Project Called Zero

Project Called Zero
Perjalanan Panjang


__ADS_3

Perbincangan antara Direktur Dan dan Jenderal Kante semakin serius. Beberapa kali perdebatan seru diantara keduanya. Terkadang beberapa saat hening, mereka berdua terdiam seolah saling membenarkan perkataan satu sama lain.


" Sampai kapan ini kaan berakhir Kante? " tanya Direktur Han memecah keheningan.


" Huufh aku rasa tak akan ada akhirnya keadaan seperti ini, selama Re-Gen seperti kita ada di muka bumi. Dan, kau ingat Big War? Pertempuran kita dengan para Cyborg dari Dinasty Antares? Bukankah alasan mereka membuat Cyborg untuk menghabisi orang orang seperti kita? karena mereka kuatir kalau orang seperti kita makin banyak maka orang orang biasa yang tanpa kemampuan hanya akan dijadikan budak." kata Kante.


" Dulu, kurasa sudah berlalu 40 tahun yang lalu setelah pertempuran itu. Dulu mungkin kita seusia Grey waktu maju di medan perang." kata Direktur Dan sembari tersenyum tipis.


" Betul, dan setelah kembali dengan kemenangan, apa yang dikatakan kepada kita? Pewaris Sang Legenda bukan? " kata Kante


Direktur Dan mengangguk.


" Padahal kita tahu, siapa yang berhasil masuk kedalam benteng Aurora dan meruntuhkan nya sehingga para Cyborg itu tidak lagi berfungsi? " kata Kante.


" Apollo." desis Direktur Dan.


" That's right. Pada saat itu kita semua tak berdaya di depan benteng Aurora, garis pertahanan terakhir Dinasty Antares. Kita ternyata tidak tahu bahwa benteng itu mengadopsi teknologi Absorbsion yang membuat para Re-Gen yang mendekati nya akan lemah karena kehilangan tenaganya. Dan hanya Apollo yang bisa." kata Kante.


***


OLDLAND, Tahun 2912 M


BLLAARRR!


JDAARRRR!


Suara dentuman dan teriakan menyayat hati menggema. Bau anyir darah ada dimana mana. Puluhan bahkan ratusan nyawa para Re-Gen hilang dalam pertempuran melawan Cyborg, tehnologi yang dikembangkan oleh Dinasty Antares, penguasa Oldland. Cyborg dibuat untuk membasmi para Re-Gen karena dianggap berbahaya bagi kehidupan manusia.


Raja Dinasty Antares, Azkario memutuskan untuk berperang dengan para Re-Gen guna menjaga kekuasaannya.


Pertempuran besar tak bisa dihindari. Para warrior Re-Gen melakukan perlawanan pada pasukan robot ber intelejensi tinggi itu. Mati konyol atau melawan. Itulah pilihan para Re-Gen saat itu.


Terlihat enam orang pemuda dengan kemampuan yang sangat tinggi meluluh lantakkan setiap Cyborg yang ada di depan mereka.


Mereka adalah Dan, Kante, Apollo, Zorda, Zulmar dan satu satunya Re-Gen warrior perempuan, Lei. Kekuatan dan skill mereka begitu hebat, terjangan terjangan dari mereka membuat para Cyborg itu sekejab menjadi barang rongsokan. Namun jumlah Cyborg itu begitu banyak seolah tak ada habisnya.


" Kawan kawan, jika seperti ini terus kita tak akan menang. Tenaga kita akan habis." kata Kante kepada para rekannya.


" Lalu apa yang harus kita lakukan? " tanya Zorda.


" Lihat tower itu?" kata Dan sambil menunjuk dua tower yang memancarkan gelombang elektromagnetik yang begitu besar. " Aku dari tadi berfikir apakah sumber energy Para Cyborg ini dari tower itu? " katanya lagi.

__ADS_1


" Perlu kita coba." Lei menimpali " Bagaimana menurut mu Apollo? "


" Ayo menuju ke sana, kita coba." kata Apollo sambil melesat diikuti para temannya.


Mendekat I benteng Aurora pasukan Cyborg makin banyak dan makin besar kekuatannya. Keenam pemuda tadi bertarung habis habisan membongkar pertahanan Cyborg itu.


MAGNETIC WAVE!


Zulmar mengeluarkan jurus andalannya. Tampak gelombang energi menyusur tanah dengan kencangnya. Cyborg yang terhantam oleh serangan menjadi terpental dan meledak seketika.


" Akan aku buka jalan, kalian merangsek maju ke gerbang benteng." kata Zorda.


Zorda mengangkat tangan kanannya lalu cahaya kebiruan muncul di siku hingga telapak tangannya.


