Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 7


__ADS_3

Waktu terus berlalu namun Ijal tiba-tiba menghilang bagai di telan bumi dan kisah Fita dengan Davidpun masih terus berjalan, meskipun dia tau kalau Fita sudah sering menduakan dia tapi dia tidak pernah membalas. Di titik ini Fita sudah merasa hidupnya mulai sempurna, punya pasangan yang baik, sahabat, teman-teman yang peduli.


*/


Hari ini hari minggu, Fita sudah mempunyai janji dengan teman-teman sekelasnya dan sahabatnya namanya Rizan, Fita biasa memanggil dia Zan, mereka mau jalan-jalan ke kebun binatang bersama yang lain ada Agus serta teman wanitanya. Agus, Zan, Fita, Dian,Egi mereka menunggu yang lainnya di halte busway.


“Pacar kamu mana lama banget ini sudah jam berapa keburu siang, kebun binatang jauh tidak dekat ya!” Agus bertanya kepada fita dengan raut muka kesal serta berkeringat.


“Maaf Agus, sabar sedikit lagi ya kata Gena mereka lagi di jalan kok.” Fita menjawab sambil melihat wajah Agus yang Nampak kesal sekali.


Sabar dong aku juga tunggu dasar kagak sabaran. Fita membatin.


“Pacar kamu sudah dimana?” Tanya Zan dengan raut wajah cemas.


“Di jalan Zan, maaf ya.” Fita menjawab dengan wajah binggung serta nada bicara pelan.


“Sudah jangan di pikirin, Agus memang orangnya seperti itu.” Zan menjawab dengan nada halus.


Selang beberapa saat akhirnya yang di tunggu-tunggu datang, Gena, David, Mas Agus sudah tiba di halte busway dan mereka langsung meluncur, setibanya di kebun binatang mereka terus berjalan mengikuti Agus entah mau kemana, dan mereka tiba di kandang unta.


“Egi, ini kamu katanya mau melihat unta, mau naik tidak? apa mau Foto?” Tanya Agus dengan muka bersemangat.


“Oh ternyata hewan unta seperti ini bentuknya.” Egi menjawab dengan muka kaget lalu terdiam.


Rasanya aku ingin berteriak kamu lahir di jaman apa si masa unta saja tidak tahu bentuknya seperti apa!!. Fita membatin serta dengan wajah kesal.


Sebenarnya mereka semua ke kebun binatang untuk melepas Egi yang akan pindah sekolah ke kampung. Kebetulan Egi ingin sekali melihat unta itu seperti apa jadi mereka mengajaknya ke kebun binatang, setelah itu Agus mengajak mereka semua pulang.


“Kenapa kamu terburu-buru pulang Agus?” Tanya Fita sambil menghampirinya.


“Iyalah pulang terus mau apa lagi, cuma mau melihat unta saja sama Egi.” Agus menjawab.


“Jadi kamu mengajak kita ke kebun binatang cuma mau melihat unta? tidak jelas banget hidup kamu sumpah!” Tanya Fita dengan nada kesal dan raut muka kesal lalu terdiam.


Dasar manusia tidak punya pikiran begitu saja males aku berteman sama orang model kaya begini. Fita membatin dengan raut wajah kesal.


“Yasudah kalau kamu masih mau muter sana, aku sama yang lain mau pulang!” Agus menjawab.


“Menyesal aku bermain sama kamu jauh-jauh cuma melihat unta saja! kalau ingin melihat unta di internet juga banyak!” Fita menjawab dengan raut muka sangat kesal dengan tatapan tajam lalu terdiam.


Dasar Agus tidak berguna mending aku tidak usah ikut. Fita membatin.


“Yasudah ayo pulang, kamu mau pulang tidak?” Agus menjawab serta bertanya.


“Kamu yakin tidak mau pulang?” Tanya Zan.


“Tidak! astaga itu orang ke sini cuma melihat unta, aku sama yang lain belakangan saja kamu mau ikut pulang sama Agus dan kawan-kawan silahkan!” Fita menjawab dengan nada kesal serta wajah penuh amarah.


