
Semester dua pun di mulai, ini adalah semester yang isinya tugas semua, serba sibuk, serba memutar otak bagaimana supaya tugas bisa cepat selesai.
Dengan status jomblonya semua terasa berat baginya, Fita seperti tidak mempunyai teman untuk berbagi cerita, meskipun banyak yang peduli tapi ia merasa hampa untung ada Rizan sahabatnya yang konyol, gila, iseng, ia dan Rizan seperti orang pacaran.
“Kamu sama Rizan sudah kaya orang pacaran saja dekat banget.” Tanya Lia sambil menghampiri dengan tatapan serius.
“Biasa saja, bukan tipe aku dia, dan aku bukan tipenya.” Jawab Fita sambil tertawa tiba-tiba ada suara yang mengagetkan dari belakang.
“Di sini ternyata, aku cari kamu dari tadi juga.” Ucap Zan.
“Ada apa emang?” Jawab Fita dengan wajah kaget.
“Mau nitip motor di rumah kamu, ada peraturan kalau sekarang tidak di perbolehkan bawa motor.” Jawab Zan
“Makannya kalau sudah tau peraturannya kaya begitu, ya jangan bawa motor, dasar pinter!” Jawab Fita sambil tatapan tajam.
“Sudah ayo buruan Fita!” Tanya Zan sambil dengan nada tegas lalu tertawa.
“Iya sabar ganteng, Lia aku sudah pergi dulu ya nganter anak monyet yang ribet satu ini.” Jawab Fita sambil dengan nada tegas serta sambil mengelus kepalanya.
“Oke.” Jawab Lia sambil tertawa.
“Sialan kau, ayo buruan!” Zan sambil menarik tangannya Fita.
Di jalan sambil menuju kerumahnya Fita.
“Menyusahkan!” Fita dengan muka kesal.
“Menyusahkan sedikit ini tidak banyak, pelit banget!” Jawab Zan sambil meledek lalu tertawa.
“Terserah kamu!” Pinta Fita dengan raut muka kesal.
Setelah selesai menitipkan motornya di rumahnya Fita mereka berdua berjalan kaki menuju ke sekolah.
Sesampainya di sekolah.
“Dari mana?” Tanya Ida.
“Itu si anak setan bikin susah saja.” Jawab Fita sambil menunjuk ke arah Rizan.
“Kenapa?” Tanya Ida.
“Nitip motor.” Jawab Fita dengan raut muka lelah.
“Oh, di rumah kamu?” Tanya Ida.
“Iya.” Jawab Fita lalu terdiam.
Astaga lelah banget,mana kaki pada pegel-pegel. Fita membatin sambil memegang kakinya.
***
Beberapa bulan kemudian ujian semester dua pun tiba.
“Kamu di ruang berapa?” Tanya Lia menghampiri Fita.
“Ruangan empat.” Jawab Fita sambil melihatkan satu lembar kertas.
“Sama dong.” Pinta Lia dengan muka tersenyum.
“Bisa nyontek dong.” Jawab Fita sambil tertawa lebar.
“Santai.” Lia menjawab sambil tertawa.
Seminggu kemudian ujian akhirpun selesai, selama tiga hari sekolah mengadakan Classmeating, bukannya mengikuti kegiatannya justru Fita dan teman-teman malah asik kabur jalan-jalan ke wisata kota tua.
“Bosen Classmeating begini-begini saja.” Pinta Sita.
“Kabur saja ayo cabut ke kota tua bagaimana?” Jawab Via.
“Ide bagus itu, ayo kabur.” Fita menjawab.
Fita dan teman-teman akhirnya kabur lewat pintu samping, Fita, Lia, Eni, Via, Sita mereka kabur dan pergi bersenang-senang.
“Setan banget si kita, kepala batu banget ya pakai segala kabur-kaburan, ajaran siapa si ini.” Tanya Fita sambil melirik teman-teman.
__ADS_1
“Ajaran aku, kenapa?” Tanya Via sambil tertawa.
“Kenapa tidak dari kemarin saja kita kaya begini.” Jawab Sita sambil tertawa lebar.
