Project Called Zero

Project Called Zero
Misteri Dunia Lama


__ADS_3

Escalop berada rapat di depan pintu rumah dr Asyura. Hati nya tampak ragu untuk mengetuk pintu itu. Apakah ramuan itu nanti akan berhasil menyembuhkan nya? Atau bagaiman jika ramuan itu malah membuatnya mati?


Pikiran Escalop jadi tak menentu. Namun keinginan untuk sembuh dan berkelana melihat dunia baru mengalahkan kerisauan hati nya. Di mantap kan keyakinannya dan akhirnya dia pun mengetuk pintu dr Asyura.


Tok!Tok!Tok!


Pintu pun diketuknya. Tak ada jawaban dari dalam untuk beberapa saat. Escalop kembali merasakan kegamangan. Dia berbalik badan dan berniat untuk kembali ke rumah. Namun tiba tiba pintu itu pun terbuka. Tampak menyembul dari dalam seorang laki laki paruh baya dengan kacamata di taruh di atas dahinya.


" Masuk lah Escalop." perintah orang itu.


Escalop hanya mengangguk lalu mengikuti orang itu masuk ke dalam rumahnya.


" Duduklah dulu, santai ga perlu tegang begitu." kata orang itu.


" Saya tak tegang dokter Asyura." kilah Escalop kepada orang didepannya yang ternyata itu adalah sosok dokter Asyura.


Dokter Asyura pun duduk di depan Escalop. Escalop nampak canggung dengan keadaan ini. Padahal dokter Asyura lah yang selama ini merawat lukanya. Tapi baru kali ini dia merasa gelisah ketika di depan dokter Asyura.


" Kamu ragu?" kata dokter Asyura langsung.


Escalop terdiam. Dia menghela nafas panjang.


" Kaki ku sudah cacat, jalan ku pincang, dan anda bilang ini adalah cacat permanen yang tak bisa lagi disembuhkan." kata Escalop.


Dokter Asyura tersenyum tipis.


" Benar Escalop, yang kau katakan itu betul adanya. Tapi itu analisis dua tahun yang lalu. Aku meneliti sebuah formula kuno. Penelitian ku ini bukan hanya setahun dua tahun ku lakukan. Tapi ini sejak Tuan Erdago masih menjadi pemimpin." jelas dokter Asyura.


" Sejak Tuan Erdago? Kenapa baru sekarang ingin kau uji cobakan dokter?" tanya Escalop.


Dokter Asyura tertawa terkekeh.

__ADS_1


" Anak bodoh, kau pikir penelitian itu seperti mimpi? Bisa dibikin dalam sekejap. Ya ngga lah, ratusan kali eksperimen ku mengalami kegagalan." kata dokter Asyura.


" Formula apa itu dokter?" tanya Escalop makin penasaran.


" Aku menyebutnya ramuan Penyangkal Takdir." kata dokter Asyura sambil tersenyum lebar.


" Penyangkal Takdir? Maksudnya?" tanya Escalop lagi.


Lalu dokter Asyura menyalakan monitornya. Dan disitu ada video tentang penelitian nya. Tampak pada penelitian itu dokter Asyura beserta beberapa murid nya akan memotong salah satu sayap burung.


Dan sedetik kemudian, sayap itupun dipotong. Putus. Darah menetes di meja operasi. Burung itu menggelepar kesakitan. Lalu murid dokter Asyura meneteskan cairan di paruh burung itu dan mengolesnya di sayap yang terpotong.


Sedangkan murid dokter Asyura yang satunya lagi menyiapkan semacam pistol yang besar. Dokter Asyura kemudian memberikan kode kepada muridnya yang memegang pistol besar. Tanda untuk menembak.


Kemudian cahaya terang keluar dari pistol itu seperti sinar laser. Kilatan kilatan cahaya berpercikkan di seluruh ruangan. Burung itu pun menggelepar dengan keras. Kasihan. Tak sampai lima menit sinar pistol itu pun berhenti. Tampak dokter Asyura mengamati sayap burung itu dengan teliti.


Burung itu terdiam, namun beberapa saat kemudian perlahan lahan burung itu menggelepar lagi. Dan tampak lah sedikit demi sedikit sayap yang terpotong itu mulai tumbuh lagi.


