
Siang itu cuacanya panas sekali, sepertinya matahari tepat berada di atas kepala, Fita berjalan menuju arah pulang sendirian dan tiba-tiba suara Rizan mengagetkannya.
“Mau aku anterin pulang?” Tanya Rizan sambil berteriak.
“Tidak usah, aku jalan sendiri saja.” Fita menjawab sambil berjalan.
“Benar,,, serius?” Tanya Rizan dengan raut wajah menggoda.
“Iya, sudah sana.” Fita menjawab sambil melambaikan tangan.
“Yasudah aku duluan ya cantik.” Sahut Rizan dengan raut wajah menggoda serta tertawa.
“Dasar.” Fita menjawab dengan raut wajah tersipu malu dan raut wajah memerah.
Dari jauh Fita melihat motor yang tidak asing baginya, itu motor Arib.
“Aku telat ya?” Tanya Arib sambil mematikan motor.
“Telat untuk apa?” Fita menjawab dengan raut wajah bingung.
“Jemput kamu sayang.” Sahut Arib dengan raut wajah menggoda.
“Aku tidak minta jemput, aneh.” Fita menjawab dengan nada sinis.
“Iya kamu tidak minta, tapi aku yang mau, yasudah naik, aku mau mengajak kamu ke rumah.” Sahut Arib sambil membersihkan tempat duduk.
“Mau apa?” Tanya Fita dengan raut wajah kaget.
“Kenalan sama ibu aku dong, ibu aku mau lihat calon mantunya.” Sahut Arib sambil memberikan helm lalu tersenyum.
“Apaan si.” Fita menjawab lalu mengambil helm lalu membalas senyumannya.
30 menit berlalu Fita dan Arib sampai dirumahnya, di daerah ujung aspal.
“Ini rumah kamu?” Tanya Fita sambil menunjuk satu rumah.
“Bukan, ini rumah ibu aku.” Arib menjawab sambil tertawa lalu masuk ke dalam rumah.
“Sama saja.” Sahut Fita sambil tertawa.
“Yasudah, silahkan masuk, mamah ini anak mantu kamu datang.” Arib sambil memanggil ibunya.
Tidak lama kemudian ibunya keluar.
“Kamu Fita ya, manis sekali.” Sahut Ibu dengan raut wajah tersenyum.
“Terima kasih ibu.” Fita menjawab lalu sambil tersenyum.
“Mari masuk sini duduk.” Sahut Ibu.
Aribpun keluar membawa minuman dingin dan beberapa makanan kecil.
“Silahkan di makan, kamu tinggal di mana?” Tanya Ibu sambil menunjuk makanan.
“Iya Ibu, aku tinggal di klender, bersama orang tua aku.” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Ibu sama bapak kamu bekerja apa?” Tanya Ibu.
“Ibu di garmen dan ayah di kayu, karyawan swasta semua.” Fita menjawab.
“Oh begitu, kalau ibu cuma jualan nasi saja, tapi ini lagi libur makanya minta Arib bawa kamu ke sini ibu mau kenalan.” Sahut Ibu sambil tersenyum.
“Iya Ibu.” Fita menjawab lalu tersenyum lalu terdiam.
Masih tidak percaya kalau aku di terima dengan baik. Fita membatin sambil tersenyum.
Tidak lama Fita mengobrol dengan ibunya dan dia masuk ke dalam meninggalkan Fita dan Arib di ruang tamu.
“Bagaimana sekolah kamu?” Tanya Arib sambil duduk di samping Fita.
“Biasa saja,tidak ada yang seru atau berubah.” Fita menjawab dengan nada sinis serta wajah lesu lalu terdiam.
Dalam pikiran aku sungguh aku tidak nyaman, aku ingin pulang rasanya, dalam hati aku hanya memikirkan sesorang (Ijal). Fita membatin dengan raut wajah lesu.
__ADS_1
Hari semakin sore dan Fita mengajak Arib untuk pulang.
“Sudah sore, ayo pulang nanti keburu ayah aku pulang, kalau dia sudah pulang dan aku belum di rumah bisa mati aku!” Sahut Fita sambil melihat jam dinding.
