Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 28


__ADS_3

Fita masuk shift 2 dan ia pulang malam, malam itu tidak ada yang menjemput, karena ayahnya pulang kampung, akhirnya ia berinisiatif meminta Ijal untuk menjemputnya.


“Nanti malam jam 11 bisa jemput aku pulang kerja tidak Ijal?” Fita mengirim pesan singkat.


“Bisa dong, kabarin saja kalau kamu sudah pulang ya Fita.” Ijal membalas pesan.


“Oke, aku kirim lokasi tempat kerja aku ya.” Fita membalas pesan.


“Ya sudah, kalau begitu.” Ijal membalas pesan.


Setelah menghubunginya Fita merasa senang sekali saat itu karena ada yang menjemputnya kerja, jam menunjukkan pukul 23.00 Wib waktunya Fita pulang kerja, Fita keluar gerbang dengan Imah karena ia juga di jemput oleh Restu.


“Kakak, kata Restu Ijal lagi sama dia di depan.” Ujar Imah.


“Oh, ya sudah ayo kita ke depan.” Fita menjawab.


Fita dan Imah keluar tempat kerja dan menghampiri mereka yang kelihatan sedang asik mengobrol berdua.


“Sudah lama Ijal?” Ucap Fita, Ijal diam saja tanpa menjawab pertanyaan Fita.


“Ya tuhan kita menyapa mereka tapi mereka cuek saja.” Sahut Imah.


“Biarikan saja.” Fita menjawab.


Setelah lama Restu dan Ijal sadar kalau Fita dan Imah sedang menunggu mereka yang asik mengobrol dari tadi.


“Kalian sudah pulang?” Tanya Restu sambil tertawa.


“Kalian pada asik mengobrol saja, kalian juga tidak sadar kalau kami sudah di sini seperti patung.” Ucap Fita dengan nada sinis.


“Maklum lagi mengobrol sama Ijal jadi lupa kalau ada kalian.” Sahut Restu.


“Ayo pulang sudah malam ini, kak Fita aku duluan ya sampai ketemu lagi.” Ucap Imah.


“Kabarin aku terus ya Imah, hati-hati di jalan kamu ya.” Fita menjawab.


“Kamu juga hati-hati ya kakak.” Ujar Imah sambil tersenyum sambil melambaikan tangan.


Ijal mengantarkan Fita sampai rumahnya setelah sampai rumah Fita langsung bersih-bersih lalu istirahat.


*)


Hari ini hari terakhir Fita bekerja, karena sudah masuk minggu terakhir puasa, setiap tahun Fita selalu pulang ke kampung halamannya, ia berinisiatif menghubungi Ijal untuk menjemputnya setelah pulang kerja lalu menemaninya membeli tiket.


“Ijal, besok kamu bisa menemani aku tidak, cari tiket?” Ucap Fita.


“Tiket apa?” Tanya Ijal.


“Tiket bus, besok aku mau pulang kampung.” Fita menjawab.


“Bisa, jam berapa?” Tanya Ijal.


“Pagi-pagi sekali,sekitar pukul 06.00 wib pagi.” Fita menjawab.


“Iya, terus sekarang mau ke mana? langsung pulang apa bagaimana?” Tanya Ijal.


“Aku mau cari power bank ya, buat di bus nanti, tapi aku tidak tahu harus cari ke mana, karena sudah jam segini.” Fita menjawab.


“Sudah gampang aku tahu di mana yang jual.” Ucap Ijal.


Akhirnya mereka menyusuri jalanan ibu kota malam itu, Fita tidak bisa bohong kalau ia bahagia bisa jalan lagi seperti ini bersama Ijal, mereka terus berputar-putar tanpa arah hanya untuk membeli power bank, sampai akhirnya mereka sampai ke kota tua.


“Di sini saja ya, banyak yang bagus-bagus.” Ucap Ijal.


“Yang penting bisa di pakai.” Fita menjawab.


Akhirnya mereka berhenti di pasar malam Kawasan kota tua, Fita mengikuti langkah kaki Ijal ke mana dia pergi, maklum postur tubuh Fita mungil sedangkan Ijal tinggi otomatis langkah kakinya Ijal lebih besar dan lebar di banding Fita, Ijal berjalan 10 langkah di depan Fita sedangkan ia masih tertinggal jauh di belakangnya.


“Kamu lama banget si Fita.” Ucap Ijal.