" Dok, bagaimana bisa begitu." tanya Escalop setengah tak percaya dengan pemandangan di depannya.


" Itu adalah formula Ultra Regenerasi. Bukan sel saja yang bisa direhabilitasi, tapi tulang pun bisa." kata dokter Asyura sambil mematikan video.


" Berhasil ya dok." kata Escalop.


" Untuk ujicoba di binatang, bisa dibilang berhasil. Untuk manusia belum kita ujicoba kan " kata dokter Asyura.


Escalop diam. Dia takjub dengan tehnologi kedokteran yang dikembangkan oleh dokter Asyura itu. Harapannya muncul. Tapi juga sekaligus rasa takut juga menggayut jika operasi itu gagal.


" Tak perlu kau putuskan sekarang Escalop, aku tahu kau ragu." kata dokter Asyura seolah tahu apa yang dipikirkannya.


" Boleh saya pertimbangkan dulu dokter? Saya berharap besar dengan formula itu, tapi jujur saja, aku pun takut dengan operasi itu jika gagal." kata Escalop sambil memegang kakinya.

__ADS_1


" Kapanpun kau mau akan ku siapkan semuanya Escalop, tenang aja. Tapi satu hal ku minta, rahasiakan penemuan ini dulu ya." kata dokter Asyura.


Escalop mengangguk.


" Baik dokter, percayalah aku kaan diam soal ini. Saya pamit dulu dokter, biar kupikirkan matang matang dulu." kata Escalop.


Dia lalu berdiri dan beranjak pergi. Dokter Asyura yang melihat langkah pincang Escalop merasa iba.


" Kau manusia berbakat nak, namun sayang kondisimu..." kata dokter Asyura lirih.


***


Sementara itu, didalam ruang pustaka Sunli telah menghabiskan waktu dua hari untuk mencari referensi tentang penemuan di daratan baru. Ribuan buku peninggalan Erdago ada disitu. Jurnal dan memo tentang perkembangan keadaan pasca Badai Iklim tertulis rapi dan detil.


Dengan teliti Sunli membuka lembar demi lembar jurnal dan memo itu. Tampak wajah lelah nya. Mukanya pucat dan matanya merah tanda kurang istirahat dan tidur.


Dihempaskan tubuhnya dikursi. Rasa penat sungguh menguasai jiwa dan raga Sunli.


" Bodohnya aku, kenapa aku dulu tak mempelajari tentang ilmu sejarah dari tuan Erdago?" keluh Sunli.


Ya, tuan Erdago adalah seorang ilmuwan dan sejarawan handal. Kegemaran meneliti perubahan perubahan alam dan sosial menjadikannya sosok yang lengkap dalam kehidupan baru yang masih rapi seperti ini.


KLIK !


Tanpa sengaja Sunli seperti menekan tombol rahasia yang berada di sandaran tangan kursi yang di duduki nya. Lalu tiba tiba dinding ruang perpustakaan itu terbuka. Monitor pun menyala.


Tampak di dalam video itu adalah jurnal visual dari tuan Erdago selama dia hidup. Dia mendokumentasikan kegiatan nya ketika melakukan riset selama hidupnya.


" Tuan Erdago, anda adalah seorang manusia yang luar biasa. Menghadapi tekanan untuk bertahan hidup yang besar, harapan manusia yang tergantung di dalam ide dan pikiranmu. Kau masih sempat melakukan hal ini. Dimana aku saat kau melakukan ini tuanku." gumam Escalop.


Pikirannya melayang pada saat itu diusia yang masih muda, dia selalu berada di samping tuan Erdago sepanjang waktu. Dan ketika melihat video jurnal ini Sunli merasa kerdil. Dia yang selama ini merasa dirinya lah yang paling sering menghabiskan waktu dengan Tuan Erdago, namun dia tak tahu ketika Tuan Erdago melakukan riset dan pengamatan tentang perubahan perubahan alam.

__ADS_1


" Ah, ternyata engkau benar benar memberikan waktu, tenaga dan pikiran mu untuk manusia manusia yang ingin bertahan hidup ini tuan Erdago. Mungkin tidur pun kau tak memejamkan matamu. Sampai akhirnya mata dan raga mu yang letih harus beristirahat panjang." kata Sunli sambil terus mengamati video itu.


__ADS_2