
Dia seorang pemuda yang cool, cuek, tidak banyak bicara, apa adanya, santai dan Namanya Rijal, Fita dan teman-temannya lebih suka memanggilnya Ijal, anak pelayaran yang seumuran dengan Fita namun beda Angkatan dan berbeda sekolah.
Dia selalu nongkrong bersama kami, awalnya Fita dan Ijal tidak saling mengenal karena Fita juga bukan tipe wanita yang menyapa duluan saat itu.
“David, itu siapa?” Tanya ijal sambil menunjuk seorang wanita.
“Itu Fita cewek aku kenapa?” Jawab David dengan tatapan tajam.
“Tidak apa-apa kayanya sombong begitu ya, mentang-mentang mulus.” Jawab Ijal sambil melihat Fita.
“Fita memang seperti itu orangnya tapi dia anaknya baik, tidak apa-apa kenalan saja dulu, kalau kamu mau juga boleh, aku Cuma mau dia mendapatkan yang terbaik saja, Fita mantannya Ipan, Heri, sama teman kamu Rafi juga soalnya.” Jawab David sambil menjelaskan semuanya kepada ijal.
“Kamu serius?” Tanya Ijal dengan wajah binggung dan bersemangat.
“Kalau tidak percaya tanya saja sama orangnya masih hidup?” Jawab David sambil tersenyum kepada ipan dan tertawa sedikit.
Ipan hanya tersenyum waktu itu.
“Oh begitu.” Jawab ijal dengan nada pelan.
Lihat saja nanti kamu juga akan tergila-gila sama aku. Batin ijal.
Ya benar apa yang dikatakan David tentanf Fita mantan dari teman-temannya seperti bergantian posisi, waktu itu David pernah meninggalkan Fita untuk bekerja di luar daerah, entah kenapa Ipan sahabatnya mendekati Fita dan bodohya Fita termakan oleh bujuk rayuannya.
“David kemana tidak pernah kelihatan?” Tanya Ipan.
“Dia sedang bekerja ke banten, jadi kuli bangunan katanya sama si toni itu.” Jawab Fita.
“Sendirian dong kamu?” Tanya Ipan dengan senyuman jahat.
“Tidak juga si.” Jawab Fita dengan wajah sinis.
“Sini mampir ke bengkel, aku mau cerita tentang David, pasti kamu tidak tahukan bagaimana David kalau tidak ada kamu.” Ipan sambil memegang tangan Fita untuk bercerita di bengkelnya.
Fita pun mengikuti Ipan ke bengkel rumahnya.
“David kenapa? Dia baik-baik saja selama menjalin hubungan sama aku.” Tanya Fita dengan wajah binggung serta panik.
“Iya itulah kalau lagi sama kamu, di luar sana berbeda.” Ipan menjawab dengan senyuman jahat serta tatapan tajam dan muka serius.
“Berbeda bagiamana?” Tanya Fita dengan wajah bertanya-tanya.
“Massa David cerita ke anak-anak kalau kamu itu sudah kehilangan kehormatanmu.” Ipan menjawab dengan wajah serius serta meyakinkan.
“Serius kamu?” Tanya Fita dengan tatapan tajam serta wajah penuh amarah.
Dasar David tidak punya bukti apa-apa menuduh aku sembarangan, dasar tidak punya otak. Fita membatin.
“Iya, terus pasangannya David banyak, makannya dari itu dia tidak pegang handphone supaya kamu sama pasangan-pasangan yang lain tidak tahu.” Ipan menjawab dengan muka meyakinkan.
Astaga itu anak berani dia bohong dari aku dasar tidak tahu malu. Fita membatin sambil terdiam tanpa menjawab Ipan.
“Mending kamu sama aku saja ya, ngomong-ngomong aku itu suka sama kamu makannya tiap hari aku chat kamu terus.” Ipan memegang tangan Fita lalu merayunya.
“Bukannya kamu sukanya sama teman aku Siti.” Fita menjawab dengan muka penuh curiga.
“Sudah lupain saja, dia orangnya jual mahal aku mau cari yang pasti-pasti saja.” Ipan menjawab sambil meyakinkan Fita.
