
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di tengah-tengah simpang. Abian langsung turun dari mobil tersebut. Kemudian, dia langsung menghampiri mobil Putri.
"Put, turun sekarang!" Abian berucap sambil mengetuk kaca mobil tempat di mana Putri sedang duduk.
Jelas saja Putri merasa sedikit bingung. Soalnya, Abian yang sedang berada di dekatnya sekarang adalah Abian dengan tampilan baru yang terlihat sangat tampan.
"Putri! Turun sekarang!"
Suara itu, suara yang sungguh sangat dia kenali. Tapi, batinnya masih tidak percaya dengan apa yang matanya lihat. Dengan rasa penasaran yang masih saja tinggi, Putri memilih menuruti apa yang laki-laki itu inginkan.
"Mau apa lagi?" tanya Putri menyingkirkan rasa kagum juga rasa penasaran yang ada dalam hatinya sekarang.
"Pulang! Aku ingin bicara dengan kamu."
"Aku ingin pulang ke rumah mama. Sudah lama tidak pulang ke sana."
"Pulang bareng aku."
"Tapi .... "
Tidak menunggu Putri menyelesaikan ucapannya lagi. Abian langsung saja menarik tangan Putri menuju mobilnya. Putri yang malang, sudah terkena sihir cinta dari sang mantan duda yang sangat tampan itu, mana bisa nolak lagi. Dengan suka rela, dia ikut saja apa yang Abian inginkan.
"Mobil aku gimana?" tanya Putri saat Abian menjalankan mobil meninggalkan tempat tersebut.
"Minta pak sopir jemput nanti."
"Lalu, kita mau ke mana? Kamu mau ajak aku pergi ke mana?"
"Katanya, kamu ingin ke rumah orang tua kamu, bukan? Ya kita ke sana sekarang."
"Tapi mas .... "
"Apa lagi, Put?" tanya Abian sambil menoleh sesaat. Karena selanjutnya, dia kembali fokus pada jalan yang mereka lewati.
"Aku ingin nginap di sana selama beberapa hari." Putri berucap dengan suara pelan karena merasa tidak enak hati.
"Ya sudah, kita nginap sekarang."
"Apa! Kamu yakin, Mas?"
"Apa yang salah, Put? Kenapa tanggapan kamu jadi sekaget itu? Bukankah kamu ingin nginap? Ya aku temani kamu nginap. Gak ada yang salah bukan?"
__ADS_1
"Kamu yakin ingin nginap? Emang gak ada yang salah. Tapi, aku takut kamu melakukan semua itu karena terpaksa."
Abian langsung menepikan mobilnya. Lalu, dia tatap Putri yang ada di sampingnya dengan tatapan yang Putri sediri tidak mengerti. Tapi, tatapan itu sukses bikin Putri jadi sangat grogi
setengah mati.
Kemudian, Abian langsung mendekatkan dirinya ke arah Putri. Hal itu sontak saja bikin Putri hampir tidak bisa bernapas karena jantungnya berdetak tak karuan akibat jarak mereka yang sangat dekat.
"Apa wajah ini terlihat seperti sedang terpaksa, Put?"
Putri mana bisa menjawab pertanyaan itu. Karena sekarang, tubuhnya seperti membeku akibat pesona tingkat dewa yang Abian miliki.
"Ja--jalan, Mas! Ja--jalan sekarang." Putri berucap dengan suara gelagapan yang terdengar sangat bergetar akibat berusaha menghindar dari pesona yang Abian miliki.
"Kamu yakin?" tanya Abian mulai timbul rasa ingin menggoda lagi.
Kumat sudah dia sekarang. Muncul sudah sifat iseng yang selama ini telah terkubur bersama kesedihan juga kehilangan akibat kepergian orang yang paling dia sayang. Karena pada dasarnya, Abian itu bukan tipe laki-laki yang dingin. Melainkan, laki-laki humoris yang penuh dengan keromantisan.
"Yakin, Mas. Yakin."
Abian langsung menoleh ke arah lain. Kemudian, dia tersenyum simpul karena merasa geli hati melihat tingkah Putri barusan. Wajah Putri yang merona merah, dengan tubuh kaku, juga nada bicara gelagapan. Hal itu sangat membuat hatinya merasa ingin mengerjai Putri lagi dan lagi.
'Aku bisa benar-benar membatu jika terus berada di samping mas Abian,' ucap Putri dalam hati.
"Kita mampir dulu."
"Mampir? Ngapain?"
"Ya beli sesuatu buat di bawa ke rumah mertua lah, Put. Kitakan gak pernah datang ke sana setelah menikah. Dan ini, adalah pertama kali aku datang ke rumah mertuaku. Jadi, harus bawa sesuatu."
"Mampir ke mana kita?"
"Tuh, mall." Abian berucap sambil melihat mall yang ada di sebelah mereka.
Seketika, Putri merasa sangat malu. Bagaimana tidak? Dia baru menyadari kalau tempat mereka berhenti adalah parkiran mall. Sejak tadi, dia sama sekali tidak sadar kalau mereka berhenti di sana.
"Ayo turun, Put! Kenapa masih bengong?"
"Atau ... kamu mau aku gendong baru turun?"
"Eh, nggak-nggak. Aku turun sendiri. Turun sekarang," ucap Putri sambil bergegas turun dari mobil.
__ADS_1
Abian yang melihat hal itu hanya bisa tertawa bahagia tanpa bersuara. Dia menikmati kerjaan barunya sekarang. Membuat Putri merasa malu dengan menggoda perempuan itu terus menerus.
Mereka masuk ke dalam mall untuk membeli buah tangan yang akan di bawa ke rumah orang tua Putri. Setelah mendapatkan apa yang ingin mereka beli, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Respati, kediaman keluarga Putri.
Setelah menempuh perjalan selama lebih kurang empat puluh menit. Akhirnya, mobil yang Abian kendarai sampai juga ke tempat tujuan.
Ketika mobil berhenti, Putri langsung turun dari mobil tersebut secepat yang dia bisa. Tanpa menunggu Abian terlebih dahulu lagi tentunya.
Bi Tantri, bibi yang bekerja sebagai asisten di rumah Putri langsung berteriak kegirangan ketika melihat nona mereka pulang. Panggilan kegirangan itu sontak saja membuat mama Putri yang mendengarnya langsung keluar dari rumah untuk menyambut si anak tercinta.
"Putri! Kamu pulang, nak?"
"Mama." Putri ikut bahagia ketika melihat sang mama yang menyambut dirinya. Dengan langkah besar yang lebih mirip berlari, dia menghampiri sang mama yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Datang sama siapa kamu, sayang?" tanya si mama setelah anak kesayangan berhasil dia peluk.
"Sama .... "
"Selamat sore, Ma." Abian langsung memotong perkataan Putri.
Seketika, Tias menoleh ke arah asal suara. Sontak saja, dia terdiam mematung melihat laki-laki tampan yang ada di samping putri kesayangannya sekarang.
"Kamu .... "
"Mas Abian."
"Abian? Kamu Abian?"
"Iya, Ma. Aku Abian."
"O ... oh. Abian."
"Ayo masuk! Bicara di dalam. Gak enak lama-lama di luar."
"Iya, Ma. Tentu saja aku ingin masuk. Udah kangen banget sama mama sama papa. Oh iya, papa masih di kantor kah, Ma?"
"Tentu saja papa kamu masih di kantor, Put. Seperti biasa. Kerjaan nomor ... dua sih. Tapi, bentar lagi pulang kok dia."
"Ayo Abian, masuk!"
"Iya, Ma. Makasih."
__ADS_1