
Makin hari Fita merasa kalau Arib memanfaatkannya, sering sekali dia minta yang aneh-aneh jadi mau tidak mau Fita juga harus menuruti kemauannya tapi permintaanya selalu aneh-aneh.
Fita tidak bisa meninggalkan Arib, ia berfikir dia bersamanya dari nol benar-benar dari nol, sampai akhirnya ia tahu keinginannya kalau dia ingin sekali jaket dan akhirnya Fita membelikannya sebagai hadiah ulang tahun untuknya.
“Makasih sayang kadonya aku suka, kamu tahu kalau aku pengen banget jaket ini?” Ucap Arib dengan raut senyuman lebar.
“Iya tahu dong.” Fita menjawab dengan senyuman.
“Aku pengen beli handphone sayang, tapi uangnya tidak ada.” Ucap Arib.
Aku harus bisa tegas dengan dia harus, harus. Fita membatin.
“Kamu harus cari kerja, supaya bisa beli apa yang kamu mau. bagaimanapun kamu itu laki-laki gimana mau menafkahi istri kamu nantinya.” Fita menjawab.
“Bisa tidak si jangan bicara masa depan dulu aku tidak ingin bicara soal itu.” Ucap Arib dengan raut wajah kesal.
“Oke.” Fita menjawab lalu terdiam.
Dasar laki-laki malas, tidak mau modal mau beli ini itu, tidak berguna jadi laki-laki dasar. Fita membatin.
Setiap Fita memulai berbicara masalah masa depan mereka nantinya seperti apa pasti seketika Arib marah dan mengganti topik pembicaraan.
Fita selalu cerita masalah ia dengan Eka apapun itu.
“Kalau kata pendapat aku Pin, dia itu tidak mau bangun masa depannya sama kamu.” Ucap Eka.
“Serius kamu Pin?” Fita menjawab.
“Cowok kalau sifatnya kaya begitu tandanya dia tidak mau serius, dia Cuma mau senang-senang saja Pin, percaya sama aku Pin.” Ucap Eka dengan raut wajah meyakinkan.
Fita tidak pernah sadar dengan semua itu, ia pikir mungkin memang belum waktunya, salahnya ia tidak menghiraukan nasehat teman-temannya.
Siang itu Fita dapat kabar baik dari Arib kalau dia di terima kerja di pengiriman barang di daerah kalideres, jadi dia hanya akan pulang di hari sabtu dan minggu saja.
“Aku dapat kerja di kalideres tapi gajinya kecil banget.” Arib mengirim sebuah pesan.
“Bagus dong, iya tidak apa-apa sayang, alhamdullilah kalau begitu.” Fita membalas pesan dengan senyuman.
“Aku coba dulu semoga orang-orangnya tidak seperti di tempat yang lama.” Arib membalas pesan.
Beberapa minggu Arib kerja dan dia mulai egois memikirkan dirinya sendiri, Fita masih belum bisa membaca situasi saat itu, ia benar-benar bodoh, harusnya dari dulu ia meninggalkannya tapi tidak tahu kenapa ia masih mau bertahan.
****
6 bulan berlalu dan leadernya Fita bukan Mba Maya lagi, karena Mba Maya sakit dan dia terpaksa pindah ke non shift dan sekarang leadernya di gantikan oleh Mba Rika, dia galak, terlalu tegas dan selalu tidak bisa bersahabat saat melihatnya, dia selalu mencari-cari kesalahan Fita di tempat kerja.
Fita masih ingat saat itu shift malam, dia begitu keterlaluan dengannya, padahal itu bukan kesalahannya tapi hanya Fita yang terus menerus diincarnya dan menjadi sasaran amarah sepanjang malam.
“Fita kamu gimana si kerjanya, masa kaya begini bisa masuk, kamu tahu barang bagus sama jelek tidak si !!! kamu cek barangnya perjam tidak !” Teriak Rika dengan tatapan tajam dengan nada tegas.
“Maaf Mba, aku kewalahan tadi Mba April tidak menggantikan posisiku saat istirahat sedangkan aku menggantikan Mba April pas dia istirahat.” Ucap Fita dengan nada pelan.
