Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 24


__ADS_3

Fita akhirnya memutuskan untuk mengajak Ijal, sebenarnya hatinya ragu tapi tidak ada pilihan lain saat itu dan ia mencoba menghubungi Ijal.


“Ijal?” Fita mengirim pesan.


“Kenapa Fita?” Ijal membalas pesan.


“Ayo jalan, mau tidak? sama aku terus sama temen aku juga, terus teman aku itu mengajak kekasihnya, masa iya aku sendirian jadi setan.” Fita membalas pesan.


“Jalan kemana?” Ijal membalas pesan.


“Nonton Film, mau tidak? Mau iya, please mau.” Fita membalas pesan dengan raut wajah penuh harap.


“Kapan?” Ijal membalas pesan.


“Besok, jam 4 sore.” Fita membalas pesan.


“Ya sudah oke, aku tunggu di tempat biasa.” Ijal membalas pesan.


Fita bahagia sekali Ijal masih mau menemani jalan-jalan, padahal dia saja belum mengenal Imah dan Restu.


*/


Di tempat kerja Fita langsung memberitahu Imah soal berita bagus ini.


“Imah, aku sudah mengajak teman aku, jadi kita menonton.” Ucap Fita dengan raut wajah bahagia.


“Oke, kita nonton di cinema mega iya kak, kasihan tau Restu kalau menonton di bioskop lain, kamu tau sendiri badannya seberapa tingginya jadi harus yang lega gitu.” Imah menjawab.


“Bebas aku terserah kamu.” Ucap Fita.


“Ngomong-ngomong kamu sama siapa?” Tanya Imah sambil menggoda.


“Temen aku, namanya Ijal.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Oke.” Ucap Imah.


Sembari menunggu jam masuk kerja Fita menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tentang ia dan Ijal.


“Ya sudah tidak apa-apa, nanti biar dekat sama Restu kak, jadikan kalau kita jalan bareng lagi kamu tidak bingung harus mengajak siapa.” Ucap Imah sambil tertawa.


“Iya Imah.” Fita menjawab sambil tersenyum.


Jam pulang kerja tiba, selepas pulang kerja Fita janjian dengan Imah di rumah supaya mereka bisa berangkat bersama.


“Nanti aku ke rumah kamu, jadi kamu sama Restu tunggu saja ya.” Ucap Fita.


“Iya kakak.” Imah menjawab.


Sesampainya dirumah Fita langsung bersiap-siap, setelah ia selesai bersiap-siap sore itu lalu ia menghubungi Ijal untuk menanyakan di mana posisinya.


“Ijal di mana?” Tanya Fita.


“Kamu kali yang di mana, aku sudah tunggu kamu di tempat biasa.” Ijal menjawab.


“Oke tunggu, tunggu aku lagi jalan.” Ucap Fita.


“Oke.” Ijal menjawab.


Akhirnya Fita bergegas menghampiri Ijal, dari jauh Fita melihat dengan sangat terpukau, waktu itu Ijal sangat manis sekali, dia memakai celana levis hitam panjang, jaket levis dan sepatu pantofel (Maklum namanya juga sekolah di pelayaran).


“Ijal? Tumben kamu ganteng banget.” Ucap Fita sambil tersenyum lebar.


“Iya dong aku gitu !” Ijal menjawab dengan raut wajah menyombongkan diri serta dengan senyuman tipis.


“Iya percaya aku.” Ucap Fita sambil tertawa lebar.


“Jadi kemana kita?” Tanya Ijal.


“Ke rumah teman aku dulu ya, sembari kamu kenalan sama teman aku.” Fita menjawab.


“Oke, iya udah naik, kamu yang jadi petunjuk arah iya aku tidak tahu jalan.” Ucap Ijal.


“Iya aku yang jadi petunjuk jalan, bawel !!!” Fita menjawab sambil tertawa.


Sesampainya di rumah Imah.


“Assalamualaikum, Imah aku masuk ya?” Ucap Fita.


“Iya kak masuk saja, aku lagi dandan.” Imah menjawab.


“Masuk dulu Ijal, Imah temen aku suruh masuk ya.” Teriak Fita dengan suara cempreng.


“Ya sudah masuk saja.” Imah menjawab.


Tidak lama kemudian setelah Ijal duduk Restu datang.


“Imah mana?” Tanya Restu.


“Masih dandan, sini masuk , ini kenalkan temen aku Ijal.” Sahut Fita.


“Aku Restu.” Ucap Restu sambil bersalaman dengan Ijal.


“Aku Ijal.”Ujar Ijal.


“Mau nonton di mana kita?” Tanya Restu.


“Terserah, aku ikut kamu saja.” Sahut Fita.

__ADS_1


“Cinema mega bekasi saja sayang.” Ucap Imah.


“Ya sudah ayo buruan, masih saja dandan ke buru sore neng.” Sahut Restu sambil tertawa.


“Sabar, ayo sudah kita jalan.” Ucap Imah.


