
Fita masih dengan keadaan diam seribu Bahasa, ia mengikuti mereka pergi ke telaga warna dengan perasaan campur aduk.
Mereka tiba di telaga warna, Fita memberi tiket dengan harga 80.000 sudah termasuk 2 sepeda motor serta asuransi.
Sebelum masuk ke telaga warna mereka di kasih pemandangan the yang indah dan udara yang begiitu sejuk.
Sesampai di tempat parkir telaga warna, Ijal dan Restu mencari parkiran sedangkan Fita dan Imah berjalan di depan kea rah pintu masuk telaga warna.
Tempat dengan suasana yang masih sepi pengunjung mungkin karena masih pagi jadi mereka masih begitu puas untuk berfoto.
Seperti biasa Fita berfoto sendirian dan sesekali ia menjadi tukang foto untuk Imah dan Restu, Fita dan Ijal masih dengan keadaan yang sama-sama saling diam seribu Bahasa, setelah berfoto di telaga mereka melanjutkan untuk naik ke atas ke kebun the, di sana keadaan Fita makin tidak karuan rasanya ia mulai tidak bersemangat menikmati liburan ini.
“Kak, kamu kenapa si dari tadi diam saja?” Ujar Imah.
“Kagak apa-apa Imah.” Fita menjawab.
“Kakak bohong ya, cerita sama aku kenapa Kak kalau ada apa-apa?”
Akhirnya Fita menceritakan apa yang Fita rasakan tadi pagi semuanya ke Imah.
“Coba nanti aku tanya sama Restu, bener kagak Ijal telefon sama cewek, sudah Kak happy dong masa liburan kakak kaya begini si, kagak seru dong.” Ujar Imah.
Sesampai mereka di puncak Ijal memesan minuman untuk mereka semua,sembari menikmati pemandangan dan sekaligus istirahat, di atas mereka sama-sama masih tidak banyak bicara, hinga akhirnya Imah membuka pembicaraan dan memecah keheningan.
“Habis ini mau ke mana Kak?” Tanya Imah.
“Terserah, aku sudah capek!!” Fita menjawab.
“Ke curug mau kagak sekalian balik, dia adanya di bawah.” Sahut Ijal.
“Mantap, biar sekalian pulang.” Ucap Restu.
“Boleh, Kak gimana?” Tanya Imah.
“Terserah kalian !!!” Fita menjawab dengan nada sinis.
Setelah minuman mereka habais dan mereka juga sudah puas menikmati tempat ini akhirnya mereka turun dan melanjutkan ke curug cilember/curug 7.
“Sudah Kak, semangat dong.” Ujar Imah sambil tersenyum.
“Iya Imah.” Fita menjawab.
*/
Fita dan Ijal masih dalam keadaan diam seribu Bahasa di atas motor, Fita juga tidak berpegangan dengan Ijal.
Sesampai mereka di curug Fita dan Imah membeli tiket untuk masuk ke curug cilember dengan harga 1 orangnya 12.000, mereka masuk dan berjalan lurus mengikuti jalan setapak dengan urutan setiap curugnya sampai ke atas.
“Kita ma uke curug berapa?” Tanya Fita.
“Curug 5.” Imah menjawab.
“Kamu kuat neng?” Tanya Restu.
“Kuat.” Fita menjawab.
“Kalau beneran kuat ayo naik.” Ucap Fita.
Mereka berjalan ke atas mengikuti arah, hanya jalan setepak, berbentuk hutan yang di penuhi oleh pepohonan, akar dan batu-batu kecil maupun besar, sesaat perasaan Fita terasa nyaman dan tenang, Fita berjalan dengan penuh semangat di pandu oleh Ijal dan di belakang Fita ada Imah dan Restu yang kelihatan Imah sudah tidak sanggup untuk terus berjalan, tapi restu selalu mendampingi Imah dan menemani sedangakan Fita hanya memberi semangat dari atas semabri sesekali duduk menunggu Imah.
