Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #14


__ADS_3

Abian tersenyum sambil mengikuti langkah kedua wanita yang ada di hadapannya. Dia senyum karena melihat tingkah Putri yang begitu manja dengan mama mertuanya itu.


Karena sibuk memperhatikan sikap istrinya yang ternyata begitu manja, Abian sampai lupa memberikan apa yang dia bawa buat kedua mertua. Setelah berada di dalam rumah, baru dia ingat untuk menyerahkan buah tangan tersebut.


"Oh ya, Ma. Ini, kami bawa sedikit buah tangan untuk mama dan papa."


"Oh, gak perlu repot-repot Bian. Kalian datang saja sudah hal istimewa buat kami, terutama ... aku sebagai mamanya Putri."


"Maafkan kami yang baru bisa datang sekarang, Ma. Karena aku sibuk bekerja, jadi gak bisa antar kan Putri pulang. Jangan salahkan Putri juga yang tidak bisa datang ke sini. Aku yang tidak mengizinkan dia pulang sendirian."


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas. Yang penting, sekarang kalian sudah datang. Mama gak ingin membahas soal itu. Gak mau merusak suasana pokoknya."


"Oh ya, Ma. Hari ini, kami akan nginap di sini." Putri pula berucap menyela pembicaraan Tias dan Abian.


"Hah? Benarkah, sayang?" Ada riak bahagia di dalam mata sang mama saat pertanyaan itu terlontar.


"Iya jelas benarlah, Ma. Kapan Putri pernah bohong sama mama, coba?"


"Anak mama emang gak pernah bohong. Eh, bukan gak pernah sih sebenarnya. Tapi ... jarang."


"Mama .... "


"Iya-iya. Mama minta maaf. Gak bilang-bilang kok."


"Lalu ... Abian?" Tias bertanya sambil menoleh ke arah Abian.


Seketika, kebahagiaan yang tercipta di wajah Putri mendadak berubah. Sementara Abian, dia yang sedari tadi tersenyum, kini semakin melebarkan senyumannya.

__ADS_1


"Aku juga ikut Putri kok, Ma. Nginap di sini malam ini. Gak papakan?"


"Ya gak papa dong. Masa nanya gitu sama mama. Kamu kan suaminya Putri, masa mama larang nginap di sini."


"Ya maklum. Takutnya kan, ada yang keberatan."


"Siapa? Gak ada kok."


"Ah, ya sudah. Putri mau ke kamar dulu aja deh, Ma. Kangen sama kamar Putri yang sudah lama Putri tinggalkan," ucap Putri langsung memotong pembicaraan mama dan suaminya karena tidak ingin berlama-lama larut dalan obrolan yang mungkin akan menyeret dirinya nanti.


"Iya, deh. Nanti mama panggilkan kalau papamu sudah pulang ya."


"Iya, Ma."


"Ayo, Bian. Ikut Putri istirahat ke kamar sekalian."


"Hah! Apa, Ma?" Putri terlihat cukup kaget mendengarkan kata-kata yang mamanya ucapkan barusan.


"Kenapa, Put? Ada yang salah dengan ucapan mama barusan?"


"Eh, nggak ... nggak kok, Ma. Putri hanya kaget aja. Gak enak kalo mas Abian ikut masuk sekarang. Soalnya, kamar Putri itu suasananya ... ya kayak kamar anak-anak. Malu kalo mas Abian lihat."


Abian tersenyum. Dia tahu kalau istrinya sekarang hanya beralasan saja. Tidak ingin mengajak dirinya ke kamar karena merasa masih grogi dengan dia.


"Aku gak papa kok, Put. Aku juga maklum kalau kamu ... maksudku, kamar kamu mungkin agak lucu. Karena, ya kamu emang gadis waktu tinggal di kamar itu kemarin, kan?"


"Mas Abi!" Putri memanggil Abian dengan nada kesal.

__ADS_1


Abian yang tahu hal itu, bukannya kesal. Eh, malah tambah merasa gemas dengan sikap istrinya. Sifat jail kembali muncul sekarang.


"Ada apa, Sayang? Hm .... "


Mamanya yang mendengar ucapan dari Abian barusan, kini menarik senyum simpul. Hal itu membuat Putri semakin merasa malu saja. Tidak punya pilihan lain, dia harus segera menjauhkan Abian dari mamanya. Karena Putri sadar, Abian yang sekarang, mungkin bukan Abian yang dia kenal beberapa jam yang lalu.


"Huh ... ya sudah. Aku ke kamar dulu, Ma. Ayo mas!" ucap Putri dengan senyum yang sangat tidak enak karena dipaksakan.


Mamanya tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya mengangguk sambil tersenyum saja. Sementara Putri, dia melangkah menuju kamar dengan membawa hati yang kesal. Sedangkan Abian, dia mengikuti langkah kaki istrinya dengan senang hati.


Sampai di kamar, Putri langsung menuju ranjang kesayangannya. Dia duduk di sana dengan hati yang tenang dan nyaman karena bisa menempati tempat kesayangannya di rumah ini.


Sementara Abian, dia ikut melakukan hal yang sama dengan apa yang Putri lakukan. Duduk di ranjang besar dengan motif kartun frog dengan nuansa serba hijau. Dia tersenyum melihat motif kartun tersebut. Sedangkan Putri, melihat aneh dengan perasaan grogi ke arah Abian sekarang.


"Kenapa duduk di sini, Mas? Bukankah di sana ada sofa?"


"Kenapa kalau aku mau duduk di sini, Put? Apakah ada yang salah? Sepertinya, aku rasa tidak ada yang salah deh. Karena kamu dan aku itu sudah halal."


"Oh ya, kamu suka dengan karakter kartun ini?" tanya Abian cepat tanpa membiarkan Putri menjawab perkataannya terlebih dahulu.


"Bukan urusan kamu, Mas. Karena selama ini, kamu tidak pernah perduli pun dengan aku."


"Karena selama ini aku tidak pernah peduli padamu, bukan berarti sekarang aku tidak boleh peduli, bukan? Dan mulai dari detik ini, aku akan mulai peduli dengan kamu, Putri. Karena sekarang, kamu adalah istriku lahir batin. Mengerti?"


"Tidak semudah itu, Mas. Aku dan kamu .... "


Belum sempat Putri menyelesaikan kata-kata yang ingin dia ucapkan, Abian langsung mendorong Putri hingga terbaring di atas kasur. Kemudian, dia langsung berada di atas Putri dengan tatapan tajam yang langsung menusuk ke hati. Yang membuat Putri tidak bisa berucap karena jantungnya yang tidak berdetak dengan normal.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku akan memperbaiki kesalahan yang telah aku buat, Putri. Kamu istriku, sekarang, juga seterusnya. Kamu mengerti?"


Putri yang baru saja terkena virus cinta itu segera mengumpulkan kesadaran yang dia miliki. Setelah kesadaran itu berhasil dia kumpulkan, dia langsung mendorong Abian menjauh dari dirinya.


__ADS_2