“Sabar dong ! kamu enak langkah kamu lebar-lebar, sampai aku lelah mengejar kamu.” Fita menjawab dengan nafas terengah-engah.


“Jadi orang jangan kecil-kecil.” Ucap Ijal sambil menggoda Fita.


“Kamu jalan aku lari.” Fita menjawab.


“Ya sudah duduk dulu sini istirahat dulu.” Ucap Ijal.


Akhirnya mereka duduk untuk istirahat sejenak, Fita duduk bersama Ijal sembari mengobrol, mereka menikmati malam itu, malam di mana Fita hanya berdua dengan Ijal.


Setelah selesai Fita melanjutkan lagi mencari power bank dan Fita dapat apa yang ia mau.


“Sudah jam 1 pagi, ayo kita pulang.” Ucap Ijal.


“Tapi aku tidak mau pulang, masih mau jalan-jalan.” Fita menjawab.


“Ya terus kamu mau ke mana lagi Fita? Sudah pagi ini.” Ucap Ijal.


“Jalan-jalan dulu Ijal, lagipula besok juga aku sudah pulang kampung.” Fita menjawab.


“Ya tapi mau ke mana?” Tanya Ijal.


“Terserah, bebas.” Fita menjawab sambil tersenyum.


Aku masih kangen banget sama kamu Ijal makannya aku tidak mau pulang, ini malam yang sangat indah Ijal, kalau waktu bisa berhenti aku ingin terus bersama kamu. Fita membatin.


Akhirnya Ijal menuruti kemauan Fita yang tidak jelas arah tujuan saat itu yang tidak mau pulang.


Di jalan Ijal melihat sepasang Ojek Online yang sedang berboncengan bersama kekasihya.


“Eh Fita, coba kamu lihat itu Ojek Online yang itu.” Ucap Ijal sambil menunjuk.


“Iya sudah lihat, kenapa?” Tanya Fita.

__ADS_1


“Ojek Online itu saja di peluk, masa kita tidak si.” Ijal menjawab sambil tersenyum di kaca spion.


“Kamu mau di peluk? bilang dong.” Ucap Fita sambil memeluk Ijal dari belakang.


“Tidak berasa di peluk, kurang kencang.” Ujar Ijal sambil tersenyum.


“Seperti ini maksud kamu?” Tanya Fita dengan pelukan erat.


“Nah kalau begini hangat di badan, ini baru betul.” Ijal menjawab sambil tertawa.


Tuhan betapa bahagianya diriku, andai waktu bisa berhenti supaya aku bisa lebih lama menikmati waktu yang lama seperti ini. Fita membatin sambil memeluk erat.


Mereka terus memutari jalanan ibu kota, ke monumen nasional, ke tebet, ke kalibata, mereka menyusuri jalanan tanpa arah.


Tanpa mereka sadar sudah menunjukkan pukul 02.30wib pagi yang sudah masuk waktu sahur.


“Balik ya, sebentar lagi sahur.” Ucap Ijal.


“Oke kalau begitu.” Fita menjawab.


Akhirnya Ijal mengantarkan Fita pulang sampai di ujung jalan seperti biasa.


Sebelum tidur Fita sahur dengan makanan yang di buat Ibu.


“Dari mana jam segini baru pulang?” Tanya Ibu.


“Habis jalan-jalan tadi sama Ijal, sambil beli power bank.” Fita menjawab.


“Oh, nanti pagi jangan lupa beli tiket.” Ucap Ibu.


Setelah sahur Fita tidur sebentar dan jam 05.00 pagi ia bangun lalu bersiap untuk pergi ke terminal bus, Fita sudah mencoba menghubungi Ijal tapi ponsel dia mati akhirnya Fita memutuskan untuk pergi sendiri dengan Ojek Online.


Sesampainya Fita di terminal bus benar saja antrian begitu panjang, untung badan Fita mungil jadi ia bisa menyalip sana selip sini.


Orang-orang mengira Fita masih kecil jadi ia di diberikan posisi paling depan sama petugas bus, Fita mendapatkan 2 tiket dengan keberangkatan pagi pukul 08.00wib pagi, sementara jam menunjukkan pukul 06.35wib pagi, dengan cepat ia langsung menghubungi Ibu untuk menyusul ke terminal.


“Hallo Ibu, Ibu pesan Ojek Online ya, aku dapat tiket pagi jangan lupa listrik, air di cek lagi apakah sudah mati semua.” Ucap Fita di telepon.


“Iya ini Ibu sudah dapat Ojek Online.” Ibu menjawab.


