
Pangeran Wei Zhan...
Sunfeifei memanggil suaminya yang telah berjalan meninggalkan kamar pengantin mereka.
Suara lemah lembut nya seperti tak terdengar oleh nya bahkan seakan seperti tak menggubris.
Puteri Dinasti ming Selatan itu seketika bermuka masam, wajah cantik itu bermuram durja di hari pernikahan nya mendapati sikap suaminya barusan.
Ia menyibakkan sedikit tirai di ruang tamu, ia melihat Kedua kakak iparnya dan suaminya sedang asyik berbincang.
Ia mengamati dengan seksama paras yang dimiliki Puteri Li Xian Ai, ia memang cantik dengan gaya rambut khas nya yang selalu di tata rapi dengan balutan tusuk konde khas bulu merak.
Cara berpakaian dan gaya berbicara nya pun tak luput dari pandangan Sunfeifei.
Paras nya pun tidak kalah cantik dengan dirinya, Puteri Sunfeifei terus mencari perbandingan dirinya dengan Li Xian Ai.
Sudah menjadi rahasia umum jika Suami nya Pangeran kedua, Wei Zhan memendam rasa padanya dan itupun juga diketahui oleh nya.
Tiba-tiba Li Xian Ai menanyakan nya dirinya pada Suaminya Pangeran kedua Wei Zhan.
Puteri Sunfeifei mendengarkan dengan seksama di balik tirai, tapi jawaban suaminya membuat kesal di hatinya.
" Di mana Istrimu, dari tadi tidak terlihat..?"
Wei Zhan dengan lantang menjawab bahwa dirinya sudah tidur di kamar.
Li Xian Ai tersenyum dan ingin berpamitan.
Namun Wei Zhan terus menghalau nya.
" Kak, santai lah sejenak aku belum mengantuk."
Mo Ran yang melihat Wei Zhan memegang tangan Istrinya lalu segera meraih kembali tangan Li Xian Ai.
" Sebaiknya kita memang harus pulang Xian Ai, kasihan adik kita ia jadi terganggu karena kita terus bertamu di malam pertama nya, ingat kedatangan utama kami ingin memberitahu kalian berdua untuk segera berkunjung di rumah kediaman bertemu Ayah kaisar."
Mo Ran menatap Adiknya dengan tatapan dingin.
" Mo Ran benar, kami pamit sampaikan salam ku pada Istrimu Puteri Sunfeifei Ming."
Wei Zhan yang telah membaca situasi mengangguk dan mengantarkan mereka sampai di pintu penjagaan.
Ia terus menghela nafas panjang memandangi kedua kakaknya itu berjalan lurus hingga mulai tak terlihat lagi.
🍁🍁🍁
Ia masih mengenakan rangkap pakaian pengantin nya berwarna Merah Satin, yang masih menandakan bahwa mereka tidak terganggu dan masih sudi menerima tamu.
Tapi tidak dengan istri nya yang dari tadi menunggu nya di kamar.
Ia enggan menemui siapapun, bahkan sehari sebelum pesta pernikahan di gelar ia sudah mewanti-wanti kedua orang tua nya, dan para kerabat untuk tidak bertamu dulu di malam pengantin nya, dan itu sangat di maklumi keluarga besar nya.
Wei Zhan kembali ke kamar, ia mendapati Istrinya masih terduduk di pinggir kasur pengantin mereka, ia sama hal nya dengan nya masih mengenakan rangkap pakaian pengantin.
" Kau belum tidur..?"
__ADS_1
Ucap Wei Zhan sambil melepaskan rangkapan nya.
Puteri cantik itu hanya membisu, ia sama sekali tak bergeming.
Wei Zhan yang tidak mendengar sepatah katapun dari istri nya langsung menoleh ke arah nya.
Ia Seperti sedikit keheranan.
Lalu dengan sigap Sunfeifei menarik tangan Wei Zhan, Pangeran itu terkejut.
Mereka saling bertatapan, puteri itu menatap dalam mata Wei Zhan.
Jantung nya berdegup sangat kencang, ia merasakan desiran hasrat yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Wei Zhan masih memberikan ekspresi datarnya meski sempat terkejut karena Sunfeifei menariknya.
" Kau tidak tidur Puteri Sunfeifei Ming."
Ucap Wei Zhan seolah ingin mendengar sepatah kata darinya.
" Kau ingin sekali aku cepat tidur, kau bertanya atau menyuruhku."
