Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 26


__ADS_3

Hari minggu tiba Fita mendapatkan waktu libur dan kegiatan ia di hari minggu menemani ibunya ke rumah teman ibunya.


“Hari ini Ibu mau ke mana?” Tanya Fita.


“Ke rumah teman Ibu, mau makan-makan, kamu tidak ada acara hari ini? kalau tidak ada Ibu minta antar ke rumah teman ibu boleh?” Tanya Ibu.


“Oke, Fita siap-siap dulu.” Fita menjawab.


Setelah selesai bersiap-siap Fita memesan taxi online, sesampai ia di rumah teman Ibunya ia sedikit mengenang masa lalunya, dulu sebelum Fita pindah ia sempat sekolah di daerah itu tapi hanya sampai kelas 1 dan kelas 2 ia pindah ke boyolali.


“Ibu, itu sekolah aku beda banget ya, sekarang bagus.” Ucap Fita.


“Iya, beda banget, anak teman Ibu juga sekolah di situ.” Ibu menjawab.


“Ibu serius?” Tanya Fita.


“Serius.” Ibu menjawab.


Sesampainya di rumah teman ibu, Fita menunggu di luar sembari menikmati udara yang masih sama seperti dulu.


Fita yang sedang bersantai tiba-tiba ada seorang laki-laki menegurnya.


“Fita bukan? yang sekolah di Al-Waton dulu.”


“Iya, kamu siapa?” Tanya Fita dengan raut wajah bingung.


“Masa lupa sama aku, aku Fajar coba kamu ingat-ingat?”


“Fajar siapa ya, aduh maaf aku lupa mungkin kamu salah orang, aku tidak punya teman yang bernama Fajar, maaf ya.” Ucap Fita.


Sebelum Fita bangun dari tempat duduknya, tiba-tiba laki-laki itu berteriak menyebutkan nama panggilan dia waktu itu.


“Aku Ajay Fita, masa kamu lupa sama aku?” Teriak Ajay sambil tertawa.


“Ajay ? Ya tuhan Ajay maaf aku tidak tahu habis kamu bilang nama kamu Fajar si.” Ucap Fita dengan wajah kaget lalu tertawa.


“Nama asli aku Fajar, kamu saja dulu yang beri nama aku Ajay.” Ajay menjawab.


“Iya maaf, dulu aku kasih nama kamu Ajay, karena aku cadel tidak bisa bicara huruf ‘R’, itu dulu kalau sekarang aku bisa , apa kabar kamu ? sini duduk.” Ucap Fita sambil tertawa.


“Baik, sama siapa kamu?” Tanya Ajay.


“Sama Ibu aku.” Fita menjawab.


“Mengobrol di situ saja ya, tidak enak di sini itu rumah teman ibu kamu.” Ucap Ajay.


“Oke, ngomong-ngomong, kamu sibuk apa sekarang?” Tanya Fita.


“Aku sibuk kuliah sekarang, kalau kamu sendiri sibuk apa sekarang?” Ucap Ajay.


“Hebat dong kamu, kuliah di mana?, aku kerja di Kawasan, di perusahaan si tapi lumayan juga jadi kuli yang penting halal.” Fita menjawab.


“Aku kuliah di universitas Indonesia jurusan Teknik, Fakultas Teknik.” Ucap Ajay.


“Mantap dong kamu, hebat ya.” Fita menjawab.


“Ngomong-ngomong gimana kabar kamu? kangen aku sama ayah kamu pasti dia bakalan kaget ketemu sama aku, dulu dia yang mengajarkan aku bermain sepak bola.” Ucap Ajay.


“Kabar bapak aku baik, alhamdullilah.” Fita menjawab.


Belum sempat Fita dan Ajay mengobrol banyak Ibunya Fita sudah keluar dan mengajaknya untuk pulang.


“Ayo pulang cantik, ini siapa teman kamu?” Tanya Ibu.


“Aduh masa lupa si Ibu, ini Ajay Ibu, teman Fita dulu waktu aku sekolah.” Ajay menjawab.


“Ya tuhan ganteng sekali kamu sekarang.” Ucap Ibu sambil tersenyum.


“Jangan di puji-puji Ibu, nanti aku besar kepala.” Sahut Fita sambil tertawa lebar.


“Ya sudah ayo kita pulang.” Ucap Ibu.


“Ibu, Ajay masih mau mengobrol sama Fita.” Sahut Ajay.


“Nanti malam jam 7, tunggu aku di jembatan layang kita lanjut pembicaraan kita lagi, oke.” Ucap Fita.


“Oke siap.” Ajay menjawab.


Fita masih tidak menyangka bisa bertemu dengan temannya waktu kecil, dulu Ajay teman yang selalu jadi tempat pelarian ia dulu sewaktu kecil.