“Iya aku anterin, pamit dulu sana sama Ibu.” Arib menjawab.
Fita langsung masuk ke dalam kamar dan berpamitan.
“Ibu Fita pulang dulu ya.” Sahut Fita.
“Cepat banget cantik mainnya, pulang nanti saja ya.” Ibu menjawab sambil memegang tangan Fita.
“Nanti Fita main ke sini lagi Ibu, Fita harus pulang soalnya banyak tugas sekolah Ibu.” Sahut Fita sambil tersenyum.
“Yasudah kalau begitu tapi benar ya nanti main lagi ke sini.” Ibu menjawab sambil tersenyum.
“Iya, Ibu pasti.” Fita menjawab sambil bersalaman lalu tersenyum.
Sesampainya di rumah Fita langsung bersih-bersih, entah kenapa ada yang mengganjal di hatinya, kenapa Fita tidak pernah tahu kabar soal Ijal lagi, dia benar-benar membuatnya gila. Sudah banyak pesan yang Fita kirimkan tapi tidak ada satupun yang Ijal balas.
*/
Hari ini Jum’at Fita ada tugas presentasi di sekolah.
“Kamu saja ya Fita yang maju.” Sahut Aldi sambil menghampiri Fita.
“Aku, terus kalian ngapain dong?” Fita menjawab dengan raut wajah kaget serta nada sinis.
“Melihat kamu saja Fita.” Fiqri menjawab dengan senyuman lebar lalu tertawa.
Seperti itulah mereka.
Setia ada jam kosong Fita lebih suka duduk di barisan belakang pojok bersama Aldi, Fiqri dan Fahri meski hanya sekedar mengobrol atau mendengarkan mereka bernyanyi atau sholawatan, semenjak kelas 12 ini Fita jarang sekali ke luar kelas dan bermain bersama teman-teman mungkin karena sudah berbeda kelas dan pastinya lebih fokus dengan tugas masing-masing yang tidak seleluasa seperti dulu. Terkadang beberapa kali Fita suka menengok mereka untuk sekedar bertanya.
Fita menghampiri Lina, Eni dan ani yang ada di AP 1.
“Lia ada tugas apa dari pengarsipan?” Tanya Fita sambil menghampiri Lia.
“Kaya begini, kamu lihat saja coba.” Lia menjawab sambil menunjukkan satu buah buku.
“Pastilah lagipula kita satu jurusan beda kelas saja.” Eni menjawab lalu tertawa lebar.
“Iya tau, tidak usah di perjelas.” Fita menjawab dengan tatapan tajam.
Setelah bertanya soal tugas Fita kembali ke kelasnya dan ia melihat Rizan duduk di depan kelas sendirian.
“Rizan?” Fita sambil teriak memanggil dari belakang.
“Eh kamu, dari mana?” Sahut Zan dengan wajah kaget.
“AP 1 biasa tanya tugas.” Fita menjawab dengan nada berbisik.
“Eh, aku mau cerita dong sama kamu.” Sahut Zan sambil melirik.
“Cerita saja, apaan? aku dengerin.” Fita menjawab dengan tatapan tajam.
Zan sambil bercerita, Fita sambil mendengarkan dan sesekali memberikan pendapatan meskipun mereka berbeda kelas tapi tidak jarang juga buat mereka duduk bersama untuk hanya sekedar mengobrol.
Sore itu Fita tidak dapat kabar apa-apa dari Arib, Fita tidak begitu khawatir atau mencoba mencarinya karena Fita tau pasti dia lagi kerja lagi sibuk.
*/
Minggu sore itu Arib mengajak Fita pergi.
“Ayo jalan.” Arib mengirim pesan.
“Kemana?” Tanya Fita membalas pesan.
“Ketempat yang pastinya kamu suka, 30 menit lagi aku sampai di ujung jalan, kamu siap-siap ya.” Arib membalas pesan.
“Oke.” Fita membalas pesan lalu terdiam.
Rasanya malas sekali jalan dengannya, berbeda rasanya saat diajak jalan dengan ijal, sungguh aku kehilangan kabarnya. Fita membatin dengan raut wajah lesu.
