
Pagi itu rasanya Fita punya semangat baru, ia selalu mengucapkan selamat pagi pada Ijal meskipun dia tidak merespon setidaknya ia mencoba memberi perhatian kepadanya sedikit.
Ijal tidak pernah ada kabar, pesan-pesannya Fita juga tidak ada yang dia balas hingga pada akhirnya.
“Fita, kamu di mana?” Ijal mengirim pesan online.
“Di rumah kenapa?” Fita membalas pesan.
“Temenin aku jalan, mau tidak?” Ijal membalas pesan.
“Ya aku mau, aku siap-siap dulu ya.” Fita membalas pesan.
“Oke, sebentar lagi aku jalan,kamu tunggu di tempat biasa.” Ijal membalas pesan.
Akhirnya Ijal menghubungi aku. Fita membatin sambil tersenyum.
Fita menungggu Ijal di tempat biasa, sudah hampir 1 jam Fita menunggunya,namun Ijal belum juga sampai.
“Kamu di mana? aku sudah menunggu kamu dari tadi.” Fita mengirim pesan.
“Aku di jalan, sabar ya.” Ijal membalas pesan.
Begitulah Ijal, terkadang dia sulit sekali tepat waktu tapi terkadang tanpa di minta tahu-tahu dia sudah ada, dia aneh bagi Fita tapi ia begitu menyayanginya.
1 Jam berlalu Ijal pun tiba.
“Maaf lama.” Ucap Ijal sambil memelas.
“Iya tidak apa-apa, jadi kita mau ke mana?” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Naik saja dulu.” Ucap Ijal sambil memegang tangan Fita.
Fita naik ke atas motornya Ijal dan merekapun melesat pergi.
Mereka menyusuri jalanan ibu kota siang itu tanpa arah dan tujuan yang jelas, sampai pada akhirnya mereka berhenti di sebuah taman di tengah-tengah kota Jakarta.
“Kita duduk di sini saja dulu ya, udaranya lumayan sejuk.” Ucap Ijal sambil menunjuk bangku.
“Iya.” Fita menjawab sambil tersenyum.
Fita terus berjalan sembari mencari tempat duduk yang enak, di sana juga ada banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu berdua seperti mereka, sampai akhirnya Ijal menunjuk.
“Duduk di situ saja ya Fita, di bawah pohon yang rindang.” Ucap Ijal sambil tersenyum.
“Boleh.” Fita menjawab sambil tersenyum.
Fita duduk dengan Ijal saja rasanya sudah bahagia sekali, rasanya berbeda sekali di saat ia bersama Arib, rasanya nyaman sekali dan selalu ingin berlama-lama dengannya.
“Gimana, gimana?” Tanya Ijal.
“Apanya yang gimana?” Fita menjawab sambil kebingungan.
“Ya kamu sama Arib gimana?” Tanya Ijal.
“Jangan bahas dia dulu ya, kita bahas yang lain saja ya.” Fita menjawab.
“Oke, kalau begitu bahas tentang kita saja bagaimana?” Tanya Ijal.
Saat Ijal berbicara tentang hubungan mereka Fita hanya bisa tersenyum.
“Mau foto?” Tanya Ijal sambil melihatkan handphone.
“Boleh.” Fita menjawab.
“Ini pakai handphone aku saja.” Ucap Ijal sambil memberikan handphone.
Fita mengambil handphonenya Ijal dan merekapun berfoto beberapa kali.
“Gimana bagus tidak?” Tanya Fita sambil melihatkan hasil foto.
“Bagus, aku simpan ya.” Ijal menjawab sambil tersenyum.
“Ya simpan saja ya.” Ucap Fita sambil tersenyum.
“Aku ngantuk ini belum tidur, aku tidur di paha kamu ya.” Sahut Ijal dengan mata yang sayup.
Fita hanya bisa tersenyum saja tanpa sepatah kata, Ijal Pun mulai berbaring di pangkuan Fita, rasanya ada yang aneh, jantungnya berdebar melebihi biasanya.
