Prince of the Dynasty

Prince of the Dynasty
Chapter 32


__ADS_3

Saat perjuangan nya berlari, ia tak perlu menggunakan gaya Estafet untuk berlari


Semua itu belum terlambat untuk mencapai Garis Finish.


Mencapai sebuah harapannya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Amira masih terngiang akan kejadian tempo hari, yang membuat bulu kuduk nya dapat merinding.


ia hanya tak habis fikir Wanita itu adalah dalang dibalik semuanya.


Ia sedang duduk dalam taman lalu memandang suaminya yang sedang duduk manis di atas kursi taman paviliun, pria itu sedang menatap pohon Cemara yang terlihat rimbun.


Tatapan wajah itu begitu menawan, mata itu berwarna coklat terang, dengan bulu mata yang indah, Amira sekali lagi masih saja terpana.


Gadis cantik itu menghela nafas lalu menghampiri pangeran tampan itu.


" Mo Ran, apa kah kau lapar ...?"


Pria itu langsung mengalihkan perhatiannya kemudian menatap mata Amira.


" Aku belum lapar, aku hanya ingin menikmati suasana indah di sore hari ini.


Amira menatap nya lagi, lalu pandangan pria itu mengarah pada pohon cemara itu lagi, dengan melanjutkan perkataannya.


" Ini mengingat kan ku pada Wei Zhan dan ibu, Saat sore hari kita selalu minum teh hangat disini, aku benar merindukan saat-saat itu ."

__ADS_1


Mendengar perkataannya gadis itu langsung menunduk dan terdiam.


Sesaat dalam fikiran Amira, dia sekarang adalah Puteri Li Xian Ai yang dulu terkenal kejam dan bengis, apakah dengan perubahan sifatnya membuat jalan takdir berubah.


Apakah ini keinginan nya, yang secara tidak langsung juga merubah jalan takdir orang lain.


Saat menjelang Senja yang merubah langit nampak sangat Jingga.


Ia melakukan penyamaran nya lagi seperti biasa sebagai pelayan untuk melindungi Wei Zhan,


ia sudah melakukan penyamaran ini hampir sepekan.


Meskipun sebenarnya ia tidak bisa membantu banyak.


Ramuan obat itu selalu saja sudah tersedia,


Gadis itu menggeleng kesal, ia selalu bisa membuang nya dengan cara apapun agar Wei Zhan tak meminumnya.


Ia teringat bahwa tabib istana yang bernama LongSheng yang menjadi tabib Mo Ra saat itu, apakah Wei Zhan juga ditangani tabib yang sama.


Gadis itu berfikir sambil menyeka badan adik iparnya itu.


Sesaat mata itu seperti memandang wajahnya.


Amira mengkerutkan alisnya lalu menatap dalam-dalam mata itu, benar saja mata itu berkedip sesekali menatap fokus wajah Amira.


Amira melambaikan tangan ke pria yang terbaring itu.

__ADS_1


" Wei, apa kau sudah sadar ...?"


Amira berbisik kepadanya.


Hanya saja itu hanya halusinasi nya, Pria itu tak benar-benar sadar.


Amira seperti memandang lesu padanya dan menyeka badan nya lagi.


Sesaat kemudian tangan pria itu menggenggam erat lengan nya dan menarik tubuh nya di atas badan nya yang masih setengah telanjang itu.


Pria itu tanpa permisi mencium bibir Amira dengan sekali nafas panjang.


Gadis cantik itu langsung menghentakkan badan nya karena terkejut.


Saat ia berhasil melepaskan badan nya, pria itu lagi-lagi tak berekspresi seperti biasanya.


Amira memegang bibir nya yang masih shock.


" Wei, aku tahu kamu sudah sadar, jangan sekali-kali membohongi ku atau aku takkan datang kesini lagi ".


dalam beberapa menit pria itu masih tak menunjukkan tanda-tanda akan kesadarannya, Amira langsung beranjak meninggalkan nya.


Namun belum sempat itu terjadi, pria itu menarik tangan nya.


Gadis itu menoleh dan membalikkan badan nya, Pria itu menatapnya dengan tatapan yang hidup dan memandang nya dengan sendu.


Amira menghampiri dan memeluknya dengan erat, Ia menitikkan air mata dengan bibir yang sudah tak bisa tertahan, gadis itu menangis.

__ADS_1


" Akhirnya kau sadar, Aku sungguh merasa kehilanganmu Wei.



__ADS_2