Perlahan Fita mulai ke makan omongan Ipan dari setiap kata yang di ucapkan olehnya, tanpa Fita sadari ada niat buruk di belakang itu semua, tanpa Fita sadari sebenarnya teman-temannya David cukup banyak yang mengicarnya untuk kesenangan semata mereka.
Akhirnya Fita benar-benar di buat bodoh oleh mereka, Fita menjalin hubungan dengan Ipan di belakang David selama tiga hari dan Fita mengakhiri hubungan karena dia mencoba melakukan perbuatan yang tidak-tidak kepadanya, selang beberapa minggu akhirnya Rafi mendekati Fita dan mengajak jalan, alih-alih sama saja ceritanya dengan Ipan bedanya Ipan pintar mengatur siasat sedangkan Rafi terlalu gampang di baca, Fita meninggalkan keduanya dan selang beberapa minggu Fita di dekati oleh Heri saudara Ipan.
“Fita kemana saja tidak pernah kelihatan?” Tanya Heri.
“Ada kok, males nongkrong sama anak-anak pikirannya pada kotor semua!!!” Fita menjawab dengan nada tegas serta muka kesal.
“Tidak usah kaget mereka memang seperti itu, kekurangan wanita.” Heri menjawab dengan nada halus.
“Kamu juga kaya begitukan.” Tanya Fita dengan tatapan tajam.
“Tidak! maaf aku anak baik-baik.” Heri menjawab dengan nada tegas serta senyuman.
“Oh.” Fita menjawab.
Semoga saja dia tidak seperti teman-temannya serta tidak punya niat jahat. Fita membatin.
Fita dekat dengan Heri cukup lama, dan akhirnya Heri menyatakan perasaanya.
“Kamu mau tidak jadi pacar kakak?” Tanya Heri sambil memohon serta wajah penuh keyakinan.
“Apaan?” Fita menjawab dengan muka kaget.
“Aku suka tahu sama kamu.” Heri menjawab serta memohon dengan senyuman penuh cinta.
“Oh ya?” Fita menjawab dengan wajah kaget serta bingung.
“Iya benar, kamu mau tidak jadi pacar aku?” Tanya Heri dengan wajah serius dan penuh harap.
“Boleh.” Fita menjawab dengan nada pelan serta senyuman penuh makna.
__ADS_1
Boleh juga untuk menemani kesendirian aku hehe. Batin Fita lalu dia tersenyum jahat.
Singkat cerita 3 hari kemudian Heri mengajak Fita jalan ke bioskop.
“Ayo jalan.” Tanya Heri.
“Kemana?” Tanya dengan wajah bingung.
“Bioskop, nonton film dik.” Heri menjawab.
“Bioskop mana?” Tanya Fita.
“Bioskop daerah Bekasi, mau tidak?” Tanya Heri dengan wajah penuh harap semoga mau.
“Tidak mau! aku tahu bioskop itu tempatnya seperti apa, bilang saja kamu mau bertindak yang tidak-tidakkan kak !!!” Fita menjawab dengan nada tegas serta muka kesal.
“Ya Allah negatif banget pikiran kamu sama aku, salah aku minta itu sama pacar sendiri.” Heri menjawab dengan wajah kesal dan penuh harap.
“Salah banget !!!” Fita menjawab dengan nada tegas serta tatapan tajam dan penuh amarah.
“Putus saja kalau begitu, di ajak jalan tidak mau malah kaya begitu!” Heri menjawab dengan nada tegas serta tatapan tajam.
“Aku juga tidak rugi kalau di putusin sama laki-laki seperti kalian!!!” Fita berteriak sambil menunjuk wajah heri dan muka penuh amarah.
Dasar laki-laki tidak tahu diri hanya kesenangan semata yang dipikirkan, dasar laki laki berpikiran kotor. Fita membatin lalu meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata lagi.
Itulah cerita Fita sebelum dia mengenal Rijal.
Beberapa hari kemudian ada pesan masuk dari nomer yang tidak Fita kenal (dulu masih jamannya SMS dan BBM).
“Maaf ini nomer siapa?” Tanya Fita sambil mengetik sebuah pesan serta dengan muka bingung.
“Boleh kenalan tidak? aku dapat nomer kamu dari Ipan.” Ijal membalas pesan tanpa memberitahu siapa dia.