Sore itu waktu berjalan dengan cepat.
“Sudah mulai sore, ayo pulang.” Ucap Fita sambil mengelus rambutnya Ijal.
“Pulangnya nanti saja.” Ijal menjawab.
“Tapi sudah sore Ijal.” Ucap Fita.
“Aku main 1 game dulu nanti kita pulang, oke.” Ijal menjawab.
“Oke, hanya 1 game ya sekali main.” Ucap Fita.
“Iya bawel.” Ijal menjawab sambil tertawa.
Fita menemani Ijal bermain game sebentar kala itu, Fita percaya Ijal selalu menepati janjinya.
“Sudahkan?” Tanya Fita.
“Sudah, tapi kepala aku pusing,istirahat sebentar ya.” Ijal menjawab sambil memegang kepala.
Entah saat itu Ijal hanya berpura-pura supaya bisa berlama-lama dengan Fita atau memang benar dia pusing, karena setiap Fita minta pulang pasti ada saja kelakuannya, sebenarnya Fita juga masih ingin tetap di sini bersamanya tapi waktu tidak mendukung.
Akhirnya Fita di di antarkan pulang oleh Ijal.
“Aku pulang ya.” Ucap Ijal.
“Balas pesan aku ya jangan lupa.” Fita menjawab.
__ADS_1
“Iya.” Ucap Ijal.
Begitulah Ijal,orangnya cuek sekali, Fita juga sudah menduga Ijal pasti tidak akan membalas pesannya, dia menghilang lagi seenaknya tapi nanti tanpa di minta juga nongol.
*)
Seharian itu Fita hanya menunggu kabar dari Ijal, ia sudah mengirimkan banyak pesan mungkin sudah puluhan kali tapi tidak ada yang di balas satupun, malam itu malam minggu ia mencoba menghubungi Ijal dan mengirimkan pesan tapi bukan Ijal yang membalas justru si Arib yang menghubunginya.
“Ayo jalan sayang, aku jemput ya.” Arib mengirim pesan.
“Ya terserah.” Fita membalas pesan dengan raut wajah kesal.
“30 menit lagi aku sampai di tempat biasa.” Arib membalas pesan.
“Oke.” Fita membalas pesan.
Kenapa bukan Ijal saja si, malah dia yang mengajak,males aku sama orang macem kaya dia. Fita membatin.
Akhirnya malam minggu ini Fita bersama Arib, mereka pergi ke daerah ujung aspal seperti biasa ke rumahnya Arib, mereka masih di jalan dan tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya dan ia rasa di rumahnya juga pasti turun hujan,akhirnya mereka berdua meneduh sebentar di depan toko.
“Kamu dingin?” Tanya Arib.
“Tidak.” Fita menjawab sambil membuka handphone dan melihat apakah Ijal membalas pesannya atau tidak tapi ternyata tidak ada.
Hujan mulai berhenti dan hanya turun gerimis kecil.
“Ayo cuma gerimis kecil tidak apalah.” Ucap Arib sambil melihat ke atas awan.
“Iya.” Fita menjawab.
Fita melanjutkan perjalanannya, sesampainya di rumah Arib benar saja hujan pun turun lagi dengan lebat, di saat kakinya Fita mau melangkah masuk ia merasa ada yang bergetar di saku celananya, ia mulai memastikan lalu mengambil handphonenya dan ada telefon dari Ijal, ia mulai menjauh dari Arib yang sedang sibuk mengeringkan tubuhnya.
“Hallo Ijal, ada apa?” Tanya Fita.
“Fita, temenin aku kondangan?” Ijal menjawab.
“Aku tidak bisa Ijal, aku lagi di pondok gede, di sini juga hujannya deras sekali tidak mungkin aku pulang dengan kondisi seperti ini.” Ucap Fita sambil melihat ke luar rumah.
