Possessive

Possessive
04 - Redmoon


__ADS_3

Kayla sedang tidak mood untuk melakukan apapun. Yang kayla ingin saat ini adalah tidur, nyeri diperutnya sangatlah menyebalkan.


"Kay cowok lo tuh"


Altaric melambai ketika kayla menatapnya.


"Kay muka kamu kenapa kayak orang lagi kesakitan gitu"


Altaric cowok terpeka menurut kayla. Bagaimana bisa kayla tidak menyukai altaric sampai jungkir balik meski sikap posesif altaric menganggunya namun kayla masih bisa menerimanya.


"Sana gih rafa nungguin lo"


Ersya langsung tersenyum mengetahui rafa ingin bertemu dengannya.


"Rafa nunggu gue dimana?"


"Dekat ruang lab"


"Oke. Kay gue tinggal ya, bye"


Kini altaric sepenuhnya memperhatikan kayla. Seperti ada yang salah dengan pacarnya hari ini.


"Kenapa hem?"


"Perut aku sakit"


"Kamu gak ngelewatin sarapan kan?"


"Gak ih"


Kayla mendekatkan mulutnya ketelinga altaric lalu memberitahunya pelan takut ada yang dengar.


Altaric tersenyum tipis. Ternyata kayla nya tengah datang bulan, altaric dengan pelan membawa kayla kepelukannya.


"Istirahat diuks mau?"


"Temenin"


"Hem"


Kayla makin merapatkan pelukannya. Nyaman sekali bersandar didada bidang altaric yang lebar dan keras.


Para gadis yang tidak menyukai kayla berbisik bisik menjelekannya. Katakan saja mereka iri karena kayla yang hanya gadis biasa yang tidak punya kelebihan apapun bisa mendapatkan hati seorang altaric fernando cowok tertampan disma crystall.


Brak. Tong sampah berguling sampai isinya keluar, altaric menendangnya sebagai peringatan kepada orang orang yang membicarakan kayla.


Senyap, tak ada lagi yang berani mengeluarkan suara. Mereka memilih diam daripada mendapat amarah dari altaric.


"Tong sumpahnya" ucap kayla pada altaric, kayla juga heran kenapa altaric menendang tong sampah.


Langkah altaric berhenti, tubuhnya berbalik menatap satu persatu segerombolan gadis yang tadi membicarakan kayla.


"Kalian! bersihin tuh lantai, letakin kembali tongnya kayak semula"


"Kok jadi kita yang bersihin?"


Altaric tidak menanggapinya, namun tatapan tajamnya yang mengisyaratkan sesuatu membuat para gadis itu berlari mengumpuli sampah yang berceceran dilantai.


"Ayo sayang kita keuks. Maaf kamu jadi lama berdiri"


"Kenapa kamu suruh mere.."


"Sst" kayla diam ketika telunjuk altaric menempel dibibirnya.


Ersya tak henti hentinya tersenyum sepanjang langkahnya menuju ruang laboratorium.


"Rafa!"


Tidak. Itu bukan suara ersya, melainkan wulan yang memanggil rafa. Kenapa gadis itu selalu datang mengacaukan segalanya.


"Gue nyari lo kemana mana eh taunya disini. Ngapain?"

__ADS_1


"Oh gue lagi ada urusan bentar. Lo sendiri ngapain nyari gue?"


"Mami bikin cake dan suruh gue kasih ini ke lo"


"Wah tante mira tau aja kalo gue lagi kangen cake ini"


"Gih makan. Gue pergi dulu ya"


"Hem, makasih lan cakenya"


Ersya melangkah mundur dan kemudian berbalik pergi. Sepertinya rafa memang tidak ditakdirkan untuknya.


"Altaric kasih tau ersya atau gak sih, lama bener gue nunggu" rafa sesekali melirik jam yang melingkar ditangannya.


Kayla meringis memegangi perutnya, rasa nyerinya makin terasa.


"Tunggu bentar"


Altaric pergi keluar meninggalkan kayla sendiri diuks. Namun tidak lama altaric kembali dengan kantong kresek ditangannya.


"Kamu bawa apa al?"


Altaric mengeluarkan sebotol kiranti dan membuka tutupnya lalu memberikannya pada kayla.


"Aku sering liat mama minum ini waktu lagi datang bulan, kata mama sih ngurangin rasa sakit diperut"


Kayla ingin mengambil botol kiranti dari tangan altaric namun altaric menjauhinya.


"Biar aku aja, kamu cukup buka mulut"


Setelah minumannya habis altaric menyuruh kayla untuk istirahat.


