
Berkali-kali Wei Zhan memanggil nya.
Baru lah Amira tersadar dari lamunannya, ia masih memandangi wajah Wei Zhan yang seperti biasa selalu tenang.
" Iya Maaf, aku kurang fokus ."
Tutur Amira menyeringai.
Wei Zhan memandang nya dengan tatapan hangat sembari melempar senyum tipis.
" Kak, Aku tidak menjamin rencana kita akan berjalan lancar, kemungkinannya bahkan 50:50.
Kau mau ambil resiko ini, aku pasti akan selalu melindungi mu sekuat tenagaku ."
Ucap Wei Zhan terus meneguhkan Amira, tatapan matanya penuh keyakinan walaupun ia menyembunyikan pilu di hatinya.
" Mari kita beraksi sekarang ."
Ucap Amira, Wei Zhan mengangguk menerima perintah itu.
Kedua nya berjalan ke arah utara menuju Kamar Putera Mahkota, yang banyak sekali terdapat para pengawal dan pelayan yang berlalu-lalang.
Benar saja, salah seorang Pengawal menghentikan langkah mereka.
" Mau kemana kalian ."
Cegah salah seorang pengawal.
" Maaf Tuan, kami adalah pengawal baru yang khusus di perintahkan Kaisar untuk menjaga Kamar Putera Mahkota ."
Pengawal itu mengkerut seperti berfikir sejenak.
Amira dan Wei Zhan terlihat menelan ludah, tapi keduanya tetap memberikan sikap Tenang.
__ADS_1
" Oh iya, aku hampir lupa sekarang harus ada penjagaan untuk Pangeran Pertama lagi, Silahkan ."
Memberikan jalan kepada keduanya.
Amira dan Wei Zhan mengangguk kan kepala mereka dan berjalan lagi, kedua nya saling bertatapan dan menghembuskan nafas lega.
Bahkan Amira berkali-kali menghela nafas,
Kedua nya terus berjalan dengan lantang sampai menuju Utara Istana Kediaman Tang.
Sampai mata Wei Zhan menangkap segerombol para pelayan yang mengikuti Seseorang, ya tak lain dan tak bukan ia adalah Permaisuri, Istri Ayahnya, serta ibu suri tiri nya.
Wei Zhan menghentikan langkah kakinya dan langsung menahan langkah Amira, Mereka menyelinap di balik pohon yang sangat rimbun mengamati situasi yang terjadi.
Mata Wei Zhan sangat tajam seperti Elang,
tingkat kewaspadaan nya sangat tinggi, ia bukan seperti seorang pangeran pada umumnya, Ia bahkan terlatih seperti seorang prajurit perang yang sangat profesional.
Tatap kedua mata Wei Zhan dengan penuh rasa Welas.
Amira yang mendengar itu langsung terkejut, ia mengkerutkan kedua alisnya.
" Apa maksudnya Wei, kenapa ditengah jalan kita harus berhenti ."
Apa yang membuat keraguan mu.
Amira menatap balik kedua mata Wei Zhan dengan penuh tanda tanya.
" Aku rasa Mo Ran baik-baik saja, mereka hanya ingin memancing kita agar kemari dan entah apa rencana mereka selanjutnya ."
Ucap Wei Zhan yang seperti tidak yakin.
Amira seperti merasa kesal, ia memandang liar ke segala arah, seperti rasa tidak percaya.
__ADS_1
Wei Zhan terus mengingat tingkah pengawal yang menghentikan mereka, Sikap kewaspadaan nya begitu kurang.
Pria itu terus mencerna semuanya, tapi yang ia yakini ini semua adalah jebakan agar ia dan Amira kembali lagi ke istana.
Wei Zhan lalu menatap wajah Amira yang dari tadi begitu antusias menjadi kendor karena ucapannya.
" Kak, bagaimana kau ingin melanjutkan atau tidak, masih ada jalan untuk kita kembali dan mengatur rencana lagi ."
Ucap Wei Zhan dengan memegangi kedua pundak Amira meyakinkan.
" Tidak Wei, aku sudah terlanjur kemari, aku akan tetap melanjutkan nya, maafkan aku.
Silahkan kau pulang, jika kau rasa ini sangat berbahaya ."
Timpal ketus Amira.
Wei Zhan langsung memegang tangan Amira, ia seakan seperti tidak merelakan nya.
" Baik kak, aku akan terus bersamamu, tapi ingat jangan mengambil tindakan gegabah ."
Amira mengangguk pelan.
Kedua nya melangkah lagi setelah dirasa situasi telah aman.
Mereka menyelinap dengan sangat hati-hati ke ruangan Mo Ran.
Tidak ada sama sekali penjaga, kecurigaan Wei Zhan semakin Kacau.
Tapi ia memandang Amira yang begitu berharap, seakan ia tidak ingin mematahkan harapannya begitu saja.
Lagi-lagi ia kalah telak demi sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1