Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #10


__ADS_3

Belum sempat Putri menyelesaikan ucapannya, Abian langsung menggendong Putri. Tanpa bicara, juga tanpa basa-basi. Hal itu membuat Putri kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Dengan wajah yang merona merah, dia berusaha menahan degup jantung yang berdetak tak karuan. Lebih cepat dari biasanya.


Sementara itu, bi Titin yang bahagia, ikut tersenyum sambil melihat kedua majikannya yang beranjak meninggalkan dia di depan pintu. Dia melepas napas lega.


"Semoga ini awal yang baik buat kalian berdua, tuan Abi, non Putri. Semoga saja, ada cinta yang akan tumbuh dan bisa menyatukan kalian berdua."


Sementara itu, Abi dan Putri yang sudah berada di kamar, langsung membaringkan Putri di atas ranjang. Dengan penuh kelembutan, Abi membantu Putri duduk bersandar. Setelah itu, dia ingin segera beranjak. Namun, kini giliran Putri yang menahan tangannya agar tidak pergi dari kamar itu.


"Tunggu, Mas!"


"Ada apa?" tanya Abian sambil menoleh.


"Itu ... terima kasih sudah mau bantu aku."


"Tidak perlu berterima kasih. Kau istriku."


"Istri?"


"Ya. Kenapa? Emang kamu istri aku, kan? Istri yang sah secara hukum juga agama. Ya walaupun secara batin, aku tidak menerimanya."


Sontak saja, kata-kata itu membuat tangan Putri yang masih memegang tangan Abian terasa lemas seperti tidak punya tenaga sedikitpun. Tangan itu terjatuh seketika.


"Kapan kamu bisa terima aku sebagai istri secara lahir batin, Mas? Aku ingin tahu, apakah aku bisa kamu terima secara lahir batin atau tidak?"


"Jangan tanyakan padaku pertanyaan yang aku belum punya jawabannya, Putri. Karena saat ini, atau bahkan selanjutnya atau mungkin bahkan selamanya, aku tidak mungkin bisa menggantikan Tiara dari dalam hatiku."


"Kamu tidak perlu mengganti mbak Tiara dengan aku dari dalam hatimu, Mas. Kamu hanya perlu menyisipkan aku ke dalam hatimu. Menyimpan aku di bagian hati kamu yang lain, tanpa harus mengeluarkan mbak Tiara dari dalam hati kamu. Hanya itu yang perlu kamu lakukan."

__ADS_1


"Sayangnya, aku tidak bisa melakukan hal itu, Putri. Karena semua hatiku sudah diisi dengan Tiara seorang. Semuanya, tanpa ada yang tersisa."


Kata-kata itu membuat hati Putri sangat hancur. Hancur tanpa bisa berucap apa-apa lagi, selain diam sambil menunduk menahan air mata supaya jangan tumpah. Setidaknya, jangan tumpah saat Abian masih ada di dekatnya.


"Aku butuh istirahat sekarang, Mas. Bisakah kamu pergi sekarang juga?"


"Menghindar dari masalah, itu tidak akan baik, Put. Sejujurnya, aku tidak ingin menyakiti kamu, tapi sakit sekarang, itu lebih baik dari pada sakit nanti. Saat kamu sudah berharap besar, dan kamu baru saja mengecap kebahagiaan itu. Saat itu pula kamu sadar, kalau apa yang kamu anggap kebahagiaan itu sebenarnya hanya kebohongan yang sedang berselimut luka."


"Kamu bisa pergi sekarang, Mas. Aku tidak ingin ada orang lagi di kamar ini. Aku ingin sendiri. Ingin istirahat dengan tenang dan nyaman," ucap Putri dengan nada yang masih terdengar cukup kesal. Dia sama sekali tidak ingin mendengarkan apa yang Abian katakan barusan.


"Putri .... "


"Mas, aku ingin istirahat. Bisa keluar sekarang?"


"Baiklah. Aku akan keluar. Tapi, aku ingin tanya dulu. Kenapa kamu bisa sampai masuk rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya? Dan ... bisa jelaskan padaku, siapa sih sebenarnya Aditya yang kamu katakan tadi?"


"Putri." Abian memanggil Putri dengan nada sedikit tinggi sambil langsung duduk di samping ranjang. Persis di samping Putri sekarang.