“Benar begitu April, kamu tidak menggantikan posisi Fita?” Tanya Rika.
“Barang aku jelek Mba makannya aku fokus sama barang aku saja Mba, awalnya barangnya si Fita bagus.” April menjawab.
“Artinya salah kamu Fita, tidak bisa cepat kalau kerja, pakai segala salah lagi !” Ucap Maya sambil menunjuk ke arah Fita.
“Jadi begini Mba, ini juga bukan salah aku sepenuhnya Mba, kalau saja kak April gantiin aku tadi semuanya tidak bakal seperti ini, jangan menyalahkan satu sisi saja Mba, leader gimana si !!” Fita menjawab dengan raut wajah memerah.
__ADS_1
Tiba-tiba Mas Fajar packer di shiftnya Fita membelanya.
“Rika ini bukan salah Fita saja, kamu tidak bisa memarahi dan menyalahkan sepihak begitu, April juga salah, kalau April tidak melakukan itu Fita juga tidak akan kewalahan banyak begini, kamu tidak kasihan 1 anak di minta 2 mesin sekaligus sedangkan mereka juga banyak tanggung jawabnya, kamu tidak bisa begini Rika !!” Ucap Fajar.
“Kamu kerjakan sendiri tidak mau tau aku, kamu jalanin itu mesin sambil kamu packing ini semua sendiri !” Teriak Rika dengan nada tegas serta wajah penuh amarah kepada Fita.
Sangking kesalnya tanpa sadar Fita melempar 2 botol shampoo yang ada ditangannya mengenai pas di kepalanya Rika.
“Parah banget kamu sama leader, mau aku laporin orang kantor masalah ini !!!” Teriak Rika dengan tatapan tajam.
“Laporin sana aku tidak takut, aku tidak salah, kamu yang mencari-cari masalah, aku sudah sopan tapi kamu perlakukan aku seperti itu,pilih kasih leader apaan kaya begitu Mba ! sana laporin tidak takut aku ! mau di keluarin aku juga tidak masalah, lagipula aku juga tidak akan mati kalau tidak kerja di sini !” Fita menjawab dengan nada tegas serta penuh amarah.
“Sudah-sudah, Fita kamu lanjutin lagi nanti aku bantuin packing, kamu Rika, balik sana tugas kamu jadi leader sudah selesai belum.” Ucap Fajar dengan nada pelan.
Fita dan Rika pergi menyelesaikan tugas masing-masing mereka.
Sambil menyelesaikan packing di bantu bang Fajar dan Eka rasanya Fita ingin sekali pulang.
“Ipin, tidak apa-apa?” Tanya Eka.
“Tidak apa-apa Pin.” Fita menjawab.
“Sudah tidak usah dipikirin Rika memang begitu orangnya makannya dia tidak punya teman, judes banget ya.” Ucap Fajar sambil tertawa.
“Orang yang tidak punya pikiran ya begitu.” Fita menjawab sambil tertawa jahat.
*)
Sebenarnya minggu ini Fita shift 3 tapi ia memilih tidak masuk kerja selama 3 hari, sudah pasti si Rika itu mencari Fita dan di hari kamis malam Fita masuk karena ia tahu jum’at pasti gajian jadi biar ada pemasukan minggu ini.
“Kemana saja kamu?” Tanya Rika dengan nada suara sinis.
“Mana surat sakitnya?” Tanya Rika.
“Tidak aku bawa lupa !” Fita menjawab.
Pagi itu setelah pulang kerja Fita berpamitan dengan Eka, hanya dengan Eka saja.
“Ipin pamit, sudah males kerja kalau caranya seperti ini pilih kasih.” Ucap Fita.
“Serius Ipin? Kenapa? bertahan saja dulu Ipin.” Eka menjawab dengan wajah raut wajah kaget.
