Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #40


__ADS_3

Putri langsung menatap kedua mata Aditya. Dia yang sudah kenal dengan laki-laki itu sejak kecil, cukup tahu apa yang laki-laki itu rasakan. Bahkan, ada yang laki-laki itu rahasiakan. Dia juga tahu.


"Jangan bohong padaku, Ditya. Aku yakin ada hal yang tidak kamu katakan. Masih ada yang kamu sembunyikan dari aku. Iyakan?"


"Putri .... "


"Ditya, jika iya ada hal yang masih tidak kamu katakan. Sebaiknya, katakan saja. Kasihan istriku. Dia sangat cemas sampai tidak bisa istirahat dengan tenang."


"Abian. Aku memang tidak ada menyembunyikan apapun lagi. Putri .... "


"Jangan bohong padaku, Ditya. Orang lain mungkin bisa kamu bohongi. Tapi aku tidak."


"Baiklah. Aku tahu kamu tidak bisa aku bohongi. Luka tembakan yang Icha alami di bagian perut, Put. Karena luka itu, dia mungkin sulit untuk mendapatkan keturunan jika menikah nanti. Aku tidak perlu menjelaskan yang detail lagi, bukan? Kau mungkin sudah memahami apa maksud kata-kata yang aku ucapkan barusan."


Putri terdiam bak terbius oleh sesuatu. Kabar barusan itu benar-benar bikin hatinya terluka. Rasa bersalah tentu saja semakin membesar dalam hatinya.


"Tidak benar ini semua. Jika dia sulit punya keturunan. Maka dia juga akan sulit dapat jodoh. Karena jaman sekarang, mencari laki-laki yang bisa menerima kekurangan wanita itu sangat sulit." Putri berucap sambil matanya melihat lurus ke bawah.


"Mas .... Suster Icha terluka karena aku. Jadi ...."

__ADS_1


"Jangan gila, Put. Jangan minta hal yang tidak-tidak padaku, sayang." Abian berucap cepat memotong perkataan Putri. Sementara Aditya yang mendengarkan hal itu juga ikut membulatkan mata. Melotot karena merasa kesal.


"Iya, Putri. Jangan macam-macam kamu. Semua yang terjadi bukan salah kamu. Semua sudah takdir. Lagipula, dia sudah baik-baik saja sekarang."


"Kalian tidak mengerti perasaan wanita, Ditya, Mas Abi. Tidak bisa memiliki keturunan itu adalah masalah besar dalam rumah tangga."


"Dia bukannya tidak bisa, Putri. Tapi ... sulit. Apa kamu tahu apa perbedaan antara kedua hal itu?"


"Ah, itu sama saja. Hanya beda-beda tipis."


"Dasar keras kepala kamu."


Tiga hari kemudian. Putri sudah kembali ke rumah. Karena sudah sembuh, dia menyempatkan diri untuk menjenguk Icha yang masih di rawat di rumah sakit tersebut.


Saat Putri memasuki ruang rawat Icha. Perempuan itu sedang termenung dengan wajah yang penuh dengan kesedihan. Namun, saat melihat kedatangan Putri. Wajah sedih itu mendadak berubah tenang.


"Maafkan aku yang telah membuat kamu terluka, suster Icha. Aku sangat minta maaf sebesar-besarnya."


"Ini bukan salah kamu, mbak. Ini sudah takdir, bukan? Jadi, kamu tidak perlu minta maaf padaku." Icha berucap sambil tersenyum. Senyum manis yang terlihat sekali dipaksakan.

__ADS_1


"Tapi, walau bagaimanapun, semua yang terjadi karena aku. Katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, suster?"


Icha langsung menyentuh lembut tangan Putri. Dia tersenyum lembut, seperti seseorang yang tidak punya beban atau kesedihan sedikitpun.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan, mbak. Karena ini bukan salah kamu, dan aku sudah baik-baik saja sekarang."


"Icha .... "


Putri tidak bisa menahan diri karena sikap lembut dari perempuan itu. Dia langsung memeluk Icha dengan erat sambil menjatuhkan air mata haru.


Terbesit satu ide dalam hatinya. Karena kebaikan juga kelembutan gadis manis nan baik itu, dia ingin menjodohkan sahabatnya dengan perempuan tersebut. Karena dia yakin, sahabatnya pasti sangat cocok jika berpasangan dengan orang sebaik dan selembut Icha ini.


Untuk itu, dia akan membicarakan apa yang dia pikirkan pada Aditya terlebih dahulu. Sedangkan dengan Icha, sebagai sesama perempuan, dia sedikit memahami seperti apa rasa yang Icha miliki untuk Aditya. Itu dapat Putri lihat dari sorot mata Icha saat melihat Aditya.


Selesai menjenguk Icha, Putri langsung mencari Aditya untuk membicarakan apa yang dia pikirkan tadi. Dia mendatangi ruangan Aditya untuk bertemu sahabatnya.


Kebetulan yang cukup berpihak pada Putri. Saat dia samapi, Aditya sedang duduk bersandar di kursi untuk melepas lelah karena baru selesai melakukan tugasnya menolong orang.


Setelah bicara basa-basi beberapa menit, Putri baru menyingung soal niat kedatangannya ke ruangan tersebut. Ketika Aditya mendengar ide itu, sontak saja, dia kaget bukan kepalang. Dia yang awalnya duduk, langsung berdiri dengan cepat.

__ADS_1


"Hah! Kau ingin aku menikahinya? Apa kau sudah tidak punya pikiran baik untuk aku sekarang?"


__ADS_2