Jawab Sunfeifei dengan sedikit sinis.
" Istirahatlah, hari ini sangat melelahkan."
Wei Zhan memalingkan Wajahnya.
" Kenapa, kau kecewa menikah denganku."
Wei Zhan memandang lekat-lekat wanita yang baru tadi dinikahinya.
" Kalau benar memangnya kenapa."
Puteri Sunfeifei menoreh senyum sinis.
" Sayangnya, kita sudah terjebak dalam ikatan pernikahan ini, kau maupun aku tidak bisa lari."
Sambil menunjuk-nunjuk dada Wei Zhan dengan tangan nya.
Air mata mulai membasahi paras cantiknya.
" Kau kecewa karena yang kau nikahi bukan Puteri Li Xian Ai melainkan Aku bukan."
" Kau kecewa karena Wanita pujaan mu itu bukan milikmu melainkan milik kakak mu sendiri bukan."
Berkata dengan sedikit sesak di dadanya.
" Kau benar-benar kejam, untuk apa kau setuju menikahi ku jika hanya sebagai pajangan di kamar."
Kedua mata mereka bertemu dengan tatapan dingin.
Air mata kini menggenang di pipi Puteri cantik itu.
Ia melepaskan semua rangkap pakaian nya satu persatu, yang terlihat hanya gaun malam tipis berwarna selaras yang menutupi sedikit lekuk tubuhnya.
__ADS_1
" Lihat aku, apa kurang nya aku dibanding Puteri Li Xian Ai, kenapa bisa kau tergila-gila padanya."
"Apa kurang nya Aku!!!!"
Sunfeifei berteriak dengan keras, air matanya mulai mengalir dengan deras.
Wei Zhan terus menatap nya tanpa bergeming.
Puteri cantik itu seperti tak bisa mengendalikan dirinya, ia mengambil belati kecil di atas sajian buah.
Mengarahkan ke lehernya.
" Ceraikan aku malam ini, atau lebih baik aku mati, karena aku bisa gila."
Paras cantik nya menjadi menyedihkan dengan rambut yang mulai acak-acakan dan raut kesedihan nya.
Wei Zhan langsung terkejut saat Istrinya meraih pisau belati dan hendak bunuh diri.
" Feifei, aku mohon jangan lakukan itu, aku minta maaf aku memang salah, kumohon letakkan pisau itu."
Wei Zhan berusaha merebut pisau ditangan nya.
" Jangan mendekat, Ceraikan aku malam ini, kau bisa pergi tanpa terikat dengan ku, kau bisa bebas mengejar Kakak ipar mu itu lagi."
Darah sedikit mengalir di lehernya, pisau itu sedikit menggores di lehernya.
Ia terus menangis seolah tak merasakan.
Wei Zhan yang melihat nya langsung mengambil pisau itu, pemberontakan terus dilakukan istri nya.
Sampai akhirnya ia juga tergores pisau itu tepat di dada kiri nya, hanya saja sedikit dalam.
Sunfeifei yang melihat darah juga mengalir di dada suaminya langsung melepaskan pisau belati itu dan membekap bibirnya seakan tidak percaya, bahwa ia malah melukai orang yang dicintainya.
Wei Zhan menutup luka yang cukup dalam itu dengan tangan nya, ia berusaha berjalan ke arah Sunfeifei.
Memegang pipi Istrinya, darah segar membekas di pipi gadis cantik itu.
" Maafkan aku Feifei semua memang salah ku, aku mohon jangan lakukan tindakan berbahaya itu lagi."
Sunfeifei masih terpaku memandang Wei Zhan yang mulai berkeringat dingin, baju putih itu ternoda dengan begitu banyak darah yang mengalir.
Wei Zhan memeluknya dan terus berucap " Jangan melukai dirimu lagi."
Air mata terus mengalir di pipinya, Puteri itu seakan bingung dan panik harus berbuat apa.
" Aku tidak apa-apa, yang penting kamu tidak melukai dirimu, lihat lehermu tergores pisau tajam itu.
Wei Zhan mengusap darah di leher istrinya.
Ia sama sekali tak memperdulikan darah yang terus mengalir di dada nya, ia terus berkeringat dingin dan mulai merasakan nyeri di dadanya.
Ia terus memandang mata Sunfeifei.
" Maafkan aku, Jangan melukai dirimu lagi hanya demi aku."
__ADS_1