__ADS_1
30 menit kemudian.
“Lama ya nunggunya?” Tanya Arib sambil mematikan motor.
“Tidak lama.” Fita menjawab dengan nada suara pelan.
“Sini naik.” Arib sambil membersihkan bangku motor.
Fita berjalan-jalan di tempat wisata yang ada di Jakarta, di tengah-tengah jalan kemudian.
“Kayanya kamu salah masuk jalur, ini jalur mobil tau, aduh ketilang kita ini.” Tanya Fita dengan raut wajah panik.
Benar saja polisi sudah mencegat mereka terlebih dulu.
“Selamat sore, maaf pak kalian masuk jalur khusus mobil.” Sahut Polisi sambil meminggirkan mereka.
“Maaf ya pak, saya kurang tau.” Arib menjawab dengan raut wajah panik serta nada bicara sangat pelan.
“Bisa tunjukkan surat-surat dan simnya?” Tanya Polisi.
Fita tahu Arib tidak punya sim dan keadaan pajak kendaraan motor itu juga sudah mati, sama seperti keadaan mereka saat ini mati!!!.
Semua urusan sudah selesai, tapi Fita sudah tidak berniat lagi untuk jalan-jalan.
“Pulang saja ya.” Ujar Fita dengan raut wajah kesal serta dengan tatapan tajam.
“Tapi aku masih mau sama kamu, gimana kalau kita ngopi saja.” Arib menjawab dengan nada pelan serta memohon.
“Yasudah oke, tapi hanya sebentar ya.” Sahut Fita sambil melihat handphone.
“Oke tidak apa-apa.” Arib menjawab.
Mereka ngopi di salah satu kedai di Jakarta dan tidak sengaja mereka bertemu dengan teman SMPnya dulu.
“Arib ya?” Tanya Usman sambil menghampiri mereka.
“Iya, kamu Usman apa kabar kamu?” Sahut Arib sambil bersalaman serta senyuman lebar.
“Baik, ini kamu sama orang yang tidak asing buat aku, Fita ya.” Usman menjawab sambil menujuk.
Akhirnya mereka mengobrol dan Fita hanya bisa terdiam sambil memainkan handphonenya Arib, tiba-tiba ada pesan masuk isi pesan masuknya (oh kamu tidak punya pacar ya? kalau begitu baik kita ketemu besok) itulah isi pesannya, akhirnya Fita makin penasaran dengan isi pesan itu lalu ia membaca semua pesannya dari pesan yang lama sampai pesan yang terbaru pada akhirnya ketemu pesan yang membuat dia kaget, ternyata Arib tidak mengakui Fita sebagai pacarnya lalu Fita terdiam.
Oh tuhan sakit sekali hati ini, tega banget kamu. Fita membatin lalu memberikan handphone dan pergi meninggalkan lokasi.
“Sayang ada apa? Kamu mau ke mana?” Tanya Arib sambil berlari mengerjar Fita serta raut wajah bingung.
“Pulang!!” Fita menjawab dengan nada suara tinggi serta raut wajah penuh amarah.
“Bareng aku dong, masa pulang sendiri.” Sahut Arib.
“Buat apa aku pulang dengan orang yang tidak pernah menghargai aku!!!” Fita menjawab dengan nada suara tinggi serta tatapan tajam.
“Maksudnya?” Tanya Arib dengan raut wajah bingung.
“Sini aku tunjukkan maksudnya.” Fita menjawab sambil melihatkan isi pesan handphone Arib.
“Tapi aku bisa jelasin Fita.” Sahut Arib dengan raut wajah memohon.
“Tidak perlu, makasih!!!” Fita menjawab dengan nada tinggi lalu meninggalkan lokasi tanpa sepatah kata lagi.
Dasar laki-laki tidak tau terima kasih, tidak punya otak. Fita membatin.
Fita begitu terluka saat itu dan ia pulang sendirian, sungguh ia merasa ia ingin Ijal ada di sini, tapi dia tidak ada entah ke mana, ia hanya bisa menangis merasakan beban yang ada di hatinya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .
__ADS_1
Salam hangat untuk kalian semua❤