Please,Be Mine

Please,Be Mine
PBM 13


__ADS_3

Pengumuman kelulusan tiba, pagi itu Fita berangkat bersama Putri seperti biasa mereka jalan kaki bersama.


“Pin, nanti kamu ikut perpisahan tidak?” Tanya Putri.


“Kurang tahu juga, acaranya mau diadakan di mana?” Fita menjawab.


“Bandung, biayanya 600 ribu dan wajib pakai baju kebaya.” Sahut Putri.


“Lihat nanti saja ya pin, aku lagi mikir untuk nanti tebus ijazahnya gimana kalau lulus.” Fita menjawab.


“Benar banget, aku juga lagi mikir kesitu.” Ucap Putri dengan raut wajah bingung.


Sesampainya di sekolah Fita langsung masuk barisan dan acara pun di mulai, sepatah dua patah sambutan dari kepala sekolah di ikuti wakil kelas lainnya dan sekarang tiba acara yang di tunggu yaitu pengumuman, satu persatu dari mereka maju setelah nama mereka di panggil dan mereka menerima gulungan kertas kecil yang di dalamnya terdapat hasil terakhir mereka lulus atau tidak. Sembari menunggu perintah kepala sekolah untuk membukanya sama-sama, mereka semua pun akhirnya membukanya dan hasilnya Fita lulus dan semua teman-temannya 100% lulus.


Fita akhirnya melanjutkannya dengan berfoto-foto bersama teman-temannya yang dari kelas 10 sampai kelas 12 dan guru-guru yang bagi mereka ganteng-ganteng.


Seusai acara, Fita dan yang lain masih berada di area sekolah.


“Kita main mau tidak?” Tanya Sarah.


“Kemana?” Tina menjawab.


“Kota tua atau monas, bosan juga kalau langsung pulang, bagaimana teman-teman mau tidak?.” Ucap Sarah.


“Putri, Fita mau ikut tidak?” Sahut Wiwin sambil berteriak.


“Kamu mau ikut tidak putri?” Sahut Fita sambil melirik.


“Sepertinya tidak.” Putri menjawab.


“Kalau begitu aku juga tidak, mau main soalnya.” Ucap Fita.


“Kita duluan ya.” Sahut Sarah.


“Oke.” Fita menjawab.


“Ayo kita pulang.” Ucap Putri.


“Iya.” Fita menjawab.


“Kamu mau ke mana?” Sahut Putri.


“Mau main sama pacar aku, itu dia sudah jemput, aku duluan ya. Fita menjawab sambil berlari ke arah Arib.


“Apa hasilnya sayang?” Tanya Arib.


“Lulus dong aku.” Fita menjawab dengan senyuman lebar.


“Bagus dong makan-makan kita dong.” Ucap Arib sambil tertawa.


“Ayo, tapi kamu yang bayar ya.” Fita menjawab sambil tertawa.


“Siap, ya sudah ayo naik kita mau makan apa?” Tanya Arib sambil menyalakan sepeda motor.


“Baso saja tempat biasa.” Fita menjawab.


“Oke meluncur.” Sahut Arib sambil menjalankan sepeda motor.


Sorenya Arib mengantarkan Fita pulang.


“Sampai besok ya.” Ucap Arib sambil menurunkan Fita.


“Hati-hati.” Fita menjawab sambil tersenyum.


*/


Hari ini adalah hari perpisahan Fita tapi ia tidak ikut acara perpisahan itu karena baginya tidak terlalu penting baginya, yang ia pikirkan bagaimana caranya ia mencari pekerjaan dengan modal surat keterangan lulus karena belum bisa menebus ijazahnya yang masih menunggak beberapa bayaran, syarat pengambilan ijazah ialah semua lunas, maklum namanya juga sekolah swasta.


*/


6 bulan berlalu tapi ia masih jadi pengangguran, akhirnya Wiwin dan Putri mengajaknya melamar di bagian marketing motor/ dealer motor.


“Mau ikut kerja sama Wiwin tidak? di bagian marketing.” Tanya Putri.


“Boleh kapan?” Sahut Fita.


