Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 30


__ADS_3

Jam menujukkan pukul 11.00 siang itu, Fita bangun dari tidurnya lalu ia mengecek handphonenya banyak pesan masuk dan panggilan dari Imah lalu ia langsung menghubungi kembali.


“Kenapa Imah?” Tanya Fita di telepon.


“Aku sudah di Jakarta, tadi baru sampai jam 6 pagi, aku tidak balas pesan kamu soalnya tidak ada sinyal sumpah.” Imah menjawab.


“Terus gimana kita jadi liburan?” Tanya Fita sambil tertawa.


“Jadi, siang saja ya aku siap-siap dulu bersama Restu, ketemu di mana kita.” Imah menjawab.


“Dimana ya, nanti saja aku kabarin kamu, sekalian aku memberi kabar ke Ijal dulu, jadinya jam berapa.” Ucap Fita.


“Abis Dzuhur saja kali ya.” Ujar Imah.


“Jam 1 saja ya.” Ucap Fita.


“Iya oke.” Imah menjawab.


Setelah selesai kasih kabar Imah lalu Fita mencoba menghubungi Ijal tapi belum ada jawaban, setelah 30 menit kemudian Ijal baru membalas pesan.


“Aku baru bangun, kenapa?” Ijal membalas pesan.


“Imah sudah di Jakarta, jadi liburan kita aku tunggu abis Dzuhur ya.” Fita membalas pesan.


“Iya, iya menginapkan?” Ijal membalas pesan.


“Iya menginap.” Fita membalas pesan.


“Oke, aku siap-siap dulu.”


Setelah mendapat kabar dari Ijal Fita lansung bergegas bersiap-siap menyipakan baju ganti, peralatan yang ia butuhkan di sana.


Jam sudah menujukkan pukul 12.45 siang itu dan Fita sudah rapi sudah siap semua lalu ia kasih kabar ke Ijal.


“Ijal, aku sudah rapi kamu sudah belum?”


“Sudah, tinggal berangkat saja, sebentar lagi aku jalan ya, kamu kabarin si Imah ya.”


Fita langsung menghubungi Imah untuk memberi kabar.


“Sudah siap?” Tanya Fita di telepon.


“Sudah, ketemu di mana?”


“Di tempat pengisian bahan bakar saja kamu taukan?”


“Tempat pengisian bahan bakar mana Kak Fita?”


“Itu yang arah mau ke rumah aku tapi posisinya ada di kiri pokoknya ikutin jalan saja nanti juga kamu lihat.”


“Kirim lokasi Kakak saja, pusing aku.”


“Yaudah nanti aku kirim lokasinya pas sudah di sana.”


Ijal sudah menunggu Fita di ujung jalan dan Fita menghampirinya sambil memberitahu mereka akan bertemu di mana.


Fita dan Ijal sudah sampai di tempat pengisian bahan bakar sambil menunggu Imah dan Restu, Ijal sekalian mengisi bahan bakar sepeda motornya sedangakan Fita memberikan titik lokasinya kepada Imah, setelah menunggu 15 menit Imah dan Restupun tiba.


“Imah, yang di pakai Restu itu bukan sepeda motornya ya?” Fita sambil menunjuk.


“Bukan, itu sepeda motor pamannya.”


“Kenapa?”


“Kamu tau sendiri sepeda motornya Restu pajaknya mati.” Imah sambil tertawa.


“Sepeda motor aku juga pajaknya mati.” Sahut Ijal sambil tertawa.


“Sudah ini lewat mana Ijal kita?” Ujar Restu sambil mencolek Ijal.


“Depok tau jalannya?” Tanya Ijal.


“Tau tau, kalau begitu kamu duluan aku menyusul di belakang.” Restu menjawab.


Akhirnya mereka meluncur ke bogor, di sepanjang perjalanan Fita tidak begitu banyak mengobrol dengan Ijal, Fita merasa Ijal diam saja dengannya begitupun Fita yang binggung mau mulai pembicaraan dari mana jadi sepanjang jalan mereka hanya diam-diaman saja.


Selama beberapa jam di perjalanan mereka sampai di kota hujan bogor, mereka memutuskan untuk istirahat dahulu sambil makan karena hari sudah mulai sore.


