
Abian memutuskan untuk meminta Putri mengugurkan calon anak yang sedang Putri kandung. Dia pikir, mumpung masih baru, maka itu tidak akan sulit.
Abian langsung menuju kamar mereka. Tempat di mana Putri sedang berada sekarang. Dia ketuk pintu kamar tersebut dengan tangan yang agak berat. Antara yakin dengan tidak sebenarnya. Tapi, tekat yang dia miliki sudah pun dia bulatkan. Apapun hasilnya, maka dia akan terima.
"Put, buka pintunya! Ayo kita bicara lagi!" ucap Abian sambil mengetuk pelan pintu tersebut.
Putri yang sedang bersandar di depan pintu, langsung membuka pintu itu. Karena sejujurnya, dia juga tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Lebih baik saling terbuka, karena keterbukaan akan membuat masalah yang sedang mereka hadapi mungkin bisa terselesaikan.
"Mau bicara apa lagi, Mas? Kamu sudah sangat jahat padaku. Tega-teganya kamu berpikir kalau anak yang aku kandung ini bukan anak kamu, Mas. Benar-benar tak habis pikir aku sama kamu."
"Put. Dengar dulu apa yang ingin aku katakan. Aku tidak sedikitpun mengatakan kalau anak itu bukan anak aku. Kamu salah paham dengan apa yang aku pikirkan."
"Jika kamu tidak menuduh aku seperti itu, maka kenapa kamu tidak percaya kalau anak yang aku kandung ini anak kamu, Mas? Katakan padaku! Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini."
"Aku akan mengatakan. Tapi tolong kamu tetap tenang. Dan, tolong ikuti apa yang aku inginkan. Karena apa yang aku minta, semua demi kebaikan kamu, demi kebaikan kita berdua."
"Katakan saja langsung sekarang, Mas. Jangan berbelit-belit. Aku tidak suka."
__ADS_1
"Makanya, dengar. Jangan hanya menjawab saja."
"Aku tidak ingin kehilangan istri untuk yang kedua kalinya, Putri. Tolong mengertilah. Aku hanya takut jika kehamilan kamu itu, akan membawa kamu pergi dari aku buat selama-lamanya. Aku tidak ingin kamu mengalami hal yang sama seperti Tiara."
Susah payah Putri mengumpulkan kesadarannya saat mendengarkan ucapan Abian barusan. Sungguh, dia sangat-sangat tidak mengerti dengan apa yang sedang ada dalam pikiran Abian saat ini.
"Kenapa kamu jadi bicara ngelantur seperti ini, Mas? Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya? Apa maksud dari ucapan kamu barusan?"
Abian langsung memegang erat kedua tangan Putri. Dia tatap mata istri yang sekarang adalah wanita yang paling dia cintai.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu, Put. Kau tahu, aku sangat takut sekarang. Tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan orang yang aku cintai buat yang kedua kalinya. Apalagi jika harus kehilangan dengan cara yang sama. Aku benar-benar tidak sanggup. Untuk itu ... aku mohon, gugurkan saja kandungan kamu ini."
Plak! Lagi. Sebuah tamparan kembali bersarang di wajah Abian. Sangking kuatnya tamparan yang Putri berikan, wajah Abian sampai harus tertoleh ke samping.
Dengan mata yang sudah menumpahkan air mata cukup deras, Putri menatap wajah Abian yang baru saja dia tampar. Wajah suami yang dia harapkan sangat bahagia saat tahu tentang kehamilan yang baru saja di ketahui. Tapi sayangnya, wajah itu malah menginginkan kebahagiaan yang dia punya.
"Kau sudah gila, Mas! Benar-benar gila. Maafkan aku kali ini jadi istri yang durhaka terhadap suami. Tapi suami seperti kamu, memang tidak layak aku sebut suami sepertinya. Kau sungguh tidak punya hati."
__ADS_1
Selesai berucap kata-kata yang ingin dia ucap sebagai bentuk pelampiasan emosi yang sedang meluap dari dalam hatinya. Putri langsung ingin meninggalkan Abian. Namun, dengan cepat Abian menahan tangannya.
"Semua ini demi kebaikan kamu, Put. Demi kebaikan kita. Tolong mengerti dengan apa yang aku maksud."
"Aku tidak pernah bertemu dengan manusia seperti kamu, Mas. Manusia tega yang tidak punya hati. Alasan yang kamu beri ini sungguh tidak masuk dalam benakku. Kau tahu, serigala saja bisa menyayangi anaknya. Tidak akan mau membunuh kandungnya sendiri. Tapi kau manusia. Lebih keji dari serigala yang kejam."
Putri langsung melepas tangannya yang masih Abian pegang. Setelah tangan itu dia lepaskan, dia bergerak dengan cepat masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat.
"Putri ...!"
Abian hanya bisa menyentuh daun pintu dengan tangan yang bergetar. Dia kesal, sekaligus marah juga sedih. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Trauma akan kejadian masa lalu membuat dia buta mata hati. Tidak bisa memikirkan mana yang harus dia lakukan, dan mana yang harus dia hindari.
Beberapa saat lamanya, mereka saling diam di depan pintu kamar tersebut. Pada akhirnya, Abian memilih mengalah. Dia menjauh dari pintu itu untuk sementara waktu. Pikirannya yang berkecamuk, membuat hatinya merasa sangat gelisah.
Untuk menenangkan hatinya, Abian memilih pergi ke rumah orang tuanya sekarang juga. Sementara Putri, dia terus berdiam diri di depan pintu sampai hampir setengah jam lamanya.
__ADS_1
Pintu kamar tersebut baru dia buka setelah bi Titin memanggil dia untuk minum susu. Jika tidak, dia juga enggan untuk membuka pintu kamar walau dia tahu, kalau Abian sudah tidak ada di rumah lagi.