“Pokoknya aku tunggu, aku juga siap-siap ini, di sini juga gerimis tapi masa iya aku kondangan sendirian tidak sama pasangan, pokoknya nanti aku jemput.” Ijal menjawab sambil mematikan telefon.
Dalam hati kecilnya Fita mencoba mencari cara supaya ia bisa pulang tepat waktu.
“Siapa yang telefon?” Tanya Arib sambil menghampiri.
“Oh ini teman mau main ke rumah, aku harus pulang.” Fita menjawab.
“Sayang kamu tidak lihat itu hujan sedang deras sekali, lagian kamu mau ngapain pulang kita juga baru sampai !!” Ucap Arib dengan nada tegas.
“Tapi teman aku gimana?” Tanya Fita dengan raut wajah memelas.
“Ya bilang saja tidak bisa.” Arib menjawab.
“Tapi kalau hujannya berhenti anterin aku pulang ya.” Ucap Fita.
“Ya adalah pokoknya penting banget.” Ucap Fita.
Fita terus melihat di luar rumah, ia terus berdoa supaya hujannya cepat berhenti, ia sangat gelisah, baginya Ijal begitu penting dari apapun tapi dengan keadaan hujan seperti ini sulit juga baginya untuk pergi dari sini.
Tidak lama kemudian Ijal pun telefon lagi dan ia mulai menepi dari Arib.
“Di mana?” Tanya Ijal.
“Aku di rumah Arib, di sini masih hujan.” Fita menjawab.
“Aku tunggu kamu Fita, di sini juga hujan aku juga kehujanan.” Ucap Ijal.
“Ya sudah kalau begitu kamu kondangan sendiri saja ya, tidak apa-apakan?” Fita menjawab.
“Aku sudah menunggu kamu, aku cuma mau kondangan sama kamu Fita, aku juga kehujanan ini.” Ucap Ijal.
“Maaf Ijal.” Fita menjawab.
Tanpa sepatah kata lagi Ijal langsung menutup telefonnya, Fita tahu dia pasti marah dan mungkin kecewa dengannya, tapi Fita tidak bisa melakukan banyak hal saat itu dengan situasi yang begitu sulit.
Pukul 22.00 wib malam Fita baru bisa pulang di antarkan Arib, sesampainya di rumah benar saja ia di kuncikan pintu oleh ayahnya di luar karena ia pulang tidak tepat waktu.
“Ibu, Ibu buka pintunya Ibu.” Ucap Fita sambil terus mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Baju Fita masih basah dan rasanya dingin, ia hanya bisa duduk di depan pintu dengan keadaan kedinginan, tidak lama pintu itu di buka oleh ayahnya dengan raut wajah yang penuh amarah.
“Dari mana saja kamu” Ucap Ayah dengan nada suara tinggi serta tatapan tajam.
“Hujan, jadi tidak bisa pulang.” Fita menjawab sambil raut wajah memelas.
Ayahnya Fita mulai mengangkat tangannya ingin memukul Fita dan di tahan oleh Ibunya.
“Jangan kasar sama anak ini sudah malam tidak enak di lihat orang.” Ucap Ibu.
“Masuk kamu.” Ucap Ayah sambil menarik Fita ke dalam rumah.
Akhirnya Fita masuk ke dalam rumah, malam itu ia terus di caci maki oleh ayahnya dan ia hanya bisa menangis karena memang ia dan ayahya tidak bisa akur, semakin dewasa ia semakin jauh dengan ayahnya ia semakin membencinya. Fita tidur dengan keadaan bajunya yang masih basah sambil menangis, bahkan saat itu untuk mengganti baju saja ia tidak berani.
Pagi tiba, rasanya badan Fita dingin dan matanya sembab, ia langsung bangun dan mengganti pakaiannya, selesai bersih-bersih ia mengecek handphone dan tidak ada notifikasi dari Ijal, ia mencoba meminta maaf dengannya tapi Ijal tidak merespon.
