
Pagi itu Fita mendapatkan kabar gembira dari Imah, kabar itu seketika membuatnya sangat bersemangat.
“Kak, aku sudah tanya sama Restu soal kemarin.” Ucap Imah dengan raut wajah serius.
“Terus gimana Imah? Dia benar telepon sama cewek ya?” Sahut Fita di dengan nada lesu.
“Kata Restu Ijal, kemarin pas masuk kamar langsung mematikan handphonenya, terus habis itu di cas di atas colokan di tempat mesin pendingin, kamu tau sendiri mesin pendingin di kamar mereka mati, jadi colok di mesin pendingin di cabut buat cas handphone, habis itu Ijal tidur Kak sampai pagi.”
“Bearti dia bohong dong sama aku ya?” Tanya Fita dengan nada kaget.
“Mungkin dia mau bikin Kakak cemburu.”
“Sialan banget si Ijal, maksud dia apa coba kaya begitu !” Ucap Fita dengan nada kesal.
“Sekarang Kakak sudah tau yang sebenarnya, Kakak pakai drama lagi kaya drama korea.” Sahut Imah sambil tertawa serta menggoda Fita.
“Sialan kamu, ya kali aku, aku cuma tidak mau saja ajak pacar orang jalan Imah, nanti aku kena sasaran lagi.” Ujar Fita dengan senyuman tersipu malu.
“Tapi Ijal jomblo Kakak, kagak punya cewek dan kagak telepon juga.” Sahut Imah sambil mata berkedip.
“Tenang kalau begitu aku sekarang.” Ucap Fita sambil mengelus dadanya.
Bagus kalau begitu, aku jadi lega mendegar kabar ini, aku tau kamu Ijal masih ada rasa kasih sayang di hati kamu buat aku. Fita membatin.
Fita pulang kerja pukil 15.30 sore, sore itu Fita di jemput oleh temannya Ajay, Ajay mengajak Fita untuk ke rumahnya bertemu Ibunya mereka sudah berjanji dari jauh-jauh hari dan sekaligus Fita mengujungi teman kecilnya yang lain.
Fita keluar dari tempat kerja dan Ajay yang sedang menunggu Fita di depan.
“Lama ya? maaf ya.” Ujar Fita sambil menghampiri Ajay.
“Aku juga baru di sini 5 menit, jadi mau makan dulu apa gimana?”
“Makan dong, aku lapar.” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Makan di rumah saja ya, mama sudah bikin ayam rica-rica kesukaan kamu.”
“Kamu serius? mama masih ingat makanan kesukaan aku?” Fita dengan raut wajah kaget.
“Aduh keceplosan aku, aku gagal kasih kejutan ke kamu.” Ucap Ajay sambil tertawa.
“Kalau begitu ayo buru, aku kagak sabar ini mau makan sudah lapar.”
Akhirnya motor mereka menuju ke rumah Ajay, daerah itu masih sama seperti dulu yang berbeda hanya saja sekarang sudah banyak bangunan kontrakan yang tidak seperti dulu yang masih ada beberapa kebun, dulu sepulang sekolah mereka suka bermain rumah-rumahan di kebun orang, dulu mereka membangun rumah dari daun pisang dan selalu saja Fita berperan menjadi Ibu dan Ajay menjadi Ayah sedangkan Ria dan Dodi jadi anak-anaknya masa itu sangat menyenangkan sekali, dulu waktu Fita masih anak-anak pernah terkena ulat bulu dan sekujur badannya merah, teman-temannya bukan menolong Fita malah meninggalkannya karena takut di marahi ibunya Fita.
Beberapa saat Fita sudah tiba di depan rumah Ajay, rumah itu masih sama seperti dulu hanya berbeda sedikit.
Seorang wanita sudah berusia keluar dari rumah itu menyambut kedatangan Fita, sosok wanita berusia itu adalah Ibunya Ajay.
“Fita apa kabar sayang.” Sambil memeluk Fita.
“Fita baik tante, tante gimana sehat?” Tanya Fita dengan senyuman.
“Tante sehat sayang, ayo masuk tante sudah masak, masakkan kesukaan kamu, gimana kabar ibu sama ayah sehat?”
“Sehat tante.” Ucap Fita.
“Bilangin dapat salam dari tante ya.”
“Nanti Fita bilang, kalau mama dapat salam dari tante.”
“Waktu itu tante pernah ketemu sama ibu kamu Fita, di jalan kata ibu kamu si habis dari rumah teman yang ada di gang sebelah.”
“Oh iya Fita tau tante, kemarin Fita sama Ajay ketemu juga di sana tante.” Ucap Fita.
