Prince of the Dynasty

Prince of the Dynasty
Chapter 54


__ADS_3

Kedua nya berjalan ke arah timur menuju kamar Putera mahkota.


Wei Zhan terus menghela nafas panjang, sepertinya ia memang memiliki sebuah Firasat buruk tentang tindakan mereka.


Hingga sampai pada sebuah kamar yang tak ada penjagaan sama sekali, Pikiran nya mulai rancu, kamar seorang Pangeran tidak ada penjagaan sama sekali.


Batin Wei Zhan seperti kesal.


Sesampainya di kamar Mo Ran.


Ia melihat lagi tatapan kosong kakak nya yang selalu melekat dalam memori otaknya, ia benar-benar terduduk lagi tanpa ekspresi, hanya keheningan dan diam membisu.


Entah kenapa rasa iba nya muncul lagi, seperti ada rasa sesak di dadanya.


Lalu Ia memandang Amira, Puteri Li Xian Ai yang sangat ia cintai.


Matanya mulai sendu, tangan kanan nya menutupi bibir mungilnya, seakan ia tak percaya akan apa yang ia lihat.


Wanita Cantik itu langsung berjalan ke arah Suaminya dengan wajah yang sudah sembab.


" Ada apa lagi dengan dirimu, kenapa kau seperti ini lagi, Mo Ran lihat aku disini ."


Amira memegangi tangan Mo Ran dan menempelkan ke pipinya yang sudah mulai basah karena air mata.


Pangeran itu masih menatap lurus dengan tatapan kosong, berkali-kali Amira mengatakan menyesal, berkali-kali pula ia memeluk Mo Ran dan mengatakan tidak akan pernah meninggalkan nya lagi.


Semua pernyataan itu terdengar jelas di telinga Wei Zhan, ia hanya melihat pilu sepasang insan yang seperti menyesali perpisahan mereka.


Ia terus menatap mereka tanpa bergeming.


Lalu terdengar suara langkah kaki yang bergemuruh, dan salah seorang melangkah sendiri sesampainya di pintu Kamar Mo Ran.


" Kita berjumpa lagi Pangeran Kedua Beizintang Wei Zhan dan Puteri Li Xian Ai, rasanya sudah sangat lama semenjak kalian menghilang ."


Ucap seorang Wanita ber lipstik Merah padam seraya memegang pundak Wei Zhan lalu melangkah dengan lemah gemulai.


Kedua mata mereka langsung menyorot tajam akan kedatangan nya.

__ADS_1


Amira semakin memegang erat tangan Mo Ran.


" Tenang saja, aku kemari bukan seperti yang kalian pikirkan, tapi kedatangan ku kemari ingin membuat sebuah kesepakatan ."


Wei Zhan terus menatap tajam ke arah Wanita Paruh baya yang nampak masih terlihat muda.


" Kesepakatan apa maksud mu ...?"


Tanya Wei Zhan sangat ketus.


" Pangeran pertama Beizintang Mo Ran meminum lagi Ramuan Tabib Long, tapi atas dasar kesadaran ia sendiri, dan kalian tahu Dosis ramuannya hampir 10x lipat dari biasanya ."


Wei Zhan dan Amira yang mendengar ucapannya seketika langsung naik pitam.


Wei Zhan seperti tidak bisa mengendalikan dirinya, hampir saja ia mendaratkan pukulan ke Wanita Tua itu.


Untungnya ia masih menyimpan kesabaran untuk menghadapi nya.


Wanita paruh baya itu masih tersenyum licik, ia melanjutkan lagi ucapan nya setelah puas melihat kedua ekspresi Wei Zhan dan Amira.


Ucap nya dengan senyum mengembang.


Kedua mata Wei Zhan dan Amira saling berpandangan, Amira memberikan sebuah kode penolakan agar ia tidak menyetujui nya.


Wei Zhan terus memandang Pilu Wanita pujaan nya itu.


" Waktu ku tidak banyak, bagaimana jawaban kalian, ingat dosis ramuan itu hampir 10x lipat, tidak akan bisa cepat pulih meskipun menghentikan obatnya, kecuali meminum penawar nya ."


Wei Zhan terus memandang tajam ke arah Wanita Paruh baya itu.


" Apa yang kau rencanakan kali ini ...?".


Bertanya lagi dengan nada sangat ketus.


" Pangeran Wei Zhan tidak usah terlalu khawatir, saya sadar diri akan batasannya.


Yang kami inginkan hanya kau bersedia menikah dengan Puteri dari Dinasti Ming Selatan, Puteri SunFeifei Ming ".

__ADS_1


" Kalau aku menolak ".


Jawab Wei Zhan tanpa memberi jeda.


" Kakakmu yang tampan itu tak akan mendapatkan penawar nya ."


Imbuhnya dengan senyum licik.


Amira berjalan mendekati Wei Zhan, ia memandang dengan penuh rasa kesedihan lalu berlutut di depannya.


" Wei, Maafkan aku yang tak bisa berbuat banyak, Aku mohon maafkan aku dan ke egoisanku ."


Amira terus menumpahkan air mata.


Wei Zhan menatap pilu Wanita pujaannya dan langsung menarik kedua tangannya, sembari mengusap rambut nya yang hitam nan halus.


" Aku tahu kak, sebagai adik nya sudah sepantasnya aku menolongnya, dia kakak ku satu-satu nya saudara yang aku miliki.


Dan kamu kak Li Xian Ai jaga dirimu baik-baik, Saat Mo Ran sembuh nanti ia akan menjaga mu, Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian ."


Ucap nya Lirih, mata nya terlihat mulai sembab.


" Aku tak akan pernah melupakan semua kebaikanmu Wei, Kau adalah saudara dan sahabat ku yang terbaik ."


Amira mengatakan dengan suara yang mulai parau.


Sejenak keheningan menyelinap di tengah-tengah suasana membawa kesedihan, Firasat Wei Zhan tak pernah meleset.


Bukan ancaman sebuah nyawa melainkan kehilangan sesuatu yang berarti bagi nya.


Harapan yang ia pupuk hingga tumbuh subur, telah layu seketika diterpa badai ancaman.


Ia lebih memilih Pujaan hatinya bahagia meskipun bukan bersama nya.


Dan baginya Mo Ran dan Li Xian Ai lebih berharga dari apapun termasuk dirinya.


__ADS_1


__ADS_2