“Yasudah kalau begitu aku pulang duluan ya, nanti kita ke kebun binatang lagi tapi sama yang lain lagi.” Zan menjawab dengan nada bicara pelan.


“Tanpa Agus ya Zan!” Fita menjawab sambil menunjuk Agus.


“Siap!!” Zan menjawab lalu memberi jempol kepada Fita.


Rizan memang selalu menjadi penengah di setiap apapun, dia anak laki-laki yang netral dan tidak memihak siapapun. Fita, David, Mas Agus, Gena, Dian mereka berjalan menyusuri jalan dan melihat-lihat binatang yang ada di kebun binatang itu, sampai akhirnya hujan pun turun mereka langsung cepat-cepat lari dan meneduh di satu pos kebun binatang.


“Pakai segala hujan menggangu orang lagi jalan-jalan.” Dian berbicara kepada teman-teman dengan raut wajah kesal.


“Dian duduk sini sama aku.” Fita menjawab sambil menawarkan tempat duduk.


“Kalian mau makan? Beli pop mie ya, Mas Agus yang akan bayar.” Mas Agus menawarkan makan serta menunjuk pop mie.


Maklum di antara mereka hanya Mas Agus yang sudah bekerja dan mereka masih sekolah jadi Mas Agus santai-santai saja membayar makanan untuk mereka semua.


“Mas Agus Gena mau ya satu.” Gena memanggil Mas Agus sambil meminta.


“Oke.” Agus menjawab sambil tersenyum.


Mereka semua makan pop mie di tengah-tengah hujan yang cukup lebat, cukup lama hujan pun berhenti.


“Ayo pulang sudah sore juga ini.” David bertanya kepada anak-anak sambil melihat cuaca di luar.


“Ayo.” Fita menjawab lalu berjalan kearah David serta anak-anak mengikutinya.


Mereka mengobrol kecil sambil berjalan menuju arah halte busway.


“Apaan si itu Agus ke sini jauh-jauh Cuma melihat unta!” Dian berbicara sendiri serta dengan nada kesal


“Ya begitu,mungkin dia lagi bingung kali, tahu begitu mending kita tidak usah ikut ya Dian.” Fita menjawab.


“Iya.” Dian menjawab lalu terdiam.


“Tidak boleh begitu, ada bagusnya jadi kita bisa jalan-jalan iyakan?” David menjawab lalu bertanya.


“Iya juga si.” Fita menjawab lalu terdiam.


Iya emang bagus tapi tetap saja kesal sama manusia macam model seperti itu. Fita membatin.


***

__ADS_1


Esok harinya Fita berangkat sekolah seperti biasa di antar David tapi jalan kaki,kebetulan sekolahnya juga tidak begitu jauh dari rumah, seperti biasa David hanya mengantarkan Fita sampai pom bensin yang tidak begitu jauh dari sekolahnya.


“Sampai sini saja ya sayang.” David berhenti lalu melihat ke arah Fita.


“Iya, kamu hati-hati berangkat kerjanya ya.” Fita menjawab dengan senyuman manis.


“Iya, sampai nanti sayang.” David menjawab lalu berbalik badan dengan senyuman manis.


David pun pergi naik kendaran umum, seperti biasa dia mau ke pasar kelapa gading untuk berjualan kantong plastik dan angkat-angkat barang di pasar, Fita juga tidak pernah malu yang penting halal.


Sampai di sekolah Fita tidak saling menegur sapa dengan Agus, dalam pikirannya buat apa menegur sapa dengan orang seperti dia, Fita juga sudah tidak peduli.


“Fita kamu sudah bikin tugas kantor?” Tanya Lia sambil menghampirinya.


“Sudah, kenapa?” Fita menjawab.


“Hehe…mau lihat.” Eni sambil tertawa sambil merayunya.


“Aduh kebiasaan pada nyontek.” Fita menjawab sambil tertawa.


“Hehe sedikit saja Fita, kamu tahu sendiri kemampuan aku berpikir gimana.” Fuah menjawab sambil tertawa sambil memohon dengan wajah penuh harap.


