
Amira menyusun sebuah rencana, ia meminta bantuan kepada sahabat nya Zi Mei untuk bertukar peran, ia meminta sahabatnya untuk menjadi dirinya sebentar begitupun sebaliknya.
Ia mencoba ingin menyusup diantara dayang-dayang yang diperintahkan memasuki ruang pengasingan itu.
" Zi Mei, Jaga suamiku baik-baik ya kau tahu aku begitu sangat mencintainya ."
" Siap Puteri, hamba akan menjaga pangeran anda dari gigitan-gigitan nyamuk Genit ."
Amira tersenyum menggelengkan kepalanya, memang Zi Mei yang selalu menenangkan dirinya.
sebelum ia pergi Gadis cantik itu masih memandangi suami nya dari balik tirai jendela, pria itu masih disibukkan dengan menulis tulisan kuno Aksara Han, ia benar-benar menuruti perkataannya untuk tetap tinggal dengan tenang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Sore itu ia benar-benar mengikuti dayang-dayang itu dengan berjalan di antara mereka.
Baju hijau mereka nampak sangat serasi dengan Gulungan rambut bulat ciri khas mereka, untungnya ia meminta bantuan Zi Mei dalam hal ini.
Saat ia memasuki ruangan itu, bau usang bercampur rempah-rempah obat langsung tercium, ruangan itu gelap tanpa ada pencahayaan matahari sedikit pun yang menerangi dan sangat sempit.
Hingga sudut lorong itu habis, terpampang ruangan yang besar seperti sebuah kamar dengan aroma Wangi Lavender yang sangat tipis dan pencahayaan lampu lampion yang redup.
__ADS_1
Dalam ruangan itu terlihat sebuah kasur yang tertutup kelambu putih, Amira dengan sigap mengambil alih wadah air berisi air penyeka badan itu.
" Maaf kak, boleh kah saya yang mengambil alih tugas ini, hamba adalah dayang yang langsung diperintahkan oleh Kaisar ."
Berkata dengan suara yang sangat imut.
" Ya silahkan, aku akan menyiapkan ramuan obatnya ."
Amira mengangguk dan berjalan menuju kasur di depan nya lalu menyibakkan kelambu putih yang menghalangi jalannya.
Ia benar-benar melihat Wei Zhan di kasur itu, ternyata dugaannya selama ini benar.
Adik iparnya itu telah di kurung disini, Mata tajam itu berubah menjadi tatapan Mayat Hidup yang biasa ia lihat dulu.
" Ada apa dengan kalian, kenapa kalian begitu di benci hingga menderita seperti ini ."
Gadis itu mengusap air mata nya dan mulai menyeka tubuh Wei Zhan, dalam hatinya ia tak hentinya mengucapkan kata maaf padanya.
" Maafkan Aku, Aku hanya satu dan aku hanya bisa menjaga Kakakmu, aku tetap akan berusaha untuk menjaga mu sebisa ku ."
Amira menyeka tangan Pria itu dan mulai menyeka wajahnya, Tiba-tiba Air mata menitik di wajahnya yang tampan.
__ADS_1
Seakan ia merasakan kehadiran nya.
Dayang itu tiba-tiba datang dengan semangkuk kecil ramuan obat.
" Biarkan saya saja kak yang menyuapi pangeran, saya juga sudah selesai menyeka badan Pangeran ."
mengulurkan tangan nya sambil menunduk.
" Ya sudah kamu saja, kebetulan sekali pekerjaan ku jadi ringan, tapi ingat kau jangan seperti XoeYa, meskipun pangeran kita sangat tampan jangan sampai terpesona atau hukuman cambuk bakal menantimu ."
Amira mengangguk dengan pelan, Dayang itu lalu pergi meninggalkan nya dan menyiapkan sebuah Dupa untuk di nyalakan, tercium aroma lavender yang sangat kuat.
Seketika bulu kuduk Gadis cantik itu merinding.
Amira menumpahkan Ramuan obat itu pada tanaman bonsai di samping kasur, lalu menyiram nya dengan air agar aroma nya tak tercium.
Gadis itu membelai wajah Adik ipar nya itu dengan lembut.
" Wei Zhan kakak janji, akan kesini lagi tidurlah dengan baik disini malam ini ."
Amira menyelimuti nya saat ia hendak beranjak, tangan Pria itu menggenggam erat tangan nya, seperti tak ingin membiarkan nya pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
* Puteri Li Xian Ai *