
Hari ini merupakan hari pertama bagi Rani untuk bekerja. Wanita yang telah berubah status menjadi janda itu tampak berpenampilan yang terlihat sangatlah anggun sehingga mampu membuat mata siapapun yang melihat pasti akan jadi tak berkedip tatkala melihat penampilan Rani yang saat ini telah berubah seratus delapan puluh derajat dari penampilan yang ia miliki sebelumnya
Dan tentu saja itu merupakan ulah dari Bi Dian yang menggunakan uang Anton untuk mempermak penampilan wanita itu jadi secantik dan semenarik ini
Kemarin ketika setibanya Rani pulang dari perusahaan yang Reno miliki , langsung saja tanpa memberikan jeda untuk wanita itu bicara. Bi Dian menarik tangan Rani untuk keluar rumah guna mengikuti langkah dirinya pergi ke sebuah butik ternama yang Rani tahu butik tersebut merupakan butik untuk kalangan para elit
Sehingga sampai disana membuat wanita itu jadi meronta menolak untuk dibelikan baju ditempat itu. Karena Rani tahu harga pakaian yang ada disana pastilah diatas satu juta. Sedangkan di dalam dompet yang ia miliki hanya ada dua ratus ribu.
Ucapan Mira benar - benar terbukti menjadi nyata , wanita tua itu tak mengijinkan Bara untuk memberikan harta gono gini sepeser pun terhadap Rani.
Sehingga membuat wanita bertubuh mungil itu tak memiliki banyak uang saat ini. Hanya sisa uang bulanan belanja dari Bara untuk terakhir kali saja ia bawa. Yang lainnya tak ada
Rani juga terlihat enggan membawa semua barang - barang miliknya yang masih tertinggal di rumah Bara . Ia takut makin sedih dan sakit jika melihatnya kembali. Lagi pula ia takut jika barang - barang yang telah diberikan Bara pada dirinya itu akan diungkit lagi oleh keluarga mantan suaminya di lain hari.
Sehingga membuat Rani mengambil keputusan untuk tak lagi membawa barang - barang itu dan tetap membiarkannya saja tergeletak di lemari rumahnya dulu
" Astaga nduk ...ini beneran kamu " ucap Bi Dian begitu tak menyangka apabila keponakannya yang memiliki tubuh mungil itu kalau sudah dandan akan berubah jadi cantik seperti ini
" Husss..bibi jangan bicara begitu nanti Rani jadi ke Geeran lo " kekeh Rani yang membuat Bi Dian jadi ikutan tertawa juga disampingnya
" Pokoknya mah ini is the best!! " puji Bi Dian sambil mengacungkan kedua jari jempol miliknya ke arah Rani berada
" Apanya is the best bi....ini mah pakaiannya bikin kantong aku bolong. Malah aku ngutang lagi sama mas Anton " keluh Rani dengan mulut mengerucutnya
Ia jadi mengingat tentang penolakannya untuk berbelanja pakaian di butik ternama
Memang langsung dituruti sih sama Bi Dian dan juga Anton
Namun sayangnya , kedua ibu dan anak itu bukannya membawa Rani berbelanja ke toko baju yang lebih sederhana ataupun ke dalam sebuah pasar senggol
__ADS_1
Eh...kedua orang itu malah beralih membawa Rani untuk berbelanja ke dalam sebuah mall ternama
Ya kalau begitu , alamat akan sama saja...harganya sebelas dua belas dengan butik yang pertama kali mereka kunjungi
Sehingga membuat Rani hanya bisa menganga dengan tubuh pasrah menyerah mengikuti keinginan dua orang ibu dan anak itu, dengan syarat bahwa uang yang saat itu dipakai untuk membayar semua barang belanjaan akan Rani ganti setelah mendapat gajih pertama di perusahaan
Mendengar persyaratan itu Bi Dian hanya mengangguk saja , tak mau ribet dan mempercepat progres pembelanjaan agar keponakan miliknya itu tak cerewet dan menolak lagi pemberian mereka
Padahal sebenarnya sih tidak diganti juga gak apa - apa. Bi Dian dan Anton sungguh sangat ikhlas membantu Rani. Karena mereka berdua telah menganggap Rani sebagai salah satu dari anggota keluarga mereka
Sedangkan Rani yang dianggap dan diperlakukan sangat baik begitu , merasa tak enak hati. Sudah numpang tinggal , masak numpang belanja pula. Itulah isi batin Rani di dalam sana
Wanita itu memang kurang suka menyusahkan orang lain. Semua hal yang masih bisa ia kerjakan sendiri pasti akan Rani kerjakan sendiri.