“Ijal makan dulu ayo, aku sudah lelah ini sepeda motor aku sudah mulai panas soalnya.” Ucap Restu sambil meminggirkan kendaraanya.


“Bebas, mau makan apa?” Tanya Ijal.


“Mie ayam saja kali ya, itu di sana saja.” Restu sambil menunjuk.


“Yaudah.”


Akhirnya mereka menghampiri tempat makan yang mereka pilih, Fita mencari tempat duduk dan Imah memesan makanan sedangkan para Ijal dan Restu mencari parkiran.


“Pak, mie ayamnya 4 ya.” Imah sambil menunjuk lokasi tempat duduk mereka.


“Jadi mau ke mana dulu kita mumpung masih jam segini juga.” Ucap Fita sambil melirik Imah.


“Terserah Kak, Taman bunga gimana?”


“Bebas, anak laki-laki gimana mau tidak? apa punya pilihan sendiri?” Ujar Fita.


“Terserah aku, ikut gimana kalian saja ya tidak Ijal.” Sahut Restu.


“Iya.”


“Massa begitu saja, terus sampai malam kagak kelar-kelar.” Ucap Imah dengan nada sinis.


“Makan dulu saja kita, nanti kita memikirkan habis makan.” Fita menjawab sambil tertawa.


Pesanan makanan merekapun datang, mereka menyantap mie ayam dengan lahap sekali mungkin kelaparan karena dari siang mereka belum makan apa-apa.


Setelah mie ayam mereka habis, mereka melanjutkan berdiskusi akan ke mana pergi.


“Jadi gimana?” Tanya Fita.


“Bebas.” Imah menjawab.


“Ke mana Ijal?” Tanya Fita sambil melirik.


“Bentar ya.” Ijal sambil membuka handphone dan mencari tempat wisata.


“Gunung pancar gimana? Bagus ini tempatnya buat foto, jaraknya dari sini juga dekat tidak begitu jauh jadi masih cukup waktunya.” Ijal sambil melihatkan hasil pencariannya kepada Imah dan Restu.


“Ini bagus ayo.” Ucap Imah.


“Yaudah ayo.” Ijal menjawab.


Setelah bersepakat mereka langsung bergegas, Restu mempimpin di depan dengan bermodal handphone, mutar ke sana balik ke sini jalan ke sana sampai mereka tersasar, sampai pada akhirnya mereka benar-benar tersesat sampai mengarah ke gunung.


“Astaga kamu ya, kita tersasar ini, kamu benar tidak si, baca lokasinya ini kita mau ke jurang.” Ucap Fita dengan nada sinis serta kesal.


“Benar Kak, tapi bisa ke sini ya.” Imah menjawab dengan wajah memelas serta binggung.


“Aku saja yang di depan oke.” Ucap Ijal.


“Dari tadi Ijal.” Imah menjawab dengan raut wajah greget.

__ADS_1


Akhirnya Ijal memutuskan memipin di depan di ikuti oleh Restu, 30 menit kemudian akhirnya mereka sampai di gunung pancar, tempat yang indah sekali, banyak lokasi untuk berfoto.


“Dari tadi saja si Ijal, kalau dari tadi kamu di depan kita tidak tersasar.” Ucap Fita sambil tertawa.


“Tadi si udah bener tapi itu arah mau ke gunung sepertinya.” Ijal menjawab sambil tertawa.


“Yaudah kita masuk saja.” Ucap Fita.


Mereka masuk ke tempat wisata dengan harga tiket 20.000 sudah termasuk 2 sepeda motor, setelah itu mereka mencari tempat foto yang bagus.


“Kak, aku mau yang itu, foto di situ.” Ucap Imah sambil menunjuk.


“Berapa, tanya dulu coba.” Fita menjawab lalu Imah menghampiri tukang Foto.


“Abang, 1 tempat foto berapa?” Tanya Imah.


“Ada paket 3 tempat foto 35.000 1 orang sampai puas, kalau tanpa paket 1 tempat foto itu 15.000 untuk 1 orang.”


“35.000 Kak, 3 spot foto.” Ucap Imah sambil menghampiri Fita.


