Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #29


__ADS_3

"Kau tahu? Selama ini, Putri sudah banyak melewati masa sulit. Terutama saat dia sedang hamil. Karena sebenarnya, Putri tidak diperbolehkan hamil menurut pemeriksaan medis."


Sontak. Abian langsung kaget bukan kepalang. Dia yang awalnya melihat ke depan, kini langsung menoleh ke samping untuk melihat Aditya.


"Apa maksud kamu, Ditya? Kenapa Putri tidak di perbolehkan hamil oleh tim medis? Ada apa dengan dia? Apa yang sebenarnya terjadi, ha?"


"Pelan-pelan bertanya padaku, Abi. Bagaimana aku harus menjelaskan jika kau bertanya terlalu banyak."


"Katakan langsung, Ditya. Jangan bertele-tele."


"Baiklah."


"Saat Putri menginjak usia remaja, dia diculik oleh para penculik yang menginginkan kekayaan keluarganya. Orang tuanya tidak keberatan memberikan apa yang para penculik itu inginkan. Tapi sayangnya, kesalahan membuat para penculik marah. Mereka menganiaya Putri dengan memberikan obat terlarang dalam jumlah yang paling besar."


"Kau tahu apa akibat dari obat terlarang itu, Abian? Putri menderita cukup serius. Dia hampir kehilangan ingatannya dalam kurun waktu yang lama. Namun, para ilmuan berhasil menemukan cara untuk membantu menyembuhkan Putri. Sayangnya, hanya ingatan Putri yang berhasil mereka sembuhkan. Tapi bagian tubuh yang lain, masih menderita akibat sisa obat berbahaya itu."

__ADS_1


"Maka dari itu, vonis dokter tidak mengizinkan Putri hamil. Karena jika dia hamil, dia akan berbagi nutrisi, juga segala yang bisa di serap oleh tubuhnya dengan janin yang dia kandung. Itu akan membuat tubuhnya kehilangan separuh dari apa yang tubuhnya miliki."


"Tapi, si Putri keras kepala itu tidak mau mendengarkan apa yang dokter katakan. Saat tahu dia hamil, dia bahkan bersikeras untuk mempertahankan kehamilannya dengan sekuat tenaga dan segala cara. Sampai aku saja tidak bisa menjadi penghalang dia."


"Aku yang tidak ingin dia terluka, hanya bisa membantu dia bertahan dengan segala cara yang aku bisa. Dan, itu yang bisa aku lakukan buat dia. Seperti yang kamu lihat saat, Abian."


Abian tidak bisa menjawab sedikitpun. Karena sekarang, hatinya sedang di penuhi dengan rasa malu yang teramat besar. Bagaimana tidak? Dia tidak menyangka kalau teman dari istrinya bisa mendukung keputusan yang istrinya ambil dengan segala cara. Lah sedangkan dia, malah menjatuhkan istrinya dengan segala cara yang dia bisa. Bagaimana dia tidak punya rasa malu yang besar coba?


Aditya bangun dari duduknya. Dia lalu menepuk bahu Abian dengan pelan beberapa kali.


Abian hanya mengangguk. Tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia hanya bisa mengikuti langkah kaki Aditya dari belakang. Karena selain udara yang memang terasa cukup dingin, suasana sepi membuat dia merasa sedikit ngeri untuk tetap bertahan.


Berjalan beriringan, namun berpisah di antara persimpangan. Itulah yang Abian dan Aditya lakukan sekarang. Aditya kembali ke ruangannya. Sedangkan Abian, dia langsung menuju kamar rawat Putri setelah menghubungi orang tuanya tadi.


Sampai di kamar Putri, dia langsung di sambut oleh mamanya dengan senyum hangat. Namun tidak dengan mama mertuanya, yang sedang berada di samping ranjang Putri. Orang tua itu malah menatap Abian sekilas. Namun dengan tatapan kesal yang cukup kelihatan.

__ADS_1


"Bian. Dari mana saja kamu, Nak?" tanya sang mama hangat sambil menyongsong kedatangan anaknya.


"Apa kamu sudah melihat anakmu, Bi? Dia sangat cantik lho."


"Belum, Ma. Aku habis dari taman. Ngobrol bareng dokter Aditya."


"Bicara apa kamu dengan Aditya? Soal Putri?" tanya mama Putri tiba-tiba antusias.


"Iya, ma. Ngobrol soal Putri."


"Maafkan aku yang tidak tahu banyak soal istriku sendiri, Ma. Aku bukan tidak ingin. Hanya saja .... "


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Semua sudah terjadi, Abian. Kita semua tidak ingin hal buruk terjadi pada Putri. Tapi, semua yang terjadi bukan kehendak kita, kan?" Papa Putri pula angkat bicara.


"Kali ini aku memang tidak akan mempermasalahkannya lagi, Abian. Tapi ingat! Jangan ada lain kali. Jika sekali lagi kamu bikin ulah dengan cara menyia-nyiakan anakku seperti yang kamu lakukan kemarin-kemarin. Kamu tidak akan pernah aku izinkan bersama anakku lagi, Abian. Ingat itu!" Mama Putri bicara dengan nada penuh penekanan juga dengan nada ancaman.

__ADS_1


__ADS_2