“Oh ipan, maaf kamu siapa namanya?” Fita membalas pesan dan bertanya namanya.
“Ijal.” Ijal membalas pesan dengan singkat.
“Oh oke, aku save ya.” Fita membalas pesan lalu menyimpan nomernya.
Astaga ada lagi, ada lagi, dan ada lagi semoga tidak sama, apaan si ini orang mengirim pesan seperti ini saja?. Fita membatin dan bertanya-tanya dan wajah bingung soalnya dia tidak terlalu mengenal dekat siapa itu ijal.
Berminggu-minggu setelah itu aku tidak pernah melihat Ijal lagi ada di tongkrongan dan tongkrongan mulai sepi.
Jujur aku merindukan Ijal, dia sosok laki-laki yang berbeda itu yang aku rasa, meskipun dia cueknya astaga bikin hati ini Lelah :(. Fita membatin sambil terdiam dengan muka lesu.
Minggu sore itu Fita ada tugas praktek olahraga di Veldrome rawamangun, dan entah dari mana Ijal tahu tiba-tiba dia mengirim pesan kepada Fita.
“Kamu lagi di mana?” Ijal mengetik sebuah pesan.
“Veldrome, lagi olahraga tugas dari sekolah, kenapa?” Fita membalas pesan.
“Kamu mau di jemput?” Ijal membalas pesan sambil menawarkan jemputan.
“Boleh kalau kamu tidak keberatan dan kalau kamu tidak sibuk.” Fita membalas pesan.
“Tidak sibuk aku, kamu pulang jam berapa?” Ijal membalas pesan.
“Ini sudah selesai.” Fita membalas pesan.
“Oke, aku jemput kamu ke lokasi.” Ijal membalas pesan.
“Iya.” Fita membalas pesan dengan singkat.
Akhirnya selesai atletik.
“Sudah selesaikan?” Tanya Lia dengan wajah lelah.
“Sudah, ayo istirahat dulu Lelah aku.” Jawab Fita dengan wajah Lelah serta berkeringat.
“Kamu mau pulang bareng sama kita tidak? naik angkutan umum, tapi jalan dulu ke depan sambil kita beli minum ke mall depan gimana?” Eni menjawab sambil menawarkan bareng dan menunjuk lokasi mall.
“Ayo.” Lia menjawab sambil berjalan ke arah Eni.
“Hmm,, aku tidak ikut kalian duluan saja ya, aku di jemput sama teman.” Fita menjawab sambil melihat handphone.
“Oke kalau begitu kita duluan ya!” Lia menjawab sambil berbalik badan.
“Oke, sampai besok di sekolah ya.” Fita menjawab.
“Oke.” Eni menjawab sambil berjalan ke arah mall.
Fita masih duduk sendirian sambil melihat teman-temannya berjalan ke arah mall. Fita menunggu ijal di depan halte sambil mencoba menghubunginya.
“Kamu di mana, aku sudah selesai, aku kira saat aku selesai kamu sudah sampai.” Fita mengetik pesan bertanya posisi ijal dimana.
Aduh Ijal di mana aku sudah lelah. Fita membatin dengan raut muka Lelah.
“Iya ini aku sedang di perjalanan, tunggu ya.” Ijal membalas pesan sambil mengendarai motor.
__ADS_1
“Jangan lama-lama ya aku sudah lelah ini!” Fita membalas pesan.
“Iya berisik banget si kamu jadi wanita astaga.” Ijal membalas pesan.
Fita menunggu Ijal cukup lama sekitar satu jam mungkin di halte.
Buset ini anak rumahnya di mana si lama banget astaga, mana sudah lelah banget aku. Fita membatin dengan raut wajah lelah serta cuaca yang sangat terik.
Hingga akhirnya Fita melihat seorang laki-laki membawa sepeda motor vespa sedang memutar arah dan berhenti di hadapannya.
“Lama banget si kamu, rumah kamu di mana memangnya, kamu lihat sekeliling kamu sampai sepi begini di veldrome tidak ada orang lagi, selain aku bersama abang-abang jualan.” Tanya Fita dengan raut wajah memerah serta lelah dan raut wajah kesal.