“Aku sudah tau, sudah dengar astaga, memang kamu kata aku tidak dengar !” Fita menjawab dengan nada sinis.


“Mau tidak Kak?” Tanya Imah sambil tertawa.


“Oke.”


Merekapun membayar 35.000untuk 1 orang dengan 3 foto.


Fita saat itu merasa iri dengan Imah dan Restu yang bisa foto berdua, maklum saja mereka memang pasangan, sedangankan Fita dan Ijal hanya bisa foto sendiri-sendiri atau Foto ramai-ramai.


“Kamu berdua mau foto berdua?” Tanya Restu sambil menggoda.


“Tidak !” Fita menjawab dengan nada sinis.


“Seriusan ini, aku fotoin sini.” Ucap Restu.


“Tidak usah Restu.” Fita menjawab dengan raut wajah memerah.


“Iya itu Kak, mau saja ayo.” Sahut Imah dengan tatapan menggoda.


“Tidak Imah, makasih, aku foto sendiri saja.” Fita menjawab lalu terdiam.


Sebenarnya aku ingin tapi melihat sifat Ijal yang cuek dan diam aku mengurungkan niatnya, aku hanya ingin liburan ini berkesan itu saja. Fita membatin.


“Sudah sore ini, sudah jam setengah 6 juga, ke mana lagi kita?” Ujar Imah.


“Ayo cari penginapan untuk istirahat.” Sahut Ijal.


“Di mana, aku tidak tau.” Imah menjawab.


“Jalan-jalan saja sambil cari, nanti juga ketemu.” Sahut Restu.


“Ayo.” Ucap Ijal.


Akhirnya mereka meninggalkan gunung pancar dan mencari penginapan, maklum mereka belum sampai di puncak bogor.


Belum sampai di penginapan, tiba-tiba Fita mendengar ada yang berteriak memanggil namanya “Kak Fita” lalu Fita menenggok ke belakang ia melihat Restu dan Imah yang sudah terjatuh di pinggir jalan, dengan cepat Fita menyuruh Ijal putar balik.


“Ijal, Ijal Imah jatuh.” Ucap Fita dengan wajah panik lalu Ijalpun memutar sepeda motornya dan menghampiri mereka.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Fita sambil membantu Imah berdiri dan Ijal membantu Restu serta sepeda motornya.


“Kamu kenapa bisa jatuh si?” Tanya Fita.


“Salah aku, tadi aku bercanda-canda sama Imah terus tiba-tiba jatuh.” Sahut Restu sambil memegang tangannya.


“Tapi kalian tidak apa-apa? ada yang luka?” Ujar Fita.


“Mau istirahat dulu apa gimana?” Tanya Fita.


“Tidak usah, udah ayo jalan lagi.” Sahut Restu.


“Serius?” Tanya Fita.


“Iya ayo.” Imah menjawab.


“Hati-hati Restu bawa motornya.” Ujar Fita.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi sembari sesekali Fita melihat ke belakang ke arah Restu untuk memastikan mereka baik-baik saja.


“Restu ada di belakang kita kagak?” Tanya Ijal.


“Ada Ijal.” Fita menjawab.


“Istirahat dulu ya di minimarket, sekalian cari penginapan.” Ucap Ijal.


“Yaudah.” Sahut Fita.


Mereka memutuskan berhenti di minimarket untuk sekedar istirahat dan mencari-cari hotel melalui aplikasi di handphone mereka.


Sebenarnya mereka ingin sekali ke puncak dan mencari vila, tapi saat itu Fita sudah tidak sanggup, FIta sudah lelah begitupun dengan Imah, karena mereka sama-sama dari kampung halaman dan belum cukup istirahat jadi mereka memutuskan mencari hotel.


Ijal dan Restu cukup lama mencari hotel di salah satu aplkiasi yang di handphone mereka.


“Ada ini dapat, 345.000 2 kamar, gimana?” Ujar Restu sambil melihatkan handphone.


“Gimana Kak Fita?” Tanya Imah.


“Dimana?” Sahut Fita.


“Tidak jauh dari sini.” Ujar Restu.


“Ambil saja.” Sahut Fita.


“Cari minimarket dulu buat bayar, aku pilih cara pembayaran lewat minimarket soalnya.” Ujar Restu.


