Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 16


__ADS_3

Fita sudah tidak bekerja selama berbulan-bulan, ia hanya bisa berbagi apa yang ia rasakan ke Arib, tapi respon dia seperti tidak peduli.


“Aku sudah mencari pekerjaan tapi belum dapat juga, gimana ya?” Tanya Fita dengan wajah murung.


“Yang sabar, terus mau gimana lagi, mau guling-gulingan tidak mungkin ada solusi.” Arib menjawab dengan raut wajah acuh.


Beberapa hari kemudian Arib bisa membeli handphone baru yang selama ini dia inginkan.


“Aku mencicil beli handphone ini.” Ucap Arib sambil melihatkan handphone.


“Berapa bayarnya perbulan.” Fita menjawab dengan raut wajah kaget.


“700 Ribu saja, kecil.” Ucap Arib dengan raut wajah senyuman jahat lalu tertawa.


“Ya sudah, kamu yang cari uang jadi ya terserah kamu mau untuk beli apa.” Fita menjawab lalu terdiam.


Terserah kamu mau beli apa saja lagipula kamu tidak begitu peduli sama aku. Fita membatin.


Fita merasa Arib begitu tidak peduli dengannya, dengan apa yang ia butuhkan saat ini, tapi bodohnya ia yang tidak pernah berbicara semua dengannya hanya di pendam di dalam hati saja.


“Aku mau bertanya ini?” Tanya Fita dengan wajah serius.


“Tanya apa lagi si?” Arib menjawab dengan nada suara kesal.


“Hubungan kita mau gimana, mau kemana? Kita berhubungan sudah lama tapi kamu tidak ada niat untuk ketemu orang tua aku?” Tanya Fita dengan tatapan tajam.


“Aduh bisa tidak si jangan membahas itu dulu.” Arib menjawab dengan nada suara tegas.


“Kenapa si tiap aku tanya, pasti kamu selalu tidak bisa jawab, dan selalu tidak mau bahas.” Tanya Fita dengan nada suara tinggi.


“Aku lagi tidak ingin bahas itu, cari topik yang lain bisa tidak !!” Arib menjawab dengan nada tegas.


“Terserah !!!” Ucap Fita dengan nada suara tinggi serta wajah penuh amarah.


Dari sini Fita mulai merasa benar apa yang di katakan Eka waktu itu kalau Arib memang tidak ada niat kearah yang lebih serius.


*)


Singkat cerita, tugas Fita setiap harinya hanya bersih-bersih rumah, mengurus rumah selagi orang tuanya bekerja, sambil terus mencoba mengirim lamaran kesana kesini tapi belum ada panggilan juga, sedih sekali hatinya waktu itu.


Fita mencoba menghubungi Arib tapi tidak ada balasan, hingga suatu hari.


“Aku lagi sakit.” Fita mengirim sebuah pesan.


“Jangan lupa minum obat.” Arib membalas pesan.


Dengan balasan pesan yang begitu singkat sekali saat itu hancur hatinya padahal yang ia butuhkan saat itu hanya ingin di perhatikan, ditemani, di beri waktu hanya itu saja yang Fita inginkan.


Malam itu Fita periksa ditemani ibunya ke klinik.


“Besok cek darah ya, takutnya kamu kena tifus atau demam berdarah.” Ucap Dokter.


“Pagi-pagi ya Dokter?” Tanya Ibu.


“Iya sekitar jam 11 siang ya Ibu dan jangan makan dulu ya sebelum pengambilan darah, kalau minum saja tidak apa-apa, jadi kamu puasa dulu paginya ya Fita.” Ucap Dokter.


“Iya Dokter.” Fita menjawab lalu terdiam.


Semoga saja tidak apa apa ya tuhan. Fita membatin.


Sepulang dari Klinik Fita menghubungi arib melalui telefon.


“Aku besok cek darah, kamu bisa temani aku tidak? soalnya Ibu kerja jadi tidak ada yang temani aku.” Ucap Fita.


“Kamu tidak mikir ya aku kerja di mana, di kalideres jauh.” Arib menjawab dengan nada tinggi sekali.


“Kalau kamu tidak bisa ya sudah tidak apa-apa, tapi jangan bicara dengan nada seperti itu!!!” Ucap Fita dengan nada tinggi.


“Aku capek kerja, kamu bisanya cuma mengeluh saja, memang kamu tidak bisa mengurus diri kamu sendiri !!!” Arib menjawab dengan nada tegas serta membentak.


Saat itu Fita cuma bisa terdiam saja tanpa sepatah kata lalu mematikan panggilan.