“Semangat Imah.” Ujar Fita.
“Bodo amat tadi Kakak yang males, sekarang giliran ke sini Kakak yang semangat, sudah capek aku kagak kuat.” Sahut Imah dengan nafas terengah-engah.
“Ayo sayang semangat, sini aku dorong.” Ucap Restu sambil tertawa serta menggoda.
“Haus kagak?” Ujar Ijal sambil memberikan Imah minum.
“Aduh gila kagak kuat aku, masih jauh kagak si?” Ucap Imah.
“Bentar lagi sampai Imah, semangat.” Sahut Fita.
“Sebentar lagi sebentar lagi, mana kagak sampai-sampai Kak, ya tuhn capek !” Ujar Imah dengan nada kesal.
“Ya sudah aku duluan, kamu lama banget.” Ucap Fita sambil menggoda.
“Bodo amat.” Sahut Imah dengan nada sinis.
Sekarang Fita berjalan di depan memimpin di ikuti Ijal dan terkahir Imah serta Restu.
Jujur aku suka sekali dengan pemandangan di sini, rasanya hati aku tenang melihat air yang mengalir, pepohonan yang tumbuh subur. Fita membatin sambil melihat pemandangan.
Akhirnya mereka sudah sampai di curug 6, Fita memberitahu Imah kalau mereka sudah di curug 6.
“Imah, coba kamu lihat bagus banget ya air terjun di sini.” Ujar Fita.
“Di atas lebih bagus lagi.” Sahut Ijal.
“Kagak cukup di sini saja, sudah kagak sanggup aku kalau naik lagi.” Imah menjawab.
“Isitirahat dulu di sini.” Ucap Restu.
Akhirnya mereka memutuskan hanya sampai di curug 6 karena Imah sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan yang Fita rasa jalan juga cukup masih jauh dan pasti bakalan menghabiskan tenaga mereka.
__ADS_1
Imah, Restu dan Ijal langsung menuju air terjun sedangkan Fita duduk di pinggir menepi dari mereka, sesakali Fita menanggis merasakan perlakuan Ijal kepadanya.
“Kak, kamu kenapa di situ, sini Kak seru tau.” Ujar Imah.
“Gampang.” Sahut Fita dengan air yang mata mengalir
Imah mengampiri Fita yang sedang sendirian di pinggir air terjun.
“Sudah apa Kak, ayo kita ke sana.” Ucap Imah sambil menghapus air matanya Fita.
“Aku jahat ya Imh sudah mengajak pacar orang jalan sampai sini?” Sahut Fita dengan wajah lesu.
“Kakak kagak jahat Kak, Kakak juga kagak salah, lagipula Ijal juga kagak kasih tau kalau dia sudah punya cewek, aku janji bakal tanya sama Restu benar apa bohong si Ijal lagiipula mereka satu kamar, sekarang ayo senang-senang dulu Kak.” Ucap Imah sambil memeluk.
“Ayo, pada mau foto kagak? Ini bagus hasil foto di atas situ.” Teriak Restu sambil menunjuk ke air terjun.
“Kalau mau foto di atas ayo nanti aku yang pegang kamu, aku tuntun sampai atas, kagak bakal jatuh ini.” Ucap Ijal sambil melirik Fita.
“Itu Kak ayo mumpung Ijal sudah buka suara.” Sahut Imah sambil menggoda.
“Iya ayo.” Ucap Fita sambil mengulurkan tangan ke Ijal.
Fita berjalan perlahan ke atas sambil berpegangan dengan Ijal dan Ijal membantu Fita untuk naik ke atas batu yang ada di atas, sedangkan Restu memfoto dari bawah.
Selesai mereka berfoto Fita kembali di bantu oleh Ijal untuk turun, dari sini Fita mulai merasa tenang dan gairah sudah mulai kembali seperti semula.
Setelah puas bermain di curug 6 mereka memutuskan untuk turun, Fita kembali memimpin di depan di ikuti oleh Ijal, Restu dan Imah.
