
Hari cepat berlalu dan semester dua sudah di depan mata tapi bagi Fita semua berjalan lambat, hari ini di sekolahnya ada program dana pemerintah untuk murid-muridnya padahal awalnya Fita hanya iseng mengikutinya tapi memang rejeki tidak ke mana dan hasilnya ia dapat.
Siang itu ada jadwal orang tua mengisi formulir tapi ibunya Fita tidak bisa datang siang itu dan sudah pasti masalah kerjaan. Sementara Fita duduk sendiri di depan kelas, tiba-tiba wali kelas menghampirinya.
“Bukannya kamu dapat dana itu ya Fita, lalu kenapa kamu tidak masuk ke dalam untuk mengisi formulir? nanti orang banknya keburu pulang dan kamu tidak punya kesempatan lagi.” Tanya Guru sambil duduk di sampingnya.
“Ibu aku tidak datang pak, tidak apa-apa pak berarti itu bukan rejeki saya, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya pak.” Fita menjawab dengan wajah lesu lalu bersalaman tangan ke Guru.
“Ya sudah kalau begitu hati-hati.” Guru menjawab lalu memberikan senyuman.
Fita pulang seperti biasa menyelusuri jalan sendirian, sesampainya di rumah rasanya sepi jujur ia kesepian karena orang tuanya bekerja semua mereka bahkan tidak pernah punya waktu untuk sekedar mengobrol, bahkan ia rasa mereka juga tidak akan pernah tahu apa yang sudah terjadi selama ini.
Keesokan harinya wali kelas Fita menghampirinya.
“Fita, ini kertas formulir dana buat kamu.” Guru menghampiri Fita sambil memberikan kertas.
“Tapikan kemarin ibu saya tidak datang pak dan harusnya itu hangus.” Fita menjawab dengan wajah bingung.
“Bapak tahu kamu pantas dapat dana itu, jadi kemarin bapak coba bicara dengan pihak bank dan mereka setuju, nanti hari jum’at kamu datang ke bank ya untuk memberikan formulir ini dan menerima buku rekeningnya.” Guru menjelaskan secara detail lalu tersenyum.
“Terima kasih ya pak.” Fita menjawab dengan raut wajah Bahagia.
Aduh rasanya senang banget bisa dapet bantuan, namannya rejeki tidak akan ke mana. Fita membatin dengan raut wajah bahagia.
*/
Jum’at siangnya Fita datang ke bank bersama ibunya, Fita pikir hanya ia saja tapi ternyata banyak juga dari sekolah lain. Fita mengambil antrian dan mengantri seperti yang lainnya selang beberapa saat sebelum ia di panggil ia melihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya, laki-laki itu ijal matanya seakan-akan berbinar-binar melihatnya, tanpa pikir panjang ia menghampirinya.
“Ijal?” Fita memanggil dengan nada suara sedang.
“Fita? Ngapain kamu di sini?” Ijal menghampiri Fita dengan senyuman manis.
“Aku ada urusan sama orang bank, kalau kamu ngapain di sini?” Fita menjawab sambil melihatkan kertas.
“Mencairkan dana, kamu sama siapa?” Ijal menjawab sambil menunjuk.
“Sama ibuku.” Fita menjawab dengan tersenyum.
Tiba-tiba ibunya Fita menghampiri mereka.
“Siapa Fita?” Tanya Ibu sambil berbisik.
“Ini kenalin teman Fita namanya Ijal, Ijal ini kenalin ibu aku.” Fita menjawab lalu Ibu dan Ijal bersalaman.
“Oh.” Ibu menjawab lalu sambil kembali duduk.
“Oh ya sudah kalau begitu aku duluan ya.” Ijal menjawab.
“Kamu sudah selesai? ya sudah hati-hati ya.” Tanya Fita dengan senyuman lalu terdiam.
Aduh senang rasanya bisa ketemu laki-laki yang aku cinta. Fita membatin dengan wajah senyuman bahagia.
“Iya sudah selesai.” Ijal menjawab lalu berpamitan lalu pergi.
Fita kembali ke tempat Ibunya yang sedang duduk dan Ibunya langsung bertanya kepadanya.
“Itu siapa? anak mana?” Tanya Ibu dengan raut wajah binggung.
“Oh itu Ijal ibu teman aku anak pelayaran.” Fita menjawab dengan singkat lalu terdiam.
Astaga Ibu kepengen tahu banget dasar. Fita membatin.
*/
Setelah urusan selesai Fita pulang dan ibunya kembali ke tempat kerjanya. Waktu berlalu begitu cepat dan tidak terasa semester dua sudah selesai dan ia naik di kelas 12.
Siang itu Fita mengambil rapot dengan tantenya, semua teman-temannya mengira itu ibunya karena sekilas wajah mereka mirip.
“Itu ibu kamu Fita?” Tanya Lia sambil menunjuk.