Malam itu badannya serasa sakit semua dan suhu tubuhnya masih tinggi, ia ingat Ijal dan ia coba mengirim pesan kepadanya.


“Ijal, sudah tidur belum ?” Fita mengirim pesan.


“Belum kenapa Fita?” Ijal membalas pesan.


“Aku sakit, besok harus cek darah, aku bisa minta tolong sebentar untuk mengantar aku ke klinik?” Fita membalas pesan.


“Bisa Fita, jam berapa ke kliniknya?” Ijal membalas pesan.


“Jam 11 Ijal.” Fita membalas pesan.


“Oke,besok aku jemput tempat biasa, masih kuat jalankan?” Ijal membalas pesan.


“Masih Ijal, oke besok aku tunggu ya, makasih Ijal.” Fita membalas pesan dengan senyuman lebar.


“Santai saja Fita, aku senang bisa ada buat kamu.” Ijal membalas pesan.


Saat itu Fita Bahagia sekali, ia merasa orang lain jauh bisa menghargai dan ada di saat ia kenapa-kenapa, tapi kenapa pacarnya sendiri tidak bisa seperti itu.


****


Paginya pukul 10.15 wib pagi Ijal mengirim pesan kepadanya.


“Jadi tidak Fita?” Ijal mengirim pesan.


“Iya jadi, ini aku lagi siap-siap, sebentar ya.” Fita membalas pesan.


“Serius masih kuat? Kalau tidak kuat, aku jemput di rumah kamu, tapi rumah kamu yang mana?” Ijal membalas pesan.


“Tidak usah Ijal, aku masih kuat jalan, kita ketemu tempat biasa saja.” Fita membalas pesan.


“Aku jalan ya.” Ijal membalas pesan.

__ADS_1


Beberapa saat setelah itu Ijal sudah datang.


“Fita, aku sudah sampai.” Ijal mengirim pesan.


“Oke sebentar ya tunggu.” Fita membalas pesan.


“Iya, pelan-pelan saja jalannya, takutnya kamu pingsan aku yang bingung.” Ijal membalas pesan.


“Siap bos.” Fita membalas pesan.


Fita melihat Ijal duduk di atas vespanya.


“Ijal kamu bawa vespa ? motor kamu yang satunya ke mana?” Tanya Fita dengan wajah kaget.


“Di bawa adik aku, kenapa? Fita tidak mau naik vespa?” Ijal menjawab.


“Mau, siapa bilang tidak mau, malah seru bisa ingat masa lalu, tidak mogok lagi kan tapi.” Ucap Fita sambil tersenyum lebar lalu tertawa.


“Tidak dong, aku juga tidak tega menyuruh kamu dorong-dorong motor di keadaan kamu yang lagi sakit.” Ijal menjawab sambil membalas senyuman lalu tertawa.


“Bisa saja kamu merayu aku pagi-pagi.” Ucap Fita sambil tertawa.


“Ini serius bukan rayuan, ngomong-ngomong cowok kamu kemana tidak sama dia saja?” Tanya Ijal.


“Arib lagi sibuk.” Fita menjawab.


“Kamu bohong ya sama aku? jujur muka kamu beda, sedih begitu aku melihatnya, ada apa Fita?” Tanya Ijal.


“Tidak kenapa-kenapa Ijal, ya sudah ayo keburu panas.” Fita menjawab.


Fita masuk dan memberikan surat yang di berikan dokter semalam.


“Tunggu sebentar ya ibu, nanti di panggil.” Ucap perawat.


“Iya.” Fita menjawab sambil mencari kursi yang kosong.


Fita duduk dan tidak lama kemudian Ijal masuk dan berjalan ke arahnya Fita lalu duduk disampingnya.


“Sudah sarapannya?” Tanya Fita.


“Sudah, aku bilang makannya cepat tidak lama, gimana sudah ?” Ijal menjawab.


“Belum di panggil masih nunggu ini.” Ucap Fita.


Beberapa saat kemudian Fita di panggil dan di bawa masuk ke dalam ruangan pengambilan darah dan Ijalpun mengikuti masuk.


“Lurusin tangannya ibu, yang rileks ya jangan tegang.” Ucap Perawat sambil memegang tangan.


“Muka kamu ke aku saja, sini sambil peluk aku, biar kamu tidak takut.” Ucap Ijal dengan senyuman.


Fita melakukan yang Ijal perintahkan.


“Tahan ya, sakitnya hanya seperti di gigit semut saja.” Ucap Perawat sambil menyutik jarum suntik ke tangannya Fita.


