
Dalam ruang dimensi dan waktu, ia benar-benar telah sedikit melupakan hari-harinya yang membosankan dan menukar dengan kehidupan lain yang lebih pelik.
" Pak Handoko ."
Gadis itu mengucapkan dengan nada terkejut.
Pria tua itu menatapnya dengan senyuman dan tak menggubris perkataan nya.
Amira tersenyum tipis, ah mungkin itu hanya perasaan nya saja.
Mungkin orang itu hanya kebetulan mirip saja dengan beliau, ucapnya dalam hati.
" Puteri Li Xian Ai Saya tabib Pao, saya sudah cukup lama mengenal Pangeran Beizitang Wei Zhan, beliau sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi anda dapat mempercayai hamba, Mohon diminum ramuan obat akar Gingseng ini, hamba yakin anda akan sembuh dalam beberapa hari ke depan ."
Mengulurkan semangkuk kecil berisi ramuan obat, Amira membangunkan badan tua itu yang memberi hormat padanya.
" Tabib Pao tak perlu sungkan dengan saya, anggap saja saya seperti Wei Zhan, Saya akan dengan senang hati meminum nya ".
Lalu terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa seperti habis berlarian.
" Ahhh ".
Suara nya yang terdengar terengah-engah.
Kedua orang itu langsung menoleh ke arah datangnya suara itu.
Amira meraih semangkuk kecil obat itu dan meminumnya dengan anggun.
" Darimana saja kau ?".
Pria itu meminum air dari kendi dengan tergesa-gesa, keringat mengucur di seluruh wajahnya.
" Kak Xian Ai lihat apa yang kubawa, ini adalah Kue Mangkuk, Kue basah dan Kue Mantou ."
__ADS_1
Mengulurkan semua belanjaan itu pada Puteri cantik itu.
Amira terkesima melihat senyumannya yang mengembang walau bercucuran keringat.
" Wei, aku kira kau marah padaku ."
Pria itu seketika menaikan sebelah alis nya.
" Apa, aku marah padamu, bagaimana bisa aku marah pada puteri secantik dirimu ."
Laki-laki itu mengusap rambut gadis di depannya yang masih terlihat pucat.
" Habiskan obatnya, apapun yang kamu ingin kan akan aku belikan, aku juga membelikan mu buah Pisang, buah Apel dan ."
Sebelum pria itu mengucapkan perkataan nya lagi, Gadis itu langsung memeluknya dengan erat.
" Terimakasih Wei, terimakasih atas semua perhatian dan kebaikan mu ."
Pria itu tersenyum dalam pelukannya.
Amira menutup bibirnya, memandang nya dengan sayu.
Pangeran itu terdiam dalam suasana itu, Gadis itu seperti tidak nyaman dengan perkataan nya yang terakhir, Seperti menyayat hati nya juga dirinya sendiri.
Tabib Pao masih saja menumbuk ramuan di atas meja, ia sama sekali tak menggubris kedua insan yang saling menggalaun kan hati mereka yang sama sekali tak ia mengerti.
Yang ia tahu hanya Kisah cinta biasa sepasang anak muda.
" Guru, bagaimana keadaan Kakakku...?apakah dia sudah lebih baik ."
Pria tua itu menghela nafas.
" Luka di sekujur tubuhnya perlu di antisipasi karena akan membengkak sewaktu-waktu, aku ada ramuan untuk mengoleskan di badan nya, kalau luka dalam nya pasti akan berangsur pulih dari ramuan obat yang ia minum ."
__ADS_1
Tabib itu mengulurkan sejenis ramuan dari akar-akar herbal yang ditumbuk.
" ini perlu di oleskan pada lukanya, setiap hari akan aku buatkan dari bahan yang masih segar ."
Lalu ia segera keluar dan menutup pintu meninggalkan mereka berdua, seperti mengerti situasi.
Pangeran itu kebingungan pada obat yang ada ditangannya, menyeringai seperti biasanya.
" Kak, ini oleskan di tubuh mu, aku akan keluar sebentar ."
Sebelum pria itu beranjak, Amira menarik tangan nya.
" Wei, Jangan pergi lagi aku tidak bisa mengoleskan nya, badan ku masih terasa sangat lemas ."
Pria itu menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya.
" Kak, kau ingin menggoda ku, dengan melihat sekujur tubuhmu ."
Amira menghela nafas panjang.
" Untuk apa aku menggoda mu, aku juga sudah melihat dirimu telanjang bulat waktu itu ."
Pria itu berekspresi sangat malu, mukanya memerah lagi.
" Kak, kau tidak menggodaku, tapi kau membuatku tergoda ."
" Sudah bantu aku mengoleskan, kita sama-sama berhutang budi ."
Amira menjawab dengan galak.
Gadis itu membalikkan badan nya dan melepas baju nya, luka akibat cambukan itu memang membekas merah lebam.
Pria itu memandang nya dengan perasaan iba bercampur hasrat, berkali-kali menelan ludah.
__ADS_1
Sebagai laki-laki normal yang memandang Wanita yang dicintainya.