Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 29


__ADS_3

Malam itu malam hari raya dan besok paginya sudah lebaran idul fitri, tidak ada acara atau sesuatu yang special karena di kampung halamannya Fita sangat sepi sekali dan jarang anak muda di sana yang keluar rumah, Fita saat itu keluar rumah sebentar dan jam 9 malamnya ia pulang.


Di kampung halamannya Fita sangat gelap sekali jarang cahaya apapun tidak seperti di Jakarta yang setiap beberapa meter pasti ada penerangan, di sana alat bantu cahayanya hanya dari ponsel ataupun senter.


Malam itu Fita menghampiri sepupunya melisa, Kakak Sahli dan Mas Romli mereka berencana akan menayalakan kembang api dan petasan, Fita menuju rumah mereka sendirian malam itu dengan suasana malam yang gelap yang hanya di bantu cahaya ponsel.


“Kamu berani jalan sendirian, mau aku jemput?” Tanya Melisa melalui telepon.


“Kagak usah, lagipula dekat ini aku berani, ini lagi jalan.” Fita menjawab.


“Aku tunggu di depan pintu.” Ucap Melisa lalu mematikan telepon.


Setelah Fita sampai mereka langsung menyalakan kembang api dan petasan, rasanya beda sekali di kota dengan di kampung halamannnya tapi yang Fita rasa ia lebih menyukai suasana kota yang ramai, kalau di kampung halaman Fita merasa binggung kalau lagi tidak ada teman, ia tidak bisa jalan-jalan karena tidak ada yang menemani, ia juga tidak begitu paham Bahasa sana ia tidak mengerti apa yang mereka katakan, ia tidak terlalu mengenal orang sana berbeda sekali dengan di kota, lagipula ia di Jakarta suka berjalan sendirian tanpa arah yang jelas, sedangkan di kampung halaman ia binggung tidak tahu sama sekali.


Pukul 9 malam Fita pulang dan ia turun ke bawah ke rumahnya sendirian, sesekali Fita berhenti untuk memastikan ada orang atau tidak yang mengikutinya.


Sesampainya Fita di rumah ternyata rumahnya ramai sekali, ramai dengan anak-anak muda yang sedang bermain kartu dengan Ayah di sana juga ada Mas Seful.


“Dari mana dik?” Tanya Seful.


“Main kembang api di atas tadi di rumah Melisa.” Fita menjawab.


“Oh, mau kopi dong.” Ucap Seful.


“Sebentar ya.” Fita menjawab lalu jalan ke dapur membuatkan kopi dan membuat mendoan makanan khas di daerahnya.


Setelah selesai membuat makanan dan minuman lalu ia mengantarkan ke depan.


“Ada rencana mau ke mana habis lebaran?” Tanya Seful.


“Jalan-jalan saja Mas ke tempat wisata, aku di sini cuma sampai H+2 lebaran.” Fita menjawab.


“Sama siapa?” Tanya Seful.


“Sama Kak Sahli mungkin Mas, yang pasti bukan sama Mas Seful.” Fita menjawab.


“Bukan Kakak kagak mau dik, tapi kalu kita kelihatan orang lain boncengan nanti kita jadi bahan pembicaraan orang-orang, lagipula kita kagak ada hubungan apa-apa.” Ucap Seful.


“Aku paham Kakak.” Fita menjawab sambil tersenyum.


Setelah semuanya selesai Fita bersiap tidur karena besok paginya ia harus sholat idul fitri.


****


Pagi itu Fita terlambat bangun karena semalam ia tidur sangat larut, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, lalu ia langsung bergegas untuk mandi dan berisap.


Seperti yang di lakukan orang kebanyakan di saat idul fitri yaitu bersalaman dan sungkem.


Pagi itu Fita berencana berkeliling dengan sepupunya, Melisa, Kak Sahli serta yang lainnya, meski Fita setiap tahun pulang kampung tapi ia tidak begitu banyak orang yang ia kenal tapi mereka semua hampir mengenal Fita, mungkin karena Ayahnya Fita cukup punya nama di sana.


Fita berkeliling ke sana ke sini, bersalaman dengan orang banyak dan yang terakhir ia menuju rumah Mas Seful itu artinya ia akan bertemu Al di sana. Benar saja sesampainya di sana semuanya lengkap ada Bibi, Paman, Mas Seful dan pastinya Al, Fita berurutan bersalaman dengan mereka dan terkahir dengan Al ia hanya memberikan salam biasa tidak banyak mengobrol atau bertanya, setelah selesai Fita meminta Melisa cepat-cepat untuk pulang.


“Sudah belum? Ayo pulang.” Tanya Fita sambil berbisik.