“Yasudah ini.” Fita menjawab sambil memberikan buku.


untung teman kalau bukan teman mana mungkin aku kasih. Fita membatin sambil tersenyum


Semua teman-temannya memang keseharian mereka seperti itu, apa lagi kalau ada tugas kantor, Bahasa arab, surat menyurat pasti Fita yang jadi bahan mereka untuk menyontek, sama seperti Rizan.


“Fita aku pinjam tugas kamu boleh, aku tidak mengerti.” Zan menghampiri Fita dengan raut wajah memohon.


“Boleh, makannya kamu belajar supaya mengerti!!!” Fita menjawab lalu memberikan satu buah buku miliknya.


“Makasih Fita kamu memang sahabat aku yang baik haha.” Zan menjawab sambil mengambil buku lalu tertawa.


“Kamu lagi dekat sama Ica ya Zan?” Fita bertanya dengan wajah penasaran.


“Iya, tapi dia tidak mau menunjukan hubungan kami.” Zan menjawab.


“Kamu baru dekat apa sudah punya hubungan?” Fita bertanya dengan tatapan tajam.


“Pengen tahu saja kamu!!!” Zan menjawab lalu meninggalkan Fita tanpa sepatah kata lagi.


Dasar orang lagi ngobrol serius malah di tinggal untung teman. Fita membatin dengan wajah kesal.


Teman-temannya selalu mengira kalau Fita punya perasaan lebih dengan Rizan, padahal pada kenyataannya tidak sama sekali, Fita hanya kagum karena dia ramah di sekolah,anak laki-laki yang keren. maklum murid laki-lakinya tidak ada lagi, Fita dan Rizan bersahabat dari mereka pertama kenal, semua yang Rizan rasakan pasti akan di ceritakan bersama Fita, begitu juga sebaliknya mereka sama-sama saling mengerti perilaku dan sifat masing-masing.


*/


“Kamu tidak apa-apakan aku minta putus, aku minta maaf tentang kita.” Tanya Fita kepada David dengan raut muka sedih.


“Aku mengerti Fita, aku juga mau kamu bahagia meskipun bukan sama aku Fita, aku mau kamu dapat yang terbaik, aku akan terus menjaga kamu meskipun dari jauh, maaf aku belum jadi pasangan yang bisa di andalkan sama kamu, yang baik buat kamu.” David menjawab sambil menjelaskan serta dengan muka tegar dan matanya meneteskan air mata.


“Bagi aku kamu sudah jadi yang terbaik, terima kasih.” Fita menjawab sambil memeluk erat David serta air matanya mengalir deras.


“Kita menjadi teman sekarang, mantan itu tidak harus menjadi musuh?” David menjawab serta memeluk erat sambil mengusap air mata Fita.


“Iya.” Fita menjawab dengan singkat lalu tersenyum dan bibirnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata lagi serta air matanya deras mengalir.


“Jangan bersedih, nanti kamu dapat yang baik, bagaimana kalau Ijal?” David Sambil mengusap air matanya lalu bertanya.


“Ijal?” Fita menjawab dengan wajah kaget.


“Kamu menyukainya bukan?” Tanya David dengan wajah serius.


“Tapi Ijal menghilang entah ke mana, aku saja tidak tahu sekarang dia di mana.” Fita menjawab lalu terdiam.


“Kamu tahu burung merpati?” Tanya David.


“Tahu, memang kenapa?” Fita menjawab dengan wajah binggung.


“Burung merpati jika sudah mempunyai pasangan dia akan setia dengan pasangannya, dan sejauh apapun burung merpati itu pergi dia pasti Kembali ke tempat di mana dia harus Kembali.” David menjawab sambil menjelaskan dengan raut wajah meyakinkan.


“Lalu?” Tanya Fita dengan raut wajah serius.


“Kalau Ijal itu merpati kamu dia pasti Kembali percaya sama aku.” David menjawab.


Semoga saja apa yang di bilang David benar aku berharap sekali itu jadi kenyataan. Fita membatin tanpa bisa menjawab lagi lalu mereka meninggalkan lokasi.


Hidupnya memang baik-baik saja selepas Fita putus dengan David, tapi hatinya merasa sepi, tidak ada tempat berbagi lagi untuk bercerita.