“Kalau sudah di depan terminal telepon ya nanti aku susul ke bawah.” Ucap Fita.


Beberapa menit kemudian Ibu sudah tiba dan mereka langsung menuju ke atas tempat pemberangkatan bus.


Bus sudah siap untuk jalan, tiba-tiba ada pesan masuk dari Ijal.


“Maaf Fita, aku ketiduran terus handphone aku mati, jadi kamu telepon aku tidak tahu.”


“Iya tidak apa-apa Ijal.” Fita membalas pesan.


“Terus gimana dong?” Ijal membalas pesan.


“Aku sudah dapat tiket, ini sudah di bus sudah mau jalan malah.” Fita membalas pesan.


“Iya Ijal, kamu mau oleh-oleh apa?” Fita membalas pesan.


“Jangan repot-repot Fita, yang penting kamu selamat saja terus ketemu aku lagi.” Ijal membalas pesan.


“Benar kamu yakin? Itu pasti lagipula aku masih mau lihat kamu.” Fita membalas pesan dengan suasana bahagia.


“Tapi, kalau ada si aku mau minta oleh-oleh ayam aduan Fita.” Ijal membalas pesan.


“Kalau ada ya, aku tidak janji, lagipula aku tidak tahu beli di mana,aku tinggal di desa bukan di kota.” Fita membalas pesan.


“Oke kalau begitu.” Ijal membalas pesan.


Fita menikmati perjalanan waktu itu sembari menunggu kabar dari Imah, karena mereka pulang kampung hanya berbeda waktu saja, Imah pulang kampung malam harinya sehabis mereka pulang kerja dan Fita paginya.


“Kamu di mana Imah, macet tidak?” Fita mengirimkan pesan.


“Wah gila kak macet luar biasa, ini saja aku baru sampai kota brebes.” Imah membalas pesan.


“Aduh gimana sama aku yang baru jalan ya?” Fita membalas pesan.


“Nikmatin saja kak.” Imah membalas pesan.


Sesekali Fita tidur sebentar supaya saat ia bangun sudah sampai tapi ternyata masih berada ditempat yang sama.


Aduh pegel sama macetnya, mau di bawa tidur kaya gimana juga susah. Fita membatin.


*/


Pukul 15.00wib sore Fita sampai di rumah makan daerah indramayu, luar biasa perjalanan ia kali ini, sehabis dari toilet dan makan Fita menghubungi kakak sepupunya dan ayahnya untuk memberikan kabar kalau mereka sudah di indramayu.


“Aku sudah di indramayu kak.” Fita mengirimkan pesan.


“Astaga, dari pagi kamu baru sampai di situ dik?” Sahli membalas pesan.


“Macet parah kak, gila banget.” Fita membalas pesan.


“Ya sudah, kalau sudah di purbalingga kabarin kakak.”


“Bus aku lewat pemalang kak, jadi langsung bobotsari baru purbalingga terus terakhir Purwokerto kak.” Fita membalas pesan.


“Kalau lewat pemalang, kalau kamu sudah sampai kabarin kakak atau ayah ya.”


“Ok?” Fita membalas pesan.


30 menit Fita dan Ibunya beristirahat, bus kembali melanjutkan perjalanan lagi, Fita sangat berharap selama perjalanan dari indramayu ke pemalang lancar jaya, seperti nama busnya sinar jaya.


*/


Selama di perjalanan Fita selalu memantau lokasinya melalui handphonenya, lokasi menunjukkan kalau Fita sudah di pemalang,akhirnya Fita memberi kabar ayahnya serta kakaknya, sekian lama menunggu akhirnya tiba di terminal bobotsari, di sana Fita sudah melihat ayahnya dan kakaknya menunggu Fita dan Ibunya, lalu setelah turun dari bus Fita bersalaman dan berpelukkan dengan kakak sepupunya.

__ADS_1


“Gimana dik, sehat?” Tanya Sahli.


“Sehat.” Fita menjawab.


“Mamah sehat?” Tanya Sahli.


“Aduh aku mabok.” Ibu menjawab sambil memegang kepalanya.


“Ya sudah kita cari makan yang hangat-hangat dulu.” Ujar Ayah.


“Mau baso.” Ucap Fita.


“Ya sudah, ayo Sahli mampir tukang baso sama sroto (soto).” Ayah menjawab.