“Bukan ini tante aku, adik dari ibu aku.” Fita menjawab.
“Tapi wajah kalian mirip seperti ibu dan anak.” Sahut Eni dengan raut wajah bingung.
“Iya kata orang si begitu, ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya. Fita menjawab lalu berpamitan.
“Oke ya hati-hati.” Sahut Lia.
__ADS_1
Selesai pengambilan rapot Fita pulang dan menikmati liburan yang membosankan, gimana tidak bosan selama 3 minggu liburan ia hanya bisa sendirian di rumah tanpa liburan kemana-mana.
***
3 minggu berlalu akhirnya Fita masuk sekolah lagi, ia mencari namanya di papan pengumuman dan ia masuk di kelas 12 AP3 bersama Ida, dan semua teman-temannya entah berpencar ke mana.
“Fita duduk sini sama aku!” Ida memanggil Fita.
“Iya bawel, aku keluar dulu sebentar ya.” Fita menjawab dengan tatapan tajam lalu tertawa.
Fita duduk di depan kelas dan ia melihat Rizan.
“Rizan!” Tanya Fita sambil berteriak.
“Apaan si Fita?” Sahut Zan dengan raut wajah kesal.
“Kamu di mana?” Tanya Fita.
“AP 2 sama Fuah sama Ara, kalau kamu?” Zan menjawab sambil menunjuk.
“Itu depan mata kamu kelas apa?” Sahut Fita sambil menunjuk lalu tertawa.
“Oh AP 3, ya sudah aku mau main bola dulu di atas.” Sahut Zan dengan wajah memerah lalu pergi.
“Sana!” Fita menjawab lalu terdiam.
Dasar,bisa-bisanya aku sahabatan sama dia. Fita membatin sambil tertawa.
Di kelas ini tidak begitu banyak yang Fita kenal hanya Ida, Fiqri, Aldi, Fahri selebihnya semua baru baginya. Fita duduk di barisan ke dua, di belakangnya ada seorang murid perempuan namanya Putri dan Wiwin.
“Kamu bukannya yang suka jalan arah kantor RW itukan?” Tanya Fita sambil menghampirinya.
“Iya, kalau tidak salah kamu juga arah kuburan ya?” Putri menjawab.
“Iya, kita suka ketemu tapi tidak pernah kenal ya.” Sahut Fita dengan wajah bingung.
“Iya, kenalin ini Wiwin, terus di belakang ada teman aku namanya Sarah.” Putri menjawab sambil menunjuk temannya lalu berkenalan.
Di barisan belakang Sarah ada Fiqri, Aldi dan Fahri. Di barisan ini Fita termasuk jadi andalan mereka (Ida, Putri, Wiwin, Sarah, Fiqri, Aldi, Fahri), buat mereka otaknya Fita cukup pintar apa lagi dalam pelajaran kantor dan presentasi. Fita selalu jadi ujung tombak mereka, sampai guru pengarsipan mempercayai dia memegang Fahri murid yang sedikit susah berfikir.
“Seperti inikan?” Sahut Fahri sambil menunjukkan sebuah buku.
“Bukan begitu, astaga lama-lama kepala aku bisa botak mengajari kamu terus! begini saja, contek saja tugas arsip aku dari pada aku harus gila mengajari kamu seperti ini!” Fita menjawab dengan raut wajah kesal lalu memberikan sebuah buku.
“Begitu dong dari tadi jadi enak.” Sahut Fahri dengan senyuman lebar lalu tertawa.
“Iya kamu yang enak, tapi aku yang pusing, kalau guru tanya jawab saja kalau kamu buat sendiri tugasnya.” Fita menjawab dengan raut wajah kesal serta tatapan tajam lalu terdiam.
Astaga dasar anak malas, punya otak tidak bisa di pakai. Fita membatin dengan raut wajah kesal.
Berjalan waktu Fita menjalin kedekatan dengan Putri dan teman-temannya, hingga mereka punya panggilan khusus, karena bentuk badan mereka sama Fita sering memanggilnya Upin dan Putri memanggil Fita Ipin.
Hingga pada akhirnya kedekatan mereka seperti sahabat, begitu sangat dekat. Tapi di sisi lain Fita tidak tahu kalau Putri itu pernah dekat dengan Ijal.
“Pin, aku mau tanya sedikit boleh?” Tanya Putri dengan Raut wajah serius.
“Tanya apa Pin?” Sahut Fita.
“Kamu kenal Rijal?” Tanya Putri.
“Rijal siapa? nama Rijal itu banyak, anak mana?” Sahut Fita dengan wajah bingung.
“Aprijal anak pelayaran Pin.” Putri menjawab.
Seketika Fita hening sejenak setelah mendengarnya.
“Oh Ijal, kalau itu aku kenal, dia teman tongkrongan aku, kenapa?” Tanya Fita dengan nada lesu serta wajah sedikit sedih.
