berobat juga kemarin.” Ucap Fita.
“Obatnya sudah kamu minum?” Tanya Ijal.
“Sudah Ijal, ini juga aku baru bangun dari tidur.” Fita menjawab.
“Kalau ada apa-apa hubungi aku ya, apa perlu aku temani lagi ke klinik?” Ucap Ijal.
“Buat apa?” Tanya Fita.
“Ya berobat lah, mau tidak? Kalau mau ayo sekarang aku antar.” Ijal menjawab.
“Tidak usah Ijal, aku sudah berobat, aku sudah minum obat juga, tadi aku sudah bilang, santai saja tidak usah khawatir dan tidak perlu panik.” Ucap Fita.
“Ya sudah kalau sudah tidak apa-apa, soalnya aku sangat khawatir.” Ijal menjawab.
“Kamu tahu dari mana aku lagi sakit?” Tanya Fita.
“Apa si yang tidak aku tahu tentang kamu, semua tentang diri kamu juga aku tahu.” Ijal menjawab sambil tertawa.
“Kamu bisa saja Ijal.” Ucap Fita sambil tertawa.
“Ya sudah istirahat ya.” Ijal menjawab.
“Ada yang mau aku bahas boleh tidak?” Tanya Fita.
“Apa Fita?” Ijal menjawab.
“Kita bisa seperti dulu lagi tidak? menjalin hubungan seperti dulu?” Tanya Fita.
“Gimana ya, aku pantang kembali sama mantan Fita, apa lagi kamu kemarin sudah memilih dia.” Ijal menjawab.
“Aku menyesal.” Ucap Fita.
“Iya aku tau itu, kamu pasti menyesal, tapi tidak bisa Fita, maaf !!” Ijal menjawab.
Meskipun Ijal lelaki yang cuek, pendiam tapi di dalam hatinya menaruh perhatian yang sangat besar, makannya banyak wanita yang jatuh cinta dengannya, termasuk Fita.
Andai waktu bisa di putar kembali aku akan memilih kamu dan meninggalkan si bejat, tapi nasi sudah menjadi bubur, aku harus bisa mengikhlaskan setidaknya kita masih bisa jadi teman. Fita membatin sambil menangis.
Semua kejadian ini hanya bisa Fita ceritakan kepada sahabatnya Rizan, meskipun mereka sudah lulus dan jarang bertemu tapi komunikasi mereka tetap lancar.
“Kamu si percaya banget sama laki-laki, asal kami tahu laki-laki itu brengsek.” Ucap Zan.
“Astaga kamu juga laki-laki Zan?” Ujar Fita sambil tertawa.
“Yang aku maksud Lana, Fita !” Ucap Zan.
“Kirain aku siapa.” Fita menjawab.
“Terus gimana lagi?” Tanya Zan.
“Ya dipecat lah sama Paman aku, aku tidak tahu ya dia sekarang punya pacar lagi apa tidak, kalau kata abang aku si waktu itu dia bawa wanita ke tukang kopi dekat kantor.” Fita menjawab.
“Ya berarti itu pasangannya.” Ucap Zan.
“Iya mungkin.” Fita menjawab.
Akhirnya telepon terputus.
**
Fita sedang bersiap-siap untuk mengantarkan ponakannya ke sekolah,ponakannya bersekolah di sekolah dasar,tantenya sedang sibuk mengurus anaknya yang paling kecil karena sedang tidak sehat.
Tiba-tiba ada laki-laki yang menarik tangannya dengan kuat, Fita kaget dan melihat ke arahnya lalu menariknya dengan kencang, lelaki itu Lana.
“Kamu? mau apa lagi, belum puas !!!” Ucap Fita dengan nada tegas.
“Aku mau pekerjaan aku kembali, mengerti !!!” Lana menjawab dengan tatapan tajam.
“Kamu tidak salah, kamu minta pekerjaan kamu kembali !!!” Ucap Fita.
“Kamu si tega menyuruh Paman kamu untuk memecat aku secara sepihak, aku butuh uang Fita, untuk makan, untuk modal usaha !!!” Lana menjawab.
__ADS_1
“Kamu seharusnya berpikir !!! jangan asal banyak bicara soal tega ya sama aku!! aku tanya sama kamu siapa yang lebih tega dan yang jahat itu kamu atau aku?! lupa itu semua kamu !!! Jawab !!! kamu tidak bisa jawab !!! dasar banci !!!” Ucap Fita dengan nada tinggi.
“Iya aku salah, tapi kamu tidak seharusnya mengambil hak orang, rejeki orang !” Lana menjawab sambil memelas.
“Jangan memohon sama aku, aku sudah tidak peduli, kamu yang memainkan hati aku, sampai aku terima kamu tapi perlakuan kamu ke aku seperti ini!! kamu baru kehilangan pekerjaan saja sudah bingung, itu tidak sebanding denga apa yang pernah kamu perlakukan ke aku !!!” Ucap Fita.
