
Malam semakin larut , tapi tubuh Rani masih terlihat duduk bersandar di atas kursi yang terletak di atas teras rumah bi Dian.
" Kenapa nich! cah ayunya bibi duduk bengong disini sendirian " tegur bi Dian yang membuat Rani jadi tersenyum malu mendengarnya.
" Ah..bibi bisa aja , Rani mah bukan cah ayu lagi bi , tapi sudah berganti nama jadi janda ayu " balas Rani yang membuat kedua wanita berbeda usia itu jadi tertawa lepas secara bersamaan.
" Mau kamu Janda atau bukan.. bibi tetap akan panggil kamu cah ayunya bi Dian. Ayoo..sekarang cerita ada apa ? sepertinya kamu lagi punya banyak pikiran , mungkin bibi bisa bantu " ucap Bi Dian yang membuat Rani jadi terenyuh mendengarnya.
Bagaikan memiliki tiang koneksi , Bibinya itu memang selalu bisa peka jika Rani mempunyai suatu beban pikiran di dalam sana
" Hmm...bi " ucap Rani ragu
" Katakanlah ..bibimu ini selalu siap mendengarkan "
__ADS_1
" Pak Reno tadi bilang ingin...." ucapan Rani tampak terjeda sehingga membuat bi Dian jadi semakin tambah penasaran di dalam sana.
" Ingin apa ? "
Rani tampak menarik napas perlahan guna memberikan ruang udara bagi dadanya yang terasa agak deg - deggan saat ini
" Pak Reno tadi mengatakan berniat untuk mempersunting Rani sebagai istrinya " ucap Rani lugas yang membuat bi Dian jadi langsung terlihat terbelalak tak percaya didepannya.
" Alhamdulilah ...." bukan bi Dian yang terlihat berseru , melainkan Anton yang tanpa sengaja mendengar dan ikut nimbrung di antara pembicaraan kedua wanita itu.
" Maaf bu....Ran.. ..bukan Anton yang sengaja mau menguping pembicaraan kalian berdua , hanya saja Anton tak sengaja mendengar ucapan Rani " balas Anton jujur.
Pria itu memang benar tak sengaja mendengar pembicaraan kedua wanita itu ketika hendak menemui ibunya untuk menanyakan letak kemeja yang akan besok ia pakai bekerja.
__ADS_1
" Sudahlah bi ..tidak apa - apa .Rani memang butuh banyak pendengar kok saat ini " Kekeh Rani membela Anton yang tak bersalah.
Lagipula Rani tak merasa keberatan jika Anton tahu tentang cerita masalah hidupnya , ia sudah menganggap pria itu sebagai saudara kandungnya sendiri.
Begitupula dengan bi Dian yang sudah Rani anggap sebagai ibu kandungnya sendiri
Mendengar ucapan Rani , bi Dian pun tak jadi memarahi putranya kembali. yang dimana membuat Anton jadi terlihat cengar - cengir dan ikut duduk nimbrung di antara kedua wanita yang ia sayangi itu
" Lalu apa kamu sudah memberi jawaban kepada Reno ? " tanya bi Dian memulai pembicaraan serius diantara mereka kembali
Rani tampak menggeleng dan tersenyum " belum bi...Rani meminta waktu seminggu untuk menjawab lamaran dari pak Reno itu "
Mendengar ucapan yang keponakannya itu lontarkan , membuat bi Dian hanya terlihat mengangguk dan mengerti akan situasi dan kondisi yang Rani alami saat ini.
__ADS_1
"Bibi tahu pasti tidak mudah bagimu untuk menerima lamaran Reno , apalagi sebelumnya kamu pernah dikhianati dan juga disakiti oleh Bara" ucap bi Dian yang membuat Rani jadi langsung menoleh ke arah wanita paruh baya itu yang saat ini tengah terlihat menatap intens dirinya.
" Tapi bibi harapkan hal itu tidak akan membuatmu merasa terpuruk dan menjadi wanita yang tak percaya diri kepada lelaki yang benar - benar sangat menyayangimu " lanjut bi Dian kembali yang membuat wanita itu jadi berpikir keras di dalam sana.