"Tidur aja nanti kalo waktunya pulang aku bangunin"


"Al makasih"


"Gak perlu makasih, aku senang kamu bergantung sama aku"


Bunyi sirine polisi yang saling bersahutan didepan sma crystall membuat kayla terbangun dari tidurnya.


Beranjak dari kasur, kayla menyibak gorden dan melihat kearah bawah. Terlihat para polisi yang berseliweran entah sedang apa.


"Ngapain polisi kesini?"


Brak


"Kayla!"


Kayla berbalik dan melihat ersya yang tampak ngos ngosan didepan pintu uks dengan paniknya.


"Sya kamu kenapa?"


"Kay al ditangkep"


"A-apa"


Ersya menarik tangan kayla dan membawanya berlari sebelum altaric dibawa pergi oleh polisi itu.


Sepanjang koridor terlihat sepi karena kebanyakan mereka berada diluar tidak ingin melewati momen altaric yang tangannya diborgol polisi.


"Al"


"Raf jaket lo! tutup tangan gue"


Rafa melepas jaketnya dan menutupi borgol yang melingkar dikedua tangan altaric.


"Kay ngapain kesini?"


"Al mereka apain kamu? kenapa kamu diborgol?"


Sial, altaric kalah cepat. Ternyata kayla sudah melihat tangannya yang diborgol.

__ADS_1


"Kamu tenang aja kay aku gak bakal lama kok dikantor polisi"


"Saudara altaric waktu anda sudah habis, ayo ikut saya kekantor polisi"


Altaric diseret satu orang polisi dan dimasukan kedalam mobil. Kayla menangis melihatnya, apa kesalahan altaric sampai polisi membawanya.


"Pak jangan bawa altaric, dia gak salah apa apa. Bapak pasti cuma salah paham"


Altaric menatap rafa seakan memberitahu sesuatu. Rafa pun mengangguk mengerti, kayla pun ditarik rafa untuk menjauh.


"Rafa lepasin aku! al mau dibawa pergi"


"Kay percaya sama gue al pasti bisa nyelesain masalahnya dan papanya gak bakal diam gitu aja liat anaknya ditahan dikantor polisi"


Altaric mengepalkan tangannya. Gadisnya menangis, dan semua itu kesalahan polisi.


Diruang introgasi altaric tampak santai, padahal dirinya tengah berhadapan dengan polisi.


"Apa anda telah membunuh saudari laura"


"Siapa dia? gue gak kenal"


"Ck anda tidak perlu berbohong. Semua bukti mengarah kepada anda saudara altaric"


Altaric tersenyum miring. Sepertinya altaric sedang dipermainkan oleh seseorang.


"Sebelum pengacara gue datang, gue gak akan jawab apapun dari kalian"


Kayla gelisah dikamarnya. Altaric sama sekali tidak ada kabar, apa pacarnya itu dipenjara.


"Al kamu salah apasih sampe ditahan polisi"


Kayla mematung ketika teringat insiden kehilangan laura. Apa para polisi sudah tau jika altaric membunuh laura. Tapi siapa yang melaporkannya.


"Aku harus liat al"


Kayla berlari keluar rumah. Namun didepan pagar rumahnya, kayla melihat altaric yang bersandar dimobilnya.


"Al!"


Kayla berlari memeluk altaric dan menumpahkan tangisnya. Altaric terkekeh melihat kayla yang cengeng.


"Kenapa nangis hm?"


"Kenapa kamu bilang!"


Kayla memukul dada altaric berkali kali. Kesal dengan sikap santai yang ditunjukan altaric padanya.


"Pacar altaric gak boleh kasar"


"Huwaaa"


"Lah makin nangis. Udah sayang aku gak pa'pa kok"


Altaric melotot ketika abi kayla keluar rumah dan menatap tajam pada altaric.


"Kayla berhenti nangis abi kamu liat kearah sini"


Zayid menarik kayla dari pelukan altaric "Kayla kamu diapain altaric. Bilang sama abi"


"Om altaric gak ngapa ngapain kayla kok"


"Terus kenapa kayla nangis"


"Kayla nangis karena katanya kangen sama altaric"


"Bohong abi!"


"Abi pukul altaric, dia nyebelin. Kayla keselll"


Altaric menelan ludahnya kasar. Apa dirinya akan dipukul, semoga saja tidak. Bahkan sakit ditubuhnya belum hilang akibat pukulan papanya dirumah tadi.

__ADS_1


__ADS_2