Dari sini akhirnya Ijal membuka suara dengan Fita karena dia melihat Fita yang asik berjalan dengan keadaan tanpa alas kaki.
“Fita, emang kaki kamu kagak sakit tanpa als kaki begitu kagak pakai sendal?” Tanya Ijal.
“Kagak sakit ini seru banget.” Fita menjawab sambil tersenyum.
“Kamu bisa lincah kaya begitu si, lagipula ini jalanan batu-batu sama tanah.” Ucap Ijal.
“Bisa dong, soalnya aku sudah biasa, kampung aku juga jalanan masih kaya begini, kamu tau kagak kita bakalan lebih cepat turun ke timbag kita naik karena berat kita 2 kali lipat di banding kita turun.” Sahut Fita dengan senyuman manis.
“Bisa banget, mau gimana juga tetap saja aku capek Kak !!” Sahut Imah sambil tertawa.
“Kamu belum terbiasa.” Ucap Fita sambil menjulurkan lidahnya.
Dengan lincah Fita lari ke sana, lari ke sini, jalan ke sana, jalan ke sini sambil melihat para orang-orang yang akan naik ke atas.
Sesampainya di bawah FIta mengajak Imah masuk ke dalam area kupu-kupu.
“Imah, ayo masuk foto-foto di sini sepertinya bagus.” Ujar Fita sambil menunjuk.
“Kita para lelaki tunggu di sini saja ya.” Ucap Restu.
Fita berfoto di area kupu-kupu bersama Imah.
Sumpah tempatnya bagus banget, pasti siapa yang ke sini di jamin kagak bakal menyesal. FIta membatin dengan raut wajah terpukau.
Setelah selesai Imah mengajak Fita dan yang lain untuk terapi ikan.
“Terapi ikan harga berapa bang?” Tanya Imah.
“Gratis neng kagak di punggut biaya, cuma bayar alas duduk saja 2.000.”
“Murah, 4 ya mang.” Ucap Fita.
“Jadi 8.000 makasih ya neng.” Sambil memberikan alas tempat duduk.
Mereka cukup lama berada di area terapi ikan, rasa terapi ikan geli seperti di keroyok ribuan semut tapi ini ikan bukan semut, ikan-ikan ini menggigit area sel yang sudah mati dan juga bisa menghilangkan capek akibat kita berjalan naik ke atas.
Fita cukup merasa seperti mengganggu Imah dan Restu.
Ya mau gimana lagi aku dan Ijal saling diam seribu Bahasa jadi aku mengobrol saja dengan Imah dan Restu. Fita membatin sambil melirik Imah dan Restu.
Setelah selasai terapi ian mereka bejalan ke arah tukang jajanan.
“Kak, kamu mau baso goreng?” Tanya Imah.
“Boleh.” Fita menjawab.
“Ibu baso goreng aku minta 4 ya, yang 2 di kasih kuah, yang 2 kering saja ya.” Ucap Imah.
Fita memberikan 1 kepada Ijal yang kering dan Fita makan yang kuah.
“Sudah puas belum, kalau sudah puas kita pulang ya?” Tanya Restu.
“Iya pulang.” Imah menjawab.
“Mampir dulu beli oleh-oleh ya, aku pengen beli lapis bogor.” Ucap Fita.
“Nanti kalau ada kita beli.” Sahut Ijal.
Perjalanan pulang ini sangat berbeda dengan yang kemarin karena Ijal perlahan sudah mau membuka suaranya, tiba-tiba ada insiden lagi yang menimpa Restu dan Imah, Fita binggung mereka kenapa karena kaki Restu tiba-tiba terluka terkena bagian ban motor lalu akhirnya mereka berhenti dan menepi.
“Kalian kenapa?” Tanya Fita.
“Tadi akum au menghindar itu, ada batu kecil jadi motor oleng aku cuma mau berusaha biar motor kagak jatuh malah kaki aku luka.” Restu menjawab.
