
Perjalanan mereka di lanjutkan ke Cibaduyut pusat perbelanjaan dan oleh-oleh, di sana mereka cukup di beri waktu Panjang, mereka membeli baju, sepatu, kaos, makanan khas Bandung begitupun dengan yang lainnya.
“Kalian sudah dapat apa yang kalian mau?” Tanya Fita kepada teman-temannya.
“Aku belum ini, bajunya tidak ada yang cocok buat aku.” Jawab Vian.
“Aku capek tidak mau keliling lagi ini saja sudah cukup, yang penting ada oleh-oleh khas Bandung.” Narti menjawab dengan nada lesu.
“Aku mau belanja lagi kamu mau temani aku, mau Fita?” Tanya Vian dengan menarik tangan Fita.
“Mau, ayo?” Jawab Fita.
“Aku tunggu sini ya aku capek!” Narti menjawab dengan wajah lelah.
Sambil menunggu Vian memilih-milih yang di cari Fita duduk di pinggir toko, tiba-tiba ada sosok laki-laki yang tidak asing baginya.
Oh tuhan ada dia. Fita membatin
“Cari apa kamu?” Tanya Fita pada lelaki itu.
“Cari kamu.” Arib menjawab sambil tersenyum.
“Kamu pikir aku pajangan khas Bandung, enak saja kamu!” Fita menjawab sambil berteriak lalu tertawa.
“Oh bukan ya kirain aku kamu pajangan buat di rumah.” Arib dengan wajah senyuman jahat.
“Enak saja, bukan.” Fita menjawab dengan nada tegas.
“Kamu beli apa? Kalau aku beli kaos buat adik-adik dan beli ini buat kamu.” Arib sambil menyodorkan gantungan kunci khas Bandung untuk Fita.
“Buat aku? Makasih ya.” Fita Sambil tersenyum.
“Ya sudah aku Cuma mau kasih ini saja, kalau begitu aku jalan lagi ya.” Arib sambil berbalik badan dengan senyuman.
“Iya oke makasih ya.” Fita membalas senyuman lalu Kembali ke depan toko.
__ADS_1
Dalam hati aku Bahagia sekali, ini perasaan apa ya begitu aneh. Fita membatin.
Tiba-tiba Vian menggagetkan Fita dengan suaranya yang khas.
“Fita aku sudah ini kamu lagi melamun?” Vian bertanya.
“Iya ayo, aku tidak melamun, siapa yang melamun? sudah ayo balik.” Fita menjawab dengan wajah binggung.
“Ya sudah ayo.” Vian menjawab.
Akhirnya perjalanan mereka sampai di sini dan merekapun semuanya pulang, di perjalanan pulang mata Fita tidak pernah berhenti melihat ke arah Arib yang lagi tidur di kursi belakang bersama teman-temannya.
Entah rasa apa ini aku sendiri binggung dan bertanya-tanya…sudahlah. Fita membatin.
*/
Sore itu mereka semua sudah sampai di depan SMP Negeri 1 sekolahnya. Fitapun cepat turun dan berjalan ke wartel untuk telefon pamannya dan meminta menjemput ia. Beberapa menit kemudian pamannya sudah menjemput dan Fitapun pulang, besok sudah libur sekolah selama 3 minggu.
Astaga selama 3 minggu aku tidak bertemu sahabat-sahabatku. Fita membatin
Selama 3 minggu liburan semester ia hanya menghabiskan waktu di rumah membantu nenek dan kakeknya di sawah atau hanya sekedar menggembala kambing milik kakeknya, sore harinya ia membatu tantenya menggurus ponakan laki-lakinya, dan di sinilah ia akan menceritakan bagaimana perlakuan pamannya kepada dia.
*/
Laki-laki tidak punya moral, laki-laki biadab, laki-laki sampah! Fita begitu membencinya bahkan untuk melihat wajahnya saja ia tidak sanggup, menjijikan tapi apa daya ia yang tidak bisa menceritakan hal ini kepada siapapun bahkan orang tuanya yang begitu jauh darinya, apakah mereka tahu anak semata wayangnya di lecehkan oleh orang seperti dia,rasanya ia ingin berteriak sekencang kencanngnya menanggis pada dunia, mengadu bahwa ia terluka bahwa ia kotor seperti sampah yang tidak di hargai oleh laki-laki yang sudah di percaya oleh orang tuanya untuk menjaganya malah melencehkannya bahkan bertahun-tahun lamanya!