“Tega sekali kamu jadi orang.” Lana menjawab sambil menggenggam erat tangan Fita.
“Jangan sentuh aku !! sakit !!” Ucap Fita sambil berusaha melepaskan tangganya.
“Sakitan mana sama aku yang di pecat sama Paman kamu !” Lana menjawab sambil melotot.
“Kamu seharusnya sadar diri dong !!! kamu kalau mau di kasihani sama orang kamu jangan jahat juga sama orang, pikir dulu sebelum melakukan bos!! kalau tidak punya pekerjaan cari dong,usaha !! jangan lupa aku minta hutang kamu sama aku kembali ya !! aku tagih terus sampai kamu mati juga aku tagih !!” Ucap Fita sambil memegang tangannya lalu terdiam.
Dasar laki-laki bodoh, banci!! lebih baik jdi wanita saja,beraninya sama wanita, saya akan ingat saya murka sama perlakuan hari ini, ingat itu. Fita membatin.
Lana akhirnya pergi meninggalkan Fita, mungkin dia merasa kalah atau kehabisan kata-kata, setelah Lana pergi keponakan Fita sudah keluar dari sekolahnya.
“Kak Fita, aku sudah pulang ayo kita pulang.” Ucap Raffa.
“Iya sayang, capek ya, mau jajan?” Tanya Fita.
“Es cream ya kak.” Raffa menjawab.
“Siap bos.” Ucap Fita.
Setelah membeli es cream Fita mengantarkan keponakannya pulang dan menemaninya bermain sebentar hingga ada suara panggilan masuk di handphonenya dari orang yang tidak ia kenal, suaranya suara wanita entah itu siapa.
“Hallo, ini Fita?” Tanya wanita yang tidak Fita kenal.
“Siapa ya?” Tanya Fita.
“Aku Tyas pacarnya Lana!” Jawab Tyas
“Oh pacarnya Lana ! ada apa ? mau minta pekerjaannya kembali?” Ucap Fita dengan nada ketus.
“Tidak ! mau tanya sudah berapa lama kamu sama Lana?” Tanya Tyas.
“Baru 3 bulan.” Fita menjawab.
“Berarti kamu selingkuhannya?” Tanya Tyas.
“Astaga maksud kamu apa ya, dulu Lana pacaran sama aku mengaku tidak punya pacar !!” Fita menjawab nada kesal.
“Bisa ! kapan? Dimana ?” Fita menjawab.
“Besok sore di kedai kopi.” Ucap Tyas.
“Oke.” Fita menjawab.
Akhirnya telepon terputus, Fita tidak menyangka kalau ia dan Tyas itu ternyata tempat kerja mereka hanya bersebelahan, ia baru tahu kalau ia ini ternyata selingkuhannya bukan pacarnya.
Astaga dasar laki-laki jelek, dasar laki-laki tidak punya otak, kalau ketemu liat saja. Fita membatin.
Sore itu Fita bertemu dengan Tyas di kedai kopi, Pertama kali melihat Tyas dia sosok wanita yang cantik, mempunyai badan yang cukup bagus Fita hanya bisa terdiam.
Astaga wanita seperti ini saja masih di selingkuhi coba, dasar laki-laki buaya, kalau sudah punya 1 pasti kurang, dasar tidak punya otak. Fita membatin sambil melirik ke Tyas.
“Fita ya, aku Tyas.” Ucap Tyas sambil berjabat tangan dengan Fita.
“Terus, jadi gimana?” Tanya Fita.
“Aku sudah sering Fita di selingkuhi sama Lana, jadi aku sudah terbiasa bertemu sama wanita penggoda seperti kamu.” Tyas menjawab sambil menunjuk.
“Jaga mulut kamu ya, aku tidak sedikitpun menggoda dia, kamu saja yang gatal, dia bilang sama aku dia tidak punya pasangan, tidak tahunya aku jadi selingkuhannya, di sini korbannya aku ya, makannya kalau kamu tahu laki-laki itu gatal ikat tangannya sama otalnya!! Ucap Fita dengan nada kesal serta tatapan tajam.
“Dia memang seperti itu, karena tidak aku kasih berhubungan intim.” Tyas menjawab.
“Makannya itu laki-laki di kasih saja biar tidak kemana-mana, dia juga minta sama aku, giliran tidak di kasih terus minggat, bagus tidak aku kasih itu orang, yang ada aku cuma jadi pelampiasan saja !!!” Ucap Fita.
Tyas hanya bisa menangis waktu itu dan Fita sebagai wanita cukup mengerti apa yang di rasakan Tyas.
“Jadi mau kamu apa?” Tanya Fita.
“Aku cuma mau Lana tidak seperti itu lagi.” Tyas menjawab.
“Ya kamu kasih saja hubungan intim kalau begitu, yang dia butuhkan itu.” Ucap Fita.
“Tapi aku tidak bisa.” Tyas menjawab.