Sesampainya di kota tua mereka berfoto, masuk museum Fatahilah, bank Indonesia, museum wayang, belanja sampai sore.
“Hari begitu cepat berlalu ya, buktinya sudah sore saja, ayo pulang teman-teman.” Tanya Lia.
“Ayo, aku juga sudah capek ini.” Jawab Fita sambil menuju arah jalan pulang.
Akhirnya liburan semesterpun datang tiga minggu lamanya, selama tiga minggu Fita tidak pernah pergi kemana-mana ya Namanya juga jomblo, sampai akhirnya Ijal menghubunginya.
“Fita apa kabar?” Tanya Ijal melalui pesan singkat.
“Aku baik ijal, kamu sendiri apa kabar?” Fita membalas pesan dengan wajah kaget.
“Aku juga baik.” Ijal membalas pesan.
“Kamu ke mana saja tidak pernah kelihatan? Menghilang begitu saja tanpa kabar berita.” Fita membalas pesan dengan raut wajah khawatir.
“Aku sibuk.” Ijal membalas pesan.
“Iya yang anak pelayaran, beda sama anak biasa kaya aku.” Fita membalas pesan sambil tertawa.
“Kemarin aku sempat nongkrong tapi kamu tidak ada, kemana?” Ijal membalas pesan.
“Sekarang aku tidak pernah lagi nongkrong sama anak-anak, males pada mesum semua.” Fita membalas pesan sambil tertawa lebar.
“Aku kangen sama kamu, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar, mau tidak?” Ijal membalas pesan.
“Kemana?” Fita membalas pesan dengan wajah kaget.
“Mau apa tidak, simpel kan!” Ijal membalas pesan.
“Iya mau, jemput aku di mana.” Fita membalas pesan.
“Ujung jalan biasa.” Ijal membalas pesan.
“Ya sudah aku jalan ya.” Fita membalas pesan sambil tersenyum.
Fita menemui Ijal di ujung jalan dan seperti biasa dia mengajak Fita jalan-jalan sebentar, sampai mereka menepi di sebuah komplek dekat rumahnya Fita.
“Seperti anak layangan saja aku di ajak nongkrong di sini.” Ujar Fita sambil menghampiri Ijal lalu sambil tertawa.
“Bawel banget.” Ijal menjawab sambil tertawa lebar.
“Katanya kangen mau cerita apa?” Tanya Fita sambil tersenyum manis.
“Tidak apa-apa.” Ijal menjawab dengan senyuman.
“Aneh! Emang kamu ke mana saja, aku sudah mencoba mengirimkan kamu pesan tapi tidak pernah di balas, aku telefon juga tidak pernah di angkat.” Tanya Fita dengan wajah sedih.
“Di bilang aku itu lagi sibuk!” Ijal menjawab sambil memegang tangan Fita.
“Sibuk apa?” Tanya Fita dengan wajah bingung.
“Ya sibuk pokoknya!” Jawab Ijal dengan senyuman.
“Vespa kamu ke mana?” Tanya Fita sambil menunjuk motor Ijal.
“Ada di rumah, kenapa?” Ijal menjawab.
“Tidak, aku pikir kamu bawa vespa terus mau di ajak susah lagi begitu kaya dulu.” Fita menjawab dengan raut wajah bingung lalu tersenyum.
“Tidak, kamu sudah putus sama David?” Tanya Ijal.
“Sudah, ayah aku tidak suka aku pacaran dan aku harus fokus dulu dengan sekolah.” Jawab Fita lalu terdiam.
Oh tuhan senang rasanya bisa ketemu Ijal semoga saja kaya begini terus tuhan, aku pikir ijal mau menyatakan perasaan dia ke aku ternyata tidak. Fita membatin sambil tersenyum manis.
Setelah mengobrol Fita di antar Ijal pulang.
“Sampai sini ya.” Tanya Ijal sambil berhenti di samping jalan.
“Terima kasih.” Fita menjawab sambil tersenyum manis.
__ADS_1
****
Liburan semester usai, Fita Kembali ke sekolah dan naik di kelas sebelas, Fita masuk di kelas AP satu bersama sahabatnya Rizan dan teman-teman yang lain. Rizan duduk tepat di belakang Fita bersama Alif dan Fita duduk di depan Rizan bersama Lia.
