
Hidupnya Fita perlahan memang sudah kembali seperti semula, tapi ia masih belum bisa untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
“Belajarlah untuk memaafkan dirimu sendiri dek, tidak baik seperti ini terus.” Ucap Seful sambil tersenyum.
“Iya Mas, nanti pelan-pelan aku bakalan mencoba belajar berdamai dengan diriku sendiri.” Fita menjawab.
Tidak lama kemudian ada seseorang yang mendekati Fita, namanya Fatur, dia tinggal satu desa dengan Fita hanya berbeda rumah saja, awalnya kedekatan mereka hanya melalui Facebook.
“Hai, kamu Fita ya?” Tanya Fatur.
“Iya, kenapa?” Fita menjawab.
“Mau kenalan saja.” Ucap Fatur.
“Tapi aku tidak kenal sama kamu.” Fita menjawab dengan tatapan sinis.
“Kemaren pas ada acara buka bersama itu aku lihat kamu, terus aku cari tahu tentang kamu.” Ucap Fatur.
“Aku tidak peduli!!" Fita menjawab lalu pergi.
Pantes saja sering sekali setiap aku update status Fatur pasti memberikan like, dia sebenarnya masih di bawah aku jauh sekali, dia kelahiran tahun 2000 sedangkan aku kelahiran 1996, pantasnya dia itu jadi adik ku. Fita membatin sambil di jalan pulang serta tertawa jahat.
*)
2 Bulan berlalu akhirnya Fita memutuskan kembali ke Jakarta dan memulai semuanya dari awal lagi, sore itu ia di temani oleh Kak Sahli ke terminal bus, ia mencari-cari Mas Seful karena dia janji akan mengantarkan ia sampai ke terminal bus.
Sesekali Fita menengok ke kanan serta ke kiri, ke sana ke mari tapi Mas Seful belum datang.
“Cari siapa kamu?” Tanya Kak Sahli.
“Mas Seful Kak, dia janji mau mengantar adik dan ketemu adik sebelum aku pergi.” Fita menjawab sambil matanya melirik sekitar terminal bus.
“Coba kamu telfon.” Ucap Kak Sahli.
Belum sempat Fita menelfon tiba-tiba Mas Seful sudah ada di depannya.
“Ini baso buat bekal kamu di dalam bus.” Ucap Seful.
“Baso? Gimana makannya Mas, ini harus pakai mangkok tau.” Fita menjawab sambil kebingungan.
“Kuahnya cuma sedikit, cuma buat basahin saja, jadi tidak perlu pakai mangkok, pedas seperti yang biasa kamu makan.caranya gampang tinggal kamu sobek saja ujung plastiknya.” Ucap Seful
“Makasih Mas.” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Sama-sama, kabarin kalau sudah sampai dan jangan lupa buat semangat hidup lagi, oke.” Ucap Seful sambil tersenyum.
“Siap Mas!” Fita menjawab.
“Satu lagi, dik.” Ucap Seful.
“Apa Mas?” Tanya Fita.
“Jangan lupa berdamai dengan diri kamu sendiri ya.” Seful menjawab.
Setelah itu Fita langsung naik ke bus dan melambaikan tangannya ke arah Mas Seful dan Kak Sahli, ia menangis ia teringat bagaimana mereka membantunya untuk kembali bangkit dalam ketepurukkannya.
*)
Sesampainya di Jakarta Fita langsung menyiapkan semua surat-surat yang ia butuhkan sambil sesekali membuka Facebook dan ia lihat ada pesan dari Fatur.
“Kamu sudah kembali ke Jakarta ya?”tanya Fatur.
“Sudah.” Fita membalas pesan.
“Nanti aku juga akan ke Jakarta untuk kerja jadi aku bisa ketemu kamu.” Fatur membalas pesan.
“Terus urusannya sama aku apa?” Fita membalas pesan.
“Jangan cuek-cuek dong Fita, gimana kalau kita pacaran, kamu maukan, aku suka sama kamu dari lama.” Fatur membalas pesan.
“Terserah kau saja yang penting kamu tidak mengganggu aku.” Fita membalas pesan.
“Kita pacaran ya sekarang.” Fatur membalas pesan.
__ADS_1
Entah semenjak kejadian Arib itu sekarang tidak mudah buat Fita membuka hatinya, ia menutupnya secara rapat, rapat sekali, baginya Fatur hanya akan menjadi hiburan semata saja tidak lebih.
