
Aditya membalas senyum itu dengan senyuman yang paling manis. Lalu, dia berjalan mendekat ke arah Putri dan Abian.
"Apa yabg kamu rasakan sekarang, Put? Sebelum aku periksa, aku tanya dulu. Biar sebagai manusia, aku tahu, kamu udah baik-baik saja, atau pura-pura baik-baik saja."
"Dasar dokter gak punya hati kamu, Dit. Bisa-bisanya kamu bicara dengan aku seperti itu. Sudah jelas-jelas aku ini adalah pasien yang baru sadar dari koma." Putri berucap dengan nada kesal menanggapi candaan dari temannya.
"Aku hanya bercanda. Jangan marah," ucap Aditya langsung memulai tugasnya.
"Aku tahu kau tidak akan sampai hati padaku. Kau kan manusia yang setengah normal."
Icha dan Abian hanya tersenyum saja menanggapi obrolan yang lebih tepat di sebut dengan candaan dari dua bersahabat ini. Abian yang sudah tahu bagaimana hati istri kesayangannya itu, tentu saja tidak ambil pusing dengan candaan kedua manusia barusan.
Sementara Icha yang merasa kagum akan sifat Aditya, dia merasa sedikit iri. Iri karena hanya Putri yang bisa mencairkan es balok yang Aditya miliki. Hanya Putri yang bisa membuat Aditya berubah hangat seperti sekarang.
"Syukurlah. Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Tapi, kamu masih belum boleh pulang, Put. Kau harus tetap dalam pengawasan medis selama kurang lebih empat hari."
"Kok lama banget, Dit."
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aja apa yang Ditya katakan. Kamu ini ya ... ngebantah melulu deh."
"Mas Abi. Empat hari itu lama banget tahu gak? Aku ingin segera pulang ke rumah. Bilangin gih ama pak dokter yang suka maksa ini. Jangan tahan aku selama itu di sini." Putri berucap manja pada Abian.
"Ya ampun .... Aku kok jadi enek gini ya," ucap Aditya.
Mereka bertiga tertawa karena candaan yang menurut mereka sangat lucu. Sementara itu, Icha hanya tersenyum kecil saja. Dia ikut menikmati candaan, tapi terasa enggan untuk tersenyum.
Setelah tugasnya selesai, Aditya meminta Icha meninggalkan kamar tersebut. Sementara dirinya, masih diam di kamar itu sambil ngobrol dengan Putri dan Abian. Aditya sungguh melupakan Merry yang sedang menunggunya di taman.
Hujan tiba-tiba turun perlahan. Merry yang sedang menanti di taman, masih tetap bertahan walau tubuhnya sudah basah kuyup karena diguyur hujan.
Dia yang kesal, langsung menuju ruangan Aditya untuk menanyakan kenapa Aditya tidak datang menemui dia. Namun, saat dia masuk, yang ada bukan Aditya, melainkan, Icha yang sedang merapikan ruangan tersebut.
"Mbak Merry! Lho, kok basah mbak? Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Mana dokter Aditya. Aku ada perlu sama dia."
__ADS_1
"Di ruangan pasien ... maksudku. Dia ruangan temannya mbak."
"Hah! Masih di sana dia?"
Icha tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya memberikan anggukan pelan sambil menatap Merry dengan tatapan penuh dengan kebingungan.
"Kenapa perempuan itu lagi, hah! Kenapa selalu perempuan itu yang jadi nomor satu dalam hati dokter Aditya? Apa dia tidak bisa memilih wanita lain selain perempuan itu? Sudah punya suami juga, kenapa tidak bisa di lepaskan!"
Suster Merry marah-marah dengan nada tinggi di depan Icha. Suster Icha yang tidak tahu apa-apa itu hanya bisa melihat teman seprofesinya dengan tatapan semakin bingung saja.
"Mbak Merry ada apa sih? Kok malah ngomong gitu barusan?"
"Cih! Diam kamu, Icha. Dan jangan bersikap sok polos kamu sekarang. Kepolosan yang kamu miliki semakin membuat aku merasa kesal saja."
"He .... "
Belum juga Icha selesai mengucapkan kata-kata yang ingin dia ucapkan, Merry malah langsung beranjak meninggalkan dirinya. Dia yang merasa penasaran dengan apa yang akan Merry lakukan, langsung mengikuti langkah Merry dari belakang.
__ADS_1
Seperti yang ada dalam pikiran Icha sebelumnya. Merry ternyata benar-benar berani menuju kamar rawat Putri untuk mencari Aditya.
Brak! Suster Merry membuka paksa pintu ruangan tersebut dengan keras. Hal itu membuat Aditya, Abian, dan Putri yang ada di kamar itu langsung terperanjat kaget bukan kepalang.