
Sore itu tepat pukul 15.00 WIB Fita menuju sekolah karena ada tour ke bandung, sesampainya di sekolah ia melihat sahabat-sahabatnya sudah datang.
“Hai.” Fita melambaikan tangan ke vian.
“Hai juga.” Jawab Vian sambil tersenyum.
“Kamu lihat namamu dulu sana ada di bus berapa?” Narti menyuruh Fita untuk melihat di bus berapa.
“Emangnya kamu ada di bus berapa?” Tanya Fita kepada mereka.
“Aku di bus dua.” Jawab Narti.
“Aku di bus tiga.” Jawab Vian.
“Winarni tidak ikut?” Tanya Fita sambil melihat sekeliling.
“Tidak Fita.” Jawab Narti.
“Ya sudah,aku lihat dulu ya.” Fita pergi meninggalkan mereka untuk melihat posisi bus.
Sambil melihat daftar nama tiba-tiba Fita terkejut dengan orang berbadan tinggi sekali ada disampingnya.
“Eh Kamu!” Tanya Fita dengan wajah kaget.
“Hehe, iya kaget ya?” Jawab Arib sambil tertawa jahat.
“Tidak kaget, kamu mau lihat nama kamu ada di bus mana?” Tanya Fita.
“Iya, emangnya kamu di bus berapa?” Tanya Arib sambil melirik matanya.
“Di bus tiga Bersama Vian sahabatku.” Jawab Fita sambil menunjukkan Busnya.
“Aku juga di bus tiga, kita satu bus.” Arib sambil tersenyum.
Oh tuhan ternyata dia satu bus sama aku. Batin Fita sambil membalas senyumannya.
Di dalam bus Fita duduk dengan teman sekelasnya Namanya Riana, sedangakan Vian duduk di depannya bersama seorang teman lelakinya Erwin, perjalanan mereka begitu menyenangkan mereka bersendau gurau bersama, menikmati cemilan yang mereka bawa masing-masing. Sedangkan Arib ada di kursi paling belakang bersama teman-teman semasa Sekolah Dasarnya Fita namanya Okta.
“Kamu dari tadi melihat Fita mulu ada apa si?” Tanya Okta.
“Tidak apa-apa, lagipula aku punya mata,memangnya tidak boleh lihat.” Jawab Arib dengan wajah tegang sambil tertawa malu.
“Kamu suka sama Fita? Dia dulu teman sekolah dasar aku tapi dia tidak begitu punya banyak teman, dulu setahu aku dia pacaran dengan teman aku namanya Agus, tapi putus terus sekarang dia pacarannya sama Muso.” Okta bertanya sambil menegaskan, lalu kasih penjelasan Fita itu siapa di masa dulunya.
“Bukannya mereka sudah putus? Muso juga sudah tidak sekolah di Sekolah kita lagi!” Tanya Arib.
“Mungkin.” Jawab Okta dengan wajah senyuman jahat.
“Aku suka melihatnya, kadang kalau anak-anak lagi godain dia aku suka ketawa sendiri.” Arib sambil tersenyum.
“Suka, serius kamu.” Okta sambil berteriak dan sekita satu bus melihat ke arah mereka.
“Pelan-pelan suara kamu aku malu tahu.” Jawab Arib dengan wajah tersipu malu.
“Nanti aku bantuin dapetin dia bagaimana, dia rumahnya dekat sama aku tapi lebih dekat sama rumahnya Riza.” Okta sambil menawarkan supaya bisa kenal.
“Kalau begitu nanti aku deketin Riza saja dulu biar bisa main kerumahnya.” Jawab Arib kalau dia pengen dengan caranya.
Akhirnya malam tiba dan mereka semua sudah sampai di salah satu restoran dekat Yogyakarta, mereka semua turun begitu juga Fita.
“Kamu mau makan apa Fita?” Tanya Riana.
“Aku nasi ayam.” Jawab Fita sambil menunjuk.