*)
Tanggal 3 februari, tepat 1 bulannya Fita dengan Ijal berhubungan sebagai pasangan, Fita mengirimkan pesan happy month isi pesannya: (happy month ya sayang, semoga langgeng kitanya, maaf untuk yang kemarin ya sayang), tidak lama Ijal pun membalas pesannya Fita, ia bahagia karena Ijal masih peduli dengannya, tapi ternyata pesannya membuat Fita terluka…
“Maaf ya Fita, kita sampai di sini saja.” Ijal membalas pesan.
“Kamu kenapa Ijal?” Fita membalas pesan.
“Kamu sudah bohong sama aku, katanya aku akan jadi prioritas kamu tapi buktinya apa kamu tidak datang, aku cuma mau di temenin kondangan saja tidak lebih, aku sampai hujan-hujanan demi jemput kamu tapi kamu malah seperti itu, kamu ingkari janji dan kesepakatan kita Fita !!!” Ijal membalas pesan.
“Aku minta maaf Ijal, tapi kondisinya memang aku tidak bisa pulang kemarin, aku minta maaf.” Fita membalas pesan.
__ADS_1
“Sekarang aku tanya sama kamu, kamu pilih aku atau pilih Arib !” Ijal membalas pesan.
Dalam pikiran Fita saat itu ingin memilih Ijal tapi Arib bersamanya dari nol.
“Maaf Ijal kalau kamu menyuruh aku memilih ya aku pilih Arib yang jelas-jelas sama aku dari dulu.” Fita membalas pesan.
“Oke itu pilihan kamu !!! Oke jangan menyesal kalau ada apa-apa, sekarang tidak usah hubungi aku lagi, hapus nomer aku !!! Blokir semuanya Fita.” Ijal membalas pesan.
“Tapi aku tidak bisa jauh dari kamu Ijal.” Fita membalas pesan tanpa sadar air mata jatuh di pipinya.
“Tapi kamu sudah memilih, sudah tidak penting juga kan, selamat menikmati pilihan kamu !!!” Ijal membalas pesan.
Belum sempat Fita membalas pesan Ijal sudah memblokir semuanya, BBM di hapus, WhatsApp di Blokir, Facebook di Blokir.
Fita merasa apakah pilihannya ini benar atau salah, ia merasa sangat kehilangan Ijal di tambah lagi semua jalan tertutup, Ijal benar-benar menghilang dari hidupnya, ini salahnya yang tidak menepati janjinya dengan Ijal padahal dia hanya minta di prioritaskan tidak lebih dan tidak aneh-aneh, ini salahnya dan hanya penyesalan semata yang ia rasa.
***
Waktu terus berjalan, Fita masih dengan keadaan yang belum punya pekerjaan dan Arib mulai sulit dihubungi, Fita mencoba menyusulnya ke jati ranggon tempat Ibunya membuka warung ia yakin Arib pasti ada di sana, ia hanya ingin mencari tahu ke mana Arib sekarang. Setibanya Fita di sana ia bertemu Arib yang sedang sibuk dengan handphonenya Fita melihat saat itu dengan raut wajah kesal serta kecewa.
Kenapa dia tidak bisa balas pesan aku padahal keadaan dia sedang memegang handphone. Fita membatin lalu mendekatinya untuk bisa menanyakan lebih lanjut lagi.
“Arib?” Panggil Fita dengan nada tinggi.
“Eh kamu ke sini sama siapa?” Arib menjawab dengan raut wajah bingung.
“Sendiri.” Ucap Fita.
“Sini duduk, ada apa, ini jauh dan kamu ke sini sendiri?.” Arib menjawab sambil menarik tangannya.
“Cari kamu, kamu yang ke mana saja tidak ada kabar, liat handphone kamu sudah berapa banyak pesan yang aku kirim !!!” Ucap Fita dengan nada tegas serta tatapan tajam.
“Aku banyak pekerjaan sayang.” Arib menjawab dengan nada memelas.