“Dia itu laki-laki pemberian harapan palsu!” Putri menjawab dengan wajah raut wajah kesal serta penuh amarah.
“Dia pernah melakukan itu padamu?” Tanya Fita dengan nada sedikit pelan.
“Pernah, sempat di ajak jalan juga tapi perasaan aku hanya di gantung.” Putri menjawab sambil menghela nafas serta raut wajah kesal.
Mendengar pengakuan Putri Fita hanya terdiam.
“Kamu kenapa? Jangan bilang kalau kamu juga pernah di kasih harapan palsu ya?” Tanya Putri sambil melirik ke arah Fita yang sedang terdiam.
__ADS_1
“Tidak, hanya saja dia pernah membawa wanita kehadapan aku.” Fita menjawab dengan nada suara pelan serta raut wajah lesu.
“Serius?” Tanya Putri dengan raut wajah kaget.
“Iya! Aku lupa waktunya tapi aku ingat sekali dia bawa wanita, tapi itu bukan urusan aku juga.” Fita menjawab dengan raut wajah berusaha tegar.
“Kampret memang itu orang !! rasanya pengen aku injak-injak saja kalau ketemu lagi!” Sahut Putri dengan raut wajah penuh amarah lalu menendang satu buah botol.
Fita hanya bisa tersenyum sambil berfikir ternyata anak di SMK nya banyak yang di dekati sama Ijal.
Baru kaya begitu saja sudah kesal tapi aku yakin Ijal sebenarnya tidak seperti itu,pasti ada alasannya. Fita membatin lalu tersenyum.
***
Beberapa hari kemudian Fita dapat kabar baik dari Arib, ternyata di sudah di Jakarta.
“Sayang aku sudah di Jakarta, posisi kamu di mana? Kirim lokasinya ya sayang.” Arib mengetik pesan serta mengirimkan sebuah foto.
“Kamu serius? oke tunggu ya.” Fita membalas pesan serta mengirimkan titik lokasi.
Fita memberi lokasi dan sore harinya Arib menjemputnya dan mengajaknya jalan ke daerah pondok gede, tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun.
“Pakai jaket aku biar kamu tidak kehujanan.” Arib sambil memberikan jaket.
“Aku tidak apa-apa, tenang saja.” Fita menjawab dengan badan kedinginan.
“Kita cari teduhan di sana ya.” Sahut Arib sambil menunjuk.
Fita dan Arib masuk ke Gedung plaza, di sana Fita duduk di salah satu restoran sambil menunggu hujan berhenti.
“Aku kangen banget sama kamu Fita.” Arib tersenyum sambil memegang tangan Fita.
“Kamu kapan sampai?” Tanya Fita.
“Tadi pagi, makannya aku langsung kasih kabar ke kamu biar cepat ketemu kamu.” Arib menjawab dengan tatapan penuh cinta.
“Makasih ya, terus kamu mau kerja apa di sini?” Tanya Fita sambil melirik lalu tersenyum.
“Aku keterima di bagian Gudang pengiriman barang.” Arib menjawab sambil menunjukkan sebuah pesan di handphonenya.
“Bagus dong, semangat ya.” Sahut Fita dengan raut wajah Bahagia.
“Aku semangat karena ada kamu Fita, maaf untuk yang dulu aku tidak memberi kamu banyak waktu dan aku asik dengan wanita lain.” Arib sambil memegang tangan Fita serta memohon.
“Tidak apa, itu juga sudah cerita lama.” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Aku berubah demi kamu Fita, aku janji!” Sahut Arib dengan raut wajah memelas.
“Aku tidak butuh janji, aku butuh bukti, apa kamu tahu bagaimana berubahnya hidup aku setelah kamu lakukan semuanya sama aku!” Fita menjawab dengan nada tegas serta tatapan tajam.
“Aku minta maaf!” Sahut Arib dengan mata berkaca-kaca serta dengan nada pelan.
“Dulu kamu tinggalkan aku malem-malem sendirian di pinggir jalan dan kamu lebih memilih orang lain!, tapi ya sudahlah kita lupain saja.” Fita menjawab dengan nada tegas serta tatapan tajam lalu terdiam.
Dasar laki-laki kagak tahu diri, manusia tidak punya pikiran. Fita membatin.
Setelah hujan berhenti Fita dan Arib kembali pulang, dia mengantarkan Fita sampai di ujung jalan.
“Aku pulang ya, sampai besok.” Sahut Arib dengan senyuman.
“Oke, hati-hati.” Fita menjawab dengan badan kedinginan.
Fita rasa masih ada yang mengganjal sekali di hatinya, apa pilihannya kali ini benar?
Tapi Arib begitu meyakinkan hatinya, sudah kita lihat saja kelanjutannya bagaimana.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..
-------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1