Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 27


__ADS_3

Seiring berjalan waktu Fita semakin dekat dengan Al adiknya Mas Seful, di tambah lagi dia ke terima kerja di daerah cibitung, saat itu mereka menjalin hubungan, Fita tidak pernah sedikitpun jalan dengan Al mereka hanya berkomunikasi melalui sosial media dan melalui pesan online itu juga sesekali tidak pernah setiap hari, Al begitu sibuk dengan pekerjaan barunya dan Fita juga sibuk dengan hidupnya.


Hingga pada suatu ketika Al menghubungi Fita, Fita merasa Al mencoba memanfaatkannya.


“Sayang, aku boleh minta tolong tidak?” Tanya Al melalui telepon.


“Minta tolong apa.” Fita menjawab.


“Aku pinjam uang 1 juta untuk pegangan aku di sini sampai bayaran aku keluar, kamu ada tidak?” Tanya Al.


“Aku tidak ada uang.” Fita menjawab.


“Terus gimana dong, nanti aku makan setiap hari gimana?” Tanya Al.


“Ya terserah itu urusan kamu bukan urusan aku.” Fita menjawab.


Tanpa menjawab Al langsung mematikan teleponnya, dari kejadian itu Al tidak menghubungi Fita lagi, saat itu mereka menjalin hubungan selama 4 bulan, dan dalam 4 bulan itu Al menghubungi Fita jika dalam keadaan perlu sesuatu saja bukan ingin tahu keadaan Fita.


Aduh kadal mau di kadalin ya tidak bisa. Fita membatin.


Mereka benar-benar putus kontak, mereka menjalani hubungan tanpa status, bagaimana mau menjalin hubungan jika tidak pernah ada kabar, bagi Fita ya hubungan mereka berakhir.


Suatu waktu tiba-tiba Al menghubungi Fita melalui pesan online.


“Kamu kemana saja Fita?”


“Kenapa ? kamu butuh uang ? maaf aku bukan mesin uang berjalan kamu !” Fita membalas pesan.


“Tidak, aku hanya rindu saja.” Al membalas pesan.


“Kita sudah tidak ada hubungan lagi, kamu paham, buat apa menjalin hubungan kalau kamu saja seperti itu sama aku !” Fita membalas pesan.


“Seperti itu bagaimana?” Al membalas pesan.


“Pikir sendiri saja!! itupun kalau kamu masih punya malu !” Fita membalas pesan.


“Tapi aku rindu sama kamu.” Al membalas pesan.


“Terus mau kamu sekarang apa.” Fita membalas pesan.


“Aku mau foto bugil kamu dong.” Al membalas pesan.


Saat Fita melihat isi pesan yang di balas Al seketika ia langsung emosinya serta amarahnya menggebu-gebu.


“Dasar laki-laki tidak punya otak !! dasar otak mesum, sudah tidak perlu hubungin aku lagi, bangsat !!” Fita membalas pesan lalu setalah itu ia menghapus nomernya Al.


Dasar laki-laki buaya, jika dia ada di hadapan aku sekarang sudah aku pukul dan tampar, dasar laki-laki tidak punya akhlak. Fita membatin.


Ini jawaban kenapa Fita malas menjalin hubungan dengan laki-laki, mereka hanya mementingkan kesenangan semata dan nafsu mereka tanpa mereka berfikir apa mereka pantas seperti itu atau tidak.


Dari kejadian ini Fita mulai memilih laki-laki lebih hati-hati.


*)


Saat Fita yang sedang santai tiba-tiba handphonenya berbunyi, lalu ia melihat handphonenya dan itu telepon dari Ajay, Ajay menghubungi Fita dan mengajak bertemu di salah satu restoran di Jakarta, ini pertemuan penting kata Ajay, tapi entah maksudnya Ajay apa, akhirnya Fita bersiap-siap lalu setelah itu ia memesan taxi online dan meluncur pergi.


Fita sampai lebih dulu sebelum Ajay sampai. setelah beberapa lama kemudian Ajay Pun datang.


“Hai Fita, sudah lama? Maaf ya telat tadi aku tunggu orang dulu.” Ucap Ajay.