“Aku lihat kamu bermain dengan handphone kamu tapi kamu tidak bisa balas pesan aku, aku lihat dari jauh !!” Ucap Fita.
“Sayang, dengerin aku, sekarang aku kerja di cuci sepeda motor, kamu liat aku basah-basah gini, aku lagi benar-benar sibuk sayang, aku minta maaf ya.” Arib menjawab dengan raut wajah memelas.
“Kenapa kamu tidak bilang? tidak kasih tahu, pikirin gimana perasaan aku ! jangan egois!!” Ucap Fita dengan nada kesal.
“Iya maaf, aku juga merindukan kamu Fita, tapi aku harus cari uang.” Arib menjawab.
“Aku tahu itu.” Ucap Fita.
“Maaf ya.” Arib menjawab sambil memegang tangan Fita.
Perlahan Fita mulai merasa jalan yang ia pilih salah, sesekali ia mengingat Ijal, pasti Ijal tidak akan melakukan ini.
Tanpa sadar Fita melamun dan tiba-tiba Arib mengagetkannya.
“Sayang kamu melamun? Melamun apa?” Tanya Arib.
“Tidak.” Fita menjawab.
“Ini aku bawain es buat kamu di minum ya, aku lanjut cuci motor dulu sebentar nanti aku antar kamu pulang ya, kamu di sini dulu sama mamah.” Ucap Arib.
“Iya.” Fita menjawab.
“Aku cepat kerjanya.” Ucap Arib.
Arib mulai pergi dan Fita pun mulai masuk ke dalam.
“Ibu assalamualaikum.” Ucap Fita sambil mengetuk pintu.
“Walaikumsalam, kemana saja kamu neng?” Ibu menjawab sambil membuka pintu.
“Di rumah saja aku Ibu, Ibu motor yang satunya ke mana ya Fita tidak lihat motor yang biasa Arib bawa?” Tanya Fita sambil menunjuk.
“Oh itu, motornya di over kredit Fita, lagipula Arib juga sudah tidak bekerja jadi ya sudah Ibu oper saja,karena Ibu yakin pasti tidak bisa bayar kreditannya.” Ibu menjawab.
Pantas saja motor yang biasa Arib bawa untuk jalan-jalan bersama Fita sudah tidak kelihatan lagi dan Arib juga jalan kaki ke tempat cuci sepeda motor, hanya sepeda motor milik Ibunya yang masih ada.
Sore itu Fita di antar oleh Arib pulang.
“Fita pulang ya bu.” Ucap Fita sambil bersalaman dengan Ibu.
“Iya hati-hati neng.” Ibu menjawab dengan senyuman.
“Motornya aku bawa sebentar nganterin Fita.” Ucap Arib.
“Iya, jangan lama-lama motornya mau di pakai ke pasar belanja bahan.” Ibu menjawab.
“Iya, ayo sayang naik.” Ucap Arib.
Sesampainya di rumah Fita.
“Aku minta maaf ya.” Ucap Arib.
“Iya.” Fita menjawab.
“Aku pulang ya, nanti aku hubungi kamu.” Ucap Arib.
Fita jalan kaki menuju rumah, sembari melihat ke arah tempat nongkrongnya dulu bersama anak-anak dan tentunya tempat pertama kali ia bertemu dengan Ijal, sekarang tempat itu sepi tanpa ada lagi anak-anak yang nongkrong karena semua mulai sibuk dan mulai dewasa, mereka semua mulai menjalani hidup masing-masing, sesekali ia ingin mengulang masa lalu bertemu dengan Ijal bahagia bersamanya, ia mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi Ijal tapi tidak bisa, ia hanya pasrah dan mengingat perkataan David kepadanya dulu (Kalau Ijal burung merpati aku pasti dia kembali).
Ijal jangan lama-lama ya perginya cepat kembali, Fita akan menebus semua kesalahannya, ia mulai menyesal dengan pilihannya, sangat….
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1