Begitulah mandirinya seorang Rani
Sehingga membuat Rani butuh sandaran keluarga untuk menyemangati hidupnya yang begitu pahit terasa ini
*****
" Ren...kamu mau kemana ? Kok tumben pagi - pagi begini sudah rapi " tanya Kaila sembari melihat ke arah jam dinding mewah yang saat ini terpajang rapi di dalam ruang makan mereka
" Mama pakai nanya lagi. ya ..ke kantor lah ma , emang Reno mau kemana lagi pagi - pagi begini " sahut Reno dengan wajah terlihat cerah menderah bagaikan sebuah lampu neon yang silaunya bikin mata merem
" Kamu gak salah , jam segini mau berangkat ke kantor ? "kini Gibran sang ayah giliran yang bertanya
Masalahnya ini jam setengah tujuh pagi , padahal biasanya kan Reno berangkat jam delapan pagi. Tak pernah maju , tak pernah mundur. Pasti selalu pas. Karena anak semata wayang miliknya itu memang tipe pria yang selalu on time menghargai waktu
Nah sekarang , seumur hidup baru kali ini Gibran dan Kaila melihat perubahan aneh dari anaknya itu.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya dengan Reno ? Pikir mereka berdua secara berjamaah
Reno yang di tatap seperti itu oleh kedua orang tuanya tentu saja merasa risih dan jadi balik menatap mereka
" Ada apa ma..pa..kok lihatin Reno seperti itu ? " tanya Reno heran
" Kamu gak lagi sakit kan Ren ? " tanya Kaila was - was
" Mama ini ada - ada aja dech! Masak Reno lagi segar bugar begini di katain sakit " Pria tampan itu terlihat terkekeh kecil yang membuat suami istri itu jadi saling pandang dan bergidik ngeri didalam sana
Fix anaknya ini sepertinya kurang sehat
Bagaimana kedua orang itu tak berpikir seperti itu tentang Reno
Selama ini anak semata wayang milik mereka itu sangat jarang tertawa. Bisa dibilang sangat irit. Bahkan saking iritnya Kaila sampai bisa menghitung dengan jari berapa kali dalan sehari anaknya itu tertawa lepas seperti tadi
Lalu sekarang apa yang terjadi..
Semenjak Reno keluar dari kamar dan turun dari tangga , wajah dingin milik putranya tersebut terlihat telah berubah menjadi berseri dengan sebuah senyuman hangat menghiasi
" Udah ah ma...paa..Reno mau berangkat dulu takut telat ke kantornya " ucap Reno seraya bangkit dari atas kursi dengan tidak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian guna berpamitan
Setelah melihat punggung putranya yang telah menghilang dari balik pintu keluar , Gibran pun tampak bergegas mengambil benda pipih miliknya yang sedang tergeletak manja di atas meja
" Papa mau nelponin siapa ? " tanya Kaila penasaran
" Nelponin Anwar , mana tahu ada berita baru di perusahaan. Papa masih penasaran dengan sikapnya Reno ma...itu anak kenapa ya , apa lagi kepincut sama panah asmara ya ? " celetuk Gibran yang membuat mata Kaila jadi langsung terbelalak seketika
" Jangan - jangan..."
__ADS_1