Cukup lama mereka mengobrol tiba-tiba ada suara yang tidak asing baginya, itu Ria dan Dodi mereka juga main ke tempatnya Ajay karena mereka sudah janji bertemu.
“Assalamualaikum calon mertua.” Ujar Ria.
“Bisa aja kalau ngomong enak banget.” Sahut Ajay dengan senyuman sinis.
“Biarin.” Ucap Ria sambil menjulurkan lidah.
“Walaikumssalam, ada calon mantu tante.” sambil tersenyum.
“Apa si kamu, Ria bukan tipe Ajay mama.” Sahut Ajay.
“Aku kasih tau sama kamu ya, sekarang emang belum suka, tapi nanti pasti jadi tipe idaman kamu.” Ucap Ria sambil menggoda.
“Kagak mau aku ogah.” Sahut Ajay sambil melambaikan tangan.
“Kalau Ajay sama Ria berarti aku sama Fita dong.” Ujar Dodi sambil melirik Fita.
“Enak saja kamu, kagak ! aku sudah punya pilihan sendiri.” Sahut Fita dengan nada tegas.
“Astaga, kagak jadi punya pacar aku dong.” Ucap Dodi dengan raut wajah memelas.
“Emang nasib kamu itu harus jomblo, nemenin aku yang jomblo juga.” Sahut Ajay sambil tertawa.
“Males !” Ucap Dodi.
Mereka semua tertawa dengan lelucon ini, entah Fita juga binggung apa yang Ajay suka dari Ajay karena dari jaman awal mereka masuk sekolah Ria begitu suka Ajay.
“Sudah sudah kita makan dulu saja, tante sudah menyiapkan makanan istimewa ini.”
“Pas banget lagi lapar.” Sahut Dodi.
“Main serbu saja kamu, bayar dong, maunya gratis terus, kagak terima gratis di sini.” Ujar Ajay.
“Syirik saja kamu.” Sahut Dodi dengan senyuman sinis.
Mereka semua makan dalam satu meja makan sambil sesekali tertawa karena lelucon yang tanpa sengaja melontarkan lelucon.
Setelah selesai makan Fita dan Ria membantu mamah Ajay membereskan makanan serta mencuci piring sementara para laki-laki bermain permainan di ruang tamu.
“Fita cowok kamu orang mana?” Tanya Ibu.
“Belum jadi pacar tante baru usaha ini, aku minta doakan dari tante ya.”
“Iya tante berdoa buat kamu.”
“Kalau Ria cuku tante berdoa, kalau Ria supaya jadi sama Ajay ya tante.” Sahut Ria.
“Iya sayang.” Sambil tersenyum.
“Tante, emang Ajay kagak pernah bawa cewek selain kita?” Tanya Fita.
“Pernah sekali, tapi itu sudah lama banget, sekarang tante kagak pernah lihat cewek itu lagi.”
“Oh Ria tau tante, beberpa bulan lalu Ajay putus sama cewek itu tante, karena cewek itu selingkuh tante, emang si Ria mengakui cewek Ajay cantik.” Sahut Ria.
__ADS_1
“Mungkin bukan jodoh Ajay.”
“Ria kali tante berjodoh sama Ajay.” Ucap Ria sambil menggoda lalu tersenyum.
“Semoga saja ya.”
Setelah semuanya sudah rapi Fita dan Ria menyusul Dodi dan Ajay ke ruang tamu.
“Susah ya jadi cowok, hobi kalian main permainan doang.” Ujar Ria.
“Apa pembeda kalian sama cewek yang hobi beli peralatan dandan doang.” Sahut Ajay.
“Hai itu bukan hobi tau, itu kewajiban.” Ucap Ria.
“Ngomong-ngomong cowok kamu apa kabar Fita, kemarin aku lihat status kamu lagi liburan.” Ujar Dodi.
“Iya itu, bagaimana kelanjutan kamu?” Tanya Ajay.
“Belum ada titik terang ini, susah cuek banget sama aku, liburan kemarin juga aku di bikin kesal sama dia.” Sahut Fita.
“Kesal bagaimana?” Tanya Ajay.
Akhirnya Fita bercerita semunya kepeda mereka.
“Itu berarti dia lagi menguji kamu Fita.” Ucap Ajay.
“Menguji gimana? aku sekolah 12 tahun ya Ajay, masih saja di uji-uji segala kaya ujian semester.” Sahut Fita.
“Maksud Ajay itu itu dia mau lihat reaksi kamu bagaimana, cemburu apa kagak jadi dia mau tau perasaan kamu ke dia bagaimana.” Ucap Dodi.
“Itu yang aku maksud.” Sahut Ajay.