“Iya ayo ayo, Bibi pulang dulu ya.” Melisa menjawab.


“Emang mau ke mana itu si Fita, lagipula kamu belum makan Bibi soalnya sudah masak.” Ucap Bibi.


“Iya dik buru-buru banget, makan dulu ya bibi sudah masak ayam.” Sahut Seful.


“Kagak usah Mas, aku mau ke terminal soalnya sekalian mau lihat tiket bus.” Fita menjawab.


“Oh ya udah hati-hati.” Ucap Bibi sambil tersenyum.


Lalu Fita pulang mengikuti Melisa.


*/


Sore itu Fita pergi dengan Kak Sahli dan Melisa jalan-jalan sore sebentar karena besok adalah hari terkahir Fita di kampung halaman sebelum lusa sore ia berangkat.


“Kamu balik kapan?” Tanya Melisa.


“Lusa aku balik, besok mau beli tiket dulu sama Mas Sahli.” Fita menjawab.


“Ya sudah kalau begitu.” Ucap Melisa.


****


Pagi itu Fita sudah rapi dan mengampiri Kak Sahli yang sedang bersiap, mereka mau jalan-jalan sore sekalian membeli tiket untuk ia pulang ke Jakarta, ia pulang sendiri karena orang tuanya masih berlibur.


“Mau ke mana dulu ini kita?” Tanya Sahli.


“Jalan-jalan dulu, nanti sore kita beli tiket ya.” Fita menjawab.


“Oke.” Ucap Sahli.


Fita berkeliling ke kota purbalingga dan purwokerto, jalan-jalan ke taman bunga flower garden namanya setelah itu ia pergi ke goa lawa yang ada di purbalingga dan kunjungan terakhir ke rumah kurcaci, harga tiket di kampung halaman lumayan terjangkau mulai dari 2.000 hingga 15.000.


Sebelum Fita pulang ia mampir ke terminal membeli tiket.


“Mas tiket pulogebang 1 ya untuk besok.” Ucap Fita.


“Atas nama.” Crew menjawab sambil mencatat.


“Fita, kursi depan ya Mas.” Ucap Fita.


“Fita, pulogebang, kursi depan dan harganya 200.000 ribu, pukul 16.00 sore ya.” Ucap Crew.


“Oke, makasih.” Fita menjawab sambil memberikan uang.


Karena waktu itu musim liburan jadi harga tiket busnya 200.000 ribu biasanya hanya 90.000 ribu dari bobotsari ke Jakarta, sedangakan dari Jakarta ke bobotsari Cuma 90.000 sampai 115.000 ribu tergantung fasilitas bus.


*/


Malam itu Fita menghabiskan waktu bersama Melisa, Kak Sahli, Mas Romli dan yang lainnya. Setelah selesai menghabiskan waktu bersama ia pulang, belum sampai di rumah ia bertemu dengan Amal mantan pacarnya waktu dulu.

__ADS_1


“Aku mau bicara sebentar.” Ucap Amal.


“Apa?” Tanya Fita dengan nada sinis.


“Aku minta maaf, sudah selingkuh dari kamu, aku menyesal, aku mau balik lagi Fita aku janji kagak bakal selingkuh lagi.” Amal menjawab dengan wajah memelas.


“Maaf aku kagak cinta sama kamu gimana dong, jangan sekali-kali bermain hati.” Ucap Fita.


“Maaf.” Amal menjawab lalu Fita pergi.


Dasar laki-laki tidak punya kaca ya, apa bagusnya si dasar, dasar, astaga. Fita membatin sambil tertawa geli.


*/


Sesampainya Fita di rumah ia berfikir siapa yang besok yang bisa menjemputnya, setelah lama berfikir ia teringat dengan Ijal tanpa pikir panjang Fita langsung telepon Ijal.


“Besok aku balik ke Jakarta, dari sini si sore paling sampai sana malam jam 2, kamu bisa jemput aku?” Tanya Fita di telepon.


“Bisa, kabarin saja.” Ijal menjawab.


“Serius? makasih ya.” Ucap Fita.


“Iya.” Ijal menjawab.


Senang rasanya bisa di jemput Ijal, aduh Ijal kamu sesuatu banget makin sayang sama kamu. Fita membatin.


Setelah selesai meminta Ijal menjemput Fita lalu ia memberi kabar kepada Imah kalau besok ia pulang.


“Imah, kamu balik kapan?” Fita mengirim pesan kepada Imah.


“Besok malam Kak naik travel.” Imah membalas pesan.


“Bagus kalau begitu, aku juga besok jam 4 sore, jadi kagak rencana kita liburan? Demi liburan aku sampai bohong kalau lusa aku sudah masuk kerja.” Fita membalas pesan.