***
3 minggu berlalu, Fita Kembali ke sekolah dan ia sangat Bahagia setidaknya setengah hari ini ia bisa bahagia Bersama sahabat-sahabatnya, ia melihat papan nama dan mengecek ia masuk di kelas apa, akhirnya ia masuk di kelas sembilan G bersama sahabatnya Vian dan Riana, sedangkan Narti di kelas sembilan D dan Winarni sudah tidak bersekolah lagi, Fita dan teman-temannya bahkan tidak tahu apa alasannya keluar dari sekolah bahkan mereka sudah tidak bertemu semenjak pengambilan rapot kemarin. Meninggalkan soal Winarni Fita mendapat satu kejutan lagi yaitu ia satu kelas dengan Arib entah ia harus bahagia atau bagaimana ia binggung.
“Arib kamu di kelas apa? Jangan bilang kamu satu kelas dengan aku di sembilan G?” Tanya Fita dengan perasaan tidak karuan.
“Kalau iya kenapa?” Jawab Arib dengan wajah percaya diri.
“Serius?” Tanya Fita dengan wajah kaget.
__ADS_1
Oh tuhan aku satu kelas dengan dia bagaimana ini. Fita membatin.
Tanpa banyak kata Arib melewatinnya begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Satu kejutan lagi, dia duduk tepat di depan wajahnya Fita, mau apa anak laki-laki ini Fita binggung.
“Jadi aku bisa lihat wajah kamu setiap hari.” Arib sambil tersenyum.
“Iya, tapi kamu harus lihat ke depan, karena papan tulisnya ada di depan bukan di belakang!” Fita dengan nada tegas sambil tatapan tajam.
Dasar laki laki tidak punya kerjaan. Fita membatin.
“Sesekali nenggok ke belakang tidak apa-apakan?” Tanya Arib sambil tertawa.
Fita hanya tersipu malu dan tidak bisa bicara apa-apa lagi.
***
Seiring berjalan waktu akhirnya Fita dan Arib resmi berpacaran, namun hubungan mereka hanya sampai satu semester saja dan di semester dua mereka sudah tidak bersama, tapi ia masih merasa kalau Arib selalu mengawasinya melihatnya meski mereka tidak saling bertegur sapa.
Ujian nasionalpun sudah hampir dekat dan hubungan Fita dengan Arib semakin jauh.
Oh tuhan andai dulu aku tidak begitu membangun semuanya mungkin aku tidak merasa sesakit ini. Batin Fita.
****
Hari-haripun berlalu ujian sekolah sudah selesai sekarang kesibukan Fita hanya mencari sekolah yang baik, karena nilai ujiannya tidak terlalu besar hanya bisa masuk ke sekolah Swasta.
Fita masuk di salah satu sekolah Swasta yaitu STM Harapan, bisa di bilang hanya 3% saja anak perempuan di sekolah ini, di Angkatan ini saat itu murid perempuannya hanya 4 orang, ia mengambil jurusan otomotif saat itu, sedangkan dengan sahabatnya Vian dia masuk di SMK Negeri 9 jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan), Narti di SMK Negeri, sedangkan Riana di SMK Negeri Banyudono dan Arib ya Fita masih mengingatnya sampai sekarang dia sekolah di SMK Negeri 5 jurusan Arsitek mungkin dia mau membangun masa depan.
Hidup Fita berjalan normal selayaknya anak perempuan pada umumnya, berangkat sekolah dan pulang sekolah seperti biasa hingga pada satu pagi saat ia sedang menunggu angkutan umum ia melihat pengendara motor dan berseragam dan dia adalah Arib entah kenapa pagi itu menjadi pagi membahagiakan, tidak bisa di pungkiri Fita masih menaruh cinta untuknya bahkan masih ingin kembali bersamanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR,KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
__ADS_1
apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
salam hangat untuk kalian semua..