“Selagi belum ada janur kuning kamu kejar terus Fita.” Ucap Ria.
“Semoga saja ya.” Sahut Fita.
Setelah asik mengobrol hari sudah mulai malam lalu Fita pamit untuk pulang dan pulang bersama Dodi, kebetulan Dodi mau ke arah senen.
“Fita pamit ya tante.” Ucap Fita.
“Hati-hati ya.”
“Ria pamit ya mamah mertua.” Ucap Ria.
“Iya sayang, main lagi ya.”
“Jangan mamah, ribet kalau ada dia.” Sahut Ajay.
“Apa-apaan si kamu, orang mama kamu juga sudah setuju, coba dulu.” Ucap Ria.
“Males aku.” Sahut Ajay.
“Coba dulu Ajay.” Ucap Fita sambil menggoda.
“Aku sama Ria? aduh masih banyak cewek di kampus aku Fita.” Sahut Ajay sambil tertawa.
“Aduh, ya sudah kalau begitu, awas kamu ya kalau ada apa-apa cerita sama aku! kita pamit ya tante.” Ucap Ria.
Mereka semua akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Selama di jalan pulang Fita sedikit bercerita dengan Dodi.
“Kamu cinta banget sama cowok itu Fita?” Tanya Dodi.
“Penyesalan emang datang terlambat Fita, tapi mau bagaimana lagi kita menyikapi dengan baik.” Ucap Dodi.
“Aku minta doa ya, aku lagi usaha terus ini.” Sahut Fita.
“Itu pasti buat kamu, apa si yang kagak buat kamu.” Ucap Dodi.
“Oh iya dodi, nanti aku turun di atas jembatan saja ya.” Ujar Fita.
“Kenapa kagak sampai rumah?” Tanya Dodi.
“Mau sekalian mampir cari makanan di pasar.” Fita menjawab.
“Oke.” Ucap Dodi.
Dodi mengantar Fita sampai jembatan dekat rumahnya Fita.
“Hati-hati ya.” Ucap Dodi.
“Makasih ya, kamu juga hati-hati ya.” Sahut Fita sambil tersenyum.
“Oke.” Ucap Dodi.
Sebenarnya Fita tidak bisa menyebrang sendiri jadi ia menunggu orang yang akan menyeberang jalan, setelah itu Fita menunggu cukup lama akhirnya ada segerombolan anak-anak muda sedang mau menyeberang dan ia mengikuti mereka dari belakang.
Di pasar Fita membeli beberapa gorengan untuk ia bawa pulang karena di rumahnya kagak ada makanan yang bisa di makan, maklum orang tuanya Fita pekerja semua jadi ibunya jarang masuk keculi hari minggu.
Sesampainya Fita di rumah ia langsung beristirahat sebentar lalu bersih-bersih, setelah semua selesai Fita bersantai sembari makan gorengan yang tadi ia beli.
Sesekali Fita melihat foto liburan mereka kemarin, matanya Fita hanya tertuju pada wajah Ijal, wajah orang yang ia sayang.
Sembari berandai-andai Fita membayangkan bisa kembali lagi bersama Ijal seperti dulu, setelah merasa semua sudah cukup dan saatnya Fita untuk tidur karena besoknya ia harus bangun pagi untuk kerja.
****
Jam makan siang itu Fita mencoba menghubungi Ijal meminta untuk menjemputnya.
“Ijal bisa jemput Fita?” Fita mengirim pesan.
“Jam berapa?” Ijal membalas pesan.
“Jam 3 sore.” Fita membalas pesan.
“Oke.” Ijal membalas pesan.
Akhirnya Ijal mau, Fita sudah kagak sabar untuk nanti.
Pukul 15.15 Fita sudah keluar tempat kerjanya, Fita berpikir Ijal sudah menunggu di depan jadi ia terburu-buru untuk keluar, setelah absen pulang Fita lansgung keluar gerbang tapi tidak ada Ijal di sana, justru yang Fita lihat Restu yang sedang menunggu Imah keluar.
Fita menghampri Restu untuk memastikan apakah Ijal tadi sudah di sini apa belum.
“Kamu mau jemput Imah?” Tanya Fita.
“Iya, emang di kagak keluar bareng?” Sahut Restu.
“Aku tadi keluar lebih awal aku kira Ijal sudah tunggu aku.” Ucap Fita.
__ADS_1
“Oh kamu di jemput Ijal, tapi dari tadi aku kagak lihat Ijal, aku di sini dari jam 3.” Sahut Restu.
“Aduh bagaimana ya.” Ujar Fita.
“Coba kamu telepon.” Sahut Restu.