“Riana, Fita aku makan di meja sana sama Narti nanti kalian menyusul ya.” Vian memisahkan diri sambil menunjuk meja.
“Iya.” Jawab Fita.
__ADS_1
Akhirnya Fita dan sahabat-sahabatnya makan Bersama, setelah makanan habis mereka Kembali ke bus masing-masing, sambil berjalan entah kenapa dalam hatinya mencari Arib.
Arib kemana ya kok tidak kelihatan, Fita membatin
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Arib ad di hadapannya,seperti sihir yang menjadi kenyataan.
“Fita kamu sudah makan?” Tanya Arib sambil tersenyum.
“Sudah, kamu juga sudah makan?” Jawab Fita sambil membalas senyuman.
“Sudah, ya sudah ayo masuk ke bus sebentar lagi jalan.” Jawab Arib.
“Iya.” Fita menjawab.
Perjalananpun dilanjutkan, tepat pukul 24.00 WIB, mereka sudah sampai di bandung.
“Aduh dingin banget si.” Riana berteriak sambil kedinginan.
“Pakai jaket aku ini buat nutupin kaki kamu.” Fita menjawab sambil mengasih jaket.
“Tidak nanti kamu kedinginan.” Riana menjawab.
“Tidak, ini kalau kamu tidak mau ya sudah aku tindihin kaki kamu saja ya, biar kamu tidak kedinginan.” Fita sambil menindih kakinya Riana supaya efek hangat di dapat.
“Ide yang bagus.” Riana menjawab dan memberikan senyuman.
*/
Akhirnya mereka sampai di penginapan.
“Anak-anak kalian boleh memilih tidur di kamar manapun dengan siapa saja tapi ingat satu kamar isinya empat orang, tidak boleh lebih ya, besok pagi-pagi kita kumpul tepat pukul 07.00 WIB pagi ya anak-anak!” Guru memberitahu kepada muridnya.
“Baik!” Semua Murid sambil berteriak menjawab pemberitahuan Guru.
Fita satu kamar dengan Vian,Narti dan Riana. Mereka semua kelelahan dan tidur, keesokan paginya Fita membangunkan sahabat-sahabatnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB dan Fita bersama sahabat-sahabatnya masih bersiap untuk turun ke bawah sarapan bersama yang lain, sesudah sarapan mereka akhirnya melanjutkan perjalanan pertama mereka ke Gunung Tangkuban Perahu.
Rasanya aneh, aku satu bus dengannya tapi tidak pernah sedikitpun aku bertemu dengannya kalau bus sedang menepi, dia semalam tidur di kamar berapa ya, dalam hati Fita berfikir tentang Arib dan tersenyum. Fita membatin lalu memejamkan matanya sebentar.
“Hai Riana.” Arib menyapa Riana dengan nada sedikit kencang.
“Jangan Kencang-kencang Fita lagi tidur.” Riana mengingatkan agar mengecilkan suaranya.
“Maaf, aku boleh duduk di sini.” Tanya Arib sambil menunjuk.
“Kalau kamu duduk di sini terus aku duduk di mana? Di jidat kamu?” Jawab Riana dengan muka geram.
“Tidak, kamu duduk di belakang sama Wahyu.” Arib menjawab dengan tertawa sambil bercanda.
“Wahyu?” Tanya Riana.
Sambil melambaikan tanggan kode kalau Arib menyuruh Wahyu menghampirinya.
“Kenapa Arib?” Tanya Wahyu.
“Kamu duduk sama Riana dulu ya sebentar, tidak apa-apakan?” Jawab Arib dengan wajah memohon.
“Oh iya tidak apa-apa, ayo Riana.” Wahyu menjawab lalu mengajak Riana.
“Awas kamu jangan macam-macam sama teman aku ya, Vian jagain Fita soalnya Arib mau duduk di sini.” Riana Sambil mengingatkan Vian untuk menjaga Fita selalu mengawasinya dengan tatapan tajam.
“Oke.” Jawab Vian dengan nada santai.
Akhirnya Mereka bepindah tempat duduk.
