
Bi Titin yang mendengar keluhan itupun langsung berjalan cepat untuk memastikan apa yang terjadi dengan majikannya. Dengan rasa kaget, dia langsung menghampiri Putri.
"Non Putri! Kenapa?" Bi Titin berucap sambil membantu Putri untuk bangun.
Belum sempat Putri menjawab pertanyaan itu, pemilik mobil yang baru saja menabrak Putri keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dengan wajah bersalah tentunya.
"Aduh, maafkan saya. Saya .... "
"Putri." Si pemilik mobil dengan tatapan tak percayanya, langsung saja menyentuh bahu Putri.
Putri yang menunduk, langsung mengangkat wajah untuk melihat orang yang baru saja memanggil namanya.
"Adit? Kamu?"
"Putri. Iya ini aku, siapa lagi coba?"
"Kapan kamu pulang, Dit?" tanya Putri tiba-tiba memperlihat wajah kegembiraan. Namun, saat dia ingin melangkahkan kakinya, dia kembali mengeluh, meringis karena kesakitan.
"Aduh!"
"Ya Tuhan, Put. Kaki kamu .... Ini, pasti karena kamu jatuh tadi, iyakan?"
Sontak saja, laki-laki yang bernama Adit itu langsung berjongkok untuk melihat kaki Putri. Dia pegang kaki itu dengan lembut karena tidak ingin menyakiti Putri lagi.
"Maafkan, aku Put. Aku gak hati-hati. Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Aku akan obati kaki kamu ini."
"Aku gak papa kok, Dit. Lagian, ini juga bukan salah kamu kok. Yang gak hati-hati itu aku lho, bukan kamu. Jadi, jangan minta maaf padaku."
"Siapa bilang kamu gak papa. Kaki kamu ini sudah pernah cedera. Jadi, sedikit saja penyebabnya, pasti akan berakibat besar jika tidak diobati dengan benar. Ayo! Kita harus ke rumah sakit sekarang. Aku gak terima bantahan."
"Kamu ini masih sama saja. Masih jadi si pemaksa yang akut ya. Ya sudah, kamu yang paling tahu pak dokter. Ayo kita ke rumah sakit. Tapi sayangnya, si pak dokter itu juga salah profesi sih."
"Salah profesi juga aku tetap saja dokter. Tetap memahami ilmu pengobatan kok."
"Iya, deh iya. Kamu yang paling benar."
"Ya sudah, sini aku gendong."
__ADS_1
"Hei! Tidak perlu. Aku masih kuat jalan kok."
"Putri .... "
"Kali ini jangan, Dit. Kau tahu apa status aku sekarang, bukan?"
Adit langsung terdiam dengan wajah yang tiba-tiba berubah. Sepertinya, ada kesedihan yang dia simpan sekarang.
Adit menarik napas pelan, lalu melepaskan napas itu dengan berat. Namun tetap pelan sampai tidak terdengar siapapun.
"Ya sudah, aku bantu papah kamu saja. Kaki kamu tidak sekuat kaki normal untuk berjalan. Jadi, harus di papah."
"Biar bi Titin saja yang bantu papah kan aku, Dit. Dia kuat kok," ucap Putri sambil menoleh ke arah bibi yang sedari tadi diam mematung melihat apa yang terjadi.
"Eh, iy--iya. Biar saya saja yang papah non Putri. Saya bisa kok."
"Ayo, non. Bibi papah ke mobil."
Semakin terlihatlah wajah kecewa dari Aditya. Namun, dia tidak bisa bicara banyak. Bahkan, tidak ingin memperlihatkan wajah kecewanya itu pada Putri.
"Ya sudah kalo gitu, mana baiknya sajalah. Tapi ... ikut mobil aku aja. Kali ini, tolong jangan menolak."
"Non." Bi Titin melihat Putri dengan wajah bingung.
"Kali ini, ikuti apa yang dia katakan, bik. Duduk saja tidak masalah bukan?"
"Baiklah. Jika non Putri bilang begitu."