“Iya, kata kamu ada kabar yang penting, kenapa? Tanya Fita dengan raut wajah bingung.


“Coba kamu lihat ke arah jam 3 ada siapa saja di sana.” Ajay menjawab sambil menunjuk.


Fita menengok ke kanan searah jam 3 sesuai dengan apa yang di bilang Ajay, Fita melihat 2 sosok laki-laki dan perempuan yang sama-sama sedang menatap Fita dari jauh, Fita berdiri dari tempat duduknya lalu ia menghampiri mereka, Fita terus berjalan sembari fokus melihat wajah mereka yang dulu selalu tertawa dengan Fita, mereka yang di maksud itu teman Fita sewaktu kecil yaitu Ria dan Dodi.


Ekspresi Fita saat itu bahagia melihat mereka baik-baik saja.


“Kamu yang mengatur semua ini?” Tanya Fita dengan raut wajah bahagia serta haru kepada Ajay.


“Iya dong, siapa lagi.” Ajay menjawab sambil tertawa.


“Asal kamu tahu Fita si Ajay memaksa kita berdua untuk bertemu hari ini, sampai aku rela kabur dari pekerjaan aku dengan alasan sakit, mantap tidak sampai begitu.” Ucap Ria sambil tertawa.


“Iya, sampai aku saja beralih shift sama teman aku.” Ucap Dodi sambil tertawa.


“Makasih ya Ajay.” Ucap Fita sambil tersenyum.


“Apapun itu demi kamu.” Ucap Ajay sambil tersenyum.


“Bisa banget, dasar modus !” Sahut Ria.


Mereka menghabiskan waktu sangat lama hingga lupa waktu dan Fita terpaksa harus pulang.


“Ngomong-ngomong, aku pulang dulu ya, jadwal hari ini aku masuk kerja malam, nanti kita atur lagi untuk bertemu, oke.” Ucap Fita.


“Oke, sampai ketemu lagi ya sayang.” Ria menjawab sambil memeluk Fita.


“Sampai ketemu lagi Fita, senang lihat kamu baik-baik saja.” Ucap Dodi sambil tersenyum.

__ADS_1


“Aku juga makasih ya, kalian sudah meluangkan waktu untuk ketemu aku, dan makasih buat kamu Ajay.” Ucap Fita sambil tersenyum.


“Sama-sama manis, aku antar pulang ya.” Ajay menjawab.


“Tidak usah, aku sudah terlanjur pesan ojek online, aku tinggal duluan ya.” Ucap Fita.


Fita berjalan meninggalkan mereka sembari sesekali menengok ke belakang ke arah mereka.


“Ajay?” Panggil Ria.


“Kenapa Ria?” Sahut Ajay.


“Kamu yakin tidak apa-apa?” Tanya Ria.


“Santai, lihat dia ketawa saja, aku sudah senang sekali." Ajay menjawab.


****


Bulan terus berlalu dan ada sosok lelaki satu desa dengan Fita mendekatinya namanya Amal, Fita tidak begitu mengenal dia karena saat berada di kampung Fita tidak pernah melihat laki-laki itu karena mereka juga berbeda wilayah dan jarak rumah mereka cukup jauh, sedangkan Amal mengenal Fita dari abang sepupunya.


“Hai Fita, kamu cantik.”


“Siapa ya, tidak kenal saya.” Fita membalas pesan singkat dengan bertanya-tanya nomer siapa yang mengirim pesan.


“Amal, teman dekat Sahli sama Seful.”


“Oh.” Fita membalas pesan lalu terdiam.


Aduh jadi bahan giliran lagi ini kaya dulu pas jaman pacaran sama David, harus waspada aku. Fita membatin.


Setiap hari Amal selalu mengirimkan Fita sarapan dan mengajak jalan ke kali jodoh, kota tua maupun monumen nasional.


“Fita, ayo jalan malam minggu.” Amal mengirim pesan singkat.


“Tidak bisa, aku sedang lembur kerja.” Fita membalas pesan.


“Kalau begitu aku tunggu sampai kamu bisa.” Amal membalas pesan.


Amal tidak pernah menyerah mengambil hatinya Fita, Amal mengungkapkan perasaan dia kepada Fita dan Fita juga menjawab perasaan dia seperti biasa untuk bahan senang-senang saja.