__ADS_1
“Ini basuh Imah pakai tisu aku, kagak ada perban lagi gimana dong.” Ucap Fita.
“Sudah kagak apa-apa ini.” Sahut Restu.
“Tukar saja motor sama Ijal ya sayang.” Ucap Imah.
“Kagak usah sayang, aman tenang saja.” Restu menjawab.
“Iya tukar saja, Ijal juga kagak keberatan ini, ya Ijal?” Ucap Fita.
“Bebas.” Ijal menjawab.
Akhirnya Restu dan Ijal bertukar motor supaya tidak ada kejadian aneh-aneh lagi, mereka terus berjalan ke arah pulang dan mampir sebentar di toko oleh-oleh, Fita membeli beberapa lapis bogor.
“Ijal mau apa?” Tanya Fita.
“Kagak mau apa-apa Fita.” Ijal menjawab.
“Serius ? kalau mau apa ambil saja.” Ucap Fita.
“Lagi kagak pengen aku.” Ijal menjawab.
Oleh-oleh sudah di tangan FIta dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan pulang, Fita berpegangan dengan Ijal.
“Peluk saja nanti kamu jatuh gimana.” Ujar Ijal.
“Kagak usah, kagak apa-apa.” Fita menjawab.
“Nanti kamu jatuh Fita.” Ucap Ijal.
“Ya sudah iya.” Fita menjawab.
Sepanjang jalan Fita memeluk Ijal, Fita bahagia meski ada rasa di mana Fita tidak rela Ijal bersama orang lain.
Fita dan Imah berpisah di tengah jalan karena arah mereka berbeda.
“Makasih ya Imah.” Ucap Fita.
“Oke, Kakak juga hati-hati Kak, makasih.” Imah menjawab.
“Jangan lupa ya Imah.” Ucap Fita sambil memberi kode.
“Siap.” Imah menjawab sambil mengacungkan jempol.
“Hati-hati Ijal.” Ucap Restu.
“Iya.” Sahut Ijal.
“Kapan-kapan kita liburan lagi, oke.” Ucap Imah.
Ijal mengantarkan Fita hanya sampai di ujung jalan.
“Makasih ya.” Ucap Fita sambil tersenyum.
“Iya Fita.” Ijal menjawab.
“Kapan-kapan boleh ya, liburan lagi kaya gini lagi.” Ucap Fita.
“Siap kabarin saja.” Ijal menjawab.
“Kamu hati-hati ya. Ucap Fita.
Ijal lalu meninggalkan Fita dan melesat pergi, Fita juga harus cepat pulang dan cepat istirahat karena besok adalah hari pertama Fita bekerja pas di shif 1 yaitu shift pagi.
Selesai bersih-bersih Fita menyiapkan baju untuk bekerja besok lalu ia mengucapkan selamat malam kepada Ijal.
“Makasih ya, selamat istirahat.” Fita mengirim pesan singkat.
“Bagus kagak.” Ijal membalas serta mengirimkan foto.
“Ini kapan kamu ambil foto aku?” Fita membalas pesan dengan wajah kaget.
“Tadi pas kamu kagak sadar hehe.” Ijal membalas pesan.
“Dasar, ya sudah aku mau istirahat besok aku harus kerja kamu juga isirahat ya, lagipula capek selama 2 hari ini sudah menyetir aku.” Fita membalas pesan.
“Siap bos.” Ijal membalas pesan.
Malam itu Fita sudah cukup lelah meski ia masih kepikiran ke Ijal, apa benar Ijal sudah punya pacar atau belum dia habis telefon sama cewek, semua itu memutar di pikrannya.
Semoga saja itu bohong, aku kagak akan ikhlas dan kagak rela kamu bersama orang lain Ijal,,, kagak akan pernah rela. Fita membatin.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa setelah membaca novel saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE, saya sebagai penulis terimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab selanjutnya..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya memperbaiki cerita-cerita berikutnya.
Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf.
Salam hangat untuk kalian semua❤
__ADS_1