“Kenapa tidak di minimarket yang kita tempati sekarang memang tidak ada?” Tanya Fita.


“Tidak ada pilihannya.” Restu menjawab.


Restu bergegas ke minimarket yang ia cari lalu ia membayar, Fita dan Imah mencari makanan kecil untuk mereka nanti di hotel.


Setelah semua selesai mereka mengikuti arahan lokasi menuju hotel.


Sesampainya di hotel mereka sudah di sambut oleh pihak hotel mereka, hotelnya cukup bersih, aman serta nyaman, kamar yang mereka dapat juga bersebelahan yaitu nomer 11 dan 12.


Fita dan Imah tidur di satu kamar begitupun dengan Ijal dan Restu, sebelum tidur mereka makan mie serta makanan kecil bersama di depan kamar mereka sambil mengobrol untuk jadwal besok.


“Besok mau ke mana, cibodas?” Ujar Restu sambil memakan makanan kecil.


“Bebas, aku mana tau daerah sini jadi ikut saja orang tinggal duduk saja di sepeda motor.” Sahut Fita.


“Iya ikut saja aku.” Ucap Imah.


“Besok bangun pagi kamu pada besok.” Ujar Restu.


“Santai kenapa si, jam berapa mau jalannya?” Sahut Fita sambil tertawa.


“Pagi-pagilah, kita juga belum sampai puncaknya, jam 6 oke.” Restu menjawab.


“Yaudah.” Ucap Fita.

__ADS_1


“Kamu tidak mau bertukaran kamar sama aku.” Ujar Restu sambil menggoda.


“Tukeran kamar gimana?” Tanya Fita dengan wajah kaget.


“Kamu tidur sama Ijal di kamar aku, terus aku tidur sama Imah di kamar ini.” Restu menjawab sambil menggoda.


“Buat apa?” Tanya Fita dengan raut wajah polos serta binggung.


“Serius, mau tidak mumpung aku nawarin ini.” Restu menjawab sambil tertawa.


“Iya nih Kak mau tidak?” Sahut Imah.


Saat itu Fita melihat ke arah Ijal yang hanya tersenyum tanpa mengeluarakan kata-kata sedikitpun.


“Tidak mau, sudah ayo masuk, tidur sudah malam besok bangun pagi.” Ujar Fita dengan nada sinis.


“Iya iya Kak.” Ucap Imah.


Akhirnya mereka masuk kamar masing-masing, Fita masih menonton televisi sedangkan Imah di kamar mandi cuci muka dan bersiap untuk tidur.


“Kamu tidak mau cuci muka Kak?” Tanya Imah.


“Nanti saja aku, belum mau tidur, padahal tadi sudah mengantuk sekali di jalan, sampai sini malah seger.” Fita menjawab sambil tertawa.


“Kak, di kamar mandi ada shampoo sabun sama sikat gigi, untung kita tadi tidak jadi beli ya di minimarket tadi.” Ujar Imah.


“Iya syukur kalau begitu.” Sahut Fita sambil tersenyum.


Imah sudah dengan posisi tidurnya, sesekali Fita mengobrol dengan Imah namun tidak lama Imah sudah tertidur pulas, tinggal Fita yang belum tidur sedangkan dengan Restu dan Ijal sudah tidur pulas.


Fita malam itu benar-benar tidak bisa tidur malam itu, Fita hanya bisa menonton televsi dan sesekali melihat ponselnya atau melirik Imah yang sudah pulas.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 dan Fita mulai tertidur.


Alarm berbunyi di arah 04.30 pagi, Fita hanya tidur sebentar lalu ia terbangun dan menyiapkan pakain ganti sambil membangunkan Imah.


“Bangun Imah, kamu mau mandi duluan tidak?” Tanya Fita sambil menarik bantalnya Imah.


“Malas bangun aku Kak, kamu saja duluan.” Imah menjawab dengan mata sayup-sayup.


“Yaudah aku duluan ya mandinya.” Ujar Fita berjalan ke kamar mandi.


Saat Fita masih mandi tiba-tiba ada suara ketukann dari Restu terdengar sampai ke kamar mandi.