*/


Liburan semester akhirnya tiba, Fita dan teman-temannya mulai liburan lagi ke kebun binatang tapi dengan orang berbeda.


“Ayo liburan besok, mau tidak?” Zan menghampiri Fita yang sedang terdiam.


“Ke mana?” Tanya Fita.


“Ayo besok ke kebun binatang.” Zan menjawab.

__ADS_1


“Yasudah aku tanya anak-anak dulu siapa yang mau ikut.” Fita menjawab.


“Nanti kabarin aku ya.” Zan menjawab lalu pergi.


Fita sambil pindah ke tempat duduk di sebelah Lia.


“Ada yang mau ikut besok ke kebun binatang sama aku dan Rizan?” Tanya Fita.


“Ayo, aku mau ikut, eni mau ikut tidak.” Lia menjawab.


“Ayo.” Eni menjawab dengan bersemangat.


“Aku juga mau ikut!” Ida menjawab sambil berteriak kearah Rizan.


“Zan, banyak yang mau ikut.” Fita menghampiri Zan lalu memberi tahu.


“Besok aku tunggu di kampung melayu.” Zan menjawab.


“Oke.” Jawab Fita.


***


Keesokkan paginya, Fita, Eni, Ida, Lia sudah menuju terminal kampung melayu.


“Kabarin si Rizan di mana.” Ida bertanya kepada Fita.


“Oke, sebentar ya sabar.” Fita menjawab sambil mengeluarkan handphone.


“Kamu di mana?” Fita sambil mengetik pesan di handphone sambil memastikan posisi Rizan.


“Kalian yang di mana ? aku sudah di belakang kopaja.” Zan membalas pesan sambil memberikan posisinya.


“Rizan sudah di belakang angkutan umum.” Fita membalas pesan sambil memberi tahukan posisi rizan ke yang lainnya.


“Ya sudah ayo.” Ida menjawab.


“Lama banget si, dasar betina!!” Zan menjawab sambil tertawa.


“Berisik banget!” Lia menjawab dengan muka kesal.


“Naik angkutan umum yang mana ini?” Tanya Zan dengan wajah binggung.


“Yang itu.” Ida menjawab sambil menunjuk dan berlari mereka pun mengikuti Ida.


“Kenapa tidak naik busway saja?” Tanya Eni sambil menunjuk.


“Lama sekali, naik angkutan umum saja cepat, kita turun di belakang!” Ida menjawab sambil menunjuk.


Sesampainya di kebun binatang, mereka membeli tiket dan masuk.


“Eh Zan kamu laki-laki sendiri di sini.” Goda Ida dengan wajah bercanda lalu tertawa serta teman-teman yang lain ikut tertawa.


“Biarin saja, lagipula kamu rusuh banget!!” Zan menjawab dengan muka kesal.


“Kalian mau masuk ke primata tidak?” Tanya Fita sambil menunjuk.


“Boleh-boleh ayo.” Lia menjawab sambil berjalan.


“Berapa tiketnya?” Tanya Zan.


“Lima belas ribu rupiah per orang.” Jawab Eni sambil menunjukkan harga tiket.


“Oke.” Zan menjawab.


“Maaf adik-adik kalau mau masuk tidak boleh membawa makanan, minuman dan tas ya, silahkan titipkan di penitipan barang.” Petugas satpam memberi tahu sambil menunjukan tempat penitipan barang.


“Makasih ya pak, tapi kalau tas kecil bolehkan?” Tanya Fita.


“Boleh.” Jawab Petugas keamanan lalu meninggalkan lokasi.


“Astaga ribet banget, orang aku juga tidak membawa senjata tajam takut banget.” Zan berbicara sendiri dengan wajah kesal.


“Ikuti sajalah.” Fita menjawab lalu masuk ke primata.


Mereka bersenang-senang seharian, berfoto, tertawa, bercanda pokoknya lebih seru dari pada sebelumnya, Fita lebih dekat dengan Rizan dan hampir di setiap fotonya pasti ada Rizan, Iya dia sahabatnya dia satu-satunya orang yang paling mengerti bagaimana kondisi Fita.


Semoga mereka akan terus bersama sebagai sahabat….


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .


Salam hangat untuk kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2