“Besok pagi aku tunggu di depan ya.” Ucap Putri.


“Siap.” Fita menjawab.


Waktu itu Fita sangat bingung karena ia tidak terlalu paham dengan kata marketing, yang dipikirannya dia saat itu bagian marketing itu duduk manis saja di kantor.


Esok paginya Fita dan Putri datang ke tempat yang di beritahu oleh Wiiwin.


“Ini namanya dealer motor Putri, jadi sales dong.” Sahut Fita dengan raut wajah bingung.?


“Kita coba saja dulu katanya lumayan si uangnya.” Putri menjawab.

__ADS_1


“Iya lumayan kalau bisa jual, kalau tidak bisa jual bagaimana?” Ucap Fita dengan raut wajah bingung.


“Coba dulu ya.” Putri menjawab sambil tersenyum.


Selama seharian itu Fita mencoba bekerja, yang Fita rasa saat itu berkali-kali lipat capek, harus berdiri dipinggir jalan dan memberikan brosur kepada orang-orang yang lewat, tidak jarang pula Fita jadi bagian godaan orang-orang yang sedang lewat di depannya, seperti wanita jalanan, terkadang banyak juga yang usil atau mengirim pesan tidak jelas kepadanya.


Sorenya Fita dan Putri pulang, mereka pulang jalan kaki dari dealer sampai rumah (coba kalian bayangkan saja bagaimana lelahnya mereka).


“Kamu besok mau kerja lagi di sana?” Tanya Putri dengan raut wajah lelah.


“Tidak ! aku capek, lebih baik cari yang lain saja besok, kalau kamu bagaimana ? mau lanjut?” Sahut Fita dengan raut wajah lelah serta nada pelan.


“Tidak.” Putri menjawab dengan nada tegas.


*/


Seminggu setelah itu Fita dapat panggilan dari tempat ia melakukan praktek berkerja dulu di kementrian keuangan. Paginya Fita di minta untuk datang interview dan tes lalu hasilnya langsung di terima di bagian tata usaha sama seperti dulu ia praktek kerja lapangan dahulu. Fita berkerja di sana hanya 2 bulan, setelah menerima gaji ke 2 ia langsung keluar karena kalau ia mau di posisi di sana minimal ia harus bergelar sarjana.


Malam itu Fita pulang sendirian naik metro mini sambil terus berfikir bagaimana ia kedepannya, ia harus kerja apa lagi setelah ini, semua berputar di kepalanya dan yang dia rasa seperti mau pecah.


Sesampainya di rumah Fita langsung mandi dan keramas dengan shampoo yang cukup terkenal, awalnya ia hanya iseng membaca dari perusahaan mana produksi shampoo itu sampai akhirnya ia punya ide untuk mengirim via pos saja ke kantor itu siapa tahu rejeki.


Paginya benar saja Fita langsung pergi ke kantor pos di temani Arib untuk mengirim lamarannya ke kantor shampoo itu sambil terus berdoa dalam hati.


Semoga saja aku diterima di kantor itu tuhan, aku berharap banget. Fita membatin dengan raut wajah penuh harap.


“Jangan lupa berdoa sayang siapa tahu rejeki kamu.” Ucap Arib sambil tersenyum.


“Iya sayang semoga ya.” Fita menjawab sambil tersenyum.


Setelah selesai mengirim beberapa lamaran ke kantor-kantor lain juga Fita langsung pergi ke pondok gede ke rumah ibunya Arib sedangkan Arib langsung berangkat kerja.


“Aku tinggal kamu dulu ya, nanti aku pulang jam 4 langsung aku antar pulang, oke!” Ucap Arib.


“Oke.” Fita menjawab.


Sore pukul 16.30 Wib Arib sampai di rumah dan langsung mengantarkan Fita pulang dan sesampainya di rumah Fita masih dengan keadaan diam.


“Kenapa?” Tanya Arib.


“Aku bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi.” Fita menjawab dengan raut wajah sedih.


“Nanti juga ada, sabar ya, ya sudah aku langsung pulang kamu istirahat oke.” Ucap Arib sambil tersenyum dengan nada suara halus.