Akhirnya mereka menuju bioskop, baru seperempat perjalanan hujan turun dan mereka memilih berteduh di pinggir emperan toko.


“Pakai segala hujan, gimana dong Imah?” Tanya Fita.


“Ya mau gimana lagi kakak.” Imah menjawab.


“Kamu tidak apa-apakan Ijal, basah tidak?” Tanya Fita.


“Dikit doang tapi santai sudah biasa.” Ijal menjawab.


Hujan turun dengan waktu yang cukup panjang menyebabkan jalanan arah ke bekasi banjir dan mereka tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, setelah hujan berhenti mereka memutuskan untuk menonton di bioskop lain saja di daerah dekat rumah Imah.


Sesampainya di Mall tersebut mereka langsung membeli tiket bioskop, mereka mendapatkan tiket masuk bioskop di jam 19.00wib, setelah mendapat tiket Fita memesan makanan ringan dan minuman untuk mereka menonton di dalam.


“Aku ke kamar mandi dulu ya.” Ucap Ijal.


“Oke.” Fita menjawab.


“Ijal ke mana kakak?” Tanya Imah.


“Ke kamar mandi, kenapa?” Fita menjawab.


“Tanya doang kakak.” Ucap Imah.


Akhirnya jam 19.00 wib mereka masuk studio dan film berjalan selama 90 menit, selesai menonton mereka makan di satu restoran ayam, setelah puas mereka pulang, Fita berpamitan kepada Imah dan Restu, Fita di antarkan Ijal sampai di ujung jalan.


“Maaf ya Ijal, sudah bikin kamu kehujanan.” Ucap Fita.


“Tidak apa-apa Fita.” Ijal menjawab.


“Jangan sampai sakit ya, langsung ganti baju kalau sudah sampai rumah, kalau ada apa-apa kabarin aku ya.” Ucap Fita sambil tersenyum.


“Kamu juga Fita, lagipula tadi kamu kehujanan juga sedikit, aku juga tidak mau kamu sakit.” Ijal menjawab.


“Iya, ya sudah aku pulang ya, kamu hati-hati ya.” Ucap Fita.


“Oke Fita.” Ijal menjawab.


Fita merasa cukup bahagia Ijal sudah mau jalan bersamanya, meski mereka tidak banyak bicara tapi ia tau Ijal berusaha menjaganya dan menemaninya.


****


Pengalaman jalan bersama Ijal kemarin seperti obat bagi Fita, membawanya bahagia, sudah lama ia tidak merasa sebahagia ini, semua ini berkat Ijal, semoga ada acara lain lagi supaya ia punya alasan untuk mengajak Ijal lagi, Fita berharap itu tuhan.


Beberapa minggu kemudian Fita mendapatkan bayaran dan ia punya rencana mengajak Ijal jalan dengan alasan belanja, semoga Ijal mau.


“Bisa, tapi habis maghrib, motor aku adanya jam-jam segitu, gimana?” Ijal menjawab.


“Ya tidak apa-apa.” Ucap Fita.


“Aku di belikan baju tidak?” Tanya Ijal sambil tertawa.


“Kalau kamu mau baju tinggal pilih saja.” Fita menjawab.


“Tidak apa-apa aku cuma bercanda, ya udah sampai nanti.” Ucap Ijal.


Malam itu Fita belanja bulanan di Mall di daerah Jakarta dan belanja baju dengan Ijal, di dalam hatinya ia bahagia karena rencananya berhasil.


Maaf ya ijal aku terpaksa supaya kamu mau jalan dengan aku. Fita membatin sambil tersenyum.


“Sudah semua belum? mau beli apa lagi?” Tanya Ijal.


“Tidak ada lagi, ini sudah cukup.” Fita menjawab.


“Oke kalau begitu.” Ucap Ijal.


“Kamu lapar tidak, mau makan?” Tanya Fita.


“Bebas.” Ijal menjawab.


“Ayo kita makan, kamu mau makan apa?” Tanya Fita.


“Apa saja aku yang penting sama kamu.” Ijal menjawab sambil tersenyum.


Fita dan Ijal meninggalkan Mall dan mencari tempat makan, mereka makan baso saat itu.


“Mau apa?” Tanya Ijal.


“Baso tahu.” Fita menjawab.


“Aku pesan dulu, kamu cari tempat ya.” Ucap Ijal.


Fita mencari tempat dan menunggu pesanan datang, setelah pesanan datang mereka makan dan sesekali mengobrol.


“Arib meninggalkan kamu ya?” Tanya Ijal.


“Iya.” Fita menjawab.


“Kenapa?” Tanya Ijal.


“Tanpa alasan, sudah aku tidak mau bahas itu, lagi tidak pengen.” Fita menjawab.

__ADS_1


“Oke.” Ucap Ijal.


“Ijal, kita benar tidak bisa kembali lagi seperti dulu?” Tanya Fita dengan raut wajah memelas.


“Tidak bisa Fita.” Ijal menjawab.