“Lihat besok, aku sampai jam berapa ya.” Imah membalas pesan.


“Ya sudah kabarin ya.” Fita membalas pesan.


Setelah memberi kabar Imah lalu Fita menyiapkan barang-barang apa saja yang ia bawa ke Jakarta.


****


Fita bangun tidur siang jam 11 siang, di rumahnya sudah ada Mas Seful yang sedang tiduran di depan televisi.


“Mas Seful?” Teriak Fita.


“Sudah bangun, jalan jam berapa nanti?” Tanya Seful.


“Jam 3 Mas, bus jalan jam 4 kenapa?” Ucap Fita.


“Oh, hati-hati ya, kalau begitu Mas pulang dulu ya.” Seful menjawab sambil tersenyum.


Siang itu Ibu sudah menyiapkan makanan siang untuk Fita.


“Makan dulu, habis itu mandi siap-siap.” Ucap Ibu.


“Hati-hati di sana sendiri, paling Mamah menyusul hari sabtu.” Ucap Ibu.


“Fita mau main dulu ke bogor si sama Imah, menginap.” Fita menjawab.


“Menginap?” Tanya Ibu dengan wajah kaget.


“Mamah tenang saja ada Ijal yang jagain aku.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Oh ya sudah hati-hati.” Ucap Ibu.


Dengan mudah Ibunya Fita mengizinkan, Ibu begitu percaya dengan Ijal padahal bertemu saja baru sekilas dan belum pernah mengobrol tapi ibu tau bagaimana perlakuan Ijal kepada Fita, Ibu juga tau siapa yang selalu mengantar Fita kalau ia sakit, jadi dengan mudah Fita bisa izin pergi dan menginap.


*/


Fita sudah siap, Fita di antar Ayahnya ke terminal, sesampianya di terminal ternyata busnya masih terkena macet di purbalingga, Fita harus menunggu ruang tunggu penumpang sambil menghubungi Melisa.


“Mel, kamu ke sini dong sama Sahli.” Ucap Fita di telepon.


“Sabar ya, aku lagi nunggu Sahli jemput aku, aku kerja nanti aku langsung ke sana.” Melisa menjawab.


“Aku tunggu.” Ucap Fita.


Beberapa saat Fita menunggu akhirnya Melisa dan Sahli datang lalu menghampiri Fita.


“Bus kamu belum tiba?” Tanya Sahli.


“Belum Kak, kalian mau batagor? Ini beli.” Fita menjawab sambil memberi uang.


“Sini aku saja yang beli, kamu mau apa?” Tanya Melisa.


“Aku batagor.” Fita menjawab.


“Oke.” Ucap Melisa.


Setelah menunggu sekitar 1 jam akhirnya bus tujuan pulogebang tiba, Fita langsung cepat naik untuk menyimpan barang bawaan ia lalu kembali turun menemui Melisa, Sahli dan Ayah.


“Ini batagor kamu buat bekel, hati-hati ya sampai ketemu tahun besok lagi.” Ucap Melisa.


“Makasih ya Mel, Kak Sahli pamit ya.” Fita menjawab sambil memeluk Melisa.


“Iya hati-hati.” Ucap Sahli.


“Lagipula bus kamu sudah datang, aku pulang ya sudah sore juga.” Ujar Melisa.


“Iya, hati-hati ya.” Fita menjawab sambil tersenyum.


Setelah mereka pergi Fita baik ke bus untuk di absen oleh petugas bus.


“Hati-hati, jangan percaya sama orang, jangan mau kalah di kasih makanan atau minuman sama orang.” Ucap Ayah.

__ADS_1


“Iya.” Fita menjawab.


“Siapa yang jemput? Kalau tidak ada yang menjemput, kamu lebih baik di atas saja dulu, ada ruang tunggu nanti kalau sudah pagi baru jalan pulang.” Ucap Ayah.


“Iya.” Fita menjawab.


“Sudah semua, kalau begitu ayah pulang ya, kamu hati-hati, beri kabar terus.” Ucap Ayah.


“Iya.” Fita menjawab sambil bersalaman dan berpamitan.


Akhirnya Bus melaju, selama di perjalanan Fita mencoba menghubungi Imah tapi tidak ada balasan mungkin di sana tidak ada sinyal lalu ia memberitahu Ijal kalau ia sudah jalan sore itu.


Selama di dalam bus Fita hanya melihat ke arah depan, kebetulan ia duduk di kursi paling depan karena ia ingin menikmati perjalanan, ini pengalaman Fita naik bus antar kota sendiri, biasanya kalau bersama Ayah ataupun bersama Ibu, selama di perjalanan Fita memejamkan mata namun tidak bisa.