Fita mencoba menghubungi Ijal beberapa kali tapi tidak ada tanggapan sampai Imah saja sudah keluar dan menghampiri Fita dan Restu.
“Aku di tinggal si tadi Kak.” Ucap Imah.
“Dia tunggu Ijal, kamu di tinggal sayang.” Sahut Restu.
“Dasar, terus Ijal sudah di mana?” Tanya Imah.
“Belum datang.” Fita menjawab.
“Tunggu saja sampai datang kita tunggu dia.” Ucap Restu.
“Iya Kakak, aku tunggu di sini, santai.” Sahut Imah.
Sudah cukup lama Fita menunggu Ijal, dari semua belu keluar sampai tempat ini sudah mulai sepi tapi Ijal tidak kunjung datang juga.
“Kakak sudah jam 4, Ijal mana? lupa jemput mungkin dia.” Ujar Imah.
“Tidak mungkin dia lupa Imah, aku tau dia.” Sahut Fita.
“Sampai sepi begini.” Ucap Imah.
Akhirnya setelah cukup lama menunggu Ijal memberi kabar.
“Maaf Fita aku ketiduran, kamu di mana?”
“Masih menunggu kamu di tempat kerja.” Fita bergegas membalas pesan Ijal.
“Tunggu sebentar ya aku ke sana.” Ijal membalas pesan.
“Iya.”
“Bagaimana Kakak?” Tanya Imah.
“Ketiduran dia.” Fita menjawab.
“Astaga, ya sudah kita tunggu di warung saja sambil minum, aku sudah haus, sambil makan juga aku sudah lapar menunggu Ijal, beri tau Ijal kalau kita di warung.” Ucap Imah.
Akhirnya mereka naik sepeda motor bertiga menuju warung makan yang biasa Fita datangi bersama Imah di saat jam makan siang, Fita sambil berbagi lokasi kepada Ijal.
Setelah menunggu sekian lama Ijal sampai di warung.
“Kamu lama sekali, aku sampai kering menunggu kamu.” Ucap Imah.
“Maaf, tadi aku ketiduran, lelah banget habis wawancara kerja.” Sahut Ijal.
“Iya.” Ucap Fita.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya sama Restu.” Ujar Imah.
“Iya, makasih ya sudah mau menunggu, hati-hati.” Sahut Fita.
“Oke, Ijal duluan ya.” Ucap Restu.
Fita pulang bersama Ijal, tapi sebelum pulang ia berjalan-jalan dulu bersama Ijal, mereka memutari ibu kota seperti biasa dan berhenti di daerah menteng, Fita baru sekali ke daerah menteng maklum sudah lama ia jomblo jadi tidak ada yang mengajak ia jalan lagi seperti dulu.
Fita dan Ijal mengobrol cukup banyak, tanpa sadar jam sudah menujukkan pukul 19.45 malam.
“Ayo kita pulang, sudah malam juga.” Ujar Fita.
“Ayo.”
Seperti biasa Fita hanya di antar sampai ujung jalan.
“Makasih ya.” Ucap Fita.
“Iya, maaf tadi telat jemput kamu.” Sahut Ijal.
“Santai saja, aku tau kamu tidak akan lupa untuk jemput aku.” Ucap Fita.
“Sampai rumah jangan lupa makan terus istirahat ya.” Ujar Ijal sambil tersenyum.
“Siap bos.”
Ijal meninggalkan Fita pulang dan ia berjalan sendirian sampai akhirnya ia punya rencana untuk liburan lagi, Fita akan memberitahu Imah soal rencananya ini, semoga Imah mau liburan lagi.
****
Fita menghampiri Imah di mesin, kebetulan Fita memegang mesin yang cukup santai jadi bisa ia tinggal-tinggal sebentar.
“Imah.” Teriak Fita.
“Apa Kakak?” Tanya Imah.
“Liburan lagi mau tidak?” Ucap Fita.
“Ayo, kapan?” Tanya Imah.
“Habis gajian saja, jadi kita ambil libur minggu ini bersama bagaimana?” Ucap Fita.
“Boleh.” Sahut Imah.
“Seriusan kamu mau Imah?” Tanya Fita.
“Iya Kak, aku juga bosan sama suasana Jakarta.” Imah menjawab.
“Aku pikir kamu tidak akan mau.” Ucap Fita.
“Kalau jalan-jalan pasti aku mau Kakak.” Sahut Imah.
“Nanti kita atur ya.” Ujar Fita.
“Oke Kakak.” Ucap Imah sambil mengacungkan jempol.
Fita tidak menyangka akan dengan mudah mengajak Imah pergi liburan, sekrang giliran Ijal yang akan Fita ajak, semoga dia mau…..
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
__ADS_1
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