Astaga banget si Restu orang lagi mandi juga di ketok-ketok. Fita membatin lalu ia mengambil handuk dan memakai pakainnya.


Setelah keluar dari kamar mandi Fita membuka pintu yang masih di ketok-ketok oleh Restu.


“Sudah bangun, astaga orang lagi mandi di ketok-ketok !!” Ujar Fita dengan nada kesal.


“Sudah bangun, kirain belum, itu Imah udah bangun belum?” Sahut Restu sambil melihat ke arah kamar.


“Pacar kamu sudah bangun cuma belum mengangkat badan saja dari kasur, sudah sana mandi kamu, Ijal sudah bangun belum.” Ujar Fita.


“Sudah lagi nonton televisi, yaudah kalau begitu aku juga mau mandi dulu.” Sahut Restu.


Imah bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi, sedangkan Fita sibuk dengan alat kecantikan.


Setelah Imah keluar dari kamar mandi.


“Dingin banget.” Ujar Imah sambil menggigil.


“Tapi seger.” Sahut Fita sambil tertawa.


“Iya si.” Imah menjawab.


“Kamu siap-siap aja dulu, biar aku yang beresin kasur sama yang lainnya.” Ujar Fita.


“Makasih ya Kakak cantik.” Sahut Imah sambil tersenyum.


Setelah semuanya sudah rapi dan siap, jam menujkkan pukul 06.10 pagi, Restu dan Ijal yang sedang memanaskan sepeda motor sedangkan yang mengurus checkout Imah dan Fita.


Akhirnya mereka semua keluar dari hotel, Fita menghampiri Ijal.


“Gimana Ijal tidurnya semalem, nyenyak?” Tanya Fita.


“Nyenyak dong, orang aku videocallan dulu sama cewek aku.” Ijal menjawab.


Sekekita saat itu Fita hanya bisa terdiam, hatinya tiba-tiba sakit rasanya.


Astaga cewek? Berarti aku mengajak jalan pacar orang dong, bodohnya aku, aku pengen pulang tapi aku binggung pulang naik apa. Fita membatin sambil menahan air matanya.


Seketika semangat Fita pagi itu hilang, pantas saja seharian kemarin Ijal tidak banyak bicara dengannya ternyata ini jawabannya.


Mereka berempat melanjutkan perjalanannya, sedangkan dengan Fita saat itu hatinya campur aduk, sesekali ia menanggis di belakang saat di bonceng oleh Ijal yang Fita rasa saat itu ingin sekali menghentikan liburannya saat itu, Fita benar-benar binggung dan tidak ada semangat sama sekali.


Mereka tiba di puncak bogor, sebelum ke tempat wisata mereka sarapan di dekat masjid bogor, Fita memesan 4 nasi goreng dan minuman panas.


“Mau ke mana?” Tanya Imah.


“Tanya Ijal, Ijal mau ke mana?” Sahut Restu.


“Telaga warna sudah pernah belum.” Ijal menjawab.


“Belum, bagus tempatnya?” Ujar Imah.


“Kamu lihat saja sendiri di handphone.” Ijal menjawab.


“Bagus, ayo ke sana, Kak Fita ke sana ya.” Ucap Imah sambil mencari di handphonenya.


“Bebas !” Sahut Fita dengan nada sinis.


“Kamu kenapa Kak?” Tanya Imah.


“Tidak apa-apa.” Fita menjawab dengan nada lesu.


“Serius?” Tanya Imah.


“Iya.” Fita menjawab.


“Kamu bohong ya, cerita sama aku kenapa?” Tanya Imah.


“Aku baik-baik saja.” Fita menjawab.


Fita benar-benar seih saat itu, yang ia rasa benar-benar ingin kembali ke Jakarta menyudahi liburan ini.


Ternyata aku salah dan bodoh, aku mengajak laki-laki yang bukan sudah punya pacar itu sama saja dengan aku sudah melukai hati wanita yang sekarang sedang bersama Ijal, aku bodoh harusnya aku tidak mengajak Ijal dalam liburan kali ini, harusnya aku sadar ijal bukan lagi milikku lagi. Fita membatin


sambil terdiam.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.

__ADS_1


Salam hangat untuk kalian semua❤


__ADS_2