Pukul 20.00 malam Fita sampai di rumah makan pemalang, ia cepat-cepat bergegas keluar dari bus untuk ke kamar mandi dan makan, setelah 30 menit bus melanjutkan perjalanan lagi tanpa istirahat.


*/


Pukul 23.00 malam Fita menghubungi Ijal untuk memberitahu posisinya.


“Nanti jam 2 juga aku sudah sampai, kamu jangan tidur ya nanti kagak ada yang jemput aku, aku takut di terminal sendirian.” Fita mengirim pesan.


“Emang siapa yang mau berbuat jahat sama kamu Fita.” Ijal membalas pesan.


“Ya pasti ada.” Fita membalas pesan.


“Kamu lama, nanti aku tinggal tidur juga.” Ijal membalas pesan.


“Aku bilang jam 2 sampai.” Fita membalas pesan.


“Berbagi lokasi berjalan kalau begitu, biar aku tau kamu di mana.” Ijal membalas pesan.


“Aku kagak tau lokasi berjalan itu di mana Ijal.” Fita membalas pesan.


“Astaga, kamu udik banget ya, berbagi lokasi Fita yang aku maksud.” Ijal membalas pesan.


“Oh berbagi lokasi, lagipula kamu bilang lokasi berjalan ya mana aku tahu.” Fita membalas pesan.


“Ya tuhan, udik, norak dasar, ya sudah buru berbagi lokasi kamu sekarang.” Ijal membalas pesan.


“Sabar dong.” Fita membalas pesan.


Setelah memberikan lokasi ke Ijal, Fita memejamkan matanya untuk tidur sebentar, Fita tidur selama 2 jam lalu ia terbangun sudah sampai di terminal pulogebang dengan cepat Fita menghubungi Ijal.


“Ijal di mana, aku sudah sampai ini.” Fita mengirim pesan.


“Ini aku sudah jalan.” Ijal membalas pesan.


“Nanti aku tunggu di atas ya, kalau kamu sudah sampai baru aku turun ke bawah.” Fita membalas pesan.


Fita turun dari bus lalu ia menunggu Ijal di ruang tunggu, di terminal banyak orang-orang yang sedang menunggu pagi untuk pulang ke rumah masing-masing sama seperti Fita.


Tidak lama kemudian Ijal menghubungi Fita memberitahu kalau Ijal sudah tiba.


“Aku di pintu timur 1.” Ijal sambil mengirim Foto.


“Oke tunggu aku, sabar.” Fita membalas pesan.


Fita berjalan sambil bertanya kepada satpam arah pintu timur 1.


“Maaf ada yang bisa di bantu?”


“Pintu timur di mana ya?” Tanya Fita.


“Oh, Ibu naik lift lantai paling bawah terus nanti belok ke kanan nanti ada tulisan pintu timur 1.” Satpam menjawab sambil membuka lift untuk Fita.


“Makasih.” Ucap Fita.


Setelah keluar dari lift Fita mengikuti arahan dari satpam, Fita ketemu pintu yang ia tuju, di sana sudah ada Ijal yang menunggu.


“Lama ya? Maaf aku tadi bertanya dulu pintu timur di mana.” Ucap Fita.


“Santai, sini barang kamu taruh di depan saja.” Ijal menjawab.


Fita di antar Ijal pulang sampai di depan rumahya.


“Makasih ya Ijal, oh ya nanti siang aku mau ajak kamu liburan ke bogor sama Imah sama Restu, mau?” Ujar FIta sambil tersenyum.


“Ke bogor kalau kagak menginap itu kagak enak.” Ijal menjawab.


“Iya kita menginap Ijal, gimana?” Tanya Fita.


“Kabarin aku saja ya.” Ijal menjawab.


“Tapi kalau Imah belum sampai Jakarta gimana?” Tanya Fita.


“Ya kita liburan berdua saja, gampang, ya sudah aku balik dulu mau tidur nanti kabarin saja.” Ijal menjawab.


“Oke sekali lagi makasih.” Ucap Fita sambil tersenyum manis.


Fita sangat berharap liburan ini bakalan jadi yang asik, Fita cuma mau Ijal seperti dulu lagi, setidaknya ia bisa menghabiskan waktu bersama Ijal lebih lama.


Liburan ini penting sekali untuk Fita, Fita ingin dekat sekali sama Ijal seperti dulu lagi karena sekarang yang Fita rasa sifatnya Ijal agak dingin, meski Ijal selalu ada.


Tapi Fita dan Ijal sudah tidak pernah banyak mengobrol seperti dulu, semoga liburan ini bisa berkesan juga untuk Ijal.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.

__ADS_1


Salam hangat untuk kalian semua❤


__ADS_2