“Ya sudah.” Ucap Fita dengan nada lesu lalu terdiam.


Aku akan terus berjuang buat kamu, ini cara satu-satunya untuk aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Fita membatin.


Setelah makan baso selesai, Ijal mengantarkan Fita pulang, sesampainya Fita di rumah ia mendapat kabar dari Lana, dia mengajak Fita bertemu di kota harapan indah, dia ingin mengembalikan hutang dia ke Fita, pertama Fita menghubungi Ijal tapi tidak di respon dan akhirnya ia mengajak Rizan sahabatnya.


“Hallo Zan kamu di mana?” Tanya Fita di telepon.


“Di jalan arah balik kenapa?” Zan menjawab.


“Mau nemenin aku sebentar ya ke harapan indah, aku ada urusan ini sama Lana.” Ucap Fita.


“Ya sudah tunggu.” Zan menjawab.


Setelah menunggu Rizan yang cukup lama akhirnya dia muncul.


“Kamu tidak salah ini jam segini, ini sudah malam tahu.” Ucap Zan.


“Dia minta sekarang, kalau aku tidak datang nanti uang aku tidak di bayar kata dia.” Fita menjawab.


“Ya sudah ayo, harapan indah mana ini?” Tanya Zan.


“Di ujung sana kata dia.” Fita menjawab.


Sesampainya Fita di harapan indah ia mencarinya tapi tidak ada, ia mencoba menghubunginya, sepertinya dia menjahili Fita supaya mereka terus berputar-putar di sana dengan waktu yang cukup lama sampai hal itu membuat Rizan marah.


“Astaga setan, kamu di mana? jangan menjahili aku yang jelas bodoh, ini sudah malam tidak punya otak kamu ya !!!” Ucap Zan di telepon dengan nada tegas.


“Di ujung sana aku.” Lana menjawab.


“Mata kamu di ujung, aku dari tadi di ujung sana, kamu tidak ada setan !!!” Ucap Zan dengan nada kesal.


“Itu kamu lurus saja belok kanan ada gereja di situ !” Lana menjawab.


“Astaga, monyet di sini tidak ada gereja setan, yang jelas kamu di mana, jangan sampai aku marah ya, kalau ketemu aku akan aku hajar !!!” Ucap Zan sambil mengepal tanganya.


“Iya, kamu lurus saja ikutin jalan nanti sebelah kiri ada minimarket aku di situ.” Lana menjawab.


“Awas kalau kamu bohong ya, aku cari kalau tidak ada nanti aku hajar !!! ayo Fita naik.” Ucap Zan.


Mereka mengikuti arahan dari Lana dan sampai di tujuan, Fita melihat Lana yang sedang duduk di atas motornya.


“Aku saja yang menghampiri Zan, kamu di sini ya.” Ucap Fita.


“Ya udah aku lihat dari sini, kalau dia iseng sama kamu teriak saja panggil aku, langsung aku hajar itu si setan !!!” Zan menjawab sambil melirik Lana dengan tatapan tajam.


“Iya siap.” Ucap Fita.


Akhirnya Fita menghampiri Lana.


“Mana uang aku?” Tanya Fita.


“Buru-buru banget dik?” Lana menjawab.


“Sudah buru cepat !!!” Ucap Fita dengan nada sinis.


“Ini pas dengan kekurangan kemarin.” Lana menjawab sambil memberikan uang.


“Oke, urusan kita sudah selesai !!!” Ucap Fita.


“Belum !!” Lana menjawab.


“Maksud kamu ?” Tanya Fita.


“Aku minta kembalikan pekerjaan aku.” Lana mejawab.


“Bukan urusan aku, anggap saja itu balasan buat kamu.” Ucap Fita sambil melangkah pergi meninggalkan Lana.


“Ayo Zan cepat.” Ucap Fita.


Rizan dengan cepat menancap gas lalu mereka pulang, di jalan sesekali mereka mengobrol.


“Urusan kamu sudah selesai?” Tanya Zan.


“Sudah Zan.” Fita menjawab.


“Buat pelajaran saja Fita, lain kali yang benar cari cowok jangan asal percaya.” Ucap Zan.


“Iya bos.” Fita menjawab.


Rizan waktu itu tempat berbagi keluh kesahnya Fita dan selalu bisa ia andalkan, sebenarnya ia ingin mengadu dengan Ijal tapi Fita sadar ia tidak lebih dari seorang mantan bagi Ijal, jadi Fita hanya bisa berbagi semua kepada Rizan, Rizan sahabat yang cukup baik, Fita begitu terbuka dengan Rizan dalam segala hal begitu pula sebaliknya.


Jelek buruk, bagusnya Fita Rizan juga tau, Fita selalu percaya Rizan adalah sahabat yang selalu ada sampai nanti (entah kapan), karena persahabatan mereka akan terus berjalan selamanya sampai mereka memliki hidup mereka masing-masing…..


 


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.

__ADS_1


Salam hangat untuk kalian semua❤


__ADS_2