__ADS_1


*/


Malam itu jam 19.00 Wib Fita sudah menunggu Ajay di tempat yang tadi sore sudah mereka atur, setelah menunggu beberapa menit Ajay tiba.


“Cantik, berapa kalau semalam?” Tanya Ajay sambil menggoda lalu tertawa lebar.


“Mahal abang, tidak terhitung.” Fita menjawab dengan nada suara genit.


“Ya sudah tidak jadi kalau begitu.” Ucap Ajay.


“Dasar bisa saja kamu.” Fita menjawab.


“Ayo naik !” Ucap Ajay.


“Mau ke mana kita?” Tanya Fita.


“Suka sete taichan tidak?”Ujar Fita.


“Suka.” Fita menjawab.


“Oke kalau begitu kita meluncur cantik.” Ucap Ajay.


Akhirnya mereka pergi ke daerah senayan, Fita sedikit bahagia dan lepas bersama Ajay karena dulu dia termasuk teman yang selalu membuat Fita di posisi seperti ini, dulu mereka selalu bermain bersama sampai akhirnya Fita pindah daerah jawa.


Sesampainya Fita dan Ajay di tempat makan sate taichan dan suasana di tempat makan cukup ramai sekali, setelah itu mereka berbagi tugas, Ajay menyuruh Fita untuk mencari tempat, sedangkan Ajay memesan beberapa makanan, setelah memesan makanan Fita di buat kaget sekali karena Ajay tidak sedikit pun melupakan apa makanan yang Fita suka, dari minuman, semuanya Ajay masih ingat.


Aduh Ajay memang kamu teman terbaik aku, padahal sudah lama tidak ketemu tapi masih ingat saja makanan kesukaan aku. Fita membatin.


“Oke jadi gimana, aku mau tagih janji kamu, mau lanjutkan yang tadi sore, jadi gimana?” Tanya Ajay.


“Tidak jelas kau, ya tidak gimana-gimana. Fita menjawab sambil tertawa.


“Ya kamu sekarang, sama Bapak kamu gimana?” Tanya Ajay.


“Hidup aku sudah berbeda, semenjak aku dewasa, aku sama bapak sekarang semakin jauh tidak seperti dulu.” Fita menjawab.


“Ada apa sama kamu Fita? , aku merasa kamu beda tidak seperti dulu, meski kita baru ketemu lagi sekian tahun, tapi dari kita berempat, aku yang paling paham sama kamu.” Ucap Ajay dengan tatapan serius.


“Hidup aku hancur sekarang, aku bukan Fita yang dulu kamu kenal, yang selalu kamu liat bahagia, gembira, sekarang hidup aku benar-benar hancur, semua orang yang aku sayang pergi dari aku, aku merasa sendiri Ajay, hidup aku sekarang hampa sekali, tidak ada satu orang yang tahu bagaimana perasaan aku, sama sekali tidak ada yang peduli.” Fita menjawab dengan matanya berkaca-kaca serta menahan sesak.


“Fita, asal kamu tahu, kita dulu merasa kehilangan kamu, kita selalu berharap kamu cepat kembali lagi ke sini, aku percaya kamu kuat Fita, kamu bisa, karena dari kita berempat kamu yang selalu kelihatan baik-baik saja dan kamu yang tidak pernah bersedih, aku tahu kamu bisa melewati ini semua dan aku percaya akan ada lelaki yang sayang sama kamu dengan tulus.” Ucap Ajay dengan tersenyum.


Perlahan Fita mengusap air matanya yang sudah penuh di ujung matanya, ia berusaha menahan air matanya supaya tidak mengalir keluar.


Fita berusaha untuk tegar menghadapi semua ini, ia perlahan-lahan menarik nafasnya dan ia mulai mengobrol dengan Ajay dengan topik obrolan lain.


“Ngomong-ngomong sekarang kamu gimana sama Ria, Dodi juga gimana?” Tanya Fita.


“Aku masih suka ketemu Ria, tapi kalau Dodi terakhir pas di busway aku mau kuliah dan dia mau kerja.” Ajay menjawab.


“Aku berharap mereka baik-baik saja ya Ajay.” Ucap Fita.


“Kita semua baik-baik saja Fita.” Ajay menjawab.


Setelah menunggu setengah jam pesanan yang Ajay pesan tadi akhirnya datang, Fita makan bersama Ajay sesekali mereka bercanda, Fita tau Ajay berusaha sekali membuatnya bahagia sama seperti dulu hingga Fita kaget dengan apa yang Ajay lakukan untuknya.


“Ibu, pesan air putih satu gelas ya.” Ucap Ajay.


“Minuman kamu masih ada Ajay.” Sahut Fita.


“Lihat saja nanti.” Ucap Ajay.


Pesanan air putihpun datang….


“Ini kamu minum dulu.” Ucap Ajay.


“Jadi aku yang di kasih? kamu yang pesan air putih.” Fita menjawab dengan raut wajah kaget.