“Ini vitaminnya ya ibu, banyak-banyak minum air putih dan susu ya, nanti jam 3 sore hasilnya bisa langsung di ambil dan bertemu Dokter Ika ya, semoga lekas sembuh.” Ucap Perawat sambil memberikan obat.


Setelah semua selesai Fita dan Ijal pulang.


“Ijal nanti sore jam 3 hasilnya keluar, kamu bisakan mengantar aku lagi?” Tanya Fita.


“Maaf Fita, bukannya aku tidak mau tapi nanti siang aku ada pekerjaan, gimana dong, kamu bisa sendiri?” Ijal menjawab.


“Tidak apa-apa Ijal, makasih sudah di anterin ya.” Ucap Fita.


“Iya, kamu istirahat itu obatnya jangan lupa di minum, kalau aku tidak pekerjaan pasti aku temanin.” Ijal menjawab.


“Santai.” Ucap Fita sambil tersenyum.


Hari itu tidak ada kabar apa-apa dari Arib, tidak ada pesan masuk maupun niat menghubungi Fita saat itu mungkin Arib sudah tidak peduli lagi.


Sore itu Fita mengambil hasil cek darah sendiri karena Ijal ada pekerjaan jadi dia tidak bisa menemaninya, sesampainya di sana ia langsung bertemu dengan Dokter Ika.


“Bagaimana dokter hasilnya?” Tanya Fita dengan raut wajah tegang.


“Kamu kena gejala tifus, harus istirahat total dulu untuk beberapa hari ini dan makan makanan yang teratur jangan lupa, minum air putih yang banyak.” Dokter menjawab.


“Iya Dokter, pasti terima kasih.” Ucap Fita.


Setelah Fita selesai ia langsung pulang, sesampainya di rumah ia langsung istirahat dan tidur.


Malamnya Arib masih tidak ada kabar, ia kaget dengan suara telefon dan itu dari Ijal


“Fita?” Ucap Ijal.


“Iya Ijal kenapa?” Fita menjawab.


“Gimana hasilnya, kamu tidak apa-apakan Fita? Kasih tau aku.” Ucap Ijal dengan nada khawatir.


“Tidak apa-apa, cuma gejala tifus saja Ijal, beneran sumpah.” Fita menjawab.


“Tidak ada lagi?” Tanya Ijal.


“Tidak ada Ijal.” Fita menjawab.


“Kalau kamu kenapa-kenapa langsung hubungi aku ya, aku standbye terus, ya Fita !” Ucap Fita.


“Iya bos siap makasih ya.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Kalau kamu mau periksa lagi bilang aku, nanti aku anterin, aku temanin.” Ucap Ijal.


“Iya bos siap.” Fita menjawab.


Fita merasa Ijal jauh lebih baik, jauh lebih mengerti ketimbang pacarnya sendiri.


2 minggu kemudian Fita tidak bertemu dengan Arib tapi di minggu pagi Arib menghubungi Fita.

__ADS_1


"Sayang,jemput aku dong."Ujar Arib.


Arib bukannya menayankan kondisinya Fita sudah sehat apa belum, malah di suruh jemput.


“Kamu sudah sehat?” Tanya Arib sambil melirik.


“Sudah, kalu aku masih sakit ya tidak mungkin aku bisa jemput kamu.” FIta menjawab dengan nada sinis.


“Kemarin aku sibuk banget, maaf ya.” Ucap Arib sambil memelas.


“Sudah biasa.” Fita menjawab lalu terdiam.


Kamu paling sibuk dengan wanita lain, biasanya kaya begitu. Fita membatin.


Sesampainya di pondok gede mereka masih harus naik angkutan umum lagi menuju rumahnya Arib, turun dari angkutan umum mereka langsung buru-buru mencari angkutan umum lagi dan turun pas di depan komplek rumahnya Arib.


Fita berjalan di depan dan Arib dib belakangnya yang sedang sibuk mencari handphonenya.


“Sayang kamu bawa handphone aku?” Tanya Arib dengan raut wajah panik.


“Apa? Handphone? Tidak sayang kamu tidak kasih handphone kamu sama aku.” Fita menjawab.


“Serius?” Tanya Arib dengan raut wajah tegang serta panik.


“Emang kamu taruh di mana?” Fita menjawab.


“Di sini, di kantong depan tadi pas mau naik angkutan umum.” Ucap Arib sambil menunjuk.


“Di jambret orang kali pas tadi kita turun, coba cari lagi.” Fita menjawab.