OPTIMAL STAR LIGHT


Tampak cahaya membentuk garis tipis dan tajam berkelebat ketika Zorda mengayunkan tangannya. Cyborg Cyborg yang berada didepannya terbelah menjadi dua begitu cahaya itu menembus mereka.


" Maju lah cepat!" teriak Zorda.


Apollo dan lainnya segera melesat maju menembus para Cyborg yang sudah berubah menjadi besi rongsokan. Lei terbang menggunakan levitasi nya kemudian di udara dia memutar tubuhnya seperti gasing, pusaran yang dibuat Lei berubah menjadi angin beliung yang membuat para Cyborg yang berusaha menyerang mereka menjadi kocar kacir beterbangan.


Kesempatan itu digunakan oleh Dan, Kante, Apollo dan Zulmar untuk terus menuju gerbang benteng Antares. Tak berselang lama mereka tiba di depan gerbang Antares. Suasana berbeda dengan medan pertempuran, gerbang itu terasa sunyi. Bahkan pekak nya suara bising pertempuran tidak terdengar disitu.


Mereka berempat berjalan sambil melihat situasi.


" Waspada, aku merasakan keanehan disini." kata Dan kepada rekan rekannya.


Mereka saling berpandangan seolah bingung dengan apa yang akan mereka lakukan.


" Kita harus meruntuhkan dua tower itu. " ucap Kante sambil. menunjuk tower suar didepan mereka.


" Kita gunakan levitasi untuk melompat keatas tembok ini." kata Zulmar.


NGGGIIINGGGGGGG!


Tiba tiba terdengar suara nyaring yang sangat keras memekakkan telinga mereka.


"Aaaakkkkhhhhhhh"


Mereka menjerit kesakitan. Tubuh mereka seperti terbanting ketanah, bergelimpangan menahan sakit akibat suara yang ditimbulkan entah oleh alat apa. Darah mulai menetes di telinga mereka.

__ADS_1


" Tubuhku terasaaa lemaahh, kekuatan ku menghilang." desis Dan yang berusaha menahan sakit.


" Kawan kawan.... aaakhhhhhh!! " Lei dan Zorda yang berhasil menyusul. mereka pun merasakan hal yang sama.


Keenam pemuda Re-Gen yang hebat itu seakan tak berdaya menghadapi dengungan suara aneh yang menyerap energi mereka.


" Aku tak kuat... laaa.. gii." Zulmar pun pingsan. Telinga dan hidungnya berdarah hebat.


Mereka benar benar seperti tersedot dalam kekuatan yang besar yang tidak mereka sadari.


Dan, Kante serta Apollo berusaha menahan sakitnya dan mencoba bangkit. Kaki mereka benar benar bergetar hebat.


" Tttiiingggaaalll,, se.. lang.. kah lagi."kata Dan sambil berusaha untuk menggunakan Levitasi mencapai tower itu. Namun usahanya sia sia, tubuhnya terjatuh ke tanah lagi.


Kante dan Apollo sudah terkapar tak sadarkan diri. Rasa putus asa akan sebuah kekalahan dan kehancuran Re-Gen mulai nampak dimata Dan.


" Apakah hanya sampai disini? " kata Dan lalu terkulai.


Ziiiinggg!


Secercah cahaya putih berputar mengelilingi mereka. Lalu memudar, butiran butiran energi seperti kunang kunang menempel pada tubuh mereka. Seolah memberikan mereka energi murni, nampak mereka mulai bisa menggerakkan organ tubuhnya.


" Bangun lah Apollo, buka matamu. " ada bisikan suara halus ditelinga Apollo.


" Aku sudah lelah, biarkan aku mati disini." kata batin Apollo menjawab suara misterius yang berbisik kepadanya.


" Bangun lah anakku, bangun. Hancurkan tower itu, hanya kamu yang bisa." kata bisikan itu lagi.


" Aku sudah menunggumu lama anakku, bangkitlah."


" Aku sudah lelah, siapakah dirimu." kata Apollo.


" Ibumu. " suara tadi menyahut.


Apollo lantas membelalakkan matanya.


" Ibuku? " tanya nya. "Tak mungkin, ayah mengatakan kalau ibuku sudah mati." kata Apollo memberontak.


" Aku adalah ibumu anak ku. Orang yang membesarkan mu bukanlah ayah biologis mu. " bisik nya lagi.


Apollo tersentak, kalau bisikan ini benar bahwa ayahnya yang mengasuhnya dari kecil ternyata buka ayah kandungnya, sungguh mulia orang itu. Karena dia memberikan kasih sayang dan perhatian sepeti anaknya sendiri.

__ADS_1


" Aku tak percaya, lalu kalau itu benar., siapakah ayah kandungku? " kata Apollo


" Sang Legenda"


__ADS_2