Tidak hanya duduk, Abian juga memegang satu tangan Putri dengan erat. Terlihat sekali kalau dia sedang marah sekarang. Entah apa penyebabnya, Putri juga tidak mengerti. Yang jelas, Abian terlihat sedang sangat emosi.


"Kenapa, Mas? Apa yang ingin kamu lakukan, hm? Ingin marah padaku? Kenapa? Apa aku baru saja bikin kamu marah? Aku rasa ... nggak deh." Putri berucap dengan nada santai lebih mirip dengan nada mengejek.


"Jangan pancing emosi aku, Put. Bagaimanapun, aku masih laki-laki normal. Bisa marah, juga bisa .... " Abian langsung menggantungkan kata-katanya.


"Juga bisa apa, Mas?"


"Tidak perlu di bahas lagi. Kamu istirahat saja sekarang. Aku harus kembali ke kantor. Jika ada perlu apa-apa, langsung panggil bi Titin saja."

__ADS_1


Selesai berucap, Abian langsung beranjak meninggalkan kamar Putri. Meninggalkan Putri tanpa membiarkan Putri memberikan jawaban terlebih dahulu dari kata-kata yang baru saja dia ucapkan.


Setelah pintu tertutup, Putri tidak bisa menahan bendungan yang sudah memang seharusnya jebol. Dia menangis dalam diam dengan air mata yang mengalir deras. Ada luka yang menganga sekarang. Luka hati yang berusaha dia tutupi, tapi sayangnya, tidak akan pernah bisa walau sudah berusaha sekuat mungkin.


_____


Dua bulan berlalu. Masih sama saja. Hubungan antara Putri dengan Abian masih belum membaik. Kini, selain menyibukkan diri dengan berkebun, Putri juga lebih sering keluar mencari kesibukan untuk dirinya sendiri.


Sementara Abian, dia masih sama seperti yang dulu. Sibuk dengan pekerjaan. Pulang malam, atau bahkan terkadang, dia sering lembut dan menginap di kantor.


Putri berusaha mengabaikan semua itu. Mengabaikan sakit sebagai istri yang tak dianggap. Walau pada dasarnya, dia sungguh tidak kuat. Maka dari itu, dia juga mencoba mencari kesibukan buat dirinya sendiri.


Seperti siang ini, dia sedang makan siang di restoran ternama bersama, Ditya. Teman satu-satunya yang dia punya. Bukan teman satu-satunya sebenarnya, hanya saja, dia cuma dekat dengan Ditya sejak kecil hingga dewasa seperti saat ini. Karena hanya Ditya yang bisa memahami apa yang dia rasakan.


"Makan yang banyak, Put. Kau semakin kurus sejak menikah, kau tahu?"


Aditya langsung meletakkan daging panggang ke dalam piring Putri. Hal itu langsung di sambut tatapan melotot dengan sejuta kekesalan oleh Putri.


Bagaimana tidak? Ditya seenaknya meletakkan sepotong daging sapi dengan ukuran cukup besar ke dalam piring Putri. Tentu saja Putri merasa cukup kesal. Bukan kesal beneran. Hanya sebatas kesal karena ulah sahabat yang sedang bercanda saja.


"Enak saja. Aku langsing begini, kamu hilang kurus? Gak punya mata yang baik kamu ternyata. Mau langsing gini, aku butuh banyak pengorbanan tahu gak?"


"Langsing apanya? Bagi aku kamu kurusan akut, tahu gak?"


Baru juga Putri mau menjawab apa yang Aditya katakan. Tepat saat dia membuka mulut, Aditya langsung menyuapi dia dengan potongan kecil daging yang sudah dia siapkan sebelumnya. Ya mau tidak mau, Putri harus memakannya.


Dengan tatapan tajam, dia tatap Ditya yang berada di depannya. Orang yang di tatap, bukannya takut, malah tertawa bahagia.

__ADS_1


Saat Aditya tertawa, Putri langsung membalas perbuatan Aditya sebelumnya dengan menyuapi dia dengan sayuran kol yang tidak dia sukai. Keduanya terlihat cukup bahagia. Tanpa sadar, mereka sudah di perhatikan sejak tadi.


__ADS_2