Terkadang Fita jahat dengan para lelaki tapi ia begitu karena para lelaki selalu mengincar kesenangan semata saja, memang laki-laki ada yang berbeda tapi bagi Fita mereka sama saja.


Seiring berjalan waktu Fita sama sekali tidak pernah bertemu dengan Amal karena bagi Fita itu tidak terlalu penting, tapi ternyata mereka menjalani hubungan tanpa rasa dan Amal menyelingkuhinya tapi yang ia rasa tetap saja sakit.


Fita tahu Amal menyelingkuhinya dengan wanita lain karena Amal begitu bodoh sekali, selingkuh tapi hubungannya di umbar, setelah tau Fita langsung menghubungi Amal.


“Kenapa sayang, aku sayang kamu.” Amal menjawab.


“Tapi aku tidak sayang sama kamu dan aku jijik sama laki-laki yang suka selingkuh !” Ucap Fita dengan nada tegas.


“Aku tidak selingkuh.” Amal menjawab.


“Sudah ketahuan maling masih saja mengelak, aku kasih tahu sama kamu ya, aku juga pintar. kamu mau selingkuh seperti apapun aku tahu dan kamu bodoh selingkuh di umbar di sosial media, dasar bodoh, jijik aku sama lelaki yang suka selingkuh macam ganteng saja kamu !!! wajah pas-pasan saja kebanyakan gaya !!! dasar bodoh !!!” Ucap Fita dengan nada tinggi.


“Maaf sayang tapi aku sayang sama kamu.” Amal menjawab.


“Tapi aku tidak sayang kamu, pergi jauh-jauh ya !” Ucap Fita dengan nada tinggi lalu mematikan telepon.


****


Setelah kejadian itu hidup Fita berjalan dengan sangat hambar, seperti sayur tanpa garam yang tidak ada rasa, sesekali Fita rindu dengan Ijal, Fita benar-benar mencoba melupakan Ijal tapi ternyata tidak bisa.


Waktu tidak terasa sudah masuk bulan suci ramadhan dan minggu depan hari ulang tahunnya Fita, Fita dan Imah mempunyai rencana untuk bertukar kado karena beberapa bulan sebelumnya Imah ulang tahun dan Fita belum memberikan Imah kado.


“Mau kado yang harga berapa kak?” Ucap Imah.


“80 ribu Imah, jadi kamu beli apapun dan nilainya harus 80 ribu, bebas terserah mau makanan, tas, baju apapun yang penting semua di total 80 ribu, gimana? Setuju tidak?” Sahut Fita sambil mengacungkan ibu jari.


“Boleh, kapan kakak mau bertukar kado sama aku?” Tanya Imah.


“Saat ulang tahun aku, sekalian kita buka puasa bersama.” Fita menjawab.


“Kita saja apa kakak mau mengajak orang lagi?” Tanya Imah.


“Kita saja.” Fita menjawab.


“Ijal?” Tanya Imah.


Saat Imah menyebutkan nama Ijal Fita hanya bisa terdiam.


Lagipula dia sudah mendapat kado dari wanita lain. Fita membatin.


Fita berfikir cukup lama dan akhirnya ia memutuskan mengajak Ijal dalam acaranya kebetulan kemarin Ijal juga ulang tahun dan Fita belum memberikan kado.


*/


Sore itu akhirnya Fita memberanikan diri menghubungi Ijal.


“Ijal?” Fita mengirim pesan dengan penuh harap supaya Ijal cepat membalas pesan.

__ADS_1


Selang berapa menit Ijal membalas pesan Fita.


“Kenapa Fita?” Ijal membalas pesan.


“Minggu depan ulang tahun aku, terus aku mau mengajak kamu buka bersama, sambil tukar kado lagipula kemarin aku belum kasih kamu kado.” Fita membalas pesan.


“Oke siap, nanti aku datang.” Ijal membalas pesan.


Seketika Fita melihat pesan dari Ijal yang bersedia datang ia langsung sangat bahagia sekali.


“Makasih ya, untuk tempat nanti aku kabarin lagi.” Fita membalas pesan.


