
Nada ancaman itu bukan bikin Abian takut. Tapi malahan, dia merasa senang. Karena apa? Tentu saja karena dia sekarang telah mendapat kesempatan kedua dari mama mertuanya. Alias, dia dapat maaf dari mama mertuanya sekarang.
"Mama tenang aja, Ma. Aku pastikan, kalau tidak akan pernah ada untuk yang kedua kalinya lagi. Aku minta maaf untuk yang kemarin. Dan ... terima kasih banyak untuk kesempatan kedua yang mama berikan buat aku, Ma. Terima ... banyak."
"Jangan banyak omong. Buktikan saja apa yang kamu ucapkan itu dengan perbuatan. Karena aku sungguh tidak akan percaya jika hanya dengan kata-kata yang kamu ucapkan."
"Mama tenang saja. Aku akan buktikan nanti secara perlahan."
"Sudahlah. Jangan banyak bicara lagi. Gak baik jika terus berdebat di sini. Jika Putri dengar, dia pasti akan sedih melihat kalian berdebat terus-terusan." Papa Putri menjadi penengah.
"Oh ya, Bian. Apa kamu lelah? Jika iya. Istirahatlah, Nak. Soalnya, kau butuh energi buat jaga istrimu nanti."
"Aku gak lelah kok, Pa. Aku masih kuat buat jaga Putri sekarang. Sebaliknya, kalian yang istirahat duluan saja. Nanti, jika aku tiba-tiba merasa capek akibat kelelahan, aku bisa minta kalian gantikan aku buat jagain Putri."
Karena kata-kata itu, papa Putri langsung membujuk istrinya untuk istirahat. Dia ingin memberikan kesempatan pada Abian untuk bersama Putri sekarang.
_____
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, putri kecil Abian sudah tidak di rawat di tempat khusus lagi. Bayi mungil itu ternyata sungguh kuat dan sangat sehat. Tidak bisa di katakan sebagai bayi prematur yang lahir karena tidak cukup bulan, karena dia lahir dengan sehat dengan bobot yang pas seperti bayi pada umumnya.
"Abian, anak ini siapa yang akan merawatnya? Apa aku, atau mama mertuamu?" tanya mamanya sambil melihat bayi yang sedang Abian gendong.
"Lho, kenapa harus bertanya seperti itu, mama? Kenapa tidak rawat sama-sama saja? Bukankah kalian bisa merawatnya bersama selama Putri dalam keadaan koma? Lagipula, jika kalian merawatnya berdua, itu akan semakin baik bukan?"
"Apa mama mertuamu setuju?" tanya mama Abian dengan perasaan cemas.
Belum sempat Abian menjawab. Seseorang yang baru muncul di depan pintu langsung saja angkat bicara.
"Tentu saja aku setuju. Lagipula, itu cucu kita berdua, bukan? Kenapa juga aku tidak setuju jika kita merawatnya bersama-sama."
Mama Putri hanya menjawab dengan senyuman kecil yang disertai dengan anggukan saja. Mama Abian yang bahagia, langsung membalas senyuman itu dengan senyuman lebar.
___
Tiga bulan kemudian. Saat Abian sedang mencium hangat tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. Tangan itu tiba-tiba bergerak. Abian yang kaget sekaligus bahagia, langsung memanggil Aditya untuk memeriksa keadaan Putri.
__ADS_1
"Kamu yakin dia bereaksi, Bi?" tanya Adit sambil berjalan cepat menuju ruangan Putri.
"Iya. Tentu saja aku yakin. Bahkan, aku sangat yakin kalau tangan Putri itu benar-benar bergerak saat aku menciumnya."
"Ya sudah, aku segera ke sana. Eh, aku hampir sampai ke ruangan Putri sekarang."
Obrolan singkat lewat telepon itu langsung berakhir saat Aditya memang muncul di depan pintu masuk kamar tersebut. Abian yang tidak sabar lagi, langsung menyambut kedatangan Aditya dengan cepat.
"Cepat, Dit! Lihat Putri sekarang juga. Apa sekarang, dia akan sadar?"
"Mungkin saja. Tapi, itu belum bisa di pastikan juga. Biar aku periksa dulu," ucap Aditya sambil melakukan tugasnya dengan sangat baik.
"Bagaimana, Dit? Apa dia benar-benar akan bangun?" tanya Abian saat Aditya baru saja selesai melakukan tugasnya.
Aditya tidak langsung menjawab. Dia hanya terdiam selama beberapa saat dengan tatapan yang lurus ke depan.
Sementara Abian, dia tiba-tiba merasa lemas karena paham apa yang sedang Aditya rahasiakan. Semangat yang menggebu-gebu yang baru saja dia rasakan, mendadak lenyap akibat diamnya Aditya sekarang.
__ADS_1
"Bian .... "
"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, Dit. Tidak perlu di teruskan. Karena aku sudah tahu, dan aku tidak ingin mendengarkannya lagi."