“Kenapa harus sekelas sama kamu lagi si Zan!” Ujar Fita sambil tertawa.
“Kamu pikir aku tidak bosan apa liat kamu terus!” Zan menjawab sambil tertawa.
“Terus apa kabar sama aku! gila kamu ya.” Fita menjawab lalu pergi.
Rizan masih sama seperti di kelas 10, suka menyontek dengan Fita apa lagi kalau ada tugas Bahasa arab pasti Fita orang nomer satu yang dia contek, dan ajaibnya pas kelas 11 ini Fita termasuk anak yang pintar.
Fita, Ani dan Lia mulai menaksir laki-laki yang sama namanya Fiqri, dia lumayan ganteng, pintar sholawat, bermain hadroh ya tuhan sempurna, tapi sayangnya dia sudah ada yang punya.
Di saat Fita kelas sebelas ia mulai menjalin hubungan dengan Arib lagi, selama 1 tahun itu mereka menjalin hubungan jarak jauh karena dia juga masih kelas 12 di solo.
“Sayang bagaimana hari kamu?” Tanya Arib melalui pesan singkat.
“Aku baik, semuanya lancar, kapan kamu ke sini?” Fita membalas pesan.
“Sabar ya, nanti setelah lulus aku akan menyusul kamu sembari mencari kerja di Jakarta.” Arib membalas pesan.
“Aku tunggu.” Fita membalas pesan.
Keesokan harinya.
“Fita cantik, aku boleh tidak melihat tugas kantor kamu? kamu sudah mengerjakannya bukan?” Tanya Zan sambil menghampiri Fita lalu sambil memohon.
“Kebiasaan, kalau kamu nyontek terus kapan mengertinya.” Fita menjawab dengan muka kesal.
“Sebenarnya aku mengerti tapi aku hanya pusing makannya lebih mudah lihat punya kamu.” Zan menjawab sambil tertawa lebar.
“Dasar!” Fita menjawab dengan muka kesal lalu tertawa.
Semester 1 ini Fita harus sibuk dengan tugas PKL nanti yaitu kerja lapangan, karena jadwal PKL sudah turun ia satu kelompok dengan Andin, Fira dan Devi mereka PKL di kantor kementrian keuangan, mereka cukup jadi anak yang rajin kala itu, datang pagi-pagi dan siang harinya pukul 14.00 wib mereka sudah pulang selama senin sampai jum’at dan sabtunya Fita sekolah.
“Fita, sini sebentar.” Tanya Atasan sambil memanggil Fita.
“Iya pak, ada apa?” Fita menghampiri dengan wajah bingung.
“Tolong bawa koper ini ke lantai 5 ya, hati-hati ini isinya uang 3 miliyar nanti kamu berikan ke orang keuangan ya.” Atasan sambil memberikan koper.
“Baik pak.” Fita membawa kopernya ke lantai 5.
Ya tuhan baru kali ini megang uang sebanyak ini rasanya Bahagia banget andai bisa aku ambil selembar pasti tidak akan ketahuan. Fita membatin sambil menghayal lalu tersenyum.
Fita naik tangga menuju lantai 5 sebetulnya ada lift tapi ia kurang mengerti cara pakainya dan takut kejebak juga.
Selain itu terkadang tugasnya Fita membantu menghitung uang, surat menyurat, pengarsipan, atasan begitu percaya kepadanya.
Hari sabtunya Fita sekolah, seperti biasa ia harus menyelesaikan semua tugas sekolahnya selama 5 hari yang lalu.
“Eni ada tugas apa?” Tanya Fita sambil menghampiri.
“Pembukuan ini.” Eni menjawab sambil menunjukkan satu buah buku.
“Aduh menghitung uang lagi tapi cuma angka saja, coba uang beneran pasti semangat aku.” Fita menjawab sambil kaget lalu tertawa.
“Dasar.” Eni menjawab sambil tertawa.
Selama di kelas 11 Fita sibuk dengan tugas-tugasnya, sampai PKL selesai dan semua berlalu begitu cepat, sudah mau masuk ke semester 2 saja.
------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..
-------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1