“Menurut saja, cepat minum !” Ucap Ajay.


Fita menuruti perkataan Ajay, setelah Fita minum air putihnya Ajay juga ikut minum satu gelas yang sama juga.


“Sama seperti dulu, di kala kamu lagi sedih.” Ucap Ajay sambil tersenyum.


“Kamu masih ingat ritual kita?” Tanya Fita.


“Masih dong, kamu akan sedikit tenang, saat kamu minum air putih dan aku juga ikut minum di gelas yang sama,tidak salah juga kita melakukan ritual semasa kecil kita lagi.” Ajay menjawab.


“Bisa banget kamu, masih ingat semua kenangan kita semasa kecil dulu.” Ucap Fita.

__ADS_1


“Iya dong, Ajay !!” Ajay menjawab sambil tertawa lalu tersenyum.


Setelah selesai makan Ajay mengajak Fita berkeliling kota Jakarta.


“Dulu Ijal suka memperlakukan ini sama aku.” Ucap Fita dengan tatapan kosong.


“Oh ya ?, kamu cinta sekali sama Ijal?” Tanya Ajay.


“Iya, tapi dia tidak peduli itu.” Fita menjawab.


“Aku yakin dia peduli tapi mungkin dia butuh waktu yang tepat, mungkin.” Ucap Ajay.


“Terbukti dia sudah bahagia sama wanita lain.” Fita menjawab.


“Itu cuma status Fita, mungkin itu sahabat dia atau teman atau kakak sepupu atau siapa itu.” Ucap Ajay.


“Kamu tahu dari mana?” Tanya Fita.


“Aku cuma menebak saja.” Ajay menjawab.


Setelah selesai berkeliling akhitnya Ajay mengantar Fita sampai rumahnya.


“Bapak kamu ke mana?” Tanya Ajay.


“Pulang kampung.” Fita menjawab.


“Kalau begitu aku pulang ya, nanti aku atur waktu buat kita reuni berempat, kamu, aku, Ria, sama Dodi.” Ucap Ajay.


“Makasih ya.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Oke, aku pulang ya.” Ucap Ajay.


Dengan pertemuan singkat mereka ini, setidaknya membuat fita melupakan semua masalahnya membuat ia lupa dengan kesedihan yang ia rasa, Fita memang lebih akrab dengan Ajay karena dia yang paling tahu Fita bagaimana dari awal masuk sekolah dulu, Ajay seperti kakak bagi Fita karena umur dia jauh lebih tua dari Fita beberapa bulan, Fita sangat berharap Ajay mendapatkan wanita idaman yang dia suka dan ia cintai.


*/


Setiap malam Fita selalu menceritakan kejadian demi kejadian yang ia alami kepada Mas Seful.


“Bagus dong, kamu ingat baik-baik itu yang di bilang sama Ajay, positif saja selagi Ijal belum menikah, masih bisa di pepet terus.” Ucap Seful di telepon.


“Iya, semoga ada jalan ya Mas, aku percaya merpati akan kembali ke tempat pemiliknya.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Mas senang kalau kamu senang dik, semangat ya sayang.” Ucap Seful.


“Makasih Mas, Mas juga semangat cari jodoh ya.” Fita menjawab.


“Iya adik, kakak kamu ini semangat cari jodoh.” Ucap Seful.


Setidaknya ada beberapa orang yang meluangkan waktunya untuk membuat Fita tersenyum sementara.


*/


Fita berangkat kerja seperti biasa, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan masuk itu dari Al (adik kandung Mas seful), mereka juga mulai sering berkomunikasi.


“Fita sudah makan?”Tanya Al.


“Sudah Al, gimana?” Jawab Fita.


“Belum, nanti saja Al masih mengurus organisasi ini.” Ucap Al.


“Oh begitu, sibuk banget abang.” Fita menjawab.


“Ya seperti ini resiko jadi ketua.” Ucap Al.


“Ya sudah, semangat.” Sahut Fita.


“Fita juga semangat kerja, doain Al cepat dapat kerja di sana biar bisa main sama Fita nanti.” Ucap Al.


“Aamiin.” Sahut Fita.


Sebenarnya Fita tidak punya perasaan lebih, tapi karena ia merasa sepi, ya siapa yang datang mencoba mendekati Fita maka akan ia sambut, tapi yang di lakukan Fita semata-mata untuk menghilangkan rasa sepinya tidak lebih dari itu.


Fita juga merasa sedikit jahat kepada siapapun yang mendekatinya, tapi semenjak kejadian Arib dan Lana Fita mulai berusaha menjaga hatinya supaya tidak hancur seperti dulu, karena yang ia rasakan sangat sakit dan Fita tidak akan pernah sanggup merasakan itu lagi……


 


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.

__ADS_1


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.


Salam hangat untuk kalian semua❤


__ADS_2