“Sudah ayo, buruan naik, jangan banyak bicara.” Ijal menjawab sambil tertawa serta dengan wajah mengejek.
“Iya sabar ini aku lagi naik .” Fita menjawab dengan wajah kesal.
Aduh dia yang telat dia juga yang minta cepat-cepat, astaga dasar laki-laki. Fita membatin.
Akhirnya Fita naik vespa dan Vespa pun melesat pergi, Fita di bawa berkeliling tidak tahu ke mana dan dalam pikiran Fita sudah negatif saja.
“Ijal ini bukan arah rumah aku!” Ujar Fita dengan nada tegas.
“Iya tau, mau mengajak kamu jalan-jalan dulu.” Ijal menjawab sambil mengendarai motor dengan kecepatan pelan.
“Kirain aku mau di culik.” Fita menjawab dengan nada pelan lalu tertawa sedikit.
“Aduh siapa juga yang mau menculik kamu, kamu aku jual juga tidak laku !” Ijal menjawab dengan bercanda lalu tertawa.
“Enak saja! Yasudah buruan jangan sore-sore nanti ayah aku marah-marah tau!” Fita menjawab dengan nada kesal.
Dasar Ijal kagak tau orang lagi lelah malah di ejek, aku emosi mau aku hajar tapi jangan hehehe. Fita membatin.
Fita dan Ijal berjalan-jalan sore menaiki sepeda motor vespa, Fita Bahagia sekali, rasa bahagianya ini berbeda saat bersama laki-laki lain, tidak lama setelah itu vespanya berhenti di tengah jalan.
“Aduh kenapa ini?” Tanya Fita sambil memegang motor vespa.
“Bentar aku lihat dulu, kamu turun dulu!” Ijal menjawab sambil meminggirkan kendaraan.
“Kenapa Ijal?” Tanya Fita dengan wajah bingung.
“Hehe bensinnya habis Fita.” Ijal menjawab dengan senyuman lalu tertawa.
“Yahh terus gimana dong, kamu baru sekali saja mengajak jalan sudah diajak mogok-mogokkan si.” Fita menjawab dengan muka lesu.
“Maaf.” Ijal menjawab dengan muka lesu serta memohon maaf.
“Terus bagaimana dong?” Tanya Fita dengan muka bingung.
“Iya, dorong sepeda motornya masa diliatin saja!” Ijal menjawab sambil menuntun motor serta wajah penuh keringet.
“Dorong!” Fita menjawab dengan wajah kaget.
Astaga baru sekali di ajak jalan sudah di ajak susah aku. Fita membatin dengan muka lelah.
Mereka jalan cukup lama ke depan mencari tukang bensin di pinggir jalan sambil terus mendorong si vespa.
“Kamu tunggu di sini dulu ya aku cari bensin dulu, tungguin sepeda motor aku.” Ijal kasih tahu lalu meninggalkan Fita lalu berbalik badan.
“Astaga pakai acara menunggu, di tinggal di sini juga tidak ada yang mau mengambil sepeda motor kamu!” Fita menjawab dengan raut muka kesal serta nada tegas.
“Sembarangan kamu!!” Ijal menjawab dengan nada tegas.
“Ya sudah cepat jangan lama-lama takut aku di pinggir jalan sendiri.” Fita menjawab dengan nada tegas dengan tatapan tajam.
Akhirnya Ijal pun mencari bensin dan beberapa saat dia Kembali lagi.
“Sudah?” Tanya Fita dengan muka lesu.
“Sudah ini dapat bensinnya, aku tuang dulu habis itu kita jalan lagi.” Ijal menjawab sambil membawa bensin di plastik lal mengisikan bensin ke motornya.
“Iya.” Fita menjawab dengan nada pelan dan singkat.
Setelah di ajak bersusah susah Ria karena si vespa itu sorepun datang dan Fita di antarkan Ijal pulang, Ijal hanya mengantarkan sampai ujung jalan.
Entah apa yang ada di hatinya Fita saat itu, Fita melihat bahwa Ijal adalah sosok laki-laki yang berbeda, sudahlah….
Pikiran Fita mulai aneh-aneh, mulai berpikir untuk memiliki Ijal……………………………………..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1