2 minggu kemudian Fita mendapat pesan yang isinya ia dapat panggilan di perusahaan shampoo yang kemarin itu.


“Ibu juga senang sayang.” Ibu menjawab sambil tersenyum lalu berpelukan.


*/


Kamis pagi tepat pukul 06.30 Wib Fita sudah menuju perusahaan shampoo di antar ayahnya, sesampainya di sana ia mengisi buku tamu dan banyak juga orang yang hari ini interview dan tes bersamanya.


“Kamu tes juga?” Tanya Anis sambil melirik Fita.


“Iya, kamu dari mana?” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Aku dari Jl.bekasi kalau kamu?” Ucap Anis.


“Kita satu jalan, cuma beda wilayah saja, nama aku Fita, kalau kamu?” Fita menjawab sambil bersalaman.


“Aku Anis.” Anis menjawab.


Beberapa saat setelah itu satpam memanggil dan memberitahu ruang interview, Fita lalu masuk dan sangat siap melakukan tes dan interview, tes pertamanya matematika dengan 10 soal dan batas waktunya hanya 20 menit, setelah tes selesai di lanjutkan lagi tes ke dua yaitu buta warna, hanya ada 5 soal waktu itu. Ke dua tes berjalan dengan lancar dan Fita yakin ia pasti lulus dan merekapun di beri waktu istirahat 1 jam.


Fita makan siang di depan perusahan, tiba-tiba ada yang menegurnya.


“Hai Fita.” Ucap Anis sambil menghampiri.


“Hai juga.” Fita menjawab sambil tersenyum.


“Kamu makan tidak mengajak aku.” Ucap Anis.


“Maaf ya,sudah mari makan bersama, punya aku juga baru banget datang.” Fita menjawab.


“Kamu sudah punya pengalaman?” Tanya Anis.


“Aku baru lulus, terus kemarin sempat kerja tapi hanya 2 bulan soalnya harus sarjana.” Fita menjawab.


“Berarti kamu masih di bawah aku umurnya.” Ucap Anis.


“Memang kakak umur berapa?” Tanya Fita.


“23 tahun.” Anis menjawab.


Setelah selesai istirahat jam 1 siang mereka kembali masuk dan melanjutkan tes terkahir yaitu interview, kini giliran Fita masuk ke ruang HRD, di sana ia hanya di berikan pertanyaan seputar perkalian, asal usul, pengalaman, umur dan orang tua, setelah itu ia keluar dan menunggu hasil.


Dan hasilnya Fita di terima, sebelum itu ia harus menyiapkan rekening bank yang khusus untuk perusahaan itu, mereka semua yang ke terima kerja di beri waktu 5 hari sampai selasa depan.

__ADS_1


Rasanya Fita Bahagia sekali bisa merasakan bekerja lagi dan buru-buru ia memberi kabar gembira ini sama Arib. (sambil menelfon)


“Hallo, iya sayang kenapa?” Tanya Arib.


“Aku keterima kerja.” Fita menjawab.


“Aku senang sayang, selamat ya, ya sudah kamu pulang di jemput siapa?” Tanya Arib.


“Di jemput ayah.” Fita menjawab.


“Oke hati-hati.” Ucap Arib lalu mematikan telefon.


Fita mempersiapkan segala sesuatunya, pagi-pagi ia membuat rekening dan membuat surat yang di butuhkan, dan pengalamannya di saat ia membuat kartu ATM, yang ia rasa capek dan lelah.


Pagi itu Fita sudah cukup pagi datang ke bank tapi ternyata ia tidak mendapatkan nomer antrian karena mereka hanya melayani 5 pembuatan kartu, satpam menyarankan Fita untuk ke daerah arta gading di sana ada bank yang sama, ia langsung secepat kilat naik ojek ke sana, sesampainya di sana ia senang karena dapat antrian pertama tapi tidak cukup sampai di sini perjuangannya, ia sudah di tengah-tengah transaksi tinggal mengisi formulir, tanda tangan semua selesai tapi ternyata ada masalah dengan sistemnya dan rekeningnya tidak bisa di proses. akhirnya pihak bank menyarankan Fita untuk ke mall kelapa gading di sana ada bank yang sama, tanpa pikir panjang ia langsung menuju mall kelapa gading , tapi sesampainya di sana malah sudah ramai orang dan akhirnya ia di tolak.


