
Kaisar Jiang Tang menggeleng pelan.
" Sudahlah Nak, yang berlalu biarlah berlalu, puteri Li Xian Ai juga akhirnya datang meminta maaf dan bersedia menikah denganmu ."
Pria tua itu memegang pundak anak nya yang berekspresi kaku itu.
" Ayah telah di bohongi oleh dia, sebenarnya dia hanya berpura-pura mengaku menjadi istriku, aku rasa ini juga bagian dari rencananya ."
Ayahnya yang mendengar ucapan itu langsung memicingkan kedua alisnya.
" Dia istrimu, istri sah mu baru dua bulan yang lalu ayah merayakan pesta pernikahan kalian secara besar-besaran, Nak dia sangat mencintaimu, Selama ini ayah terus memantau aktivitas kalian setiap hari, hanya dia yang dengan sabar merawat mu, menyuapi mu makan bahkan dia memandikan mu dan tidak mengizinkan siapapun menyentuh mu ."
Pangeran itu hanya terdiam tak bergeming, perkataan demi perkataan Ayahnya ia cerna baik-baik, memang ia tidak memungkiri semua perlakuan baik Puteri Li Xian Ai padanya.
Hanya saja dalam hati nya seperti tidak rela, tidak rela ia bersama yang lain.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Di balik Bilik bambu, seorang puteri cantik masih terdiam dalam kasurnya yang dalam tiga hari ini belum ia tinggalkan.
Luka memar itu masih ketara, tapi sudah berangsur pulih.
Pria yang selalu di dekatnya itu hanyalah adik iparnya, bukan orang yang mendiami isi hatinya, tapi kebaikannya melebihi seseorang yang ia cintai itu.
Dalam hari panjangnya, ia sangat merindukan pria itu, namun kebencian nampaknya menutup semua keyakinan nya.
__ADS_1
Puteri Cantik itu merasa Cinta yang ia yakini hanya bertepuk sebelah tangan.
Ia tersenyum sengit dalam air mata yang mulai menitik perlahan-lahan.
" Kak Xian Ai, Apa kau merasakan sakit, sebelah mana yang terasa sakit ...?"
Pria itu langsung bangun dari kursi nya bersender dan mengusap air mata Gadis itu.
Amira menatap mata coklat itu dan meraih tangan nya.
Gadis itu menunduk sembari mengarahkan pada Dadanya.
" Sangat Sakit ."
Pangeran Wei Zhan langsung memeluknya,
" Kak setelah kau sembuh, kita akan mencari kebenaran untuk mu, aku janji akan membawa mu Pada Mo Ran, dia berhutang banyak padamu bahkan nyawa nya pun tak cukup membalas semua kebaikan mu ."
Setelah hari-hari berlalu, Amira mulai beranjak meski hanya keluar dari bilik bambu itu, sekedar menghirup udara pagi.
Wei Zhan terkesan Pria yang sangat overprotektif, selalu berada di sampingnya dan tak membiarkan sedikitpun ia dalam kesulitan.
Hingga dimana rasa penat menumpuk di kepalanya.
" Wei, Ayo jalan-jalan aku sangat bosan selama sepekan hanya berkutat di tempat ini ."
__ADS_1
Pangeran muda itu menaikkan satu alisnya.
Memegang tangan Amira dan berkata untuk mengganti baju yang lebih hangat, dengan senang hati ia akan menemani dan mengawal nya.
Mereka berjalan dengan suka cita dalam riuh nya pasar kuno itu.
Menghilangkan kesan kasta mereka yang nampak glamour dengan pakaian tradisional yang sederhana, berbaur dengan masyarakat sekelilingnya.
Gadis itu terlihat lebih riang dari tempo hari, ia sudah berani memakan siomay pedas yang di sodorkan Wei Zhan padanya.
Sementara itu mereka melupakan sejenak masalah pelik yang di rasakan.
Pasar kuno itu mampu mengobati sedikit kegundahan hatinya, Hingga Wei Zhan menancapkan Tuspin berbentuk bunga mawar di gulungan rambutnya.
" Kau makin terlihat sangat cantik kak Xian Ai ."
Tatapan mata keduanya bertemu dalam riuh nya keramaian, tersirat sedikit kehangatan di hati Gadis itu, tapi lagi-lagi tak ada celah ruangan di hatinya untuk Pria ini singgahi.
Amira mengalihkan pandangannya dan berjalan ke arah lain meninggalkan pria itu yang masih dalam tempatnya.
Perasaan nya bercampur aduk, disisi lain ia bisa menerima kehangatan pria itu yang seperti mentari pagi yang menyinari nya, namun di sisi lain.
Seluruh hatinya hanya terisi oleh satu nama yaitu Beizitang Mo Ran.
__ADS_1