“Kamu mau ikut aku acara sahur berbagi bersama tidak?” Ijal membalas pesan.


“Kapan?” Fita membalas pesan.


“Besok malam, mulai jam 11 malam sampai jam 4 pagi.” Ijal membalas pesan.


“Aku kerja Ijal, besok masuk malam.” Fita membalas pesan.


“Kalau tidak bisa ya tidak apa-apa, lagipula aku juga tidak paksa kamu.” Ijal membalas pesan.


“Kalau pas masuk siang, pasti aku bisa ikut.” Fita membalas pesan.


“Santai.” Ijal membalas pesan.


Sebenarnya Fita ingin sekali ikut tapi terhalang karena ia harus kerja.


*/


Hari yang di buat jauh-jauh hari tiba, mereka janji bertemu ditempat pukul 17.00 Wib di restoran di daerah Jakarta.


Sebelum berangkat Fita menanyakan posisi Imah dan Ijal di mana.


“Kamu sudah jalan belum?” Fita mengirim pesan.


“Sudah, ini lagi naik ojek online.” Ijal membalas pesan.


“Kamu tidak bawa motor, berarti nanti aku tidak bisa pulang sama kamu.” Fita membalas pesan.


“Motor aku di pakai adik aku, kalau janji habis jalan maghrib, aku bisa bawa motor.” Ijal membalas pesan.


“Ini buka bersama Ijal, kalau habis maghrib ya aku makan sendiri saja di rumah, sudah buruan ya.” Fita membalas pesan.


Fita sampai terlebih dahulu di susul oleh Ijal, dan mereka mencari tempat dulu sebelum Imah datang.


“Kamu tidak pesan?” Tanya Ijal.


“Nanti saja tunggu Imah, biar aku sama Imah yang pesan, lagipula aku tidak tahu Imah mau apa.” Fita menjawab.


Beberapa saat kemudian Imah dan Restu tiba.


“Ada Ijal, sehat?” Tanya Restu sambil bersalaman.


“Sehat.” Ijal menjawab.


“Ayo Imah kita pesan.” Ucap Fita.


Fita dan Imah memesan makanan sedangkan Ijal dan Restu menunggu di meja dan mengambil saus untuk mereka nanti.


Setelah makanan siap, waktu berbuka puasa tiba, mereka berbuka sambil sesekali mengobrol hal-hal kecil.


Setelah buka bersama selesai acara puncak yang Fita tunggu yaitu bertukar kado, sungguh Fita penasaran kira-kira apa ya kado yang di berikan Ijal, Fita memberikan kado yang sama untuk Ijal dan Imah yaitu selimut bulu hanya berbeda motif, Fita tau ijal sangat suka bola apa lagi Manchester United jadi ia membelikan itu untuk Ijal dan kemeja, sedangkan Imah bermotif hello kitty.


“Jangan di lihat dari isinya, tapi dari usaha yang aku beli ini buat kamu, oke !” Ucap Ijal sambil memberikan kado lalu tersenyum.


“Apapun itu aku terima dengan senang hati, kamu juga ya jangan di lihat dari harga tapi dari siapa yang kasih kado itu buat kamu.” Fita menjawab sambil memberikan kado lalu tersenyum.


“Iya paham.” Ucap Ijal.


“Makasih ya Ijal, Makasih ya Imah.” Ucap Fita.


Setelah semua selesai dan mereka pulang masing-masing, Imah dengan Restu, Fita dan Ijal dengan ojek online masing-masing.


Sesampainya di rumah Fita sudah tidak sabar dengan kado dari Ijal, Fita membuka dengan cepat di bantu Ibunya.


Ternyata kado dari Ijal dan Imah itu sama, kalau Ijal hanya tas gendong berwarna merah dan Imah tas selempang dan hijab, Fita sangat bahagia dengan kado yang Ijal dan Imah berikan, Fita suka sekali dengan kadonya apa lagi kado dari Ijal karena kado yang spesial untuk Fita di ulang tahunnya.


Terima kasih Ijal untuk kado yang kamu berikan, aku akan merawat pemberian kamu. Fita membatin.


 


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.


Salam hangat untuk kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2