Mata Fita perlahan terbuka, tiba-tiba Fita sudah tidur di bahu laki-laki yang sejak pagi sedang dalam pikirannya.
__ADS_1
“Kamu?” Fita bertanya dengan wajah kaget dengan muka baru bangun tidur.
“Iya, itu Wahyu mau dekat sama Riana makannya aku duduk di sini, tidak apa-apakan?” Jawab Arib sambil bertanya apakah boleh.
“Tidak apa-apa.” Jawab Fita sambil tersenyum.
“Bagaimana Muso?” Tanya Arib.
“Dia di Drop Out sama sekolah, aku tidak tahu masalahnya apa.” Jawab Fita dengan wajah binggung.
“Kamu sudah putus?” Tanya Arib.
“Sudah.” Jawab Fita.
“Aku suka melihat kamu kalau lagi sama Muso di belakang kelas delapan D.” Arib menjelaskan semua kalau dia sering memperhatikan Fita.
“Oh iya?” Fita dengan wajah kaget dengan penjelasan Arib.
“Iya, aku juga suka melihat kamu jalan kalau lewat depan kelas aku, dan aku pernah terkesima saat kamu masuk ke kelas aku dan tertawa sama teman-teman kamu, tertawa kamu bagus dan senyuman kamu manis.” Arib menjelaskan dengan wajah memerah dengan tatapan tajam sambil tersenyum.
“Kamu bisa saja, tapi makasih aku tidak sebagus itu.” Fita menjawab penjelasan Arib dengan senyuman.
“Jangan coba-coba merayu sahabat aku!!” Vian menjawab dengan nada tegas.
“Dikit doang pelit banget si.” Arib menjawab dengan tertawa.
Sesampainya di gunung tangkuban perahu mereka semua turun dan bersiap.
“Anak-anak kalian boleh jalan-jalan, berfoto, dan kalau mau ke gunung tangkuban perahu kalian harus naik mobil yang ada di sana bergantian ya, kita di sini selama 2 jam jadi nikmati dan Kembali tepat waktu ya anak-anak.” Petugas Tour memberitahu dengan pengeras suara.
“Baik Kakak.” Anak-anak semua menjawab dengan suara lantang.
Fita dan sahabat-sahabatnya berfoto, jalan kesana kemari, menikmati jajanan yang ada di sekitar tempat wisata, 2 jam berlalu mereka Kembali ke bus masing-masing dan melanjutkan perjalanan ke Museum Transportasi.
“Tadi kamu kemana saja?” Tanya Arib dengan wajah binggung.
“Tidak kemana-mana hanya menimati suasana gunung dan berfoto, kalau kamu?” Jawab Fita dengan melihat pemandangan yang indah.
"Aku sama seperti kamu." jawab Arib.
Bus merekapun sudah sampai di Museum, sambil membawa satu kotak nasi box pemberian kakak tour di saat tadi mereka semua turun dari bus, Fita dan sahabat-sahabatnya menikmati makan siang di sekitar Museum.
“Ada yang sedang melakukan pendekatan loh teman-teman.” Vian menggoda.
“Vian kamu jangan sebar gosip.” Jawab Fita sambil senyuman jahat.
“Vian itu tidak sebar gosip, orang wahyu cerita kalau Arib itu suka sama kamu. Riana menjawab sambil memberi penjelasan.
“Arib? Arib anak delapan F yang pindahan dari Jakarta itu?” Tanya Narti dengan wajah kaget.
“Iya, yang anaknya tinggi gede.” Jawab Riana.
“Macam punya nyali saja deketin sahabat aku!” Narti menjawab dengan senyuman jahat.
“Kalian sudah,ayo makan habis ini kita keliling museum, tidak usah bahas Arib lagi, oke!” Fita menjawab.
Akhirnya makan siang habis dan mereka semua berjalan mengelilingi museum dan berfoto.
Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR, KRITIK, dan SARAN untuk karya saya,saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
salam hangat untuk kalian semua.
__ADS_1