Besoknya Fita langsung mencari pekerjaan ke sana ke mari belum ada hasil juga, hingga pada akhirnya ia berhenti di perusahaan minyak.
“Ada apa perlu dik?” Tanya Satpam.
“Mau tanya pak di sini ada lowongan tidak ya?” Fita menjawab.
“Oh ada dik, taruh di sini nanti bapak yang akan memberikan surat lamaran kamu ke dalam.” Ucap Satpam.
“Oh, iya ini pak, makasih ya pak.” Fita menjawab sambil tersenyum serta raut wajah penuh harap.
“Sama-sama.” Ucap Satpam.
Siang itu Fita tidak langsung pulang, ia mampir ke taman yang dulu pernah ia datangi bersama Ijal, ia berjalan menyusuri taman itu dan duduk tepat di tempat yang pernah ia duduki bersamanya.
Tatapan Fita lurus ke depan sembari berusaha mengingat bagaimana ia bersamanya, walau singkat tapi baginya itu sangat berkesan.
Aku sangat merindukanmu, kamu di mana sekarang, sudah lama kita tidak ketemu, aku menyesal. Fita membatin dengan posisi bersandar di samping pohon tanpa sadar air matanya menetes di pipinya.
Tiba-tiba handphonenya bergetar, ia mengambilnya dan melihat ada telfon masuk dari siapa, ternyata dari Fatur.
“Apa?” Tanya Fita dengan nada sinis.
“Aku sudah di Jakarta ini sayang.” Fatur menjawab.
“Iya.” Ucap Fita.
“Malam minggu kita main ya, ke kota tua gimana?” Tanya Fatur.
“Bebas, sudah dulu ya aku sibuk nanti lagi.” Fita menjawab lalu mematikan telfon.
Beginilah sekarang Fita, cuek, tidak peduli, lalu ada panggilan lagi dari nomer kantor dan ia mengangkatnya.
“Siang, dengan saudari Fita?”tanya asisten kantor.
“Iya betul” Fita menjawab.
“Besok ada panggilan tes interview di perusahaan minyak jam 8 pagi ya, pakai baju hitam putih dan membawa alat tulis, sudah mengerti?”
Kabar baik ternyata, ia masih dengan tatapannya seperti semula.
Andai Ijal tau keadaanku sekarang bagaimana. Fita membatin lalu ia langsung beranjak pergi untuk pulang.
*)
Pagi itu Fita datang pukul 07.00 dan duduk di ruang tunggu sembari menanti panggilan, pukul 11.00 wib siang untuk interview, hanya interview biasa dan ia kembali harus menunggu untuk tes terakhir yaitu tes kecepatan memilih barang yang oke atau tidak.
Semua tes sudah Fita jalani dengan baik, lalu ia pulang dan seperti kemarin ia mampir ke taman yang biasa ia datangi bersama Ijal, seperti berbagi ia menceritakan pengalamannya hari ini.
Tidak lama kemudian ada telfon masuk dari nomer perusahaan yang tadi ia mengikuti tes.
“Sore, dengan saudara Fita?”tanya asisten kantor.
“Iya?” Fita menjawab.
“Nanti malam anda langsung mulai berkerja ya shift 3 dimulai dari pukul 23.00 wib hingga 07.00 wib dan bertemu dengan pengawas, untuk seragam bebas yang penting bukan kaos ya, mengerti?”
“Iya mengerti, terima kasih ya.” Fita menjawab.
Fita bahagia karena akhirnya ia bisa bekerja lagi, setidaknya waktunya kini hanya untuk mencari uang.
Tiba-tiba ada telefon masuk dari Fatur.
“Gimana sayang keterima?” Tanya Fatur.
“Iya, nanti malem aku langsung kerja.” Fita menjawab.
“Bagus kalau begitu sayang.” Ucap Fatur.
“Aku mau tidur, nanti aku kerja, kamu jangan ganggu-ganggu aku dulu ya.” Fita menjawab.
Fita memang tidak terlalu menyukai Fatur, ia hanya menjadikan dia sebagai hiburan dengan keadaannya yang sepi ini.
__ADS_1
Malamnya Fita berangkat kerja, ia masih ingat mesin apa yang pertama kali ia pegang, ia di pasangkan dengan anak lama namanya Kak Riri.