Ya tuhan segala di tolak aku udah capek banget. Fita membatin dengan raut raut wajah lesu.


Fita hanya bisa duduk di pinggir jalan, sambil terus berpikir ia harus ke mana, kalau pulang ia mau naik apa? Sedangkan ia tidak tahu jalan.


Tiba-tiba seorang bapak ojek online menghampirinya.


“Neng mau naik ojek tidak?” Tanya Ojek online sambil mematikan motor.


“Saya tidak punya aplikasinya pak.” Fita menjawab dengan raut wajah lelah.


“Tidak apa neng, bayarnya seikhlasnya saja,neng mau ke mana?” Tanya Ojek online.


“Bapak tau bank cahaya ada di mana? saya sudah lelah ke sana kemari tapi di tolak sama banknya.” Fita menjawab.


“Oh bapak tahu neng, di cempaka putih ada ayo bapak antar.” Ucap Ojek online sambil memberikan helm lalu mereka jalan.


Akhirnya Fita di antar sama bapak Ojek online ini ke bank, sesampainya di bank ternyata sudah siang, arah jam sudah menuju angka 12.00 Wib dalam pikirannya Fita (di terima tidak ya).


“Pak boleh minta tolong tidak?” Tanya Fita


“Boleh neng.” Ojek online menjawab.


“Bapak tunggu sini sampai saya keluar ya,takutnya saya di tolak lagi.” Ucap Fita.


“Iya bapak tunggu neng, bayarnya nanti saja kalau sudah selesai.” Ojek online menjawab.


Fita masuk dengan hati resah dan satpam bertanya kepadanya.


“Ada yang bisa di bantu?” Tanya Satpam.


“Saya mau membuat rekening pak dari pagi saya di tolak terus, rekeningnya buat kerja, masih bisa tidak ya?” Fita menjawab.


“Masih neng, silahkan langsung ke meja sana ya nanti di bantu sama bapaknya.” Ucap Satpam sambil menunjuk.


Akhirnya Fita bisa membuat rekening juga dan setengah jam kemudian rekening sudah jadi, Fita langsung turun dan bertemu bapak ojek online.


“Bagaimana neng bisa?” Tanya Ojek online.


“Bisa pak alhamdullilah, ongkos naik ojek aku berapa ya pak?” Ucap Fita.


“Terserah neng saja.” Ojek online menjawab.


“Ini ongkosnya dan ini tips karena bapak sudah mau menunggu saya, terima kasih ya pak.” Ucap Fita sambil memberikan uang serta senyuman.


“Sama-sama neng.” Ojek online menjawab.


Fita pulang naik metro mini saat itu, dan tanpa sadar hari sudah sore.


“Bagaimana pembuatan rekeningnya?” Arib mengirim sebuah pesan online.


“Setengah mampus.” Fita membalas pesan dengan raut wajah lelah.


“Kenapa bisa begitu?” Arib membalas pesan.


“Besok aku cerita, paling juga kamu ketawa.” Fita membalas sambil tertawa.


“Ya sudah hati-hati pulangnya terus istirahat.” Arib membalas pesan.


Sesampainya di rumah Fita langsung bersih-bersih, mandi, makan lalu istirahat sampai pagi karena dia benar-benar merasa lelah ..


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jangan lupa setelah membaca novel karya saya yang kaku ini untuk tidak lupa menekan tombol LIKE,saya sebagai penulis sangat berterimakasih dan ini akan menjadi semangat bagi saya untuk update bab berikutnya ..


-------------------------------------------------------------


Dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR KRITIK dan SARAN untuk karya saya, saya sebagai penulis sangat berterimakasih untuk pembaca yang memberi komentar yang membangun semangat saya karena hal tersebut bisa membantu saya untuk memperbaiki cerita-cerita berikutnya.


Apabila ada salah kata dalam pengetikan saya sebagai penulis mohon maaf .


Salam hangat untuk kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2