Kalau di daerah kelahiran Fita makanan sroto itu artinya soto, sebenarnya perbedaan soto dan sroto itu tidak begitu banyak, hanya saja terletak pada kuah, kalau soto terkenal kuah bening dan sroto hampir sama dengan soto Betawi yang kuahnya kental.


Sehabis makan dan badan Fita mulai tidak enak akhirnya mereka pulang.


Pemandangan di sana tidak pernah berubah tetap sama tetap asli, bisa di bilang di sini itu tidak seperti kota-kota lain yang perkembangannya sangat cepat dan pesat, kalau di sini belum modern seperti kota-kota lain dan di sini belum ada Ojek Online, Mall dan restoran besar, mereka semua baru ada di Purbalingga sedangkan jarak Purbalingga dan Bobotsari itu sekitar 30 menit sampai 1 jam.


Akhirnya mereka sampai di rumah dan bertemu dengan bibi yang mengurus rumahnya Fita selama mereka ada di Jakarta, maklum Fita tidak punya tetangga lain selain bibi sendiri, jarak rumah Fita dengan yang lain cukup jauh.


Setelah Fita menata semua barang bawaan, tiba-tiba Mas Seful bikin Fita kaget dari jendela kamar.


“Adik.” Ucap Seful.


“Ya tuhan mas bikin aku kaget saja.” Ujar Fita dengan wajah kaget.


“Maaf dik.” Ucap Seful sambil tertawa.


“Untung aku lagi menata baju, coba kalau aku lagi telanjang gimana.” Ujar Fita.


“Ya rejeki mas.” Seful menjawab sambil tertawa.


“Dasar mesum.” Ucap Fita.


“Ayo jalan-jalan.” Sahut Seful.


“Ke mana?” Tanya Fita.


“Ke sungai.” Seful menjawab.


“Sekarang?” Tanya Fita.


“Ya besok saja, ini sudah malam.” Seful menjawab sambil tertawa.


“Oh kirain sekarang.” Ucap Fita sambil tertawa.


Fita di kampung halaman kurang lebih 5-7 hari saja karena waktu liburan Fita tidak panjang dan harus kembali bekerja.


***


Pagi itu Fita bangun pagi-pagi, udara di sini segar sekali, kalau di sini biasanya Fita mandi di atas jam 12 siang karena air di sini dari air mata asli jadi dingin, dalam sehari Fita mandi sekali tapi kalau musim penghujan ia jarang mandi.


Pagi itu Fita menagih janji ke Seful untuk mengajak jalan-jalan.


“Mas di mana? jadi jalan-jalan tidak?” Fita mengirim pesan.


“Hehe, Mas baru bangun, mas cuci muka dulu.” Seful membalas pesan.


“Tidak mandi?” Fita membalas pesan.


“Buat apa mandi, nanti saja sekalian ke sungai sama saja seperti mandi.”


“Oh iya ya.” Fita membalas pesan.


Fita menunggu Seful cukup lama dan akhirnya dia datang.


“Ayo.” Ucap Seful sambil memarkir motor.


“Tidak pakai motor?” Tanya Fita.


“Dik, itu sungai di depan mata kamu terus kita turun lewat jalan kecil, masa pakai motor yang ada kita jatuh, ingat dik jatuh ke tanah itu tidak seindah jatuh cinta.” Seful menjawab sambil tertawa.


“Iya ya.” Ucap Fita sambil tertawa.


Mereka menikmati air sungai yang sangat jernih dan dingin.


“Gimana kisah cinta kamu?” Tanya Seful.


“Ya begitu deh Mas.” Fita menjawab.


“Ijal?” Tanya Seful.


“Kenapa si Ijal Mas, udah sana mas mandi bau tahu.” Fita menjawab.


“Kamu juga belum mandi.” Ucap Seful sambil tertawa.


“Tapi aku tidak bau.” Fita menjawab sambil menjulurkan lidah lalu tertawa.


Fita begitu menikmati liburan singkat di kampung halamanya yang hanya beberapa hari saja.


Rencana Fita akan mengelilingi kota kelahiranya serta berburu kuliner makanan kesukaannya yaitu baso, di sini juga baso macam-macam rasanya, ada baso sapi dan ayam, karena baso ayam jadi lebih murah tapi rasanya enak sama seperti baso daging pada umumnya, kuliner yang wajib saat Fita pulang kampung.


Semoga saja Ijal bisa aku bawa ke kampung halaman aku, aku berharap itu tuhan. Fita membatin.


 


Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.

__ADS_1


Salam hangat untuk kalian semua❤


__ADS_2