Mereka pun langsung meninggalkan tempat tersebut menuju rumah sakit. Kurang dari dua puluh menit, mobil yang Aditya kendarai akhirnya sampai di rumah sakit tempat di mana Aditya bekerja.
"Ayo, Put! Silahkan turun," ucap Aditya setelah pintu mobil dia buka.
"Makasih banyak, Dit."
Mereka langsung masuk ke dalam. Aditya yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu terpaksa minta bantuan teman dokter lainnya untuk memeriksa keadaan Putri.
"Bagaimana Fis, apa Putri baik-baik saja? Apa ada efek samping pada kakinya karena dia jatuh tadi?" tanya Adit dengan cemas.
__ADS_1
Sementara Putri yang mengalami sakit itu hanya diam saja. Dia diam karena sudah ada yang mewakili dia untuk bicara.
"Sepertinya, tidak ada efek samping yang fatal. Hanya saja, dia butuh waktu beberapa hari untuk sembuh. Saran dari aku, jangan biarkan dia beraktifitas berat dengan kakinya. Berjalan tanpa bantuan saja tidak boleh dia lakukan. Jika tidak, maka cedera ini akan lambat sembuhnya."
"Nah ... kamu dengarkan apa yang dokter Hafis katakan. Ini dia dokter spesialisnya, bukan aku yang bilang. Jadi, jangan membangkang kamu nanti."
"Iya-iya. Aku dengar, dan ... sebisa mungkin gak akan membangkang. Kalau terlupa, itu diluar kendali aku, ya."
"Heh ... kamu ini ya. Dasar keras kepala." Adit malah mencubit pipi Putri dengan cubitan besar.
"Sakit pak dokter keras kepala. Kurang ajar banget kamu ya. Bisa melar ini pipiku jika kamu cubit seperti itu."
"Hei ... yang keras kepala itu kamu, bukan aku. Malah ngomongin aku lagi," ucap Aditya sambil memasang wajah kesal.
Sementara keduanya bergurau, dokter Hafis yang ada di antara mereka hanya bisa tersenyum saja. Merasa tidak enak jadi pengganggu yang ada di antara kedua insan yang saling bahagia, Hafis memilih pergi.
"Mm ... maaf dokter Aditya. Sepertinya, urusan saya di sini sudah selesai. Saya permisi sekarang saja. Ada banyak pekerjaan yang harus saya urus lagi."
"Oh, iyalah. Terima kasih banyak, dokter Hafis."
"Sama-sama, Dok. Permisi."
Setelah kepergian dokter itu, Aditya mengubah posisinya. Dia yang awalnya berdiri, sekarang berubah jadi duduk di samping Putri yang sedang duduk bersandar di atas ranjang kecil rumah sakit tersebut.
"Oh ya, Put. Bagaimana kehidupan baru kamu sekarang? Apa kamu bahagia sudah menikah dengan orang itu?"
"Kenapa kamu malah bertanya soal hidup aku sih?"
"Kenapa memangnya? Apakah aku tidak boleh tahu bagaimana kehidupan kamu sekarang?"
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh tahu, karena kamu tidak hadir saat aku menikah. Jadi, mana boleh bertanya."
"Yah ... kalau itu alasannya, bukankah kamu tahu jika aku ada urusan mendadak. Urusan yang sangat penting, yang menyebabkan aku harus pergi keluar negeri tepat sehari sebelum pernikahan kamu dengan mas duda mu itu."
"Lagipula, ada atau tidak adanya aku, itu akan sama saja bukan? Kamu menikah juga dengannya. Dengan laki-laki yang orang tuamu pilih. Dan, kamu juga suka dengan pilihan orang tuamu itu."
"Jika saja aku yang menjadi anak pak Agung Hutama Sudirya, mungkin aku adalah orang yang paling bahagia sekarang. Bisa menikahi kamu, perempuan cantik luar dalam," kata Aditya lagi dengan terus berandai-andai.
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu, Ditya. Kita sudah berjanji jadi teman baik sejak kecil sampai seumur hidup bukan? Mana bisa kamu jadi anak pak Agung Hutama Sudirya. Jika pun iya, aku juga gak akan mau menikah dengan kamu."