“Kalau kamu tidak bisa ya kamu lepas dari laki-lak seperti itu, bodoh sekali kamu jadi wanita.” Ucap Fita.
“Makasih ya, aku cukup tenang sekarang.” Tyas menjawab.
__ADS_1
“Begini ya, aku juga wanita jadi saran aku ya itu kalau kamu tidak mau melepas maka kamu kasih saja yang kamu punya, habis itu tinggal minta menikah, selesai !!” Ucap Fita.
Tyas hanya menatap ke bawah sambil sesekali menangis.
“Aduh jangan nangis, malas aku melihat kamu menangis, ingat Lana punya hutang sama aku 1 juta belum di bayar, kamu bilang sama dia suruh bayar ya.” Ucap Fita.
“Hutang ? buat siapa dia?” Tanya Tyas.
“Ya mana aku tahu, dulu dia bilang minjam saja.” Fita menjawab.
“Padahal tiap bulan, sudah aku kasih jatah.” Ucap Tyas.
“Asli belut banget itu laki, licin benar, modal burung doang tai kucing !!! ya sudah pesan aku itu saja suruh bayar hutang jangan modal kolor doang !!!” Fita menjawab lalu meninggalkan Tyas di meja kedai kopi.
Fita tahu bagaimana rasanya di posisi Tyas karena dulu ia pernah di posisi itu, hanya di peras oleh laki-laki untuk kesenangan semata mereka masing-masing.
Setelah sampai rumah Fita langsung mandi lalu tidur, Paginya Fita berkerja seperti biasa tidak ada rasa sedih di hatinya saat ia bekerja dan bermain dengan mesin-mesin itu. rasanya, ia cukup bahagia dan terhibur dan hari ini ia punya temen main baru namanya Imah dia anak baru hanya berbera beberapa bulan saja dengannya, sebenarnya mereka belum terlalu dekat tapi Fita bisa lebih terbuka dengannya di bandingkan dengan Evi dan yang lainnya.
“Kamu tidak punya loker?” Tanya Fita.
“Tidak kak.” Imah menjawab.
“Ya sudah taruh saja barang-barang kamu di loker aku, ini kamu duplikat kuncinya.” Ucap Fita sambil menyodorkan kunci loker.
“Serius kak, makasih.” Imah menjawab sambil menerima kunci lalu tersenyum.
Jam istirahat tiba,saat itu Fita merasa hampa sekali karena seperti tidak di anggap oleh Evi, Lola dan Siti karena mereka sedang merencanakan liburan ke curug bogor dengan pasangan mereka di akhir tahun baru ini, mereka asik mengobrol bertiga sementara Fita seperti patung di tengah-tengah mereka, boro-boro mengajak, Fita saja tidak tahu kalau mereka membuat rencana, Fita sedikit tersinggung apa karena ia tidak punya pasangan jadi mereka tidak mengajaknya, perlahan-lahan Fita mulai menjauh dari mereka dan Imah mulai menangkap sinyal-sinyal itu, mulai mengerti dengan kondisi yang terjadi saat itu.
“Kamu kenapa kak?” Tanya Imah.
“Tidak apa-apa Imah.” Fita menjawab.
“Cerita saja sama aku kak, tenang aku enak di ajak cerita kak.” Ucap Imah.
“Tidak apa-apa Imah, Imah rumah kamu dekat sama tukang kerang ya?” Tanya Fita.
“Iya, kenapa?” Ucap Imah.
“Boleh besok aku minta temeni makan, aku lagi pengen makan kerang, bisa tidak?” Tanya Fita.
“Memang cowok kakak kemana?” Ucap Imah.
“Aku sendiri, puas !” Fita menjawab dengan nada ketus.
“Maaf kakak,aku tidak tahu.” Ucap Imah sambil tersenyum.
“Iya.” Fita menjawab.
“Ya sudah besok telepon aku ya kak.” Ucap Imah.
“Oke.” Fita menjawab.
Dari sini semakin lama mungkin teman-teman Fita mulai peka dengan perubahannya yang tiba-tiba menjauh, yang biasanya Fita istirahat bersama mereka sekarang ia pindah jam istirahat dan memilih bersama Imah.
“Kak kamu istirahat ke berapa?” Tanya Siti.
“Ke dua aku.” Fita menjawab.
“Tumben, kenapa tidak pertama kak?” Tanya Siti.
“Tidak apa-apa, kerajaan aku lagi banyak.” Fita menjawab.
“Ya sudah kalau begitu kak.” Ucap Siti.
“Kamu tidak istirahat kak?” Tanya Lola.
“Ke dua dia.” Sahut Siti.
“Oh ya sudah kak.” Ucap Lola.
“Iya.” Fita menjawab.
Sikapnya Fita berubah secara drastis perlahan-lahan saat itu,karena ia merasa tidak di hargai sedikitpun, setidaknya basa-basi sedikit tapi ini tidak…..
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1