“Gimana mau bertahan si pin, Upin tahu sendiri kejadiannya gimana, April saja tidak minta maaf sama aku pin, padahal dia juga salah dan mencari-cari kesalahan aku di depan mba Rika, jadi aku terus pin yang selalu disalahkan.” Ucap Fita.
“Yang sabar pin.” Eka menjawab.
“Ipin tidak akan pamit sama siapapun, cukup sama Upin saja, maaf ya pin kalau Ipin banyak salah.” Ucap Fita dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk Eka.
“Iya pin aku juga minta maaf Ipin.” Eka menjawab dengan air mata menetes begitu deras.
Malam itu benar saja semua orang mencari Fita.
“Fita tidak masuk lagi?” Tanya Rika.
“Tidak tahu mba, sepertinya tidak masuk.” Melin menjawab.
Lalu anak-anak yang lain menanyakan soal Fita ke Eka.
“Eka si Fita kenapa tidak masuk?” Tanya Tika sambil menghampiri Eka.
__ADS_1
“Tahu sendiri kan masalahnya apa, makannya Fita mengundurkan kerja sendiri.” Eka menjawab.
“Iya si aku juga kalau jadi Fita mendingan mengundurkan diri saja, lagian si April seperti orang yang tidak punya dosa saja.” Ucap Tika.
*)
Fita menceritakan semuanya ke Arib.
“Terus kamu mau kerja apa sekarang?” Tanya Arib dengan wajah kaget.
“Entah, makannya mau cari kerja lagi, kamu kalau ada info kabarin aku.” Fita menjawab.
“Iya aku kabarin nanti aku cariin info pekerjaan.” Ucap Arib.
Ujian kesetiaan Arib di uji di sini, di saat keadaannya lagi di bawah Fita masih setia menemaninya dan membantu, dan sekarang apakah dia akan melakukan hal yang sama dengan Fita, entahlah lihat saja kedepannya bagaimana.
Sebulan, 2 bulan Arib masih biasa, setelah 3 bulan berlalu Fita merasa ada yang berbeda.
“Kamu kenapa?” Tanya Fita.
“Tidak apa-apa, memangnya aku kenapa?” Arib menjawab.
“Iya kamu kaya berubah begitu.” Ucap Fita.
“Biasa saja !” Arib menjawab dengan nada lesu.
“Aku belum dapat perkejaan, padahal aku sudah mencari ke sana ke sini.” Fita menjawab.
“Ya sudah.” Ucap Arib.
*)
Beberapa hari kemudian Fita dapat panggilan kerja untuk menjadi admin di daerah pademangan, gajinya memang kecil tapi yang ia cari sebenarnya pengalamannya, tapi ia tidak dapat dukungan dari orang tuanya.
“Buat apa si kerja jauh-jauh, macet, gajinya kecil.” Ucap Ayah.
“Aku bisa sewa kost di sana jadi biar dekat.” Fita menjawab.
“Tidak usah ! buang-buang uang saja.” Ucap Ayah dengan nada tegas.
“Terus gimana, anaknya dapet pekerjaan bukannya di dukung malah di jatuhin.” Fita menjawab dengan mata berkaca-kaca serta air mata keluar.
Fita kecewa saat itu tidak ada satupun orang yang mau mengerti dan mendukungnya, ia hanya bisa diam, rasanya semangatnya yang awalnya menggebu-gebu kini padam karena tidak ada semangat dari orang-orang terdekatnya.
Belum di coba saja sudah di jatuhin semangat anaknya. Fita membatin sambil menangis.
Tiba-tiba Fita ingat dengan Ijal di dalam pikirannya.
Andai di sini ada Ijal pasti ia akan memberi masukkan yang baik untuk aku,aku sangat membutuhkan kamu Ijal kamu di mana? aku mau kamu di sini aku butuh kamu, sangat, apa kamu tau kesedihan aku, perasaan yang aku alami sekarang ? kalau memang saat ini kamu sedang mengawasi aku berarti kamu tau, berarti kamu di sini temani aku, kamu di mana ? aku butuh kamu Ijal. Fita membatin dengan air mata yang mengalir.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
__ADS_1
Salam hangat untuk kalian semua❤