Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #16


__ADS_3

Karena kedua orang tua yang memutuskan masuk ke kamar. Putri dan Abian juga terpaksa melakukan hal yang sama. Masuk ke kamar untuk beristirahat juga.


"Mas, kamu mau tidur di sofa? Atau di ranjang?" tanya Putri saat mereka sudah sampai di kamar.


"Lho, kok nanyanya gitu sih?"


"Iya aku nanya aja. Jika kamu mau tidur di ranjang, maka biar aku tidur di sofa. Gak papa kok."


Sontak saja, Abian yang mendengar ucapan itu, langsung menghentikan kegiatannya yang sedang menyingsing legan baju. Dia menoleh ke samping untuk melihat Putri.


Putri yang di tatap Abian dengan tatapan tajam bercampur virus cinta itupun langsung grogi. Dia kini jadi salah tingkah karena tatapan itu.


"Ke--kenapa, Mas? Apa ... ada yang salah?"


"Gak ada yang salah. Bagaimana jika kita tidur satu ranjang saja?"


"Hah? Kamu ingin kita tidur di satu ranjang yang sama? Gitu maksud kamu, mas Abi?"


"Iya. Apa itu terdengar aneh, Putri?"


"Tidak aneh tidak aneh." Putri menjawab dengan nada sedikit gelagapan. Wajahnya pun terlihat sangat merona sekarang.


Abian tidak menjawab lagi. Dia langsung membuka kancing kemeja yang dia kenakan. Putri yang melihat hal itu, semakin jadi gugup dan semakin terlihat salah tingkah.


"Kenapa, Put?"


"Gak ada apa-apa. Kenapa malah buka baju, Mas. Inikan gak panas?"

__ADS_1


"Aku gak suka tidur dengan kemeja, Put. Gak nyaman."


"O--oh. Iy--iyalah. Terserah kamu saja," ucap Putri dengan menahan rasa gugup walau pada dasarnya, rasa itu sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.


Saat Abian selesai membuka kancing, dia baru menyadari, kalau Abian ternyata tidak memakai baju kaos. Abian hanya mengenakan kemeja saja. Sontak, melihat Abian yang langsung membuka baju itu, Putri langsung memalingkan pandangannya dari Abian.


"Kamu ... kamu gak pakai baju kaos, mas?"


"Nggak, Put. Baju kaosnya udah kotor akibat keringat tadi siang. Sedangkan aku tidak bawa baju ganti karena pergi mendadak."


"Ya ... ya sudah kalo gitu. Aku pergi ... pinjam piyaman papa sekarang juga." Putri berucap sambil beranjak.


Namun, dengan cepat Abian menahan tangan Putri agar tidak pergi. Bukan hanya menahan, tapi Abian juga menarik tangan Putri sehingga tubuh langsing itu ikut tertarik dan jatuh ke atas tubuhnya yang langsung dia bawa jatuh ke atas kasur bersama-sama.


Dengan pelukan erat, Abian memutar posisi mereka. Dari Putri yang menindih tubuhnya, menjadi dia yang menindih tubuh Putri sekarang.


"Jika kamu belum siap. Aku tidak akan memaksa."


Mengerti apa yang Abian maksudkan. Putri langsung menutup mata. Sebenarnya, pikirannya belum siap, tapi hati juga tubuh sudah siap sepenuhnya. Bahkan, sangat menginginkan hal itu terjadi.


Tahu apa yang Putri inginkan. Karena dia sudah sangat berpengalaman dalam hal itu, Abian langsung melancarkan maksud dan tujuannya. Perlahan tapi pasti, dia mulai melakukan serangan kecil-kecilan dengan satu tangan yang mulai nakal menyusuri tubuh si istri.


Dengan lembut, sangat lembut malahan. Abian melakukan sentuhan demi sentuhan ke tempat-tempat sensitif milik Putri. Awalnya, Putri merasa sangat tegang karena sentuhan itu. Namun, lama-kelamaan, dia mulai merasakan ketenangan yang berbalut kenik*matan juga.


Tangan Abian yang nakal itu sungguh tidak bisa diam. Meski bibirnya yang sudah berpengalaman itu sedang ******* bibir manis milik Putri, tangannya tetap ikut bergentayangan menyusup ke dalam piyama yang Putri kenakan.


Sesaat kemudian, Abian sudah berhasil melepas piyama yang Putri pakai dengan sangat baik. Mantan duda yang sudah sangat pengalaman dalam hal itu, tentu saja akan melakukan semuanya dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


Melanjutkan serangan kembali. Abian kini semakin agresif dan lincah. Tangannya mulai bergerak cepat untuk melepas semua pakaian yang melekat di tubuh Putri juga tubuhnya.


Lalu ... dia mulai melakukan serangan yang sesungguhnya dengan menusuk perlahan senjata pusaka ke mulut gua yang belum pernah tersentuh sekali pun. Walaupun dilakukan dengan sangat perlahan juga sangat lembut, Putri tetap saja merintih kesakitan. Sekuat tenaga menahan rasa sakit sampai dia harus mencengkram erat seprai yang melekat di kasurnya.


Namun, usaha yang Abian lakukan itu masih belum mampu membobol pintu gua. Jelas saja itu tidak gampang. Karena gua itu belum pernah tersentuh sama sekali. Pintunya masih tertutup rapat.


"Agh ... sa--kit, Mas." Hanya itu yang mampu Putri ucap sambil mengigit bibirnya.


Abian tidak berucap. Dia tahu kalau itu akan terjadi. Dia berusaha semakin memperpelan dan memperlembut usahanya dalam melakukan hal itu. Tapi, dia tahu, jika lembut, maka hasilnya akan semakin lambat.


"Tahan sedikit, Put. Ini memang akan sedikit sakit." Abian berucap di sela-sela napas yang terdengar cukup berat.


Mau tidak mau. Abian harus menusuk dengan tusukan yang keras agar pusaka itu mampu memasuki gua tersebut. Dan ....


"Agh .... "


Suara teriakan yang tertahan dari Putri karena Abian yang langsung mencium bibir itu dengan cepat sambil membuat jalan turun naik di bawahnya. Abian mencium bibir itu karena tidak ingin teriakan kesakitan Putri terdengar di seluruh rumah.


Abian menikmati hal itu dengan sangat nikmat. Sementara Putri terus menahan rasa sakit yang memang semakin lama semakin terasa berkurang. Namun, karena durasi yang semakin lama semakin cepat, perih bercampur nikmati itu juga bisa dia rasakan.


Dan ... Abian akhirnya melepaskan cairan hangat seiring berhentinya dia melakukan gerakan turun naik yang dia lakukan. Tubuhnya mencengkram erat tubuh Putri. Lalu kemudian, dia terbaring lemah di samping Putri yang terlihat juga sepertinya merasakan hal yang sama.


★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★


Pesan singkat dari author.


"Ya Allah, maafkan aku. Aku udah bikin dosa jamaah di sini sekarang. Huh ... bikin ini itu berat banget buat aku teman-teman. Berasa bikin dosa berjamaah tahu gak? Tapi, gak bikin nanti dibilang baca novel aku kek makan sayur tanpa garam. Gak ada romantisannya. Gak enak sama sekali. Huhu ... serba salah. Semoga itu sudah cukup yah, sebagai bumbu sayuran kita. He he.

__ADS_1


__ADS_2