“Kamu baru ya?” Tanya Riri.
“Iya Kak, tolong bimbingannya ya Kak.” Fita menjawab.
“Iya, kok kamu mau si kerja di sini, di sini kalau lagi ramai tidak ada liburnya, tapi upahnya lumayan, kamu baru lulus sekolah?” Tanya Riri.
“Iya tidak apa-apa Kak, lagian di rumah juga mau ngelakuin apa,lebih baik lemburkan. tidak Kak, kemarin sudah sempat kerja tapi habis kontrak.” Fita menjawab.
“Oh, kerja di mana sebelumnya?” Tanya Riri.
“Di perusahaan shampoo Kak.” Fita menjawab.
“Padahal enak tahu di sana kalau rajin kamu bisa jadi karyawan tetap.” Ucap Riri.
“Bukan rejekiku Kak lagian di sana kerjanya berat.” Fita menjawab sambil tersenyum.
Fita istirahat sendiri waktu itu karena ia masih baru jadi tidak terlalu gabung dengan orang-orang, sedangkan Evi istirahat setelahnya. Paginya Fita keluar tempat kerja pukul 07.00 wib pagi rasanya ia mulai menikmati pekerjaannya yang sekarang, di tambah lagi pengawasnya baik, bersahabat dan mengayomi,jadi tidak takut dan tidak mungkin juga akan bertengkar kalau pengawasnya baik kaya begini.
Hari-harinya berjalan sama seperti hari lalu, kerja, pulang kerja, tidur terus kerja lagi, ia tidak pernah berfikir untuk keluar baginya sekarang waktunya cuma untuk kerja saja, ia benar-benar menutup diri dari cinta.
Pada akhirnya Fatur memutuskan Fita.
“Kita putus saja ya Fita, kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri kamu hampir tidak ada waktu buat aku.” Ucap Fatur.
“Astaga anak manja, aku tidak ada waktu karena aku kerja bukan main-main ingat itu, sadar diri saja umur kamu juga masih di bawah aku !! kamu itu cocoknya jadi adik aku, sadar !!!” Fita menjawab.
Akhirnya Fita hanya menikmati hidupnya yang sedang berjalan ini, lebih tepatnya si pasrah.
Kamu mau deket sama aku ya silahkan, tidak mau deket ya sudah, tidak rugi itu prinsip aku. Fita membatin.
Fita benar-benar berkerja keras mengejar impiannya untuk punya rumah, malam jadi pagi dan pagi jadi malam, kepala buat kaki dan kaki buat kepala. Sebulan penuh dan itu berjalan selama berbulan-bulan sampai sahabatnya menegornya, dia Gena adik dari David.
“Kamu kerja terus memang tidak capek?” Tanya Gena.
“Tidak secapek patah hati, tenang.” Fita menjawab.
“Jangan siksa diri sendiri, memang tidak mau main?” Tanya Gena.
“Kalau aku masuk pagikan sorenya aku di rumah kita bisa main, tidak usah di bawa susah.” Fita menjawab.
“Terserah kamu, memang kamu tidak mau cari pacar lagi?” Tanya Gena sambil menggoda.
“Aku tidak butuh pacar butuhnya duit.” Fita menjawab sambil tertawa.
“Astaga, kamu gila ya?” Tanya Gena.
“Iya aku sudah gila, gila sama duit, terus kamu mau apa !” Fita menjawab.
“Terserah kamu.” Ucap Gena.
“Bercanda aku, sudah ayo kita jajan aku yang bayar.” Fita menjawab.
“Benar?” Tanya Gena.
“Iya serius.” Fita menjawab.
“Makan es cream ya di caffe oke.” Ucap Gena.
“Bebas aku yang bayarin, kalau perlu caffenya aku beli buat kamu.” Fita menjawab.
“Bisa saja kamu, ya sudah ayo.” Ucap Gena.
Fita dan Gena memang sedekat nadi, dia sudah seperti adiknya sendiri dan mereka satu sama lain tidak pernah jaim, apa adanya, setidaknya dia hiburannya selama hatinya sepi karena Ijal.
Andai kamu tahu Ijal, aku seperti ini karena aku menyesal dulu tidak pilih kamu,cepat kembali ya Ijal, aku selalu tunggu kamu di sini, selalu. Fita membatin.
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
__ADS_1
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