
Wei Zhan tersenyum tipis, Pangeran kedua itu merasakan sedikit goresan dalam hatinya, seberapa besar pun cinta dan kasih sayang yang ia berikan pada puteri cantik itu, hatinya hanya masih dimiliki seuntuhnya oleh kakak laki-laki nya.
Pria itu masih memandangi nya sampai ia berjalan menjauh dari pandangan nya.
ia hanya tersenyum tipis dan tak bergeming.
Ia akhirnya pulang dan tak memperdulikan lagi perasaan hatinya yang kacau.
Hanya saja ia tak melihat lagi Gadis cantik itu, ke segala arah sisi Pasar kuno itu ia jelajahi, namun tak menemukan nya kecemasan nya semakin memuncak, karena ia memang benar-benar tak menemukan nya.
Pangeran Wei Zhan berlari sangat kencang meninggalkan riuhnya Pasar kuno itu dan segera menuju bilik bambu tempat mereka berdiam, Dalam nafas yang terengah-engah ia membuka pintu kayu itu dengan paksa.
Didapatinya Tabib Pao yang memberikan semangkuk ramuan obat kepada seorang Gadis yang ia khawatirkan.
Mata nya menutup sejenak dalam nafasnya yang masih sesak.
Pangeran itu seketika memeluk gadis itu.
" Aku takut kamu Kenapa-kenapa kak ."
Tabib Pao yang mendengar itu langsung menyeringai.
" Maafkan aku Pangeran, tadi tidak sengaja bertemu puteri Li Xian Ai di pasar saat hendak membeli akar Gingseng, jadi sekalian saja kami pulang bersama ."
Pangeran itu menghela nafas panjang, walau dalam hatinya sedikit kesal.
" Sudahlah, kau istirahat saja Kak, aku akan mencarikan makanan untuk mu ."
Gadis itu mengangguk pelan.
__ADS_1
Wei Zhan dengan lembut menyelimuti tubuhnya lalu beranjak.
" Pak, nanti kita ngobrol lagi, makasih banyak ya pak atas bantuannya ."
Pria tua itu mengangguk dan berjalan keluar.
Wei Zhan langsung mengerutkan alisnya, saat mendengar ucapan aneh dari Puteri itu.
Ia membalikkan badannya.
" Kamu berbicara apa kak Xian Ai, bahasa nya terdengar aneh ."
Amira tersenyum tipis.
" Itu bahasa Indonesia Wei, kamu tidak akan mengerti, aku seperti mengenal Tabib Pao saat pertama kali bertemu dengan beliau, dan ternyata benar dia memang orang yang aku kenal yang bernama Pak Handoko ."
Pangeran itu sekali lagi memasang ekspresi kebingungan.
Pria itu mengangguk dan mengusap rambutnya.
" Baiklah istirahat lah ."
Wei Zhan menutup pintu kamar itu dan berjalan keluar menemui Tabib Pao.
" Guru, kenapa Kak Xian Ai memanggil mu dengan nama yang aneh ."
Pria tua itu tersenyum dan menjawab dengan pelan.
" Apakah kau percaya Reinkarnasi itu ada..?"
__ADS_1
Wei Zhan menatapnya dengan serius dan mengangguk.
Pria tua itu membelai lembut jenggot panjangnya yang beruban.
" Aku pernah bertemu dengannya di dunia yang berbeda, yang disebut Reinkarnasi, terlahir kembali ."
Mata coklat terang itu melotot, dan seperti berfikir.
" Benarkah yang kau katakan Guru ."
Pria tua itu mengkerutkan kedua alisnya sembari berkata.
" Ya seperti itu ."
" Lalu bahasa yang terdengar asing itu, aku tidak faham ."
Tabib Pao Tersenyum tipis Masih sambil membelai Jenggot panjangnya.
" Kau tidak akan mengerti dalam kehidupan ini, tapi dalam kehidupan yang akan datang kau akan mengerti ."
Tabib itu pergi meninggalkan nya tanpa basa-basi.
Wei Zhan lebih tercengang lagi mendengar kalimat terakhir, apakah maksudnya ia juga akan terlahir kembali dan bertemu dengan Puteri itu.
Ia tersenyum seakan terharu, dan tak kuasa menahan kegembiraan nya.
Walaupun seratus atau seribu tahun lamanya lagi kehidupan baru itu akan datang, dalam Jiwanya ia akan terus dan tetap menunggu, sampai saatnya tiba, sampai dimana ia bisa bertemu lagi dengan Puteri Li Xian Ai.
Mungkin di kehidupan yang akan datang, kau akan berjodoh dengan ku, Xian Ai !!!
__ADS_1