
Puteri Dinasti Ming Selatan itu mengembangkan senyuman nya.
Ia meminta Wei Zhan untuk menenggak arak yang ia bawa sebagai salah satu syarat mutlak nya.
Demi mengungkap keadilan untuk Li Xian Ai, ia rela melakukan apapun meskipun nyawa taruhannya.
Puteri SunFeiFei itu benar-benar telah mempersiapkan segalanya.
Pandangan Pangeran kedua sedikit nanar, sekujur badannya terasa sangat hangat.
Wanita yang satu-satunya ia cintai seperti dilihat oleh nya, walaupun pandangan nya sedikit kabur.
Kedua lawan jenis itu membaringkan tubuhnya dalam ranjang yang empuk.
Wei Zhan membelai lembut pipi gadis itu, yang dalam pandangan nya adalah Li Xian Ai.
" Aku benar-benar sangat mencintaimu, apapun aku lakukan hanya untukmu ."
" Aku juga mencintaimu pangeran, aku juga demikian padamu, malam ini kita nikmati bersama ."
Senyum mengembang di bibir Wei Zhan, meskipun Wanita itu bukan Li Xian Ai, tapi dalam benaknya, Li Xian Ai lah yang selalu bersamanya.
Bibir keduanya bertemu, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
Satu demi satu pakaian itu mereka tanggalkan.
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Tabib Pao mengulurkan semangkuk obat pada Amira.
Wanita cantik itu meminum dengan sangat tenang, namun dalam Fikiran nya hanya di penuhi oleh Wei Zhan.
Mengingat semalaman ini ia tak pulang.
Amira sedikit merasa khawatir, keadaannya yang masih lemah membuat keterbatasan aktivitas nya.
" Pak Handoko, Wei Zhan kemana ya, kenapa gak pulang ya pak..?"
" Wah bapak gak tau neng, mungkin ada urusan mendadak kali neng ."
Amira terus memandangi Kursi Goyang di sampingnya, biasanya Pria itu selalu duduk dan menemaninya.
Sesekali ia memandang ke arah Pintu kayu yang lapuk dan usang.
Dan benar saja, Seseorang muncul dari pintu yang terbuka lebar-lebar, bahkan beberapa orang.
Belum sempat ia melawan, sebuah bius dari kain nylon mendahului nya.
Pandangan nya seketika kabur dan Gelap.
Kereta usang dengan kuda yang sangat tua membawa nya ke sebuah tempat yang sangat jauh.
Kejadian itu seperti terulang lagi untuk nya.
Belum sampai Amira di pindahkan dalam Kereta kencana yang besar seseorang menggaggalkan aksi itu.
Pria dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah menerobos dalam gerombolan prajurit yang membawa Amira.
__ADS_1
Gerakan tangan nya sangat tangkas tidak lebih dari sepuluh menit para prajurit itu sudah dibereskan oleh nya.
Ia lalu menggendong Amira dan membawanya menaiki Kuda.
Puteri cantik itu masih belum sadar hingga Pria berpakaian serba hitam tadi membawanya ke tempat yang tidak Asing.
Para Dayang istana terkejut melihat Pangeran Pertama membawa seorang wanita dalam gendongannya.
" Ambil kan air penyeka untuknya ."
Salah seorang pelayan mengangguk dan segera mengambilkan.
Paviliun Milik ibunya ia jadikan tempat untuk menampung Amira.
Beizintang Mo Ran tak kuasa memandang Istri nya itu.
Ia membelai lembut pipi wanita cantik itu dan menitikkan air mata.
" Maafkan Aku Li Xian Ai, Maafkan kebodohan ku ."
Pelayan itu meletakkan Air penyeka tadi di samping kasur dan memberi hormat undur diri.
" Jangan bilang siapapun Puteri Li Xian Ai berada disini atau kau akan menyesal ."
Pelayan itu dengan sigap mematuhi perintahnya lalu keluar.
Mo Ran menyeka wajah dan tangan Amira, ia seperti merasa sangat bersalah setiap kali memandangi wajahnya yang masih tak sadarkan diri.
" Istriku, aku sudah mengetahui semua kebenaran nya, aku sungguh sangat menyesal maafkan aku istriku ."
__ADS_1