“Tidak ada sayang, sialan yang mengambil tidak bakal berkah, coba telepon sayang.” Ucap Arib dengan raut wajah kesal serta berkeringat.


Fita terus menerus mencoba menghubungi nomernya Arib.


“Gimana?” Tanya Arib.


“Bisa si tapi tidak ada yang angkat, sudah pasti ini di jambret.” Fita menjawab.


Beberapa saat kemudian Fita mencoba menelepon lagi dan kali ini tidak tersambung sama sekali.


“Mati handphonenya, gimana dong sekarang?” Tanya Fita.


“Pasti itu handphone hilang, mana masih cicilan lagi sialan !!” Arib menjawab dengan nada kesal serta memukul tembok.


“Terus gimana?” Tanya Fita.


“Ya mau gimana lagi, sudah tidak ada juga, aku masih ada handphone yang lama, nanti aku beli kartu dulu.” Arib menjawab dengan raut wajah lesu.


*)


Setelah kejadian hilangnya handphone itu Arib sudah tidak mau bekerja lagi di kalideres.


“Kenapa tidak mau kerja?, terus bayar cicilan handphonenya gimana?” Tanya Fita.


“Biarin tidak usah di bayar lagi, ya buat apa di bayar orang barangnya juga sudah tidak ada lagi.” Arib menjawab.


“Terserah kamu.” Ucap Fita dengan nada suara tegas.


***


Bulan terus berlalu dan sekarang sudah bulan desember, tahun baru kali ini Fita dan Arib mereka mengadakan acara bakar-bakar dengan teman-temannya Arib di rumahnya, rumah itu sepi dan hanya ada Fita dan teman-temannya sedangkan orang tua Arib di jati ranggon di sana juga ada acara.


Mereka semua minum-minuman keras dan Fita tidak karena ia sudah tidak ingin melakukannya lagi, beberapa saat Arib sudah mulai aneh tingkat lakunya dia mencoba mencium Fita dan ingin melakukan sesuatu kepadanya tapi Fita terus menolak, menolak dan ia langsung berlari meninggalkan Arib dan teman-temannya yang tidak sadarkan diri, Fita memilih pulang sendiri karena dengan keadaan Arib yang seperti itu tidak mungkin juga dia mengantarkan Fita pulang yang ada mereka malah celaka nantinya.


Di sepanjang jalan Fita terus berfikir kenapa Arib mau melakukan itu kepadanya, apa dia tidak sayang sama Fita, apa karena dia lagi tidak sadar dan tanpa sadar air mata menetes di pipinya Fita ia teringat dengan Ijal, lalu ia mengeluarkan handphonenya dan ingin menghubungi Ijal tapi ia hapus niatnya seketika.


Pasti Ijal lagi senang-senang atau mungkin dia lagi ada acara, aku tidak mungkin mengganggunya terus. Fita membatin dengan air mata mengalir deras di matanya.


***


Hari ini tanggal 3 januari,ya Fita masih ingat tanggal itu, tanggal di mana ia jadian dengan Ijal.


“Ijal, kemarin pas tahun baru kamu ke mana?” Fita mengirim pesan.


“Di rumah saja bakar-bakar sama saudara aku, kenapa?” Ijal membalas pesan.


“Tidak, cuma tanya saja, Ijal aku boleh tanya sesuatu?” Fita membalas pesan.


“Boleh, apa?” Ijal membalas pesan.


“Kita tidak bisa menjalin hubungan lagi ya?” Fita membalas pesan.


“Bisa-bisa saja Fita.” Ijal membalas pesan.


“Serius? tapi kamu tau aku sudah punya Arib” Fita membalas pesan


“Ya aku juga serius, ya tidak apa-apa, aku mau jadi yang ke dua, jadi sekarang kita menjalin hubungan, tapi ada syaratnya !” Ijal membalas pesan.


“Apa? aku janji akan penuhin itu.” Fita membalas pesan.


“Aku harus jadi prioritas kamu Fita.” Ijal membalas pesan.


“Oke, aku janji kamu bakalan jadi prioritas aku apapun itu.” Fita membalas pesan.


Ya, itu hari bahagianya Fita, hari di mana ia dan Ijal bersama, hari di mana ia memiliki seseorang yang bisa selalu di andalkan dan selalu membuatnya merasa aman dan nyaman, ia selalu mengingat tanggal bersejarah itu, tanggal bahagianya ia bisa bersama dengannya, sungguh ia sangat Bahagia bahkan ia tidak punya kata-kata lain untuk menggambarkan kebahagiannya waktu itu.....


 


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.


Salam hangat untuk kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2